Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Hang Out 1


__ADS_3

Hana duduk menyenderkan punggungnya di sofa panjang yang berada di ruangan Laura. Tangannya sibuk memainkan game free fire di ponselnya sembari menunggu Laura menyelesaikan pekerjaannya.


" Sudah yuk cabut..." ajak Laura setelah membereskan kertas dan dokumen di meja kerjanya.


" Bentar, nanggung nih. Lagian memangnya kerjaan kamu sudah kelar? Cepet banget?" tanya Hana sambil masih asyik dengan ponselnya.


" Aku enggak konsen dari tadi dengar kamu teriak teriak maki orang enggak jelas kayak gitu." Laura memanyunkan bibirnya, karena sedari tadi Hana bermain game dengan berisik bahkan terkadang sampai teriak teriak histeris.


" He he, maaf. Enggak sengaja, habis seru banget." tangan dan mata Hana masih terfokus di ponselnya.


" Hei...! Hei... jangan main keroyok dong... kalau berani satu satu.... Ah....!!! Mati dech..." teriak Hana tampak kecewa yang membuat bola mata Laura membulat karena kesal.


" Kamu itu ya enggak berubah dari dulu." Laura menonyor jidad Hana.


" He he he, tapi game nya memang seru. Coba saja deh kamu pasti suka." Hana menyodorkan ponselnya ke arah Laura.


" Ogah, apa bagusnya game kayak gitu. Sudah deh ayo buruan."


" Oh ya pakai mobilmu ya, mobilku lagi diservice di bengkel." Laura beranjak dari ruangannya.


" Ok..." jawab Hana enteng.


" Nia, aku pulang dulu. Jaga butik baik baik ya." pamit Laura ke salah satu pegawainya.


" Iya Mbak, hati hati di jalan." jawab Nia dengan sopan.


" Dada Nia...." Hana melambaikan tangannya dan tersenyum manis.


" Dada Mbak Hana..." Nia membalas Hana dengan senyum yang tidak kalah manis.


Mata Laura celingukan ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan mobil Hana.


" Han, mobil kamu diparkir sebelah mana?" tanya Laura saat matanya tidak menemukan mobil yang ia cari.


" Itu." Hana menunjuk motor matic yang terparkir tepat di depan butik Laura.


" What? Naik motor? Aku kan pakai gaun." protes Laura.


" Wait, wait, tadi kamu bawa barang begitu banyak sambil naik motor ini?"


" Huum, hebat kan? Demi kamu sahabat aku yang paling cantik dan baik hati aku bela belain kayak abang kurir, he he. Ayo buruan naik, boncengnya sambil duduk miring kan bisa. Lagian naik motor kan lebih cepat dan praktis. Bisa nerobos jalanan macet." tutur Hana dengan penuh rasa bangga.


" Kita naik taksi online saja. Lebih aman dan nyaman."


" Enggak perlu, kita naik motor saja biar cepat sampai." debat Hana kekeh ingin tetap mengendarai motor matic yang telah menemaninya sejak duduk di bangku SMA dulu.


" Ayo buruan."


" Iya, iya, tapi kamu bonceng aja. Aku yang depan." Laura menyerobot kunci motor di tangan Hana.


" Eh? Kamu enggak percaya dengan kemampuanku mengendarai motor? Aku jago lho, bahkan sangat sangat jago malahan."


" Iya aku percaya kalau kamu sangat teramat jago sekali. Tapi aku tetap enggak nyaman kalau harus dibonceng sama kamu yang suka kebut kebutan di jalanan." Laura bergedik ngeri membayangkan harus dibonceng motor sama Hana yang suka ugal ugalan di jalan.


" Ayo cusss."


" Iya, iya, aku bonceng." Hana duduk di belakang dengan terpaksa.


" Helmnya cuma satu Han?" tanya Laura saat dirinya sudah memakai pelindung kepala berwarna biru itu.

__ADS_1


" Yup, aku kan enggak tahu kalau kita akan boncengan, kan di luar rencana. He he." Hana memperlihatkan deret putih giginya.


" Sudah ayo jalan, Insyaalloh aman."


" Kalau kena tilang polisi?" Laura tampak ragu untuk memacu gas di tangannya..


" Ck, enggak usah dipikir, itu urusan belakangan. Jika memang harus kena tilang itu berarti nasib. He he, ayo cusssss." Hana tampak bersemangat.


" Ya udah deh." Laura melajukan motornya dengan ragu.


Motor matic berwarna merah itu menyusuri jalanan dengan pelan. Sepanjang perjalanan, Hana dan Laura berbincang ringan sambil sesekali tertawa karena lelucon yang mereka lemparkan.


" Biiiip... biiiip....biiiip..." suara klakson motor mengejutkan keduanya.


Sebuah motor polisi dengan dua orang polisi di atasnya menghentikan laju motor Hana.


" Mbak tolong tepikan motornya." pinta salah satu polisi dengan sopan.


" Bener kan Han, kita kena tilang. Kamu sih tadi ngeyel." bisik Laura sambil menepikan motornya dengan terpaksa.


" He he ada apa ya pak?" ucap Laura dengan kaku.


" Selamat sore Mbak, maaf mengganggu kenyamanan perjalanan Anda. Tapi Mbak melanggar lalu lintas karena berboncengan tanpa mengenakan helm. Bisa diperlihatkan surat kelengkapannya Mbak?" ucap polisi tadi dengan nada sopan dan tegas.


" Ah iya, ini SIM saya." Laura menyerahkan kartu yang seukuran KTP itu dengan ragu ragu.


" Maaf Mbak Laura, SIM ini tidak sesuai dengan kendaraan yang Anda kendarai. SIM A digunakan untuk ijin mengendarai mobil pribadi, sedangkan untuk mengendarai motor Anda butuh SIM C. Bisa tunjukkan STNK nya Mbak?" pinta polisi itu kembali.


" Han, STNK nya mana?" bisik Laura ke arah Hana yang sedari tadi malah terlihat cuek dan tanpa rasa bersalah.


Hana mengeluarkan dompet dari sling bag nya.


" Ini STNK nya pak." Hana menyerahkan surat kelengkapan motor itu.


" Hana?" polisi itu agak terkejut karena ternyata gadis yang berdiri di depannya adalah Hana.


" Apa kabar Han?"


" Alhamdulillah baik."


" Eh tidak terlalu baik karena harus ketilang sama polisi." Hana meralat ucapannya sambil tersenyum penuh arti.


" He he kamu ada ada saja." jawab Riki sambil terkekeh.


" Kamu kenal sama polisi ini?" bisik Laura sambil menyenggol lengan sahabatnya yang tampak tenang tanpa ada rasa takut.


" Iya." Hana menganggukkan kepalanya.


" Perkenalkan ini sahabat aku yang paling baik, Laura. Dan Laura ini Brigtu Riki teman baruku." Hana justru tanpa rasa beban memgenalkan sahabat dengan teman barunya itu.


Laura dan Riki saling berjabat tangan dan melempar senyum.


" Oh sampai lupa ini Brigda Irfan." Riki mengenalkan polisi yang berdiri di sampingnya.


" Brigda Irfan, ini Laura dan Hana. Gadis yang kemarin berhasil membuat babak belur kawanan perampok." jelas Riki.


" Oh, saya Irfan. Nama Anda sudah terkenal di kalangan kami. Seorang gadis cantik yang pinter berantem dan berhasil meringkus kawanan perampok. Saya senang sekali bisa bertemu langsung dengan Anda. Dan benar seperti cerita yang ada, Anda sangat cantik." puji Brigda Irfan yang terpesona dengan kecantikan dan kehebatan Hana.


" Hah? Begitu ya, terima kasih. Tapi kemarin hanya kebetulan saya sedang lewat. Dan saya juga dibantu dengan calon suami saya. Jadi saya tidak sehebat yang Anda pikirkan." Hana merasa canggung. Dia tidak menyangka bahwa aksinya kemarin dengan Dewa akan menjadi perbincangan di kalangan polisi.

__ADS_1


" Perampok? Kamu beramtem dengan perampok Han?" Laura terkejut dengan penuturan orang orang di depannya.


" He he ceritanya panjang, nanti saja aku ceritain ya." tutur Hana pelan.


Laura hanya menganggukkan kepalanya saja. Dirinya masih agak syok dengan berita yang baru saja dia dengar. Dia tahu bahwa Hana agak tomboy dan petakilan, tapi jika sampai harus berantem dengan perampok, dia tidak pernah membayangkannya.


" Maaf Brigtu Riki, apa boleh kami melanjutkan perjalanan? Dan tolong kembalikan SIM milik Laura."


" Tentu saja boleh, tapi kamu harus pakai helm dulu. Untuk keselamatan, bahaya kan kalau sampai jatuh terus harus cidera kepala?" Riki menyerahkan SIM milik Laura.


" Tapi.... Aku kan enggak bawa helm." jawab Hana dengan lesu.


" Jangan khawatir, itu bisa diatur."


" Brigda Irfan tolong belikan helm untuk teman kita Hana." perintah Riki ke Irfan.


" Siap laksanakan." Irfan beranjak mengendarai motornya dengan cepat.


Sembari menunggu kedatangan Irfan, mereka bertiga duduk di warung kelapa muda di pinggir jalan. Riki tampak antusias membahas kehebatan Hana yang berhasil menghajar kawanan perampok yang salah satunya merupakan buronan polisi yang sudah lama dicari. Sepanjang cerita, Laura tampak terperangah dan takjub dengan aksi sahabatnya itu, bahkan mulutnya sampai menganga.


" Han aku enggak nyangka kalau kamu hebat banget." Laura berdecak kagum.


Tiba tiba mata Laura membulat dan nafasnya berhenti untuk sesaat.


" Han, kamu bukan pimpinan geng ataupun pembunuh bayaran kan?"


" Uhuk uhuk....." Hana tersedak mendengar pertanyaan sahabatnya yang tidak masuk akal itu.


" Nih pimpinan geng...!" Hana menjitak kepala Laura.


" Aouww... sakit tahu!" Laura mengelus kepalanya.


" Pak polisi lihatlah dia melakukan kekerasan dalam persahabatan." tangan Laura yang menunjuk nunjuk ke arah Hana.


" Lagian pertanyaan kamu aneh, kebanyakan baca novel jadi halu kan. Sedikit sedikit pimpinan geng sama pembunuh bayaran." Hana terlihat kesal.


" Sudah sudah....." Riki melerai keduanya.


Mereka berdua pribadi yang cantik dan menarik. Terutama kamu Hana. Sayang sekali kamu sudah punya calon suami.


Tak berselang lama, Irfan datang dengan menenteng helm baru berwarna pink.


" Silahkan Mbak Hana." Irfan menyerahkan helm.


" Terima kasih." Hana menerima helm itu dengan senyum yang merekah.


" Kalau begitu kami permisi mau melanjutkan perjalanan." pamit Hana.


" Tunggu dulu, kamu punya SIM C kan Han? Kalau enggak punya mending aku dan Brigda Irfan anterin saja." usul Riki.


" Jangan khawatir, aku punya SIM A dan SIM C kok. Aman.....!" jawab Hana dengan bangga memperlihatkan dua kartu dari dalam dompetnya.


Hana mulai menyetarter motornya bersama Laura yang bonceng dengan posisi duduk menyamping.


" Ok, kami jalan dulu ya, terima kasih untuk helm dan traktiran es kelapa mudanya......" Hana melambaikan tangannya ke arah dua polisi itu.


" Ngeeeeeng......." Hana memutar gas di tangannya dengan kencang sehingga motornya melaju dengan cepat.


Layaknya pembalap profesional, Hana melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Matanya fokus ke jalanan menyalip dan menghindari kendaraan lain dengan lihai. Sedangkan Laura, kedua tangannya sibuk berpegangan di pinggang Hana dan yang satunya memegangi bajunya agar tidak tersingkap karena angin. Mulutnya tak berhenti komat kamit membaca doa dan sesekali memaki Hana.

__ADS_1


Riki dan Irfan hanya bisa mengelus dada melihat cara mengendarai motor Hana. Terbesit rasa menyesal karena mengijinkan Hana untuk melanjutkan perjalanan.


" Hah, giliran pakai helm dan punya SIM, mengendarainya ugal ugalan. Semoga selamat dan tidak terkena tilang oleh polisi lain." dengus Riki sambil geleng geleng kepala.


__ADS_2