
"Laura...." pekik Hana terkejut.
Mampus gue kalau Laura sampai tahu Dewa ada di sini. Gue harus cepet cepet umpetin Dewa.
"Bentar." teriak Hana.
Hana bergegas menarik tangan Dewa ke dalam kamarnya.
"Gue belum selesai makan." protes Dewa.
"Udah cepet enggak usah banyak protes, loe diam di kamar gue aja jangan berisik loh. Jangan sampai Laura tahu loe ada di sini. Mumpet sana." Hana mendorong Dewa ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Tapi Han.."
"Ssssstttt diam enggak usah berisik."
Hana berjalan tergesa ke arah pintu depan.
"Hana....." teriak Laura dengan suara cemprengnya.
"Ya, bentar."
Hana membuka pintu dan berusaha tersenyum sewajarnya untuk menutupi kecemasannya.
"Lama amat buka pintu doang, loe lagi apa sih molor ya?" ketus Laura.
"He he he." Hana masih mempertahankan senyum palsunya.
Laura nyelonong masuk ke dapur.
Hana mengekor di belakangnya. " Mau apa sih Ra?"
"Gue haus, mau minum. Memang kenapa enggak boleh?" ketus Laura.
"Bo boleh, cuma tanya doang kok gitu aja sewot."
Tiba tiba mata Laura terpaku pada piring di atas meja makan.
"Loe lagi makan? Kok enggak dihabisin?" selidik Laura yang merasa heran.
"Oh,, ya, gue tadi lagi makan terus denger loe datang gue buru buru bukain pintu buat loe, makanan gue tinggal gitu." jelas Hana yang terpaksa berbohong.
"Oh,, ya udah lanjutin aja makannya."
"Tapi sekarang gue udah kenyang owk Ra."
Laura merasa aneh dengan sikap Hana, tak biasanya ia menyisakan makanan. Karena biasanya ia akan langsung ngomel ngomel jika ada orang makan enggak dihabiskan. "Mubadzir temannya setan." selalu itu yang Hana ucapkan.
"Tumben loe nyisain makanan. Loe mau jadi temannya setan?"
"Ha..? Enggaklah."
"Kalau gitu cepat habisin. Biasanya kan loe paling getol ngomelin orang yang nyisain makanan."
"Iya iya gue habisin." Hana mulai memasukkan sendok berisi makanan ke mulutnya dengan enggan dan ragu ragu.
Ini kan sendok bekas Dewa, bekas bibir Dewa dong. Masak gue makan ma sendok yang sama. Sudahlah kan cuma sendok. Huff, padahal gue udah kenyang banget. Tadi gue kan sarapan lumayan banyak
Setelah beberapa suapan akhirnya makanan di piring pun habis tak tersisa.
"Hooooeekkkk " Hana bersendawa pertanda perutnya telah mencapai batas maksimal. Bagaimana tidak, tadi ia sudah sarapan bersama keluarganya dan kini masih harus menghabiskan sisa makanan Dewa.
__ADS_1
Laura menatap Hana heran.
" He he he gue kekenyangan tadi ambil nasi kebanyakan." Hana meringis memperlihatkan deret giginya.
Mata Hana membelalak saat Laura berjalan menuju ke kamarnya.
Oh shit.
"Ra duduk di teras aja yuk, cari yang banyak anginnya." Hana berusaha menahan agar Laura tidak masuk ke kamarnya. Namun Laura tidak menggubris ucapan Hana dan terus nyelonong ke kamar.
"Ceklek.." Mata Laura membulat terkejut melihat kamar Hana.
" Pencuri.." pekiknya.
" Hah ,, pencuri? Mana Ra? Mana?" Hana ikut terkejut karena Laura tiba tiba berteriak.
Mata Hana mengikuti arah telunjuk Laura. Sepi tidak ada sosok Dewa, hanya pemandangan yang luar biasa berantakan akibat ulah Hana dan Dewa yang tadi kejar kejaran.
Huft, aman enggak ada Dewa. Tapi dia ngumpet dimana ya? Dan wait, kamar gue berantakan banget. Perasaan tadi cuma kejar kejaran doang kok jadi kayak kapal pecah gini.
" Han cepet cari pencurinya, mungkin dia belum kabur."
Hana masih mematung matanya mencoba menelisik keberadaan Dewa. Sedangkan Laura tengah berlari ke sana kemari sembari membawa sapu berusaha untuk mencari si pencuri.
"Loe kok malah diam? Cepat cari pencurinya, periksa ada barang apa yang hilang. Lagian loe teledor banget jendela kamar loe biarin terbuka." cerocos Laura.
Hana pun mengekor Laura meneliti tiap sudut kamarnya untuk mencari si pencuri.
" Sudah kabur mungkin Ra, lagian enggak ada yang hilang owk. Udah ayo bantu gue beres beres aja." bujuk Hana agar Laura menghentikan pencariannya.
Mereka pun membereskan isi kamar, menata kembali barang barang ke tempatnya.
" Beneran enggak ada yang hilang Han?"
" Enggak ada, udah gue teliti tadi."
Enggak mungkin ada yang hilanglah orang enggak ada pencuri. Kamar berantakan kan akibat ulah gue ma Dewa. Sorry banget ya Ra gue belum bisa jujur ma loe.
" Makasih ya Ra udah bantuin gue beres beres kamar."
" Iya , lain kali loe lebih hati hati jangan sampai ada pencuri masuk kamar loe lagi."
" Iya, Laura sayang. Loe emang teman gue yang paling best. Pengertian dan perhatian banget." ucap Hana sambil menelungkup pipi Laura merasa gemas.
" Ih apaain sih." Laura menjauhkan tangan Hana dari pipinya. " Udah buruan mandi! Loe bau asem."
Hana mengendus tubuhnya, " He he emang bau asem."
Tak perlu waktu lama bagi Hana untuk menyelesaikan ritual mandinya. Hana keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan sebatas dada dan di atas lutut. Laura masih tetap pada posisinya, rebahan di kasur sembari memainkan ponselnya.
" Cepat banget loe mandinya Han. Kayak paket kilat aja."
" He he yang penting kan bersih dan wangi." Hana berlalu menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Mata Hana terperangah, mulutnya terbuka namun tak mengeluarkan suara. Wajahnya memerah menahan malu dan kesal. Bagaimana tidak ternyata Dewa bersembunyi di lemari di balik gantungan baju. Hana mengambil pakaian dengan sembarang dan secepatnya menutup pintu lemari.
Dewa tertegun, untuk sesaat nafas dan aliran darahnya seakan berhenti. Melihat Hana hanya mengenakan handuk, sungguh pemandangan yang luar biasa. Ia berusaha menahan gejolak dalam dirinya.
Hana berjalan tergesa menuju kamar mandi lagi membawa baju ganti.
"Mau ngapain loe? Biasanya juga ganti baju di kamar."
__ADS_1
"Gue kebelet, sekalian ganti baju di kamar mandi aja." kilah Hana.
Gila si Dewa, ngapain mumpet si lemari sih. Trus kalau sudah begini gimana coba. Sumpah malu banget gue.
Dengan cepat Hana memakai baju di dalam kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah dan aroma yang segar. Rambutnya dikucir dengan asal dan wajahnya dibiarkan polos tanpa sapuan bedak sedikit pun.
"Buku loe gue taruh di nakas ya." Laura meletakkan buku Fisika yang kemarin baru dibeli bersama.
"Jangan lupa loe masih hutang penjelasan ma gue. Semalam loe nonton dan pulang ma siapa?"
Heh, Laura masih aja membahas yang tadi malam. Kirain sudah lupa. Aduh mau ngomong apa gue? Mikir Han mikir...
Kalau gue bohong pulang sendirian, ntar kalau ibu ma ayah cerita ma Laura ketahuan dong.
" Semalam,,,, gue nonton Fast and Furious sendiri lah. Memangnya mau sama siapa lagi." Hana berusaha berbicara sewajarnya menutupi kebohongan.
" Kan Yusuf gue suruh buat nyusulin loe."
" Iya Yusuf memang nyusul, tapi enggak ketemu, orang dia di pintu 1 sedangkan gue di pintu 3. Salah loe ngasih infonya enggak jelas."
" Lah gue kan buru buru, enggak ingat lah kita mau nonton di pintu berapa. Trus ngapain loe enggak lihatin ponsel loe? Gue sampai khawatir banget loe enggak ngasih kabar ke gue. Pakai acara disilent segala." cerocos Laura.
" Namanya juga nonton film, jelas gue silent lah biar enggak ganggu. Lagian terlalu asyik nonton babang Vin Diesel lupa deh mau ngasih kabar ke loe, he he maafin ya Laura sayang sudah bikin loe kawatir." Hana memasang wajah imut sambil mengedip kedipkan mata.
"Trus loe pulangnya?"
"Mmmmm, gue bareng ma Dewa." Hana nyengir.
"Whattt? Dewa? Kok bisa?" teriak Laura karena terkejut. Suara cemprengnya benar benar memekakkan telinga.
"Pas gue mau pulang kebetulan gue ketemu ma dia, trus diajak bareng. Ya udah gue mau aja lumayan hemat ongkos." ucap Hana sedatar mungkin.
"Loe enggak diapa apain kan? Loe kan tahu dia playboy dan berengsek banget suka mainin cewek."
"He he iya iya, tapi gue enggak apa apakan? Lagian loe lupa ya kalau gue sabuk hitam taekwondo jadi gue cukup bisa jaga diri lah."
"Tapi loe tetap enggak boleh dekat dekat ma dia. Bahaya tau." ucap Laura menggebu.
Enggak usah keras keras juga kali Ra, Dewa kan ada di lemari pasti denger ini semua. Huffff..
"Iya iya mak Laura, yang tingkat kecerewetannya udah melebihi level emak emak."
"Pokoknya loe mesti ingat ingat jangan dekat dekat sama Dewa. BAHAYA."
Tiba tiba.
" Haciiiiu...!" terdengar suara bersin.
"Apaan tu Han, dari dalam lemari kayaknya." Laura segera bangkit mengambil sapu bersiap membuka lemari.
"Enggak ada apa apa owk Ra, loe salah dengar kali?" bujuk Hana agar Laura tak lagi ingin membuka lemari.
" Gue yakin Han ada suara bersin dari dalam lemari."
Bujukan Hana nyatanya tidak mempan. Laura tetap saja membuka lemari.
Mampus gue. Kali ini Dewa pasti bakal ketahuan.
Laura membuka pintu lemari perlahan, dan dari dalam lemari tiba tiba sesosok laki laki menerobos keluar dengan cepat. Laura terkejut hingga terpental ke belakang. Laura tidak sempat melihat wajahnya karena kepalanya ditutup dengan kaos dan melompat keluar jendela.
" PENCURI...!" teriak Laura histeris.
__ADS_1