
Dewa Arya Rahadian, murid kelas 3 jurusan IPS. Sosok pemuda yang nyaris sempurna. Pemuda dengan tinggi badan 180 cm, berkulit putih. Berparas tampan dengan sepasang mata berwarna kehijauan yang terlihat indah. Merupakan keturunan campuran. Ibunya seorang pribumi dan ayahnya, entahlah berdarah apa yang jelas bukan asli Indonesia.
Ia dibesarkan oleh neneknya tanpa sosok seorang ibu maupun ayah. Yang ia tahu orang tuanya bercerai dan ibunya bekerja di luar kota dengan gaji yang fantastis, yang sangat jarang pulang kecuali kalau ada masalah penting saja. Ia tumbuh menjadi remaja yang terbiasa melakukan segala hal seorang diri tanpa bergantung dengan orang lain. Masalah materi ia tak pernah kekurangan, karena ibunya secara rutin memberinya uang dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk hidup di sebuah kota kecil.
Sosok Dewa sedari kecil sudah menjadi pusat perhatian karena wajahnya selalu tampak tampan dan berbeda dari yang lain. Di bawah didikan neneknya ia tumbuh menjadi pribadi yang baik, taat pada agama maupun nenek dan ibunya. Ia berusaha untuk menjadi yang terbaik agar kelak ibu maupun ayahnya akan bangga. Prestasi di sekolah juga selalu memuaskan, ia selalu menjadi juara.
Waktu terus melangkah tanpa pernah mau berhenti sejenak walau hanya untuk sekadar menoleh ke belakang. Seiring bertambahnya usia, Dewa mulai mencari sosok ayahnya. Ia sering menanyakan keberadaanya kepada nenek dan ibunya karena sedari kecil ia belum pernah berjumpa denganya. Bahkan tidak ada foto kenangan antara dia dan ayahnya. Hanya ada sebuah foto usang yang tanpa sengaja ia temukan di laci kamar ibunya. Ya sebuah foto pernikahan ibunya dan ayahnya, hanya foto itu saja.
"Nek kapan Dewa bisa ketemu ayah?"
"Nanti kalau sudah saatnya, kalau Dewa sudah besar."
Selalu jawaban itu yang diberikan oleh neneknya.
Sampai suatu hari, Dewa sudah merasa bosan dengan jawaban itu. Ia terus merengek kepada neneknya agar mau menceritakan tentang ayahnya, bahkan ia tidak mau makan sampai akhirnya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Neneknya merasa iba namun ia juga tidak bisa bercerita sesuai dengan keinginannya. Hingga akhirnya ibunya pulang dan berjanji akan menceritakan kelak jika Dewa sudah berumur 17 tahun.
Awalnya Dewa menyimpulkan bahwa orang tuanya bercerai dan Ibunya masih mencintai ayahnya karena sampai saat ini masih belum mencari pengganti. Tapi lambat tahun ia mulai merasa kehidupanya tidak seperti anggapanya selama ini.
Seiring berjalanya waktu dan bertambahnya usia ia mulai bisa menemukan banyak keganjalan dalam hidupnya. Di dalam kartu keluarga tertulis jelas bahwa nama ibunya Sabila Zahrani berkewarganegaraan Indonesia dan ayahnya Surya Rahardjo yang juga berstatus WNI. Lalu dari mana ia memperoleh sepasang mata indah berwarna kehijauan? Apakah mungkin ayahnya berdarah campuran? Rasanya tidak mungkin karena seingatnya wajah ayahnya di sebuah foto pernikahanya adalah wajah pribumi.
Hingga tiba suatu hari yang paling dinanti. Hari ulang tahunnya yang ke 17. Ulang tahun yang umumnya menjadi ulang tahun paling dinantikan dan dirayakan bersama dengan teman teman secara meriah. Tapi tidak bagi Dewa, seperti tahun tahun sebelumnya acara ulang tahunya tidak pernah dirayakan. Yang menjadi spesial dan dinanti adalah kepulangan ibunya untuk menjawab semua pertanyaan yang mengganjal di hatinya selama ini.
Terlihat seorang wanita duduk bersama nenek tua di teras belakang rumah. Rambutnya diikat asal, matanya terlihat sembab dan wajahnya dipenuhi dengan kecemasan. Namun itu semua tidak mengurangi kadar kecantikanya. Di usianya yang 35 tahun, wajahnya masih seperti seorang gadis. Bahkan bentuk tubuhnya seperti model, sangat terlihat bahwa ia merawat wajah dan tubuhnya dengan sangat baik.
" Kamu yakin mau menceritakan semua pada Dewa?"
"Sudah saatnya Dewa tahu yang sebenarnya. Meskipun nanti ia mungkin akan membenciku. Dia berhak untuk mengetahui semuanya."
Kedua wanita itu terlihat sangat cemas. Saling berpegangan tangan berusaha untuk menguatkan satu sama lain.
"Ayo kita masuk ke dalam, Dewa pasti sudah menunggu kita." ajak nenek.
Mereka berjalan dengan keraguan, waktu seakan melambat, dan jarak seperti memanjang. Perjalanan ke dalam ruang keluarga itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Padahal rumah itu hanya berukuran 10mx15m saja, tapi entah mengapa saat itu terasa sangat luas. Hingga butuh ekstra tenaga dan waktu untuk masuk ke dalamnya.
Ibu dan nenek Dewa menuju ke ruang keluarga dengan membawa cake ulang tahun berhiaskan lilin angka 17 yang menyala.
Terlihat Dewa sedang duduk dengan penuh penantian. Ia merasa bahagia, karena ia akan segera mengetahui jawaban dari pertanyaan seumur hidupnya. Namun juga terlintas rasa takut akan kebenaran yang mungkin akan menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun ya sayang, semoga panjang umur dan diberi kesehatan selalu. Ayo tiup lilinya." Ucap ibunya dengan merdu.
Hati Dewa menghangat, mendapat perlakuan seperti itu. Bagaimana tidak, sudah 3 tahun lebih ia tidak berjumpa dengan ibunya. Ibunya yang terpaksa bekerja di luar kota, jarang bisa pulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, itulah yang selalu ada di pikiran Dewa.
Dewa meniup lilin itu penuh dengan perasaan. Tak terasa butiran air menetes dari ujung matanya. Ibu dan nenek Dewa menatapnya dengan haru.
Ibunya tak kuasa untuk menahan genangan air di pelupuk matanya. Diraihnya tubuh Dewa dalam dekapannya. Ia memeluk erat tubuh Dewa, seakan takut kehilangan sosok yang ia lahirkan 17 tahun silam.
Secara perlahan ibunya membimbing Dewa untuk duduk di sampingnya. Berulang kali ia mengambil nafas dalam, dan membuangnya lewat mulut, berusaha mengumpulkan semua keberanian dan mengikis rasa takut dan keraguan.
" Kini saatnya Ibu akan menceritakan semua Nak."
Ibunya menggenggam erat tangan Dewa. Matanya menatap lekat manik mata kehijauan milik Dewa.
Dewa pun mengeratkan genggaman tangan ibunya. Berulang kali ia menelan ludah, mencoba menenangkan hatinya yang gemuruh.
"Ibu harap kamu bisa memahami cerita ibu, dan sebelumnya ibu minta maaf karena terlalu lama merahasiakannya."
Ibunya mulai bercerita tentang 18 tahun silam.
______________
Sampai suatu hari ia didatangi oleh seorang lelaki berusia 30 tahunan, bernama Surya. Tanpa basa basi dan panjang lebar ia menawarkan sebuah kesepakatan untuk menghasilkan banyak uang, yaitu melakukan nikah kontrak dengan lelaki berkewarganegaraan asing. Melalui penjelasanya ternyata banyak tetangga Rani yang telah melakukan pernikahan itu. Surya memang seorang makelar perantara nikah kontrak. Dan kali ini dia mempunyai klient yang menginginkan seorang gadis yang masih murni.
Rani akan memperoleh 300 juta sebagai imbalan di awal, dan juga bisa mendapat banyak uang jika klientnya merasa puas. Kontraknya hanya berlangsung selama 6 bulan. Memang mirip dengan jual diri, tapi paling tidak lebih aman dan terjamin karena kedua belah pihak melakukan kesepakatan bersama dan membahas pasal pasal dalam kontrak mereka.Sehingga kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan.
Keesokanya Surya dan Rani pergi untuk menemui klientnya. Jika mereka berdua sepakat maka pernikahan akan langsung dilaksanakan, dan Surya telah menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan.
Rani akan melakukan nikah kontrak dengan Russell, seorang lelaki bertubuh tinggi, bermata kehijauan, berparas tampan dengan hidung yang begitu mancung. Identitas lengkapnya ia tidak tahu, karena memang dalam kontrak itu hubungan mereka hanya sebatas di ranjang saja. Rani tidak terlalu mengetahui latar belakang kehidupan Russel, bahkan ia berasal dari negara mana saja tidak tahu karena Surya memang hanya memberi informasi tentang klient sebatas yang klient inginkan saja. Yang ia tahu Russel telah beristri di negaranya dan ia hanya akan menjadi sekedar alat pemuas *****.
Setelah bertemu dan saling sepakat akhirnya mereka melakukan kontrak itu. Dalam kontrak itu disebutkan bahwa Russel sebagai pihak 1 dan Rani sebagai pihak 2.
Pihak 2 wajib melayani semua permintaan pihak 1 kecuali melanggar hukum.
Pihak 2 tidak bokeh menjalin hubungan dengan pria lain selama kontrak berlangsung.
Pihak 2 tidak diperbolehkan hamil, dan apabila terjadi pihak 1 sama sekali tidak ada kewajiban untuk bertanggungjawab.
__ADS_1
Selama kontrak berlangsung, Rani tinggal di rumah yang disewa okeh Russel. Russel hanya mendatangi Rani saat ia butuh saja.
Singkat cerita Rani telah menyelesaikan kontrak tersebut tanpa halangan. Namun di luar dugaan ia tengah hamil 2 bulan.
Di usianya yang masih sangat belia, ia merasa sangat ketakutan. Ia tidak mempunyai kerabat yang bisa menjadi tempat mengadu. Ia hanya bisa mendatangi Surya.
Setelah mendengar semua, Surya menawari Rani untuk menjadi istrinya sampai anak itu lahir. Setelah berpikir akhirnya Rani setuju, karena tak mungkin ia melahirkan tanpa sosok seorang suami.
Seperti kesepakatan mereka, pernikahan itu pun hanya berlangsung sementara. Setelah melahirkan, Rani bercerai dan membawa bayinya pindah ke desa di Yogayakarta.
Di sana ia bertemu dengan nenek Ira, dan tinggal bersama. Ia menganggap nenek Ira seperti ibunya sendiri, karena memang nenek Ira tidak mempunyai anak dan tinggal sebatang kara.
Rani menggunakan uang simpanannya untuk membuat rumah yang layak untuk mereka tinggali. Setelah anaknya berusia 1 tahun ia meninggalkan anaknya bersama nenek Ira untuk kembali ke kota Bandung dan bekerja.
Namun karena faktor pendidikan yang rendah, untuk menghasilkan uang banyak ia hanya bisa menempuh 2 cara yaitu kembali menjalani nikah kontrak atau menjual diri.
Rani menjadi aset berharga bagi Surya. Klientnya selalu memberi harga yang fantastis. Setiap bulan Rani mengirim uang untuk kebutuhan hidup Dewa dan nenek Ira.
________________
Ibu Dewa menunduk sambil berlinangan air mata. Ia tak punya keberanian untuk menatap Dewa.
Dewa mematung mendengar kisah ibunya. Berharap itu semua hanya sebuah kebohongan. Jawaban yang telah seumur hidupnya ia nanti, nyatanya hanya memporak porandakan hati dan keyakinannya.
Wanita yang selama ini ia banggakan, bekerja keras di luar kota, ternyata menjual diri. Sosok ayah yang selama ini ia nantikan tak ayal hanyalah seorang suami sementara, bahkan ia adalah makelar penyalur ibunya. Dan nenek yang selama ini merawatnya dan ia patuhi adalah orang yang tidak mempunyai ikatan darah dengannya.
Dewa tidak mampu berkata apa apa. Dunia dan impiannya telah hancur berkeping keping tak tersisa.
Rani menggerakkan tangannya untuk meraih Dewa, namun dengan cepat Dewa menampiknya.
Dewa mengendarai motornya dengan cepat, membelah jalanan. Ia melaju ke arah pantai. Di sana ia berteriak sekuat kuatnya. Berusaha melepaskan semua beban di hatinya. Ia meraung sejadi jadinya, menumpahkan semua air matanya.
Ulang tahun ke 17 yang ia nantikan nyatanya memberi kebenaran yang begitu mengejutkan. Kenyataan yang begitu memilukan. Dewa tak habis pikir, kehidupan apa yang ia jalani selama ini. Ia selalu menjadi pribadi yang baik, hamba yang taat, anak yang penurut. Tapi apa yang didengarnya tadi benar benar telah menghancurkannya.
Dan semenjak itu, hilanglah Dewa yang selalu berjalan di jalan yang benar. Ia menjadi pembangkang, agama tak lagi ia taati, nenek tak lagi ia patuhi, sosok ayah tak lagi ia nanti dan ibu,,,, ia tak lagi bisa membanggakannya. Bahkan ia sangat malu bila mengingatnya.
Prestasi di sekolahnya menurun drastis, semangat belajarnya menghilang entah kemana. Pergaulannya juga semakin terjerumus. Bahkan ia berteman akrab dengan alkohol dan wanita.
__ADS_1
Ia sempat tidak naik kelas ketika di kelas 2 karena sering membolos dan tidak mengerjakan tugas.