Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Sebuah Awal


__ADS_3

Mobil mewah yang tadi terparkir di depan rumah Dewa kini telah beralih di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau. Setelah mengunjungi makam nenek Ira, ibu Dewa mengantar Hana pulang ke rumah sekalian ingin lebih mengenal dan berterima kasih kepada orang tua Hana.


Di ruang tamu tampak kedua orang tua Hana dan ibu Dewa tengah berbincang. Sopir yang sedari tadi menyetir memilih beristirahat di dalam mobil, toh interior mobil mewah itu terasa sangat nyaman. Sedangkan Hana dan Dewa memilih duduk di kursi yang berada di teras rumah.


" Terima kasih ya, ini semua berkat loe." ucap Dewa memulai percakapan.


" Loe enggak bosan dari tadi bilang terima kasih terus?"


" Gue enggak bakalan pernah bosan kalau sama loe." gombal Dewa.


" Apaan sich? Kok malah ngegombal? Tapi gue senang banget loe bisa menerima ibu loe lagi. Nenek Ira pasti juga sangat senang."


" Ya, gue juga harap begitu. Andaikan dari dulu pikiran gue bisa lebih terbuka pasti gue enggak perlu menyimpan kebencian untuk ibu gue. Tapi kini gue benar benar merasa lega, rasa kecewa dan kebencian gue menguap begitu saja entah kemana. Kini yang ada justru rasa penyesalan karena sudah hampir 2 tahun ini gue sudah menyia nyiakan hidup gue untuk membenci wanita yang telah melahirkan gue." Dewa menundukan kepalanya.


Hana meraih tangan Dewa dan menepuknya pelan.


" Loe enggak perlu menyesal, itu semua adalah jalan yang harus loe lalui untuk bisa meraih bahagia yang lebih. Semua sudah Allah rencanakan, dan gue yakin rencana Allah pasti yang terbaik untuk hamba Nya. Lalu bagaimana dengan hidup loe ke depannya? Loe tetap tinggal di sini, atau bareng sama ibu loe dan suaminya?"


Dewa mendongakkan pandangan dan menghela nafas dalam.


" Gue juga belum tahu, tapi kata ibu gue sudah menceritakan semua kepada suaminya. Dan dia bisa menerima semua masa lalu ibu gue beserta gue. Tapi entahlah ke depannya mau seperti apa gue akan mencoba lebih menerima untuk menjalani seperti yang telah Allah rencanakan. Bukankah rencana Nya pasti yang terbaik?" Dewa menatap Hana dengan penuh kepastian.


" Gue bangga sama loe." tampak sebuah senyum merekah menghiasi wajah manis gadis itu.


" Tapi gue masih ada satu penyesalan yang enggak bisa gue tebus."


" Hmmm apa? Waktu yang terlewat tanpa ibu loe? Itu masih bisa loe tebus kok dengan lebih menghargai dan menikmati tiap moment kebersamaan loe sama ibu loe."


" Bukan itu."


" Lalu?" tanya Hana sembari menyeruput teh hangat yang sedari tadi berada di meja di dekatnya.


" Keperjakaan gue." ucap Dewa dengan gamblang.

__ADS_1


" Uhuk uhuk...!" Hana tersedak karena merasa kaget dengan jawaban Dewa. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa Dewa akan berbicara seperti itu di depannya.


" Loe enggak apa apa kan?"


" Ngapain loe tiba tiba bahas itu?"


" Gue harus bahas Han, gue kan sudah janji sama loe buat cerita semuanya ke loe."


Hana yang tadinya merasa malu dan salah tingkah dengan bahasan Dewa kini menatap wajah Dewa dengan serius.


" Gue sangat menyesal karena melepas keperjakaan gue dengan sembarang wanita, bahkan tanpa ada rasa cinta. Terus gue juga sering gonta ganti cewek seenaknya. Gue juga sering ngelakuin one night stand. Pokoknya gue emang kotor banget. Kadang gue sering merasa enggak pantas buat loe, secara gue yang terlalu kotor sedangkan loe masih sangat murni bahkan ciuman saja loe belum pernah. Gue benar benar menyesal karena pernah melakukan itu semua Han." Dewa menatap Hana dengan wajah sendu. Hana hanya terdiam bingung harus bicara apa.


" Loe enggak akan menyesal kan? Loe enggak marah kan? Karena gue sudah enggak perjaka lagi dan bekas dari banyak cewek. Tapi sumpah gue sudah tinggalin itu semua sejak mengenal loe. Dan gue janji gue enggak bakalan ngelakuin itu lagi dengan cewek manapun. Termasuk loe, sebelum gue menjadikan loe halal buat gue. Dan gue juga janji gue akan berubah menjadi orang yang lebih baik sehingga gue mampu dan pantas untuk membahagiakan loe." ucap Dewa dengan penuh keyakinan.


" Gue hargai kejujuran loe. Sebenarnya gue sangat terkejut loe tiba tiba ngomong kayak gini. Tapi gue salut, karena gue yakin loe pasti butuh banyak keberanian untuk bisa ngomong ini semua. Gue enggak akan menyesal karena telah menerima cinta loe. Gue percaya loe akan menepati janji loe ke gue." entah mengapa tidak ada rasa kecewa di hati Hana meskipun mendengar pengakuan Dewa tentang kelakuan bejatnya di masa lalu. Padahal dulu ia sangat illfeel jika menyangkut tentang **** bebas. Tapi entah dengan Dewa dia bisa menerima semua itu. Dia percaya dengan ketulusan cinta dan janji Dewa.


Mereka saling memandang dan tenggelam di dalamnya. Netra mereka sama sama terpaku satu sama lain, seakan ada medan magnet diantara keduanya.


" Ayo kita pulang Dewa." suara ibu Dewa membuyarkan keduanya. Ibu Dewa dan orang tua Hana melangkah keluar rumah.


Ibu Dewa tersenyum dan menghampiri Hana. Dipeluknya tubuh Hana dengan penuh kasih sayang.


" Sekali lagi terima kasih banyak ya Nak. Kamu memang luar biasa. Kamu adalah kiriman Allah untuk memperbaiki hubungan saya dengan Dewa. Terima kasih banyak. Ini semua sangat berarti untuk saya." ucap ibu Dewa dengan haru.


" Sama sama Tante. Saya enggak ngelakuin apa apa kok. Itu semua karena rasa sayang dan ikatan di antara Tante dan Dewa." Hana mengurai pelukan sembari tersenyum manis.


Setelah berpamitan dengan Hana dan kedua orang tuanya, Dewa dan ibunya pun melenggang masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju ke kediaman mereka. Masih ada banyak kata dan bahasan yang ingin mereka sampaikan satu sama lain.


_______


"Ibu lega bisa melihat Dewa dan ibunya bisa kembali berbaikan. Terlihat dengan jelas raut bahagia di wajah mereka." Ibu Hana melihat ke arah mobil yang membawa Dewa dan ibunya berlalu dari depan rumahnya. Sedangkan ayah Hana sudah kembali masuk ke dalan rumah setelah melepas kepergian mereka.


" Huum." jawab Hana singkat.

__ADS_1


" Ibu tidak bisa membayangkan seandainya ibu yang harus terpisah jauh dengan kamu atau pun Evi."


Hana bergelanyut manja di lengan ibunya.


" Jangan kawatir Bu, kita enggak bakalan pisah kok."


" Ibu enggak nyangka kamu bisa bicara bijak sampai bisa meluluhkan Dewa untuk menerima ibunya kembali. Ibu bangga sama kamu Han. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk kehidupan Dewa ke depannya." ibu Hana berucap penuh haru.


" He he he, tentu saja siapa dulu yang ngajarin? Ibu Dina Pertiwi...!"


" Huh kamu itu diajak bicara serius malah jawabnya nyeleneh, Ibu tarik kata pujian yang tadi."


" Eittt, enggak bisa...! Maaf kata yang telah terucap tidak bisa ditarik kembali. Silahkan lanjutkan pujian berikutnya."


" Ha ha ha kamu itu bisa saja, pinter banget ngelesnya."


" Ya iyalah, kan didikan Ibu Dina yang paling cantik seantero jagad. Ups sorry lupa, lebih cantikkan ibunya Dewa." ledek Hana.


" Kamu itu ya.... Nyesel Ibu tadi sudah muji kamu, memang dasar minta dikutuk jadi panci kamu ya." ibu Hana menggelitik tubuh Hana yang sontak membuat Hana tertawa dan menjerit kegelian.


" Ampun Bu, ampun. Iya iya Ibu yang paling cantik dan paling baik hati." nafas Hana tersengal. Ibu Hana berhenti menggelitik tubuh Hana.


" Tapi boong..!" teriak Hana sembari berlari ke dalam rumah.


Ibu Hana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Hana yang konyol.


Ibu memang yang terbaik. Ibu selalu membimbing dan mendidik Hana dan Evi untuk selalu berbuat kebaikan. Terima kasih Ya Allah Engkau telah memberikan Ibu yang luar biasa untuk hamba Mu ini. Ibu bukan hanya sekedar sosok orang tua tapi dia juga menjadi sahabat Hana yang paling mengerti dan memahami Hana. Berikankah kebahagiaan dan kesehatan selalu pada beliau.


Hana kembali berlari ke luar rumah menghampiri ibunya yang masih belum bergeming dari tempatnya.


"Mmmuach.... I love you mom. You are the best." Hana mencium pipi ibunya.


" I love you too honey." balas wanita yang selama ini mendidik dan mendampingi Hana sembari tersenyum penuh rasa syukur dan bangga.

__ADS_1


Terima kasih Ya Allah atas semua kebahagiaan yang selama ini Engkau curahkan untuk keluarga ini. Sungguh senyuman di setiap anggota keluarga ini adalah sebuah kekayaan yang luar biasa. Semoga Engkau juga melimpahkan kebahagiaan untuk Dewa dan Ibunya. Semoga ini adalah sebuah awal yang indah untuk rencana Mu atas hidup mereka.


__ADS_2