
Berparas cantik dan bertubuh semampai. Wajahnya penuh dengan senyum keramahan. Ya dialah dokter Raisa Atmajaya, seorang dokter muda spesialis kandungan yang menjadi incaran Hana untuk dijodohkan dengan sahabat baiknya, Yusuf Putra Dermawan.
Tidak ingin mengecewakan perasaan teman baru dan sekaligus klient spesialnya, dokter muda itu mau tidak mau memenuhi undangan Hana untuk menikmati makan malam bersama. Tepat pukul 19.00 Raisa berdiri di depan pintu rumah Hana dengan membawa sebuah bingkisan berisi buah buahan segar.
Seakan semua sudah direncanakan dan diprediksi oleh wanita manis yang kini tengah mengandung buah cinta dari suaminya, Dewa. Yusuf diminta untuk membukakan pintu menyambut tamu spesial malam itu.
" Selamat malam." sapa Raisa dengan lembut.
" Selamat malam, silahkan masuk. Anda pasti tamu Hana." Yusuf menatap penampilan Raisa yang terlihat cantik dan elegan.
Oh, jadi ini tamu spesial yang dimaksud Hana. Lumayan cantik, tinggi lagi. Dia tidak sedang berniat mencarikan istri baru untuk Dewa kan? He he.
" Malam Dokter Raisa, ah maksudku Raisa, ayo silahkan duduk. Kita langsung saja mulai acara makan malamnya. Baby diperutku sudah meronta sedari tadi." sapa Hana di ruang makan sembari mengelus perutnya yang masih terlihat datar. Dia memang sengaja meminta Yusuf untuk langsung membawa Raisa ke ruang makan.
" Terima kasih. Ini ada sedikit buah buahan." Raisa menyerahkan bingkisan di tangannya.
" Ah terima kasih. Sebenarnya kamu tidak perlu repot repot seperti ini." Hana menerimanya dengan senyum terkembang.
" Silahkan duduk. Yusuf ajak Dokter Raisa untuk duduk dong, jangan diam saja. Ambilkan kursinya." Hana memelototi sahabat yang tengah duduk di sebrangnya, memberi kode agar segera menarik kursi untuk dokter cantik itu.
Apa apaan Hana? Lebay banget, kayak di film film saja. Kursi tinggal digeser terus diduduki saja masih memintaku agar melakukan untuk tamunya. Sebenarnya siapa sih Dokter Raisa ini? Kenapa Hana memperlakukannya secara spesial? Tadi sampai memaksaku untuk berpenampilan rapi seperti ini untuk menyambutnya. Padahal cuma mau makan malam biasa kan?
" Silahkan duduk." Yusuf terpaksa menarik kursi di sebelahnya.
" Terima kasih."
" Perkenalkan dia adalah teman baruku, sekaligus dokter kandunganku, Dokter Raisa."
" Hai, saya Raisa. Salam kenal." ucap Dokter Raisa sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Hello Dokter Raisa, saya Dewa suami Hana. Anda pasti sudah sangat mengenal saya." ucap Dewa dengan sedikit penekanan, karena Dewa sangat yakin bahwa wanita di depannya ini sudah sangat mengerti dengan identitas Hana dan dirinya. Wanita cantik itu hanya mengangguk sambil tersenyum seakan mengiyakan ucapan Dewa.
" Dan lelaki tampan di sebelahmu ini adalah Yusuf, adik ipar sekaligus sahabat baikku. Dia baik dan penyayang lho... Delapan tahun menempuh pendidikan di Singapura. Penerus perusahaan Dermawan. Dan yang terpenting dia single dan siap menikah." puji Hana membanggakan sahabatnya layaknya seorang sales yang memuji barang dagangannya agar penjual tertarik.
Wait..... Apa maksud Hana berkata seperti itu? Dia tidak bermaksud menjodohkan aku dengan dokter ini kan? Pantas saja dari tadi aku merasa ada yang tidak beres. Ternyata Hana sudah merencanakan ini semua.
Netra Yusuf menatap Hana dengan tajam namun calon ibu muda itu tidak merasa terintimidasi sama sekali.
" Oh benarkah? Pasti banyak gadis cantik yang bersedia untuk menjadi kekasihnya." goda Raisa.
" Mungkin, tapi entah mengapa dia masih betah menjomblo seperti ini. Belum ada gadis yang sesuai dengan kriterianya, maybe?"
__ADS_1
" Heh apa maksud kalian? Aku masih jomblo karena itu adalah pilihan. Aku ingin lebih fokus ke karier terlebih dahulu." ketus Yusuf.
" Benarkah? Kalau begitu kamu harus segera bersedia menggantikan ayah untuk mengelola perusahaan. Bukankah kamu ingin fokus ke karier?" sela Dewa.
" Kenapa arahnya ke situ? Aku kan masih harus banyak belajar untuk mengelola perusahaan. Lagi pula aku masih betah kok bekerja di perusahaanmu. Dan kamu sedikit banyak juga merasa terbantu dengan kehadiranku kan?" celoteh Yusuf.
" Ehem... Kenapa kalian malah jadi membahas perusahaan?" geram Hana.
" Sudahlah ayo cepat kita mulai makan sebelum makanannya dingin. Ayo silahkan makan Raisa, semoga masakan rumahan ini sesuai dengan seleramu." Hana memberi kode mata Yusuf agar segera mengisi piring dokter Raisa dengan makanan. Yusuf hanya bisa pasrah menuruti keinginan sahabatnya.
" Terima kasih." ucap dokter Raisa lembut.
" Ayo semua kita mulai makan. Tapi jangan lupa berdoa dulu....."
Mereka menikmati makan malam dengan sedikit obrolan ringan di sela selanya. Dan seperti biasa Hana selalu makan dengan porsi di atas standart. Bahkan dokter Raisa sampai ternganga melihat naf#su makan Hana yang tidak seperti ibu hamil muda lainnya.
Setelah menikmati makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga sembari berbincang bincang. Mbok Mira membawa sepiring bolu keju dan rujak mangga muda untuk kedua majikannya. Berbagai buah segar dan kue kering juga tak lupa ia sajikan untuk teman mengobrol.
" Kamu suka rujak mangga ya Han? Wanita yang tengah hamil muda memang biasa suka makanan yang segar dan asam." ucap dokter Raisa.
" Tidak, itu bukan untukku. Tapi suamiku. Dia yang ngidam makan mangga muda dan sering mual di pagi hari. Kalau aku malah tidak merasakan apa apa. Aku juga tidak suka makan yang asem asem, malah semenjak hamil aku lebih suka makan bolu keju seperti ini. Sepertinya baby di perut aku memang sangat memahami ibunya, he he." Hana mencomot bolu keju di depannya dan memakannya dengan lahap.
Raisa melongo menatap Hana.
" Han, makannya pelan pelan. Seperti orang kelaparan saja. Tadi kamu kan sudah makan banyak banget." tegur Yusuf.
" Biarin, perut aku belum merasa kenyang owk. Lagi pula orang hamil tuh memang disaranin buat banyak makan. Iya kan Raisa?" ucap Hana meminta pembenaran.
" Eh...? I, iya. Tapi kalau bisa yang diperbanyak sayur dan buah buahan biar dedek bayi dan ibunya sehat."
" Sebelum membuka klinik di sini Dokter bertugas di mana?" tanya Dewa sembari mulai memakan rujak mangga. Kini sudah menjadi kebiasaan Dewa untuk memakan mangga muda sesaat setelah makan, entah itu pagi, siang atau malam hari.
" Saya bekerja di salah satu rumah sakit di Singapura." jawab Raisa singkat.
" Oh, pantas saja. Pasti Anda mempunyai prestasi yang bagus sehingga Papa memilih Anda untuk menjadi dokter kandungan istri saya." dengus Dewa.
" Mak_maksud Anda?"
" He he, sudahlah Dokter Raisa tidak perlu ditutupi lagi. Saya dan istri saya sudah tahu bahwa Anda adalah dokter suruhan Papa saya untuk memantau istri dan calon bayi kami. Jadi tidak perlu ada rahasia di antara kita. Kami tidak merasa keberatan dengan itu semua. Toh istri saya juga sudah menganggap Anda sebagai temannya."
__ADS_1
" He, begitu ya? Apa penyamaran kami terlihat sangat mencolok?" tanya Raisa dengan sedikit malu.
" Sebenarnya tidak. Hanya saja mana mungkin ada klinik dadakan dalam waktu yang begitu singkat dengan alat kesehatan yang begitu mahal dan lengkap setara dengan fasilitas di rumah sakit besar ternama. Ditambah kunjungan istimewa ke rumah. Dokter mana yang mau melakukan kunjungan tanpa ada permintaan?"
" Itu benar. Ditambah lagi kehadiran orang orang suruhan Papa Russell yang datangnya hampir bersamaan. Seperti tetangga baru di depan rumah, guru dan murid pindahan di sekolah tempat aku mengajar. Itu semua orang orang Papa Russell untuk memantau dan melindungi kami kan? Dan untuk kali ini kami tidak merasa keberatan selama ruang gerak kami tidak terlalu dibatasi seperti sebelumnya." imbuh Hana dengan datar.
" Baiklah, kalau begitu sebagai teman aku mohon kerja sama kalian." Raisa sedikit membungkukkan badannya.
" Baiklah, tapi itu juga ada syaratnya. Temani Yusuf ngobrol sebentar di sini."
" Hei kenapa bawa bawa aku? Apa hubungannya denganku?" keluh Yusuf sembari menghentikan aktifitasnya bermain ponsel.
" Ayo Sayang kita ke kamar. Ada ritual yang harus kita lakukan. Sepertinya baby kita sudah merindukan kunjungan dari papanya." Hana beranjak dari duduknya. Tanpa menunggu sang istri memgulangi ucapannya, Dewa bergegas meletakkan piring berisi rujak mangga di tangannya.
" Ayo Sayang.....! Aku sudah sangat merindukannya." ucap Dewa dengan semangat empat lima.
" Heh dasar kalian pasangan mesum tidak ada akhlak. Ngomong seperti itu di depan umum." seru Yusuf.
" Maaf ya Suf, ini kan rumah kami jadi bukan tempat umum." bela Hana.
" Makanya buruan cari pendamping biar bisa en@ en@. Jangan kelamaan jomblo Bos." bisik Dewa dengan menyeringai.
" Ayo Sayang kita tinggalkan mereka berdua. Kasihan dedek bayi sudah tidak sabar ingin dikunjungi." ucap Dewa penuh maksud.
" Hei jaga bicara dan kelakuan kalian." ketus Yusuf.
" Maaf ya Yusuf kami ke kamar dulu. Nanti jika sudah selesai ngobrol tolong antar dokter Raisa pulang. Dan...... Nanti kalian tidak perlu berpamitan." Hana mengedipkan matanya sebelah.
" Enjoy your time..... Bye....." Hana dan Dewa melenggang ke kamarnya tanpa rasa bersalah.
" Mereka....???? Ha ha ha..... Apakah memang mereka seperti itu?" tawa dokter Raisa meledak. Wajahnya kian terlihat cantik tatkala tertawa lepas seperti saat ini.
" Yah begitulah......." dengus Yusuf menghela nafas panjang.
" Sayang, kita beneran boleh melakukan ritual saat kamu hamil muda seperti saat ini?" bisik Dewa sambil terus melangkah.
" Tentu saja. Tadi sore aku sempat bertanya kepada dokter Raisa tentang hal ini. Dan selama kandunganku baik baik saja maka tidak ada larangan untuk melakukannya tapi tidak boleh terlalu keras sodokannya karena akan mengganggu baby."
" Kalau begitu ayo kita lakukan." Dewa segera membopong tubuh istrinya dengan semangat. Ia sudah mendambakan melakukan ritual favoritnya yang sudah beberapa hari ini mereka skip semenjak kehamilan Hana terungkap.
" Aku sangat menantikan saat saat seperti ini Sayang. Rasanya sudah sekian purnama kita melewatkan ritual bersama kita." ucap Dewa dengan sorot mata berkabut penuh damba.
__ADS_1
Aku harus berterima kasih kepada dokter Raisa. Berkat dia aku tidak harus tersiksa menahan hasrat jiwaku, ia layak untuk mendapat hadiah. Papa...... You are the best. Terima kasih telah mengirimkan dokter Raisa.