
Mobil pajero Dewa kembali melaju di jalanan setelah Hana dan dirinya selesai memberi kesaksian untuk kasus percobaan perampokan yang baru saja menimpa anak didiknya. Para penjahat itu kini telah digiring ke kantor polisi.
Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tidak seperti tadi sewaktu Hana yang memegang kemudi. Lagu sempurna milik andra and the backbone mengalun merdu menemani perjalanan mereka.
" Tadi enggak ada yang luka kan?" Dewa mencoba memecah kesunyian. Dia melirik wajah Hana yang masih sedikit manyun karena Dewa tidak membiarkannya untuk kembali menyetir.
" Enggak." jawab Hana singkat.
" Ha ha ha kamu dari dulu kalau manyun malah tambah lucu. Bikin gemes." tangan kiri Dewa menarik salah satu pipi Hana.
" Ih, apaan sih? Sakit tau. Gimana kalau nanti pipi aku kendor jadi enggak cantik?"
" Enggak bakalan..! Lagian kalau jadi kendor aku tetap mau kok sama kamu. Udahan ya manyunnya, sehari ini kamu udah kebanyakan manyun lho. Senyum dong..." bibir Dewa tersenyum lebar sembari tangannya memegang pipi Hana dengan lembut.
" Tangan kamu terluka ya?" Hana memegang tangan kiri Dewa yang tampak memar akibat perkelahian tadi.
" Sakit?" Hana meniup lembut tangan Dewa.
" Enggak, apalagi sudah ditiup sama kamu. Jadi adem, he he." Hana tersenyum mendengarnya.
" Kamu ngerasa enggak Yank, kalau kejadian tadi sama seperti delapan tahun yang lalu saat kita pertama kali bertemu geng RAME. Kita berantem habis nonton Fast and Furious. Dan kali ini habis nonton film itu pulangnya kita juga berantem. Ha ha." Dewa merasa geli mengingat peristiwa delapan tahun silam.
" Ha ha ha, kamu benar. Tapi bedanya kali ini lebih seru dan menantang karena harus berantem dengan penjahat beneran. Sama seperti film yang kita tonton tadi, adegan dan aksinya juga lebih hebat dan menegangkan dibanding dengan sekuel sebelumnya."
" Sepertinya kelak kita jangan nonton Fast and Furious di bioskop lagi dech Yank. Takutnya nanti pulangnya kita harus berantem lagi dengan lawan yang semakin tangguh. Aku kan enggak akan rela jika kamu harus terluka. Janji ya untuk selalu jaga diri baik baik. Dan lain kali enggak usah kebut kebutan di jalan, enggak penting banget itu BAHAYA." tutur Dewa penuh dengan penekanan.
" Iya calon imamku. Tapi tadi kan ada hikmahnya aku ngebut. Coba kalau aku enggak ngebut, pasti kita sudah terlambat untuk menolong Dimas dan Arin." Hana mencoba mencari pembenaran.
" Itu semua kan kebetulan kita lewat sana. Kecuali kamu ngebut karena memang ada niat dari awal untuk menolong mereka."
" Insting Yank, insting....."
" Insting apaan? Kamu saja yang memang suka kebut kebutan."
" He he he, itu kamu tahu."
" Kruyuuuuk...!!!!" perut mereka berbunyi hampir bersamaan.
" Ha ha ha,,, benar benar deja vu." cibir Hana.
Setelah berkendara sekitar dua puluh menit, mobil Dewa menepi ke sebuah tempat makan sesuai dengan arahan Hana.
" Mau apa kita ke sini Yank?" Dewa memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia.
" Makanlah, masak mau ngamar." ketus Hana.
" Ayo, boleh kalau mau ngamar. Aku cariin hotel yang paling bagus dech." canda Dewa.
" Nih ngamar...!" Hana mengacungkan kepalnya di depan Dewa.
" Ih, serem banget Yank. Punyaku enggak segedhe itu kok." kelakar Dewa penuh dengan maksud.
" DEWAAAAA...! Otak kamu memang harus dicuci biar isinya enggak mesum melulu."
" Ha ha ha, memang apa yang salah dengan omonganku? Mesumnya dimana?"
" Bodho ah, buruan turun...! Perutku sudah keroncongan." Hana beranjak keluar dari mobil Dewa.
__ADS_1
" Lumayan juga selera kamu." puji Dewa saat memasuki sebuah tempat makan yang bertuliskan RAMEKAN CAFE di atas pintu masuknya.
Cafe itu berkonsep modern minimalis dengan sentuhan klasik. Ada beberapa lampu gantung yang dipadukan dengan anyaman bambu dan tumbuhan paku digantung di langit langit menambah keindahan dan keunikan cafe itu. Sebagian besar furniture dan hiasan interiornya adalah hasil kerajinan tangan. Meja dan kursi ditata sedemikian rupa agar membuat pengunjung merasa betah dan nyaman.
Seperti namanya, RAMEKAN cafe ini juga terlihat rame. Banyak pengunjung yang datang untuk melepas lapar atau sekadar nongkrong sambil memesan minuman dan cemilan.
Hana tampak celingukan mengedarkan pandangan untuk mencari tempat kosong. Tapi semua meja telah penuh terisi.
" Kita cari tempat lain saja yuk Yank, semua sudah penuh enggak ada tempat lagi." bisik Dewa.
" Hana sayank, sudah lama enggak kelihatan. Abang kangen lho...." tiba tiba seorang lelaki menyapa dengan nada sensual yang dibuat buat.
Dewa merasa geram mendengar calon istrinya digoda oleh lelaki lain. Dadanya terasa panas bergemuruh, ingin rasanya ia segera membungkam mulut lelaki itu karena telah lancang memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang.
Berengsek lelaki ini. Berani sekali dia memanggil Hana sayang disaat aku berada tepat di sampingnya. Apa matanya buta tidak bisa melihat kalau Hana adalah pasanganku? Apa dengan gandengan tangan tidak cukup membuktikan kalau dia adalah milikku?
" Maksud kamu apa memanggil Hana sa_" ucapan Dewa terhenti saat melihat wajah lelaki itu tak asing baginya.
" RAME..?" seketika emosi Dewa menghilang.
" Kamu? Dewa? Ya kamu Dewa kan pacarnya Hana? Kapan kamu kembali?" tanya lelaki itu terlihat ramah dan antusias.
" Iya benar aku Dewa calon suami Hana." ucap Dewa dengan bangga.
" Wah selamat ya, akhirnya bakal naik ke pelaminan. Enggak sia sia Hana menunggu kamu selama ini. Oh ya namaku Radit, bukan RAME. RAME adalah nama geng kami singkatan dari Radit, Ali, Muklis dan Edi. Masih ingat kan? Dan sekarang sekaligus menjadi nama tempat ini. RAMEKAN CAFE. Keren enggak?"
" Keren. Konsepnya cukup bagus." mata Dewa mengamati tiap sudut cafe yang memang enak untuk dipandang.
" Ayo ikuti aku, kita duduk di dalam saja di sini sudah penuh dengan pengunjung." Radit mengajak Dewa dan Hana ke ruangan lain yang terpisah dengan pengunjung cafe.
Ruangan ini memang tidak terlalu lebar dan berkesan sangat sederhana namun akan membuat nyaman siapa saja yang berada di dalamnya. Biasanya ruangan ini hanya dipakai untuk pengunjung tertentu saja atau jika ada tamu penting.
"Silahkan duduk, ini tempat favorit Hana." ucap Radit dengan senyum mengembang.
"Terima kasih." Dewa duduk di salah satu kursi yang tersedia.
" Bagaimana kabarnya Bang, semua lancar kan?"
" Aku lihat pengunjungnya ramai sama seperti nama tempat dan pemiliknya, he he he." Hana ikut duduk di sebelah Dewa.
"Alhamdulillah semua baik dan lancar. Ini semua juga berkat kamu."
" Teman teman pasti akan senang jika melihat kamu datang."
" Oh iya aku sampai lupa personil RAME yang lain kemana kok cuma ada Abang dan pegawai saja?" tanya Hana penasaran.
" Sekarang jadwal jaga kami dibuat gantian. Maklumlah Han, pengunjung tambah rame. Jadi jam buka cafe kami perpanjang dari jam 9 pagi sampai 10 malam. Hari ini Muklis libur, Ali dan Edi sudah jaga tadi pagi." tutur Radit dengan semangat.
Hana hanya beroh ria, dia merasa senang karena RAMEKAN cafe sekarang semakin berkembang.
" Kamu mau makan apa? Aku siapin menu andalan ya? Sesuai saranmu, selain menyediakan makanan dan minuman cepat saji kami juga menyediakan menu makanan rumahan, dan ternyata mendapat respon yang sangat bagus dari pengunjung." Radit menjelaskan perkembangan cafenya.
" Baiklah aku akan mencoba menu pilihan Abang. Minumnya es teh manis satu teko besar ya?"
__ADS_1
" Satu teko? Kamu kehausan banget ya, habis ngapain?" Radit terkejut dengan pesanan Hana.
" Olah raga malam." celetuk Dewa.
" Kalian berdua habis..." Radit melanjutkan ucapannya dengan isyarat menyatukan kedua telapak tangan dan ditekan tekan.
" Ha ha ha..." Dewa tertawa terbahak karena ternyata otak Radit juga penuh dengan pikiran mesum.
" Heh.... itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Tadi aku habis berantem dengan perampok, jadi buang jauh jauh pikiran kotormu itu." Hana mendelikkan matanya ke arah Dewa dan Radit bergantian.
" Aku permisi mau siapkan pesanan kalian dulu." Radit ngacir keluar ruangan setelah melihat kilatan amarah di mata Hana.
Semenjak kepergian Dewa delapan tahun lalu hubungan Hana dengan geng RAME memang semakin dekat. Mereka menjadi sahabat dekat Hana selain Laura. Hana sudah dianggap seperti adik bagi mereka berempat, bahkan sesuai dengan permintaan mereka Hana memanggil mereka abang. Mereka sering menonton bioskop dan nongkrong di pantai bersama.
RAMEKAN cafe terbentuk atas ide dari Hana yang saat itu melihat geng RAME kebingungan mencari kerja setelah lulus kuliah. Mereka enggan untuk berpisah satu sama lain jika harus bekerja di luar kota. Hana yang melihat kekompakan mereka akhirnya memberi ide untuk membuka usaha bersama di tempat ini. Awalnya mereka ragu, namun Hana berhasil meyakinkan mereka untuk membuka cafe yang diberi nama RAMEKAN seperti nama pemiliknya.
Hana berkontribusi cukup besar dalam pembangunan tempat makan itu. Selain memberikan ide, dia juga menginvestasikan sebagian tabungannya untuk modal usaha. Bahkan konsep dan interior RAMEKAN sebagian besar berasal dari ide Hana. Jadi sudah sangat wajar jika geng RAME sangat menyanjung dirinya.
Selain sebagai sahabat, mereka juga sangat menghormati Hana sebagai mitra usaha. Mereka secara rutin menransfer hasil keuntungan ke rekening Hana. Jika ada masalah penting Hana juga selalu diikutsertakan sebagai salah satu pendiri dan investor RAMEKAN cafe.
" Silahkan diminum es tehnya." Radit datang dengan membawa nampan berisi satu teko es teh berukuran besar dan dua gelas kosong beserta satu piring nuget goreng cemilan favorit Hana.
Dengan cekatan Hana mengisi dua gelas kosong itu dengan es teh yang terlihat sangat menyegarkan. Ia menyerahkan salah satu gelas yang telah terisi ke Dewa.
" Gluk gluk gluk..." tanpa basa basi Hana dan Dewa segera mengosongkan minuman dalam gelas mereka dan segera mengisinya kembali.
" Gluk gluk gluk..." gelas mereka kembali kosong dalam sekali tenggak.
" Kalian benar benar kehausan ya? Bocah ayu ayu ngombene kok ya kayak ngono..." Radit melongo melihat cara minum pasangan kekasih itu. Sangat kontras dengan wajah mereka, cantik dan tampan tapi cara minumnya bar bar.
" He he maklum Bang, haus banget. Tenggorokan sudah kering dari tadi." Hana meringis memperlihatkan deret giginya.
Radit duduk bersama Hana dan Dewa, berbincang dan bercengkerama sambil menikmati cemilan.
Tak berselang lama, dua orang pegawai cafe membawakan makanan yang menjadi menu andalan.
" Selamat makan Mbak, Mas. Silahkan menikmati." ucap salah satu pegawai itu dengan sopan setelah menyusun makanan di atas meja.
" Terima kasih." jawab Hana lembut.
" Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Selamat menikmati makan malam kalian." Radit beranjak untuk kembali melayani pengunjung yang lain.
" Banyak banget Yank? Kamu yakin kita bisa menghabiskan ini semua?" Dewa tampak terperangah dengan banyaknya makanan yang tersaji di depannya.
" Harus habis dong. Ingat, mubadzir adalah temannya setan."
" Bismillahirohmanirrohim, selamat makan...." Hana mulai memasukkan makanan ke mulutnya.
Dewa melakukan hal yang sama. Dia mengecap dan mengunyah makanan itu.
Rasanya enak.......
Mereka berdua tampak semangat menikmati makanan di depannya. Dengan menggunakan tangan tanpa dibantu sendok dan garpu mereka memasukkan makanan ke dalam mulut. Makanan itu terasa sangat nikmat, entah karena masakannya yang memang nikmat atau karena mereka yang sudah kelaparan. Masuk, kunyah, telan, itu yang mereka lakukan sampai makanan di depannya habis tak tersisa.
" Oooooeg...." mereka bersendawa bersama pertanda bahwa perut mereka telah mencapai batas maksimal.
__ADS_1
" HA HA HA HA...."