
Aku dan Adrian memasuki ruang kerja timku untuk mengadakan rapat lagi mengenai permasalahan penyakit gangguan jiwa yang diidap pengacara Leonard. Adrian menduduki kursiku, lalu memandangku dari sana berbinar-binar ketika aku sedang mempersiapkan rapatnya. Sementara dua anggota detektif pria lainnya menatap Adrian risih lalu beranjak dari tempat duduk mereka menghampirinya.
"Kenapa kamu mampir di sini lagi, Adrian? Memangnya ini tempat bermain bagimu?" tegur Hans, nada bicaranya sedikit tidak enak didengar.
"Memangnya kalau aku mampir di sini masalah bagi kalian?" elak Adrian balik.
"Ish kamu selalu menganggap ruang kerja kami sebagai tempat untuk bermesraan, ya!" sungut Nathan dengan tatapan melotot.
"Kalau mau bermesraan bersama Penny sebaiknya di taman bermain saja, jangan melakukannya di sini!" tegas Hans berkacak pinggang.
"Ish taman bermain masih terlalu biasa! Seharusnya di hotel tuh baru tepat!" lanjut Nathan.
Mendengar lontaran perkataan Nathan barusan, Adrian tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Apalagi perkataan Nathan terdengar ambigu dan bisa jadi salah paham jika didengar orang lain.
"Kalian sendiri harusnya bercermin juga dong kalau bicara. Padahal kalian juga selama ini bermesraan terang-terangan di depan Penny!" ketus Adrian mulai geram.
"Tapi kalian berdua kalau sudah bersama pasti sudah seperti dunia terasa milik kalian berdua tanpa peduli kehadiran kami," sanggah Nathan.
"Sudahlah Nathan, benar saranmu tadi. Sebaiknya mereka bermesraan di hotel saja," tambah Hans semakin mengomporinya.
"Hufft! Kalian ini ada-ada saja pemikirannya!"
"Jangan bilang tadi kalian berdua melakukan itu saat mengintai pengacara Leonard tadi," tukas Nathan mulai berpikir aneh-aneh.
"Menurutku juga bisa jadi gitu," sambung Hans mendukung Nathan.
"Oh, jadinya dari tadi yang menggosipkan kami berdua adalah perbuatan kalian. Pantesan saja aku dan Penny bersin terus tiba-tiba saat sedang mengintai pengacara Leonard!" celetuk Adrian matanya melotot pada mereka berdua.
"Bukan gosip. Tapi berbicara sesuai dengan fakta!" tegas Hans.
"Ish fakta dilihat dari mana! Padahal tadi kami bersikap seperti orang normal saja. Kalian saja otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih," sindir Adrian menatap menyeringai.
Sementara Fina dan Tania dari tadi hanya bisa duduk berdiam diri sambil menyaksikan perdebatan yang semakin memanas sambil mengemil permen.
"Pokoknya aku tidak mau ikut campur dengan urusan para pria. Lebih baik kita berpura-pura tidak melihat saja," ucap Fina bermalasan.
"Benar, Fina. Mendengar perdebatan mereka saja membuat telingaku panas sekaramg," sahut Tania kali ini bersekutu dengannya.
"Mari kita lihat apa yang akan diperbuat Penny menghadapi tiga pria yang sedang berdebat dari tadi. Apalagi salah satunya adalah suaminya." Fina melipat kedua tangannya di depan dada.
Aku sudah tidak tahan mendengar perdebatan para lelaki lagi. Aku menghembuskan napasku kasar lalu meneriakki mereka bertiga. Meski ada suamiku juga terlibat perdebatan itu.
"Hei para lelaki perkasa!" pekikku dengan tatapan mata elang.
Mereka bertiga langsung hening sejenak lalu menoleh padaku.
"Kenapa, Penny?" tanya Nathan memasang raut wajah polosnya.
"Aku tahu kalian berdebat karena masalah gosip tapi bukan berarti sampai membuat keributan!"
"Penny, bukan aku yang buat keributan tapi mereka berdua mulai duluan," sanggah Adrian menunjuk Hans dan Nathan.
"Kok kami yang mulai duluan sih?" seloroh Hans menautkan kedua alisnya.
"Sudahlah kalian tidak usah saling menuduh. Terutama kamu Adrian, lebih baik diam saja!" tegasku lantang.
Seluruh anggota timku menertawainya hingga membuatnya menunduk malu.
"Mampus kamu, Adrian! Makanya jangan berlagak sombong, sekarang diomeli sama istri sendiri," ejek Hans tertawa terbahak-bahak.
"Haha makanya jangan main sembarangan nuduh orang. Percuma kamu berbuat baik sama istrimu tapi kena omelannya juga," lanjut Nathan tersenyum sinis.
Sedangkan tatapan Adrian melotot padaku.
'Awas saja Penny akibat kamu mempermalukanku di depan semua orang! Nanti aku akan memberi hukuman padamu supaya kamu kapok!' gumamnya dalam batinnya.
"Hans dan Nathan juga tidak usah ketawa deh! Tidak ada yang lucu di sini!" tegurku tegas pada mereka.
"Haha kalian kena juga!" ledek Adrian menertawai mereka.
"Ya, masih mending kami karena ini sudah sewajarnya dia suka menegur kami. Sedangkan kamu ditegur sama istri yang kamu sayangi kan aneh kedengarannya," balas Hans berlagak sombong.
Kembali lagi di sisi Fina dan Tania yang dari tadi duduk di pojokan tidak mengucapkan sepatah kata pun, sibuk bergosip berdua saja.
"Ternyata Penny juga bisa menegur Adrian, ya, ini luar biasa!" seru Tania berdecak kagum.
"Tidak biasanya melihat Penny menegurnya. Biasanya kan hubungan mereka baik-baik saja."
"Aku penasaran dengan mereka berdua nanti saat pulang kerja. Apakah mereka tidak akan saling berbicara sampai besok?"
Perasaanku sedikit tidak enak sekarang. Seperti ada dua orang lagi yang membicarakanku dari tadi di pojokan. Pantesan saja dari tadi mereka tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Aku langsung meneriakki mereka dari kejauhan.
"Hei, Tania dan Fina! Sedang apa dari tadi kalian di sana?" tegurku dengan tatapan tajam.
"Kami sedang tidak membicarakan apa pun," sahut Fina memasang raut wajah polos mengangkat bahunya.
"Sudahlah pokoknya kalian tidak usah main-main sekarang! Kapan mulai rapatnya kalau begini terus!" bentakku meluapkan seluruh amarahku.
__ADS_1
"Lagi pula siapa yang mau main-main juga. Yang memulai duluannya kan Hans dan Nathan!" ketus Adrian.
"Adrian! Kamu bisa diam tidak sih?" tegurku lagi padanya.
"Iya deh aku diam sekarang! Dasar cerewet!" Adrian memalingkan matanya dariku.
"Maaf Adrian," bisikku pelan namun sepertinya ia tidak mendengarkanku.
Sekarang kembali lagi pada rapat yang tertunda akibat perdebatan mereka semua sampai rasanya darahku sudah mendidih saat ini.
"Jadinya sekarang bagaimana, Penny?" tanya Nathan.
"Pengacara Leonard memiliki penyakit gangguan jiwa kepribadian ganda," jawabku datar.
"APA? KEPRIBADIAN GANDA? IIH SERAM BANGET!" teriak Hans bergidik ngeri tiba-tiba.
"Hei, Hans! Bisakah jangan bersikap berlebihan terus? Begitu saja reaksinya sampai norak!" hardik Adrian mengangkat alisnya.
"Jadinya waktu itu saat pengacara Leonard membela Nielsen dari tuduhan perkaranya, sebenarnya bukan dia yang menaruh chipnya di dalam pot tanaman itu. Tapi kepribadiannya yang lain menaruhnya tanpa sepengetahuannya," jelasku kembali berfokus.
"Pantesan saja kenapa dia bisa melakukan hal yang berbeda jauh dalam saat yang bersamaan," kata Nathan.
"Lalu selama ini yang berbuat jahat itu bukan pengacara Leonard. Tapi kepribadiannya yang lain?" tanya Tania mempertegasnya.
"Iya benar."
"Ini sungguh sulit dipercaya! Aku sebenarnya kasihan pada pengacara Leonard karena dia dituduh bersalah akibat perbuatan kepribadiannya yang lain," kata Tania membelalakkan matanya.
"Kepribadiannya yang lain adalah dirinya di masa lalu yaitu Zack."
"Apa mungkin pengacara Leonard, bukan maksudku Zack membunuh semua para pelajar SMA itu termasuk ketiga temannya karena dia sangat merindukan masa remajanya yang indah?" tanya Fina mulai berspekulasi.
"Jadi maksudmu itu semua temannya saat ini telah melupakannya lalu dia melampiaskannya dengan membunuh mereka lalu mengambil foto, kartu identitas, dan juga ponsel mereka?" lanjut Tania berspekulasi.
"Nah itu dia, Tania. Bisa juga pernyataanmu barusan itu benar," sahutku heboh bertepuk tanganku singkat.
"Wah, ternyata istriku semakin lama semakin pintar, ya!" puji Nathan membelai rambutnya Tania.
"Pengacara Leonard memiliki trauma di masa lalu maka dari itu timbullah kepribadiannya yang lain dalam tubuhnya sekarang. Kata dokter Jesslyn, sebenarnya dulu pengacara Leonard diperlakukan tidak baik oleh orang yang menolongnya waktu itu. Sampai saat ini aku terus curiga dengan orang itu sih. Kenapa dia bisa menukarkan tubuh pengacara Leonard dengan orang lain? Pasti ada sesuatu yang tidak beres," paparku berpikir keras hingga dahiku berkerut.
"Menurutku sih orang itu mungkin melakukan sebuah kesalahan yang tidak disengaja sehingga dia menukarkan orang yang sudah tewas dengan pengacara Leonard sebelum mobilnya meledak untuk menghapus jejaknya," sahut Adrian.
"Benar juga sih perkataanmu, Adrian. Mungkin bisa juga dia tidak sengaja membuat orang itu tewas makanya dia menutupi kesalahannya dengan menukar tubuhnya pengacara Leonard. Lalu dia memanipulasi semua data pribadinya supaya tidak ada satu pun jejak mencurigakan yang tertinggal," lontarku melanjutkan penjelasannya.
"Yang pasti orang yang menolong pengacara Leonard adalah seseorang yang memiliki kekuasaan besar sehingga dia mudah melakukan memanipulasi datanya," kata Fina.
"Aduh sepertinya kasusnya semakin rumit saja!" keluh Hans menggarukkan kepalanya.
Aku juga berpikir keras terlebih dahulu atas perbuatan kejamnya Zack. Selama ini Nielsen dan Angelina diketahui dengan jelas kronologinya sebelum mereka dibunuh habis-habisan. Nielsen dibunuh di rumahnya sendiri sedangkan Angelina tadinya berada di rumah kontrakannya langsung diseret oleh Zack ke rumahnya. Lalu Angelina tewas dibunuh di rumahnya pengacara Leonard. Selain itu Gracia juga dibunuh di sana. Tapi anehnya sampai sekarang ini belum ada kesaksian mengenai penculikan Gracia. Ini satu-satunya yang kulewatkan sejak dulu.
Menurut pernyataannya Nielsen bahwa Angelina dan Gracia suka mampir bersenang-senang di klub malam. Apakah mungkin Gracia diculik di sana, ya?
"Sepertinya ada satu hal yang kulewatkan mengenai Gracia."
"Apa itu Penny? Kenapa kamu tiba-tiba mengungkitnya?" tanya Hans terheran.
"Coba kalian pikirkan baik-baik deh! Angelina dan Nielsen sudah jelas kronologi sebelum dibunuh seperti apa. Sedangkan Gracia belum diketahui sama sekali. Lalu kata Nielsen waktu itu mereka suka mampir di klub malam untuk bersenang-senang."
"Jadi maksudmu bisa juga selama ini pengacara Leonard sudah mengawasi mereka di klub malam. Lalu dia menculik Gracia di sana?" tanya Adrian.
"Iya benar."
"Kalau begitu kita harus pergi ke sana untuk mengecek rekaman CCTV nya. Siapa tahu sampai saat ini rekamannya masih ada," ajak Fina.
"Ya sudah, kalau begitu nanti malam kita semua ke sana saja!" sahut Adrian.
Malam harinya, aku dan semua anggota timku menuju ke klub malam itu. Gara-gara tadi aku membentak Adrian saat sebelum rapat, sekarang ia tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku. Memang sih tadi aku sedikit kasar padanya, pasti sekarang ia sangat tersinggung dan dendam padaku.
"Adrian ...."
Adrian tidak meresponku lagi dan terus berfokus mengendarai mobilnya. Sebenarnya dalam batinnya sendiri, ia merasa bersalah.
'Maaf sayang. Aku tidak bermaksud cuek padamu. Tapi kamu harus diberi pelajaran sesekali akibat membentakku tadi.'
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya kami semua tiba juga di klub malam itu. Kami ingin melangkah memasuki klub malam itu namun dihadang oleh penjaga pintu.
"Kalian siapa? Mana kartu identitas kalian?" tanya salah satu penjaga pintunya.
"Kami adalah detektif, mohon kerja samanya," ucapku memperlihatkan name tagku.
Penjaga pintu itu tetap tidak ingin membiarkan kami masuk lalu Adrian mendorongnya supaya kami bisa memasuki klub malam itu. Di dalam sana aku sulit melihat di sekelilingku dengan pencahayaan yang redup dan juga suara kebisingan yang sangat menggangguku. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam klub malam sepanjang hidupku. Kami semua menghampiri seorang bartender yang sedang membuatkan minuman cocktail untuk menanyakannya mengenai Gracia.
"Permisi boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku sopan.
"Iya ada apa?"
"Apakah mungkin kamu kenal dengan wanita ini?" Aku memperlihatkan sebuah foto Gracia padanya.
__ADS_1
"Iya dia sering berkunjung ke sini bersama dengan dua temannya."
"Apa mungkin sekitar lima bulan yang lalu kamu melihatnya bertingkah aneh?" selidikku.
"Sebaiknya kita membicarakannya di tempat lebih tenang saja," ajak bartender tersebut menuntun kami menuju suatu ruangan kosong.
Setibanya di ruangan yang sunyi berbeda dari yang tadi sangat berisik, bartender tersebut mulai membuka suaranya.
"Sebenarnya aku juga merupakan salah satu teman mereka di sini. Makanya aku tahu persis dengan pergerakan mereka."
"Lalu apa mungkin selama ini ada seseorang yang mencurigakan mengikuti mereka diam-diam?" selidik Adrian.
"Saat itu aku mengira dia adalah seorang penguntit. Ya biasalah di sini juga sering banyak terjadi modus antara pria dan wanita jadinya aku berpikir ini adalah hal yang wajar. Namun kalau dilihat lama-lama sikap pria itu kepada dua wanita temanku tidak seperti biasanya. Apalagi mengenai Angelina tiba-tiba dikabarkan sekolah di luar negeri. Tak lama setelah kejadian itu, aku melihat pria itu berbuat aneh pada Gracia."
"Apa mungkin pria itu adalah orang ini?" Aku memperlihatkan fotonya pengacara Leonard kepadanya.
"Iya benar orang ini."
"Jadinya apa yang telah diperbuatnya kepada Gracia?" tanya Adrian penasaran.
"Begini ceritanya ...."
*****
Ketika Gracia minum alkohol sampai kepalanya sedikit sakit, bartender tersebut mencemaskan keadaannya apalagi mengingat teman baiknya tiba-tiba meninggalkannya tanpa memberitahukan kabar.
"Gracia, kamu sudah mulai mabuk. Sebaiknya kamu pulang ke rumahmu saja," saran bartender itu.
"Tidak apa-apa. Aku masih ingin minum lebih banyak lagi." Gracia ingin menuangkan minumannya lagi namun ditahan oleh bartender itu.
"Percuma saja kalau kamu mabuk tingkat parah. Angelina sudah sekolah di luar negeri, aku yakin dia akan kembali lagi di sini dalam waktu yang lama atau dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Ya sudahlah, berbicara denganmu tidak ada gunanya juga. Kamu tidak mengerti perasaanku kehilangan seorang teman dekat yang sudah lama tinggal bersamaku sejak kecil tapi dia tiba-tiba meninggalkanku sendirian di sini," ucap Gracia nada sedikit tidak karuan sambil membawa tasnya.
Ketika ia ingin melangkah keluar dari klub tersebut, sontak seseorang menahan tangannya dari belakang memanggilnya.
"Gracia."
Lalu Gracia menoleh ke belakang menatap kebingungan.
"Kamu siapa? Bagaimana kamu bisa tahu namaku?" tanya Gracia.
"Ini aku Zack teman masa kecilmu sewaktu di panti asuhan."
"Tapi seingatku Zack sudah meninggal dalam kecelakaan itu. Sudahlah kamu tidak usah berbuat mesum padaku, jangan ganggu aku lagi!"
Gracia melangkahkan kakinya lagi namun dicegah paksa oleh Zack. Saat itu kebetulan bartender tersebut menyaksikannya langsung tanpa sengaja secara diam-diam.
"Lepaskan aku dasar pria mesum!" pekik Gracia.
"Beraninya kamu bilang aku pria mesum!"
"Dilihat dari tingkahmu begini memang kamu tidak ada tata kramanya sama sekali! Tadi barusan kamu mengaku dirimu adalah Zack. Padahal tidak ada satupun temanku yang memperlakukanku kasar seperti sekarang ini!"
"Beraninya kamu berkata seperti itu padaku!"
PLAKKK
Tamparan yang cukup kuat mendarat pada pipinya Gracia hingga memerah. Sementara bartender tersebut menyaksikannya sampai ketakutan.
"Sekarang ikut denganku!" Zack menyeret Gracia paksa keluar dari bar tersebut.
Sementara bartender tersebut sangat penasaran dengannya langsung mengikutinya dari belakang. Saat berada di luar klub, ia melihat Gracia ditemukan dalam kondisi tidak sadar lalu dibawa masuk ke dalam mobil.
*****
Kembali lagi pada saat aku dan seluruh anggota timku menginterogasi bartender tersebut.
"Begitulah kejadian yang menyeramkan itu," ucap bartender tersebut.
"Baiklah terima kasih atas informasi yang barusan kau berikan pada kami," ucapku ramah.
"Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanya Fina.
"Aku Patrick Johnson."
"Senang berkenalan denganmu, Patrick. Aku detektif Penny Patterson, kalau seandainya ada sesuatu yang penting berhubungan dengan kejadian ini, kamu bisa menghubungiku melalui nomor ini," ucapku memperlihatkan kartu namaku.
"Kalau begitu kami permisi dulu, ya," pamit Adrian.
Lalu kami semua keluar dari ruangan itu menuju ruang pengendalian untuk mengecek rekaman CCTV pada saat hari kejadian. Aku memerintah salah satu petugas keamanan di sana untuk memperlihatkan video rekamannya di hari kejadiannya. Memang terlihat sosok pengacara Leonard mengunjungi klub malam itu. Tapi sayangnya rekamannya tidak terlihat jelas mengingat pencahayaannya. Namun video rekaman CCTV di luar klubnya terlihat jelas Zack memukuli Gracia sampai tidak sadarkan diri lalu membawanya paksa ke dalam mobilnya.
"Ini sama seperti kejadian yang dialami Angelina waktu itu," ucapku.
"Berarti Zack membunuhnya di dalam rumahnya pengacara Leonard. Pola pembunuhannya sama persis karena kedua gadis itu tidak mengingatnya sama sekali makanya dia melampiaskan amarahnya," lanjut Adrian.
"Kita harus mengecek ke rumahnya pengacara Leonard langsung," usulku.
__ADS_1