
" Kring....!!!!" suara jam alarm di nakas mengusik mimpi sepasang anak manusia yang tengah terlelap.
Hana membuka paksa matanya yang masih terasa berat, tangannya menggapai jam di nakas sebelahnya dan mematikannya. Ia berusaha untuk segera bangun namun pergerakkannya terhenti saat ia menyadari ada sepasang tangan yang masih melingkar di pinggangnya.
Dewa, aku kira semalam hanya mimpi ternyata kenyataan.
Dengan perlahan Hana berusaha melepas lilitan tangan Dewa di pinggangnya.
" Yank, sebentar lagi. Biarkan seperti ini dulu." ucap Dewa dengan suara agak serak khas orang bangun tidur.
" Sudah pagi ayo buruan bangun, nanti kalau ketahuan ayah sama ibu kamu tidur di sini bagaimana?" bukannya melepas, Dewa malah mempererat lilitan tangannya.
" Dewa... ayo buruan bangun..!" desak Hana.
" Tok.. tok.. tok... Hana cepat bangun sholat dulu...!" teriakkan ibu Hana membuat Hana melepas paksa tangan Dewa.
" Ya Bu, Hana sudah bangun..." teriak Hana tidak kalah nyaring dari ibunya.
Terdengar suara langkah kaki ibu Hana meninggalkan kamar.
" Dewa ayo cepetan bangun..! Segera keluar dari kamar ini." Hana menarik tangan Dewa berusaha untuk membangunkannya.
" Aku masih ngantuk, sebentar lagi ya..." Dewa masih enggan untuk membuka matanya.
" Buruan, ini sudah jam 04.30." Hana mendudukkan paksa tubuh Dewa.
" Buruan bangun..! Cepat pindah ke kamar kamu." Hana membuka jendela kamarnya. Udara pagi yang dingin menyeruak masuk ke dalam kamar Hana.
" Iya, iya aku keluar dari kamar kamu. Tapi morning kiss dulu." Dewa memdekat ke arah Hana yang tengah berdiri di dekat jendela.
" Apaan sih?" wajah Hana tersipu malu.
" Cepetan, atau aku enggak mau keluar dari sini. Biar orang tua kamu tahu kalau semalam kita tidur berdua." Dewa menyeringai penuh kemenangan.
" Ckkkk, kamu...... Iya iya aku ngalah kali ini."
" Cup." Hana mengecup singkat pipi Dewa. Wajahnya bersemu merah menahan malu.
" Kok cuma sekilas? Enggak terasa, ulangi lagi." Dewa menyodorkan wajahnya ke arah Hana.
" What? Enggak terasa ya?" Hana tampak geram.
" Ini baru terasa." Hana menarik tangan Dewa dan mendorong paksa tubuh Dewa keluar dari jendela.
"Bugh....!" suara tubuh Dewa yang terjatuh.
" Aouw,,,, yank tega amat masak aku dilempar keluar?" Dewa memegangi bokongnya yang terasa sakit.
" Bodho amat."
__ADS_1
" Brakkkk...!" Hana menutup jendela kamarnya.
Dewa segera berlari ke arah kamar tamu sambil tersenyum memegangi pipinya yang barusan dikecup oleh Hana.
Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamar melalui jendela kamar yang ia biarkan terbuka sejak semalam.
" Tok tok tok, Nak Dewa..." panggil ibu Hana mengetuk pintu kamar Dewa.
" Oh iya Tan,, hoaaaammmm." Dewa membuka pintu dan berakting seolah olah baru saja bangun tidur.
" Eh sudah bangun? Tante kira masih tidur. Ini Tante bawain baju ganti buat sholat. Kayaknya ini pas buat kamu." ibu Hana menyerahkan sebuah sarung dan baju koko ke Dewa.
" Terima kasih Tante."
" Nanti kalau sudah selesai sholat dan mandi segera keluar ya, kita sarapan bareng."
" Iya Tante." ucap Dewa dengan sopan.
Setelah sholat Hana bergegas ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
Ibu Hana tampak sibuk mengolah beberapa menu.
" Masak apa saja Bu? Sibuk banget?"
" Sudah jangan banyak tanya, cepat bantuin Ibu biar cepat selesai." Ibu Hana menyodorkan ikan gurame, lele, dan ayam agar segera dibersihkan.
" Ibu kan enggak tahu makanan kesukaan Dewa apa, jadi ibu masak saja bahan makanan yang ada. Apalagi Dewa sudah lama enggak makan masakan Indonesia. Sudah jangan banyak ngomong cepat selesaikan nanti keburu siang." Ibu Hana melanjutkan meracik bumbu untuk masakannya.
" Ckkk, baiklah Ibu Dina tersayang. Lagian aku heran deh sama ibu, kenapa enggak mau pakai jasa ART. Kan lumayan ibu enggak perlu capek dan repot repot seperti ini." Hana mulai membersihkan ikan dan ayam di bawah guyuran air wastafel.
" Ibu belum butuh, tenaga ibu masih kuat kok. Lagian ibu kan enggak ada kesibukan. Toko roti juga sudah enggak perlu tenaga ibu, semenjak kamu yang kelola ibu cuma sesekali berkunjung saat kangen sama situasi toko saja. Jadi mengurus rumah tangga sudah menjadi tanggung jawab ibu. Bisa mengurus dan merawat keluarga dengan tangan sendiri ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Nanti saat kamu sudah menikah kamu harus ingat baik baik bahwa mengurus rumah dan keluarga adalah tanggun jawab istri bukan ART. ART hanya untuk membantu meringankan tugas seorang istri." jelas ibu panjang lebar.
" Siap komandan."
" Kamu itu kalau diberitahu selalu saja seperti itu." gerutu ibu Hana.
" Oh ya Evi gimana kabarnya sudah 3 hari enggak telpon ibu? Dia enggak aneh aneh kan di Jakarta?"
" Ibu tenang saja Evi baik baik saja kok. Dia juga bisa jaga diri di sana. Jadwal kegiatannya sibuk, selain kuliah dia kan sibuk mengelola studio fotonya. Maklumlah Bu namanya juga fotografer, kita doakan saja agar Evi selalu sehat dan dilindungi oleh Alloh."
" Amiinn. Ibu enggak akan pernah lupa untuk mendoakan anak anak ibu."
" Ikannya sudah bersih?"
" He he belum, tapi ini ayamnya sudah." Hana menyerahkan ayam ke ibunya.
Ibu Hana menambahkan jeruk nipis, garam, lada dan saos tiram ke ayam kemudian menutupnya rapat. Ia melanjutkan membuat sambal tomat dan pete.
" Cepat ikannya dibersihkan, biar bisa langsung dimasak."
__ADS_1
" Iya, ini juga lagi dibersihkan. Lagian ibu mau masak apa saja? Banyak banget bahannya.."
" Ayam mentega, lele terbang goreng krispi, gurame bakar, sambal tomat dan pete, terus pelengkapnya lalapan." jawab ibu datar.
" Sebanyak itu siapa yang mau makan? Lagian waktunya mana cukup buat masak semua itu? Aku harus ngajar di jam pertama, ada jadwal ulangan." Hana mengeluh.
" Ya sudah habis bersihin ikan kamu tinggal mandi saja, ayo cepat buruan selesaikan."
" Iya, iya ini juga lagi dibersihin."
" Pagi Tante." sapa Dewa nyelonong masuk ke dapur.
" Eh Nak Dewa, kok ke sini? Tante belum selesai masaknya. Tunggu di teras rumah sambil ngopi mau?."
"Enggak usah repot repot Tante, ikannya biar aku yang bersihin. Hana biar segera siap siap ke sekolah biar enggak telat."
Hana menoleh ke arah Dewa, matanya berbinar melihat penampilan kekasihnya. Dewa tampak sangat segar dan ganteng memakai baju koko lengan pendek yang dipadukan dengan sarung.
Dewa mengambil alih ikan di tangan Hana.
" Sudah enggak usah bengong, aku tahu kalau aku terlihat lebih tampan dengan pakaian ini." bisik Dewa di dekat telinga Hana.
Sial, apa kelihatan banget ya kalau aku sangat terkesima dengan penampilan Dewa. Mata oh mata enggak bisa diajak kompromi banget, malu maluin saja. Lagian kenapa Dewa bisa ganteng banget sih memakai pakaian itu. Perasaan ayah tiap hari pakai baju seperti itu terlihat biasa saja.
"Ge-er, tampan apanya? Kayak orang sunat iya." ledek Hana mencoba menutupi perasaannya.
" Cuci ikannya yang bersih, masih ingat kan caranya? Aku mau mandi dulu." ketus Hana pelan sambil memersihkan tangannya.
" Perlu dimandiin?" goda Dewa lirih sembari tersenyum tengil. Hana berlalu sambil memutar bola matanya.
" Maaf ya Nak Dewa malah ngrepotin."
" Enggak apa apa Tante, aku senang kok bisa bantu masak. Itung itung buat latihan nanti kalau sudah menikah biar bisa bantu istri masak." jawab Dewa sopan.
" Bu ini selada dan mentimunnya." ayah Hana menyerahkan bakul berisi sayuran hasil kebun belakang rumah.
" Oh ya Yah, terima kasih. Ayah mau kopi atau teh?"
" Enggak usah, ayah minum air putih saja biar sehat. Ayah tinggal mandi dulu ya, mau siap siap berangkat kerja. Dewa terima kasih ya sudah mau bantuin Tante masak."
" Iya Om sama sama."
Berada di tengah keluarga ini memang sangat membahagiakan. Dari dulu enggak berubah, penuh dengan kehangatan. Semoga kelak aku dan Hana bisa membina keluarga seperti ini, harmonis penuh kasih sayang dan kehangatan.
Dewa dan ibu Hana sibuk berkutat di dapur menyelesaikan menu masakan untuk sarapan.
" Terima kasih ya Nak Dewa kamu memang mantu idaman. Baik, sopan, mapan ,dan yang paling utama ganteng." puji ibu Hana.
" He he, terima kasih Tante." Dewa tersenyum canggung.
__ADS_1