Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Brother


__ADS_3

" Bersihkan dirimu, aku akan menunggumu di bawah dengan Yusuf. Ada beberapa baju ganti di dalam, semua kusiapkan khusus untukmu." Dewa meninggalkan Hana di sebuah kamar di lantai dua.


Kamar yang berukuran tiga kali kamarnya itu masih didominasi dengan warna putih, mungkin memang konsep rumah ini serba putih. Hana terperangah saat melihat interior kamar itu, mewah namun tetap terlihat minimalis.


Setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi, ia keluar dengan memakai bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambutnya. Ia duduk di depan meja rias yang di atasnya sudah tertata rapi berbagai macam kosmetik merk ternama lengkap dengan parfume dan skincare yang belum pernah digunakan.


Ini semua Dewa siapin buat aku? Enggak nyangka banget ia lakuin semua ini. Berarti ia memang sudah memikirkan pernikahan kami dengan matang.


Hana mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Bibirnya terus mengembangkan senyum bahagia. Ia tak menyangka bahwa Dewa telah mempersiapkan semua untuknya. Ia sangat terharu akan perlakuan kekasihnya itu.


Mata Hana membulat saat memasuki walk in closets. Ada banyak koleksi pakaian dari brand ternama berjejer di dalamnya. Sepatu, tas dan aksesoris lainnya tertata dengan rapi. Tampak pakaian wanita dan laki laki bersanding sebelahan.



Ini sih bukan beberapa baju, tapi hampir seisi toko.


Hana mengambil sebuah dress berwarna hitam panjang selutut dan lengan sampai siku. Kulit lengannya yang putih tampak kontras terlihat di balik kain brokat berwarna hitam itu. Ia memilih sebuah flat shoes berwarna hitam.


Bibirnya kembali tersenyum saat mendapati bayangan dirinya di cermin.


Cantik,,,


Puji Hana saat menatap penampilannya kini. Sebuah kalung liontin berinisial D tampak indah di lehernya.


 


Dewa dan Yusuf masih duduk di tepi kolam renang sambil berbincang.

__ADS_1


" Kamu masih hutang penjelasan untuk ini." Dewa menunjuk sudut bibirnya yang terluka.


" Cih luka seperti itu tidak akan membunuhmu. Kamu serius dengan Hana?" mata Yusuf menatap lekat manik Dewa.


" Aku sangat serius, dia gadis yang luar biasa. Dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Dia hadir di saat aku terpuruk dalam jurang kekecewaan yang teramat dalam dan kelam. Ketulusan hatinya mampu mengubah hidupku yang hitam menjadi berwarna. Dia segalanya buatku. Tanpa dia, aku tak mungkin bisa seperti ini. Dia semangat dan tujuan hidupku. Ah.... Entahlah Suf, aku benar benar sudah tergila gila dengannya." Dewa tersenyum tipis mengingat bagaimana arti Hana untuk dirinya.


" Huffff, baguslah kalau begitu." Yusuf menghela nafas panjang.


" Kenapa? Kamu juga mencintainya? Tadi aku melihat kemarahan dan kekecewaan dalam pukulanmu. Aku yakin kamu menganggap Hana tidak sekadar sebagai sahabat saja. Benar kan tebakanku?"


" Ya kamu benar. Aku memang diam diam mencintainya. Aku tidak pernah mengungkapkannya karena takut akan merusak persahabatan kami. Kini aku kembali untuk mencoba menyampaikan perasaanku terhadapnya. Tapi.... Ah semua itu sudah terlambat. Orang yang kucintai akan bersanding dengan saudaraku. Dari dulu aku memang tidak pernah menang melawanmu." suara Yusuf sedikit bergetar menahan sedih di hatinya.


" Kenapa jadi melow, semangat dong. Kamu pasti akan segera mendapat pengganti Hana. Tapi yang jelas Hanaku lah yang terbaik. Dan maaf saja, aku tidak pernah merasa bersaing denganmu. Kalau kamu mau aku bisa menyerahkan posisi di perusahaan ayah. Karena biar bagaimanapun kamu yang lebih berhak karena kamu adalah darah dagingnya, sedangkan aku? Hanya seorang anak tiri yang keberadaan ayah kandungnya tidak pernah diketahui. Aku sangat berterima kasih karena ayah mau menerima dan menganggap aku sebagai anaknya." ucap Dewa dengan tulus.


" Hei,,,, apa maksudmu? Kamu pikir aku iri dengan posisimu? Aku tidak serendah itu. Kamu berhasil di posisimu sekarang karena memang kemampuanmu. Dan kelak aku pasti akan berada di posisimu jika memang kemampuanku sudah lebih unggul darimu. Kamu tunggu saja. Jadi untuk saat ini kamu jangan pernah berpikir untuk melepas posisimu demi aku. Karena itu akan sangat menyakiti harga diriku." Yusuf agak menaikan suaranya.


" Baiklah aku akan menunggu saat itu. Saat kamu lebih unggul dan kompeten dariku. Selamat berusaha brother..!"


" Ya, tunggulah aku. Akan aku buktikan kalau aku bisa lebih unggul darimu." ucap Yusuf dengan semangat.


" Sebagai saudara bolehkah aku meminta sesuatu?"


" Apa? Jangan bilang kamu kehabisan uang?" Dewa menyipitkan matanya.


" Aish,,, aku tidak semiskin itu. Meskipun uangku tidak sebanyak dirimu tapi masih cukup kalau hanya untuk membangun rumah seperti ini." ucap Yusuf dengan sombong.


" Baiklah kalau begitu apa maumu?"

__ADS_1


" Aku ingin tinggal bersamamu di sini." jawab Yusuf dengan mantap.


" Heih, bukankah kamu baru saja bilang kalau uangmu cukup untuk membangun rumah seperti ini. Kenapa malah mau tinggal di sini? Bukannya kamu akan mengurus perusahaan ayah yang di Jakarta? Kamu tinggal di rumah ayah saja, bukankah di sana lebih besar dan mewah?"


" Ayolah, sebagai kakak kamu jangan pelit. Aku malas kalau harus tinggal sendirian di rumah besar itu. Setelah aku pikir pikir aku ingin mengurus cabang perusahaan baru yang di dekat sini saja bersamamu. Boleh ya. Ayolah bolehlah. Tolonglah kamu kan kakak sekaligus atasanku. Ayolah Dewa." Yusuf merengek seperti anak kecil.


Bahkan sampai menarik narik kaos kakak tirinya itu.


Yusuf memang bisa menjadi sangat manja bila di sisi Dewa. Hubungan mereka sangat dekat bahkan melebihi saudara kandung. Mungkin karena keduanya sama sama anak tunggal yang kurang mendapat kasih sayang orang tua, sehingga saat mereka dipersatukan dalam hubungan saudara mereka bisa menjadi sangat cocok. Namun selama ini mereka memang tidak pernah membahas mengenai kisah asmara masing masing.


" Iya, baiklah kamu boleh tinggal di sini tapi jangan macam macam. Kamu harus serius dalam bekerja. Dan segeralah cari pacar, jangan lama lama patah hati. Dan ingat satu hal, jangan pernah mengharapkan Hana lagi. Karena dia adalah milikku. Jadi buang jauh jauh rasa cintamu."


" Memangnya segampang itu cari pacar?" dengus Yusuf.


" Boleh aku minta satu hal lagi?"


" Apalagi sih?" Dewa memutar bola matanya.


" Tolong jaga Hana, jangan pernah kau sakiti dirinya. Berikanlah cinta dan kasih sayang yang melimpah. Karena jika sampai kau menyakitinya, aku tak akan segan segan untuk merebutnya." ucap Yusuf dengan serius.


" Jangan khawatir, tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaga dan mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Aku akan berusaha untuk selalu memberinya kebahagiaan sehingga tidak ada kesempatan bagi dirimu untuk merebutnya." tegas Dewa.


" Baiklah, aku pegang kata katamu. Kalau sampai kau melanggarnya maka siap siap untuk kehilangan Hana."


" Baik, aku setuju."


" Ngomong ngomong sudah lama kita tidak berenang bersama. Ayo kita bertanding apa kau masih sehebat dulu." tantang Yusuf.

__ADS_1


" Boleh, aku juga ingin melihat kemampuanmu sudah sehebat apa?"


" AAAAAA, apa yang kalian lakukan?!!" pekik Hana saat melihat Yusuf dan Dewa tengah melucuti pakaian mereka menyisakan celana boxer saja.


__ADS_2