
Suasana makam terlihat sepi. Para pelayat sudah membubarkan diri segera setelah jasad nenek Ira dimakamkan. Hanya tersisa Hana beserta orang tuanya dan Dewa yang sedari tadi terlihat mengelus nisan kayu bertuliskan Asih Irawati itu. Pandangan mata Dewa dipenuhi dengan kesedihan, seakan belum merelakan orang yang selama ini menemaninya harus pergi untuk selama lamanya.
" Yang sabar ya Nak, ikhlaskan kepergiannya. Biarkan nenek kembali ke sisiNya dengan tenang." Ibu Hana mencoba untuk menenangkan Dewa.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya sembari menahan isak tangisnya.
" Ayo kita pulang, biarkan nenek pergi dengan tenang. Tidak baik berlama lama di sini meratapi orang yang telah tiada. Ingat kita semua suatu saat juga pasti akan tiada karena memang itulah kodrat manusia." Ayah Hana mendekap dan membawa tubuh Dewa untuk berdiri.
" Sebentar Om." Dewa kembali merengkuh nisan nenek Ira.
" Nek Dewa pulang dulu ya. Terima kasih telah menemani dan merawat Dewa selama ini. Maafkan Dewa yang sering membuat Nenek kecewa. Dewa akan berusaha menjadi lebih baik agar Nenek tidak perlu kawatir di sana."
Dengan langkah gontai akhirnya Dewa meninggalkan pusara itu.
Ya Allah, Hamba mohon ampunilah segala salah dan dosa nenek. Tempatkan ia dalam tempat terindahMu.
Nek,,, sekarang Dewa sendirian.
Ayah Hana mengantar Dewa ke rumahnya dengan mengendarai mobil usang miliknya. Ibu duduk di kursi depan di samping ayah Hana. Sedangkan Dewa dan Hana duduk di kursi bagian belakang. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Hana secara diam diam menggenggam tangan Dewa mencoba memberi semangat.
Tiba di rumah Dewa, ayah dan ibu Hana menyempatkan untuk singgah sebentar sekedar menghibur dan kemudian bergegas pamit pulang.
" Kami pulang dulu ya, kalau ada apa apa jangan lupa hubungi kami. Ingat harus sabar dan ikhlas. Dan kamu Hana, ingin ikut pulang atau masih mau menemani Dewa di sini?" ucap ayah Hana.
" Hana temenin Dewa dulu Yah. Ayah dan Ibu hati hati di jalan ya." Hana mencium tangan kedua orang tuanya.
Keadaan rumah Dewa terlihat sepi. Beberapa karangan bunga ucapan bela sungkawa masih berjejer di halaman rumah. Dewa duduk dengan murung di salah satu kursi meja makan.
" Ayo makan dulu, Loe pasti belum sempat makan sama sekali kan? Ini sayur dan ayamnya sudah gue angetin." Hana menghampiri Dewa dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
Dewa menggelengkan kepala menatap piring di tangan Hana dengan tidak berselera.
" Ayo dong makan, kasihan cacing di perut loe pasti sudah meronta ronta. Aaa..." Hana mendekatkan sendok berisi makanan ke depan mulut Dewa dan menatapnya dengan tatapan memohon.
" Aaaa.." Hana masih terus membujuk Dewa dengan wajah memelas.
Melihat wajah Hana, Dewa tak sampai hati akhirnya ia membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu.
Dewa mengambil alih sendok yang dipegang Hana dan mengisinya dengan makanan.
" Sekarang giliran loe. Ayo makan loe juga pasti lapar kan, sedari pagi belum sarapan."
Dewa sangat tahu bahwa Hana pasti belum sarapan, karena tadi Hana dan orang tuanya bergegas datang ke rumah Dewa setelah Dewa memberi kabar duka.
Mata Hana berbinar, ia segera membuka mulutnya dan melahap suapan Dewa.
" Enak?" tanya Dewa.
"Asin." ketus Hana.
" Masak sih, perasaan tadi rasanya sudah pas." Dewa kembali menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia mengunyah makanan itu dengan seksama, mengecapnya dengan sungguh sungguh untuk menelisik rasa makanan itu.
__ADS_1
" Enak kok, rasanya enggak asin."
Hana tersenyum, " Kalau enggak asin ayo cepat habisin makanannya. Tadi gue cuma bercanda, rasanya memang enak kok. He he he."
"Terima kasih ya. Loe sudah mau menemani dan menghibur gue di saat gue benar benar butuh seseorang di samping gue."
Mereka kembali melahap makanan yang ada di piring. Tidak butuh waktu lama piring telah kosong.
Terima kasih Hana, hadirmu sungguh berarti buat gue. Loe mau menjadi tempat berbagi suka dan duka. Seperti saat ini kita telah berbagi makanan dan kesedihan.
Selesai makan mereka beranjak duduk di ruang tamu. Di sana mereka berbincang kecil, Dewa mengenang dan menceritakan sosok nenek Ira. Hana menjadi pendengar yang baik membiarkan Dewa memgeluarkan semua unek unek dalam dirinya.
" Sudah lega? Sekarang loe sudah bisa ikhlasin nenek Ira kan?"
Dewa menarik nafas dalam sembari menganggukkan kepalanya.
Tiba tiba perhatian mereka teralihkan oleh sebuah mobil Land Rover Range Rover yang berhenti di depan rumah. Sang sopir turun dan membukakan pintu untuk penumpangnya. Tampak seorang wanita cantik keluar dari mobil mewah yang mempunyai kisaran harga 4 milyar itu.
Hana sampai melongo melihat wanita itu.
" Cantik banget, kayak artis. Jangan jangan memang artis." dengus Hana yang disambut dengan tatapan dingin dari Dewa.
" Sayang kamu baik baik saja kan? Maafin Ibu yang baru bisa datang sekarang. Ibu sudah berusaha untuk bisa secepatnya sampai di sini." wanita itu langsung memeluk Dewa. Namun Dewa tidak menyambut pelukannya dan hanya tersenyum sinis.
Ibu? Dia ibu Dewa? Wow cantik banget. Pantesan Dewa berwajah tampan. Ibunya saja secantik ini kayak model. Mobilnya juga mewah banget.
Hana masih menatap kagum ke arah ibu Dewa.
" Ya Tante, saya Hana. Senang berkenalan dengan Tante." Hana menyambut uluran tangan ibu Dewa dan mencium punggung tangannya.
Ibu Dewa tersenyum manis mendapat sambutan hangat dari Hana.
" Gue ke kamar dulu mau istirahat. Ibu masih hafal dengan tata letak rumah ini kan?" ketus Dewa berlalu ke kamarnya.
" Dewa." Hana mencoba menahan tangan Dewa. Namun Dewa menggelengkan kepalanya pelan.
" Beri gue waktu." lirih Dewa. Akhirnya Hana melepas pegangan tangannya.
" Masuk dulu Tante. Saya buatkan minuman dulu?" tanya Hana canggung.
" Tidak perlu Hana, kamu tidak usah terlalu sopan dengan saya. Bersikap biasa saja. Kalau haus saya bisa ambil sendiri." tutur ibu Dewa dengan ramah.
" He he maaf Tante, saya lupa kalau ini kan rumah Tante." Hana merasa konyol dan salah tingkah.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau menemani Dewa di saat terpuruk seperti ini. Saya yakin kamu adalah orang yang sangat spesial bagi Dewa. Dari dulu Dewa enggak pernah punya teman dekat. Makanya pas nenek Ira bercerita tentang kamu, saya sangat senang dan penasaran ingin segera bertemu dengan kamu. Tapi sayang nenek harus pergi meninggalkan kita semua secepat ini. Saya sangat merasa bersalah karena belum sempat membalas kebaikan beliau. Nenek yang selalu menguatkan saya. Dan mau menjaga dan merawat Dewa sepenuh hati. Dewa pasti sangat kehilangan sosoknya, karena selama ini memang nenek Ira lah yang selalu berada di sisinya. Terkadang saya merasa gagal sebagai seorang ibu." Ibu Dewa menyeka matanya, tak mampu membendung cairan bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
" Maaf, saya malah ngelantur kemana mana."
" Saya yakin Tante adalah ibu yang baik, karena pasti semua ibu akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Nanti cepat atau lambat Dewa pasti bisa menerima Tante, karena jauh di lubuk hati Dewa pasti masih sangat menyayangi Tante." tutur Hana.
" Ternyata memang benar ucapan nenek Ira, kamu gadis yang luar biasa. Kamu sangat baik dan membawa aura yang menyenangkan. Pantas saja kamu bisa menjadi orang spesial di hati Dewa." Ibu Dewa menghapus air mata yang tadi sempat membasahi pipinya. Ia tersenyum dan memeluk tubuh Hana.
__ADS_1
" Terima kasih ya. Mm kalau tidak keberatan boleh tidak saya meminta bantuan kamu untuk mengantarkan saya ke makam nenek Ira. Saya ingin memberi penghormatan yang terakhir."
" Tentu boleh Tante. Tapi nanti Tante ke makam nenek Ira bareng Dewa saja. Saya sekalian pamit pulang. Karena saya yakin ini adalah waktu untuk Dewa dan Tante untuk bisa lebih dekat lagi dan saling memahami." Hana menuju ke kamar Dewa.
" Tapi.... bagaimana kalau Dewa masih belum bisa memaafkan saya?" Ibu Dewa merasa ragu.
" Percayalah bahwa sebenarnya Dewa juga sangat menyayangi dan merindukan Tante."
Hana memang gadis yang sangat baik. Dewa sangat beruntung bisa berjumpa dengannya.
" Tok tok tok." Hana mengetuk pintu kamar Dewa.
" Dewa, ini gue. Boleh masuk?"
" Ceklek." Dewa membukakan pintu.
" Ayo masuk."
" Gue pamit pulang sekarang enggak apa apa kan? Oh ya Ibu kamu minta buat diantarkan ke makam nenek. Kamu bisa kan?"
" Hmmm. Tapi...." Dewa menjawab dengan berat hati.
" Hai, ayolah. Gue yakin jauh di lubuk hati loe yang paling dalam, loe sangat merindukan sosok ibu loe kan? Dan ini adalah waktu yang paling tepat untuk memperbaiki hubungan loe dan ibu loe. Gue bisa lihat bahwa ibu loe sangat merindukan dan menyayangi loe. Please, jangan menyakiti hati loe lagi dengan menyangkal rasa sayang yang ada. Cobalah Dewa, buka hati loe buat wanita yang telah mengandung dan melahirkan loe. Bukankah ini juga keinginan nenek Ira agar loe dan ibu loe bisa memperbaiki hubungan kalian. Please, please." Hana menatap netra Dewa dengan tatapan memohon.
" Baiklah gue akan coba."
Wajah Hana tampak sumringah. Sebuah senyuman tampak menghiasi wajah manisnya.
" Terima kasih ya, loe memang baik dan ganteng." goda Hana.
" Baru sadar kalau gue baik dan ganteng? Sini peluk gue."
Hana mendekat ke arah Dewa.
Saat Dewa merentangkan tangan untuk memeluk tubuhnya, " Bukan muhrim, enggak usah peluk peluk." Hana menjulurkan lidahnya.
Dewa memencet ujung hidung Hana.
" Terima kasih ya, untuk semuanya."
Akhirnya Dewa keluar kamar bersama Hana. Langkahnya tampak ragu, namun Hana menggenggam erat tangannya memberi kekuatan untuk bisa menghadapi keraguan di hatinya.
" I....Ibu...." Suara Dewa tercekat.
Ibu Dewa yang tengah duduk dengan segera menghampiri Dewa dan memeluknya erat. Kali ini Dewa membalas pelukan ibunya.
" Maafin ibu Nak, maafin ibu."
Keduanya tampak larut dalam pelukan melepas kerinduan yang selama ini mereka pendam. Dewa dan ibunya terisak bersama. Bahkan tanpa sadar air mata Hana ikut menetes melihat pemandangan yang mengharukan itu.
Semoga ini awal yang bagus untuk hubungan Dewa dan ibunya. Semoga keduanya bisa saling membuka hati untuk saling memaafkan dan memahami sehingga tidak ada lagi luka di antara mereka.
__ADS_1