
Hana memasuki sebuah kamar yang tidak kalah luas dengan kamar yang pernah ia masuki dulu. Kamar ini terlihat sangat elegan dengan dominasi warna ungu. Semua barang dan furniture di dalamnya bisa ditebak adalah barang barang mewah dan mahal.
" Kamu mandi dulu ya sayang, ibu sudah siapkan baju gantinya." ucap ibu Dewa lembut sembari menyerahkan sebuah piyama berwarna merah yang terbuat dari sutera.
" Terima kasih Bu." Hana menerima baju itu dengan senyum merekah.
" Ibu tinggal sebentar ya." ibu Dewa beranjak dari kamar untuk memberi kesempatan calon menantunya membersihkan diri.
Hana segera merendam tubuhnya di dalam bath up yang sudah terisi dengan air hangat lengkap dengan busa dan aroma wangi yang menenangkan. Rasa capek dan pegal yang melandanya dalam sekejap hilang, berganti rasa nyaman.
" Huh nyaman sekali, ternyata berendam dalam bath up enak juga." dengus Hana sambil memainkan busa yang merendam tubuhnya. Tubuh Hana terasa rileks, bahkan tanpa ia sadari matanya terpejam dengan sendirinya karena buaian busa dan aroma yang benar benar menenangkan pikiran.
" Tok tok tok.... Sayang kamu masih di dalam?" panggil ibu Dewa dengan nada khawatir karena calon menantunya sudah hampir satu jam berada dalam kamar mandi.
" Sayang...?!" panggil ibu Dewa lagi dengan suara yang meninggi namun tetap tak ada jawaban.
" Ceklek... ceklek....." ibu Dewa berusaha membuka pintu namun ternyata pintu kamar mandi dikunci dari dalam.
" Hana....! Hana sayang buka pintunya nak..." teriak ibu Dewa sambil terus menggedor gedor pintu.
Setelah merasa putus asa dengan usahanya akhirnya ibu Dewa bergegas keluar kamar untuk meminta bantuan.
" Sayang cepat tolong Hana." ucap ibu Dewa menghampiri anaknya yang tengah menonton film di ruang keluarga.
" Ada apa dengan Hana?" tanya Dewa.
" Hana mandi." jawab ibu sekenanya sambil mengatur napas karena diliputi rasa cemas.
" Hana mandi?" Dewa tampak bingung.
" Huffff..." ibu Dewa menghela napas panjang.
" Hana mandi sudah hampir satu jam belum keluar, ibu panggil enggak ada sahutan." tutur ibu Dewa dalam satu helaan napas.
Tanpa berpikir lagi Dewa segera bergegas ke lantai atas menuju kamar ibunya. Dengan tergesa ia menaiki tangga, bahkan dalam satu langkah ia melompati beberapa anak tangga.
__ADS_1
" Hana kamu tidak apa apa kan sayang? Hana....?!" teriak Dewa di depan kamar mandi sambil berancang ancang ingin mendobrak pintu.
" Hana....!" dengan kekuatan penuh Dewa mendobrak pintu kamar mandi.
" BRUGHHHHH...!" tubuh Dewa terjerembab ke lantai karena saat ia mendobrak pintu, Hana justru membuka pintunya.
" AOUW.... !" rintih Dewa karena tubuhnya terantuk lantai cukup keras.
" Kamu kenapa Yank? Kenapa ada di sini?" tanya Hana tanpa rasa bersalah.
" Kamu yang kenapa berada di dalam kamar mandi lama banget? Terus kenapa tiba tiba buka pintu." ketus Dewa masih meringis kesakitan.
" He he, maaf. Tadi aku keasyikan berendam sampai ketiduran. Ayo aku bantu berdiri." Hana mengulurkan tangannya.
" Deg....!" jantung Dewa tiba tiba berdetak kencang saat mata Dewa terpaku dengan tubuh mulus Hana yang hanya terlilit handuk. Darahnya mendesir kuat saat aroma tubuh Hana menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Hasratnya kian bergelora, dia hanya bisa menelan ludah.
" Tanpa dibantu juga sudah berdiri kok Yank." dengus Dewa yang menyadari bahwa salah satu organ bagian bawahnya kini telah mengeras.
****, kenapa jadi gampang banget bangunnya. Lagian kenapa Hana enggak sadar kalau penampilannya sungguh sangat menggoda. Aku harus buruan pergi sebelum tubuh ini hilang kendali.
" Hah? Kamu barusan ngomong apa Yank?" tanya Hana polos.
" Sayang bagaimana keadaan Hana?" tanya ibu Dewa saat berpas pasan dengan anaknya.
" Hana baik baik saja. Aku tidur dulu Bu sudah ngantuk." jawab Dewa dengan cepat melangkah ke dalam kamarnya.
Sial, sepertinya aku harus mandi lagi buat meredam dorongan hasrat ini.
" Sayang kamu enggak apa apa kan?" tanya ibu Dewa mendekati Hana yang kini tengah mengeringkan rambutnya.
" Ibu? Aku enggak apa apa, memangnya kenapa?"
" Syukurlah, tadi ibu cemas karena kamu berada di dalam mandi lama banget. Ibu panggil tapi enggak ada sahutan. Ibu takut kamu kenapa napa di dalam jadi nyuruh Dewa buat dobrak pintunya." ucap ibu Dewa merasa lega.
" He he, maaf tadi aku ketiduran di bath up."
Owh, pantas saja tadi Dewa kelihatan panik banget.
__ADS_1
" Owh, syukurlah. Tapi kenapa tadi Dewa tergesa gesa masuk kamar? Biasanya jam segini dia kan belum ngantuk."
" Entahlah Bu, apa dia marah ya gara gara tadi pas dia mau dobrak pintunya aku buka sehingga dia terjerembab ke lantai?" tanya Hana tidak enak hati.
" Benarkah? Tapi sepertinya tadi Dewa enggak terlihat marah kok, atau mungkin dia memang ngantuk karena kecapekan?"
" Mungkin seperti itu Bu."
" Sini Ibu bantu untuk mengeringkan rambut." ibu Dewa mengambil alih hair dryer dari tangan Hana.
" Maaf merepotkan."
"Enggak sama sekali. Ibu malah senang banget punya kesempatan seperti ini." tangan ibu Dewa dengan lihai mengeringkan rambut calon menantunya.
" Sudah selesai, menantu Ibu memang cantik." puji ibu Dewa setelah mengeringkan dan menyiair rambut Hana.
" Terima kasih. Mertua Hana juga cantik. Cantik banget malahan. He he." balas Hana.
" Kamu ini bisa saja. Kita pindah ke kasur saja yuk, ibu pengin ngobrol banyak sama kamu. Tapi kalau kamu ngantuk langsung mau tidur juga enggak apa apa."
" Hana belum ngantuk kok Bu, tadi kan sudah sempat tidur di kamar mandi, jadi ngantuknya hilang."
" Benarkah? Kalau begitu kita bisa ngobrol banyak sambil menonton film." ibu Dewa tampak sumringah.
Hana dan ibu Dewa duduk santai di kasur sembari memeluk guling. Layar besar yang menempel di dinding depannya mulai menampilkan adegan film bollywood yang dibintangi oleh Harshvardan Rane dan Mawra Hocane. Sanam Teri Kasam, itulah judul film yang tengah mereka tonton. Film dengan durasi 2 jam 35 menit itu mampu menguras air mata Hana dan calon mertuanya bahkan mereka berdua sampai terisak isak. Kamar yang biasanya terlihat rapi kini tampak sedikit berantakan dengan tisu bekas ingus dan air mata yang berserakan di kasur dan sekitarnya.
" Filmnya sedih banget, kenapa Saru harus mati. Hiks hiks hiks." Hana menangisi pemeran wanita yang harus meninggal di akhir cerita.
" Benar, seharusnya dia hidup bahagia dengan Inder di akhir cerita, tapi kenapa harus mati." ibu Dewa ikut menimpali.
" Hiks hiks hiks, kasihan Inder pasti sedih banget harus kehilangan wanita yang paling dicintai."
"Hua hua hua......." ibu Dewa dan Hana menangis bersama menumpahkan kesedihan yang disebabkan oleh cerita film yang menyayat hati sambil berpelukan.
Tanpa terasa waktu telah melewati tengah malam, namun keduanya belum menunjukkan tanda mengantuk. Mereka masih asyik bercanda sambil berbincang tentang banyak hal mulai dari membahas film, cerita lucu, persiapan pernikahan, kehidupan Hana sehari hari dan kisah pilu masa lalu Dewa dan ibunya.
Hana sama sekali tidak menyangka bahwa di balik sosok ibu Dewa yang selama ini terlihat cantik dan elegan bisa sangat cocok dengan dirinya yang slengekan. Malam ini Hana seperti tengah menginap di kamar sahabatnya, hubungan keduanya tampak sangat akrab seperti bukan calon mantu dan mertua.
__ADS_1
Enggak nyangka banget ternyata ibu orangnya bisa gokil abis, beda banget sama kesan pertama dulu yang terlihat kalem dan elegan. Kayaknya bakalan jadi mertua rasa teman ni.
Hana, kamu memang sosok yang luar biasa. Baru kali ini aku bisa bebas bercerita dan tertawa tanpa beban. Aku seperti mendapatkan kembali masa mudaku yang selama ini tak pernah aku rasakan. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Hana dalam kehidupanku dan Dewa.