
Seperti halnya bianglala, hidup ini juga terus berputar. Kadang di puncak teratas kadang kala juga berada di titik terendah. Bedanya kita tidak bisa menentukan seberapa cepat kita akan naik dari keterpurukan atau justru akan merosot ke bawah.
Seandainya hidup bisa distel seperti bianglala yang bisa dihentikan kapan saja, mungkin Dewa akan menghentikannya saat itu. Saat ia bersama Hana, tertawa bersama melepas semua beban dalam hatinya.
Meskipun di tengah tengah kerumunan dan keramaian nyatanya Dewa justru menemukan kedamaian. Terlepas dari beban belenggu yang selama ini menjerat hatinya. Untuk kali pertama ia bisa bercerita mengenai kisah hidup dan kesedihannya. Rasanya benar benar sangat melegakan.
Dewa dan Hana tengah berjalan bersama menyusuri hiruk pikuk kerumunan manusia sembari menikmati permen kapas ciri khas dari pasar malam. Ada yang sibuk menjajakan dagangan, ada yang asyik menawar dan memilih barang dan ada pula yang sekadar berjalan jalan seperti yang dilakukan Hana dan Dewa.
"Ternyata asyik juga ya jalan jalan di pasar malam." ucap Dewa yang tengah asyik memasukkan permen kapas ke mulutnya. Dan ini juga kali pertama bagi dirinya mencicipi makanan murah meriah yang berasa manis itu.
" Nyesel kan loe, karena baru sekarang loe jalan jalan ke sini?" ledek Hana.
" Iya gue nyesel kenapa baru ketemu loe sekarang, coba saja gue ketemu loe dari dulu pasti gue sudah bisa menikmati makanan ini sedari dulu." Dewa terlihat sangat lahap. Entah memang rasa permen kapas itu yang terlalu enak, atau karena bersama Hana sehingga terasa lebih enak.
Hana menatap Dewa dengan lekat. Wajah Dewa tampak ceria seperti tanpa ada beban. Muncul seulas senyum di bibir Hana.
Gue senang loe bisa terbuka sama gue. Gue enggak bisa ngebayangin betapa berat beban kesedihan loe selama ini, karena menyimpan semua masalah loe seorang diri.
"Gue ganteng banget ya...?" suara Dewa mengejutkan Hana.
"Ha....? Narsis banget loe jadi orang." Hana mempercepat langkah kakinya.
" Habisnya loe memandang gue sampai segitunya, berarti gue ganteng banget dong." goda Dewa sambil menyejajarkan langkah kakinya dengan Hana.
Hana tidak menjawab hanya membuang muka ke arah lain meski hatinya mengiyakan ucapan Dewa bahwa dia memang ganteng banget.
Tiba tiba langkah Hana terhenti di depan stan permainan lempar bola. Matanya berbinar melihat boneka boneka yang berjajar rapi yang disiapkan sebagai hadiah permainan.
"Ada apa?" mata Dewa mengikuti arah pandangan Hana. Dan benar saja ia menemukan apa yang dimaksud oleh Hana.
"Mau main?"
Hana mengangguk dan melangkah menghampiri stan permainan itu.
"Bang main." ucap Dewa sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu.
"Mau berapa kali lempar Mas? 3 kali lempar 10 ribu." tanya abang penjaga stan.
" Ya udah itu semua, berarti 30 kali lempar kan?"
" Iya Mas, silakan ini bolanya." penjaga stan menyerahkan sebuah keranjang yang berisi 30 bola kasti.
"Banyak banget, loe mau lempar semua bola itu?" tanya Hana dengan heran.
"Sssttt, diam saja nanti biar dapat boneka banyak." Dewa berbisik di telinga Hana.
Dengan penuh percaya diri Dewa mulai mengambil sebuah bola.
__ADS_1
" Loe pilih yang mana bonekanya?" tanya Dewa dengan sombongnya.
" Itu." Hana menunjuk sebuah boneka kelinci berwarna merah muda berukuran besar yang tengah membawa hati di dadanya.
"Okay, siap siap ambil bonekanya."
Dengan pongah Dewa mulai melempar bola ke arah kaleng kaleng yang telah disusun sedemikian rupa.
Dan....
"Shott...." bola meluncur ke arah sasaran.
"Klontang.....!" suara kaleng jatuh.
Dewa membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Ha ha ha..! Ambil boneka apaan, kalengnya yang jatuh cuma satu doang. Ha ha ha." Hana tertawa meledek.
"Itu pemanasan, gue belum serius. Lihat baik baik kali ini gue pasti berhasil menjatuhkan semua kaleng." ucap Dewa dengan penuh keyakinan.
Cuma menjatuhkan semua kaleng gue pasti bisa.
Dewa menghirup nafas dalam, matanya terlihat berkonsentrasi ke arah bidikannya. Ia mengambil ancang ancang.
" Shot...!." Dewa melempar bola lagi.
"Klontang....!" kaleng terjatuh lagi tapi tetap saja hanya jatuh sebagian. Mata Dewa membelalak ternyata tidak mudah baginya untuk menjatuhkan semua kaleng.
Peluh mulai mengalir di dahinya, jaket yang semula ia kenakan sudah tak lagi terpasang di tubuhnya. Kaosnya terlihat basah tak luput dari aliran air yang muncul dari pori pori kulitnya. Wajahnya tampak kesal.
" Sudah, gantian biar gue yang lempar. Loe lihat baik baik." Hana memegang bahu Dewa sambil tersenyum penuh arti.
Kalau dilihat dari susunannya, seharusnya secara matematika dan fisika titik keseimbangannya ada pada kaleng itu.
Mata Hana tampak serius mengamati sasaran sembari menganalisis posisi susunan kaleng.
Hana mengambil sebuah bola dan dengan percaya diri mulai mengambil ancang ancang. Matanya terfokus pada salah satu kaleng yang menurutnya adalah sasaran yang tepat.
"Shotttt..!" bola melesat ke arah sasaran.
"Klontang....!" kaleng berjatuhan namun tetap saja tak mampu merobohkan semua kaleng.
Apa enggak jatuh semua? Enggak mungkin pasti ada yang enggak beres. Perhitungan gue enggak mungkin salah.
" Ha ha ha." gantian Dewa yang tertawa. Sebenarnya sedari tadi ia berdoa agar lemparan Hana juga gagal, karena kalau sampai Hana berhasil pada lemparan pertamanya pasti akan sangat memalukan dirinya.
Hana melempar bola lagi sampai bola di keranjang habis namun tetap saja tidak bisa merobohkan sasarannya.
__ADS_1
"Permainan apaan, pasti juga enggak ada orang yang bisa. Abang paling juga enggak bisa jatuhin kaleng kaleng itu." ucap Hana dengan kesal.
" Sini Abang contohin, lihat baik baik." abang penjaga stan mengambil sebuah bola dan dengan tenang mulai melempar ke arah sasaran.
"Shotttt... Klontang.....!!!!" bidikannya tepat sasaran merobohkan semua kaleng yang tersusun.
Hana dan Dewa hanya bisa melongo menyaksikan semua kaleng yang jatuh berhamburan.
" Gue main lagi Bang." ucap Dewa yang enggan untuk menyerah dan masih penasaran dengan permainan itu. Ia menyerahkan selembar uang seratus ribu lagi.
Abang penjaga stan pun kembali menyerahkan sebuah keranjang berisi bola kasti penuh. Dengan cekatan ia menyusun kaleng kaleng kembali seperti sedia kala.
Gue yakin gue pasti bisa.
Dewa kembali melempar ke arah sasaran dengan serius, namun lagi lagi lemparannya tidak mampu merobohkan sasaran.
Hana juga tidak mau kalah, ia masih penasaran dengan permainan itu. Ia pun kembali mencoba merobohkan susunan kaleng kaleng itu. Namun hasilnya tidak beda jauh dengan Dewa.
Mereka terus membidikkan bola ke arah sasaran secara bergantian. Entah sudah berapa ratus kali mereka melempar namun belum juga berhasil. Dewa juga tidak menghitung jumlah uang seratus ribuan yang telah ia serahkan.
" Gue nyerah...!" ucap Hana sambil ngos ngosan. Tubuhnya merosot ke bawah. Nafasnya menderu dadanya terlihat naik turun. Rambutnya terlihat berantakkan, keringat telah membanjiri wajah dan tubuhnya. Kaosnya terasa sangat basah.
"Klontang.......!" suara kaleng berjatuhan.
" Gue berhasil..." tubuh Dewa merosot ke bawah. Senada dengan keadaan Hana, Dewa juga terlihat sangat berantakkan dan ngos ngosan.
" Ini Mas bonekanya, dan ini bonus minuman buat kalian berdua. Terima kasih ya, hari ini saya dapat banyak. Biasanya saya cuma dapat 100-200 ribuan semalam. Kali ini saya dapat 1 juta lebih. Sekali lagi terima kasih ya Mas. Semoga kalian langgeng." ucap abang penjaga stan sembari menyerahkan sebuah boneka dan 2 botol air mineral dingin.
" Ya Bang, sama sama." Dewa menerima boneka dan minuman itu.
" Glekkk glekkk glekkk....!" Dewa dan Hana dengan kompak menghabiskan minuman mereka.
" Ha ha ha!" mereka tertawa bersama merasa konyol. Mereka saling menatap menertawakan betapa berantakkan penampilan mereka.
" Ini buat loe, boneka ini sebagai simbol hati gue. Malam ini gue sudah memberikan hati gue seutuhnya ke loe. Gue juga sudah membagi kisah dan hidup gue. Gue janji hati gue hanya akan berdetak buat loe seorang, enggak akan ada yang lain. Jaga baik baik ya." Dewa menyerahkan sebuah boneka sembari menatap ke dalam manik Hana. Ucapannya terdengar penuh dengan ketulusan. Memang Dewa tidak berhasil memenangkan boneka yang diincar Hana semula. Tapi di lemparan terakhir tadi Dewa berhasil merobohkan susunan kaleng yang berhadiah sebuah boneka berbentuk hati berwarna merah bertuliskan My Love.
Hana menerima boneka itu dengan hati berbunga. Wajahnya memerah menahan haru. Matanya berbinar memancar penuh cinta.
" Hati tidak berdetak, yang berdetak itu jantung." ujar Hana mencoba mengontrol detak jantungnya yang kian tidak karuan.
Dewa hanya tersenyum, menatap lekat manik mata Hana.
"Apa pun itu, entah hati maupun jantung semua hanya buat loe. Jaga baik baik boneka ini. Mahal tahu harganya, susah lagi dapetnya. Menguras energi dan tenaga."
Hana tersenyum mengingat usaha mereka untuk mendapatkan boneka itu, benar benar menguras tenaga.
" Pulang yuk, sudah hampir jam 9." ajak Hana setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan melenggang bersama sembari menenteng jaket di tangan mereka. Dan tentunya Hana sembari mendekap erat hati Dewa untuk Hana.
Malam ini akan menjadi kenangan manis buat gue. Terima kasih Hana loe telah mengisi hati dengan banyak cinta. Dan gue yakin bahwa hati gue hanya buat loe.