
Hana dan Dewa duduk bersebelahan di dalam mobil yang melaju dengan sedang. Keduanya lebih banyak diam larut dalam pikiran dan perasaan masing masing. Aura cinta dan bahagia terpancar jelas di wajah mereka.
Kenapa Dewa diam saja? Aku kan jadi bingung harus bagaimana. Masak aku harus ngajak ngomong duluan.
Mata Hana melirik mencuri pandang ke arah Dewa.
Mengapa dia ganteng banget sih, bikin jantungku berdetak enggak karuan kayak mau copot. Relaks Hana, relaks... Aku harus bisa ngontrol perasaan aku.
Hana justru merasakan desiran hatinya kian menjadi.
Tadi Hana manggil aku sayang dan mengakui aku sebagai calon suami di depan muridnya, itu berarti Hana memang sudah yakin dan setuju dengan rencana pernikahan kami. Aku senang banget, tapi kenapa malah deg degan dan grogi seperti ini ya. Dan kenapa dia diam saja dari tadi? Apa dia malu?
" Kenapa dari tadi diam saja? Enggak pengin ngomong sesuatu ke aku?" Dewa memecah kesunyian. Tangannya masih fokus di kemudi.
" Eh, apa?"
" Kamu ngomong apa?" Hana tersadar dari lamunannya.
" Kenapa kamu diam saja dari tadi?" Dewa mengulang pertanyaannya.
" Enggak apa apa, kamu juga dari tadi diam saja."
" Berarti kalau aku diam kamu ikut diam, terus kalau aku cium kamu bakal balas cium dong...?" celetuk Dewa yang membuat pipi gadis cantik di sebelahnya memerah tersipu malu.
" Apaan sih?" Hana memalingkan wajah mencoba menyembunyikan perasaannya.
" Terima kasih ya tadi sudah mau manggil aku sayang dan mengakui aku sebagai calon suami di depan murid kamu. Aku senang banget dengarnya." ucap Dewa dengan tulus.
Hana menoleh ke arah Dewa, ada ketulusan dan banyak cinta di mata Dewa.
" Aku juga berterima kasih sama kamu karena kamu sudah membuat penantianku berbuah manis."
" Cup..!" entah mendapat keberanian dari mana, tiba tiba Hana mengecup pipi Dewa.
" Ciiiiiitttt" kaki Dewa mendadak menginjak pedal rem. Matanya membulat, ciuman Hana seperti membawa aliran listrik yang membuat tubuhnya tersengat.
" Aouw...! Kamu kenapa ngerem mendadak?" tubuh Hana agak tersentak karena tidak memakai sabuk pengaman.
" Sorry, sorry, enggak sengaja. Kamu sih sayang kenapa tiba tiba nyium? Aku kan kaget." Dewa kembali melajukan mobilnya.
" Maaf, kamu enggak suka ya?"
Ih malu maluin banget, kenapa tadi aku enggak bisa ngontrol buat enggak cium dia sih.
" Bukan, aku suka banget malah. Aku cuma kaget saja karena ini pertama kali kamu nyium aku dengan inisiatif sendiri. Terima kasih ya istriku sayang. I love you."
" Istri apaan, nikah saja belum." lirih Hana dengan malu malu.
" Kalau gitu kita langsung ke KUA sekarang, biar langsung bisa disahkan."
" Ish, memangnya ke KUA langsung bisa diproses tanpa ngurus surat kelengkapan."
__ADS_1
" Kalau kamu mau, sekarang juga kita ke KUA langsung bisa diproses. Masalah surat kelengkapan itu bisa diatur. Bagaimana kita mau langsung sekarang?" tanya Dewa.
" Apa apaan sih, nanti dikiranya aku ngebet pengen cepat cepat kawin."
" Emangnya kamu enggak ngebet? Aku ngebet banget loh Yank. Tadi malam saja aku mati matian buat nahan diri agar enggak ngapa ngapain kamu." mata Hana membulat mendengar pernyataan gamblang dari Dewa.
"Kamu?? Nyesel aku ijinin kamu semalam buat tidur bareng. Ternyata pikiran kamu mesum." Hana terlihat kesal.
" Kok malah marah aku kan cuma ngomong jujur. Itu normal loh Yank. Coba lelaki mana yang enggak pengen ngelakuin itu saat berduaan dengan wanita yang paling dicinta, apalagi setelah sekian lama enggak bertemu. Seolah olah kamu sudah pengen aku telan bulat bulat. Kamu enggak tahu perjuangan aku buat menahan diri semalam, berat banget."
" Memang benar ya kata orang, kalau lelaki dan wanita berduaan maka pihak ketiganya syetan." getam Hana.
" Untuk melakukan itu enggak perlu syetan Yank, berdua saja sudah cukup. Sekarang kita lagi berduaan, mau dicoba?" goda Dewa.
" DEWAAA...!! Berhenti sekarang...! Aku mau turun, ogah semobil dengan orang mesum." bentak Hana.
" Ha...Ha... Ha....!!!! Aku cuma bercanda sayang. Kamu kalau marah tambah manis, jadi pengin_"
" APA? Enggak lucu."
" He he, maaf. Sudah enggak usah manyun, aku enggak bakal ngapa ngapain kamu tanpa seijin kamu. Sudah ayo turun." tanpa Hana sadari ternyata mobil Dewa sudah berhenti di halaman rumah mewah bernuansa classic berwarna putih.
" Ini..?" Hana tampak pangling dengan rumah lama Dewa yang kini telah direnovasi menjadi lebih mewah dari sebelumnya.
" Ayo turun, kamu pangling ya sama rumah ini. Ketahuan banget kalau kamu enggak pernah berkunjung ke sini." Dewa keluar dari mobil disusul dengan Hana.
"Aku merenovasinya saat masih di luar negeri, jadi saat pulang sudah bisa langsung ditempati. Ayo kita masuk." Dewa menggandeng tangan Hana untuk segera masuk ke dalam rumah.
Hana tampak terpukau saat melewati bermacam macam bunga menghiasi taman halaman depan. Bunga bunga itu dibiarkan tumbuh bebas di tanah tanpa ditaruh di dalam pot, sehingga memberi kesan alami.
Sepasang lelaki dan wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Mas, Mbak." sapa mereka sembari membungkukkan badan.
"Perkenalkan ini Pak Soleh dan mbok Mira mereka yang menjaga dan merawat rumah selama ini." Dewa menunjuk kedua orang di depannya.
" Oh, perkenalkan saya Hana." Hana menunduk hormat.
" Tolong buatkan jus jeruk sekalian cemilan ya Mbok, nanti ditaruh dekat kolam saja." perintah Dewa.
" Baik Mas, saya permisi dulu. Ayo Pak." mbok Mira pamit ke dapur.
Dewa mengajak Hana untuk berkeliling rumah. Interior rumah juga masih didominasi dengan warna putih, menambah kesan mewah dan elegan. Rumah dua lantai itu mempunyai 7 kamar tidur, dan 2 maid room. Di halaman belakang ada sebuah kolam renang berukuran sedang.
" Kamu suka?" tanya Dewa yang menyusul Hana duduk di pinggir kolam renang sembari membiarkan kakinya terendam air. Di dekatnya ada sebuah meja kecil yang berisi dua gelas jus jeruk, kue kering, dan sebuah piring berisi buah buahan yang telah dipotong.
" Suka, rumahmu indah."
" Bukan rumahku, tapi rumah kita."
__ADS_1
Hana hanya tersenyum bingung harus menjawab apa.
" Bagaimana kabar Om dan Tante?"
" Bukan Om dan Tante, tapi Ayah dan Ibu. Kamu harus membiasakan panggilan itu. Mereka semua sehat, tadi ibu baru menelpon katanya hari pernikahan kita sudah ditetapkan yaitu tanggal 20 November tepat saat ulang tahunmu. Kamu senangkan?"
" Wait, secepat itu? Itu kurang 3 minggu Dewa. Bagaimana dengan persiapannya? Itu terlalu mepet. Banyak yang harus diurus."
" Hai, tenang sayang. Semua sudah ada yang mempersiapkan. Kita akan memakai jasa Wedding Organizer yang handal, oke?"
" Bolehkah aku menentukan konsep pernikahan kita?"
" Of course, semua akan sesuai keinginanmu sayang."
" Bolehkah jika kita tidak perlu menggelar pesta pernikahan?"
" What? Why? Bukankah kebanyakan gadis akan mendambakan pesta pernikahan yang mewah dan berkesan?"
" Berkesan tidak harus mewah kan Dewa. Aku ingin hanya orang orang dekat kita saja yang hadir, pasti akan lebih berkesan dan khusyuk. Apa gunanya mengundang banyak orang tapi kita tidak akrab dengan mereka. Dan maaf aku tidak suka jika pernikahan kita dijadikan wadah untuk orang orang melakukan transaksi bisnis seperti penikahan orang orang kalangan atas. Kamu tidak keberatan kan? Maaf jika permintaanku tidak sesuai dengan keinginanmu." wajah Hana tertunduk murung.
Tangan Dewa menggapai tangan Hana dan mengenggamnya erat.
" Semua akan terjadi sesuai dengan keinginanmu. Are you happy?" senyum Hana mengembang.
" Kamu bisa berenang?"
" Ha...?"
" Byuuurrrrr...!!" Dewa menarik tubuh Hana ke dalam kolam renang.
" DEWAAAA....! Bajuku basah semua...! Kamu memang keterlaluan. Ah....!!!" teriak Hana.
" Aouw... aouw..!.Ha ha ha...!!" Dewa mencoba menghindar karena Hana memukuli tubuhnya secara bertubi tubi.
" Kamu jahat, gimana kalau aku ternyata enggak bisa berenang? Mau ngebunuh aku ya?" ketus Hana.
" Enggak mungkinlah aku bunuh kamu, nanti aku jadi duda sebelum nikah dong."
" Lagian aku akan selalu jaga kamu, enggak akan aku biarin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu. Karena kamu telah menjadi bagian terpenting dalam diriku." Dewa mendekap tubuh Hana dalam pelukannya.
" Kamu adalah milikku." bisik Dewa di telinga Hana.
Kedua pasang mata mereka saling beradu. Seakan ada gaya magnet yang berlawanan kutub sehingga tanpa sadar kini tubuh mereka semakin erat, jarak wajah mereka pun saling menipis.
Dan yang terjadi selanjutnya kedua bibir mereka telah menyatu, saling mem*gut dan me*umat satu sama lain. Melepas kerinduan yang telah membuncah selama 8 tahun.
Semakin lama pagu*an dan l*matan mereka semakin dalam, bahkan kini tangan Dewa telah berada di tengkuk Hana untuk memperdalam ciuman mereka. Dewa tampak sangat mahir melakukannya. Lidahnya dengan lihai menjelajahi mulut kekasihnya. Sesekali Dewa melepas pa*utannya memberi ruang Hana untuk bernafas. Ini adalah ciuman kedua mereka, Hana mulai bisa mengimbangi permainan Dewa.
Meskipun berada dalam air namun tubuh mereka justru semakin memanas. Keduanya telah hanyut dalam gelora dan hasrat yang kian menggebu.
" HANAAA..... ???!!" pekik seorang lelaki yang tiba tiba sudah berdiri di dekat kolam renang.
__ADS_1