
Dewa dengan sigap membersihkan sprei kotor dan menggantinya dengan yang baru, sedang Hana hanya duduk manis di sofa yang berada di salah satu sisi kamarnya sembari memandangi suaminya mengerjakan itu semua. Sebenarnya Hana berniat mengganti sprei yang ternoda itu namun aksinya terhenti karena diambil alih oleh lelaki yang sudah mengambil mahkota kesuciannya.
" Sayang ternyata kamu sangat berbakat dalam hal ini." puji Hana melihat hasil pekerjaan suaminya yang dinilai cukup rapi.
" Tentu saja. Lalu bagaimana dengan hal lainnya di tempat tidur, apakah menurutmu aku juga cukup berbakat?" tanya Dewa dengan senyuman menggoda.
" Apa maksudmu?" dengus Hana pura pura tidak paham dengan arah ucapan Dewa.
Dewa sengaja banget deh, suka banget dia membuat aku malu. Apakah semua wanita juga merasakan malu seperti ini saat melakukannya untuk pertama kali?
" Hai, kenapa malah bengong? Bagaimana menurutmu, apakah aku cukup berbakat memuaskan istri tercintaku ini?" Dewa mengulangi pertanyaannya sengaja menggoda istrinya. Menurutnya ekspresi wajah Hana saat malu terlihat sangat meggemaskan.
" Apaain sih kamu." benar saja wajah Hana kini telah bersemu merah karena menahan malu.
" Ayolah jawab. Atau kita perlu melakukan sekali lagi sekarang biar kamu bisa menilai kemampuanku?" desak Dewa yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Hana dengan tatapan penuh maksud.
" Mau a_apa kamu? Hentikan, kamu pasti sengaja melakukan ini untuk menggodaku kan?"
" Begitukah menurutmu? Kamu pikir aku hanya menggodamu saja. Baiklah kalau begitu ayo kita ulangi lagi sampai kamu mau menjawab bagaimana kemampuanku di atas ranjang." Dewa mulai merobohkan tubuhnya mengurung tubuh Hana di bawah kungkungan tubuh atletisnya.
" Hentikan, bukankah tadi kamu bilang tidak akan melakukannya sampai milikku sembuh dan rasa sakitnya hilang? Sekarang masih terasa sangat perih."
" Iya, tadi aku memang mengatakannya. Tapi sepertinya aku berubah pikiran, karena ternyata tadi aku tidak berhasil memuaskan istriku jadi sekarang aku harus berusaha lebih keras lagi untuk memuaskan dan membahagiakannya bukan?" bibir Dewa menyunggingkan sebuah senyuman.
" Hentikan. Kamu memang sangat berbakat." jawab Hana cepat sebelum Dewa beraksi lebih lanjut lagi. Bukan maksudnya untuk menolak ajakan bercinta suaminya namun bagian intim miliknya memang masih terasa perih dan ngilu.
" Berbakat dalam apa? Ngomongnya yang jelas dong." Dewa sengaja mulai memepetkan tubuhnya ke bawah membuat wajah Hana tegang seketika.
" Kamu memang suamiku yang sangat berbakat di ranjang. Dan, dan aku merasa sangat puas dengan semua perlakuanmu di tempat tidur." jawab Hana memenuhi desakan suaminya. Kini wajahnya telah benar benar memerah seperti kepiting rebus.
" Hah, benarkah? Aku tidak menyangka jika ternyata tadi aku berhasil membuatmu merasa sangat puas, he he." goda Dewa sambil menahan tawanya.
__ADS_1
" Kamu sengaja menggodaku ya?" Hana mendorong tubuh suaminya dengan keras.
" Ha ha ha, wajahmu saat malu benar benar sangat menggemaskan sayang. Suer..." Dewa tertawa terbahak merasa berhasil mengerjai wanita polos yang sudah tidak polos lagi.
" Tidak lucu..! Terus saja tertawa, kamu keterlaluan...!" suara Hana terdengar serak seperti ingin menangis.
" Hai, hai aku hanya bercanda. Jangan marah atau menangis ya. Ayolah maafkan aku. Aku janji tidak akan menggodamu seperti ini lagi." Dewa takut jika Hana sungguh sungguh menangis.
" Sayang maafkan aku ya...." bujuk Dewa lagi.
" Baiklah, tapi kamu harus push up seratus kali." tatapan Hana penuh dengan kelicikan.
" Push up seratus kali? Lagi?! Are you serious?!" Dewa merasa terjatuh pada lubang yang sama seperti delapan tahun lalu.
" I am really really really serious. Bagaimana, kamu tidak mau? Bukankah tadi kamu berkata akan berusaha lebih keras lagi untuk membuatku merasa puas. Sekarang puaskan aku." ucap Hana penuh dengan kemenangan.
" Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jika aku berhasil menyelesaikan seratus push up maka kamu harus bersiap siap untuk ku puaskan di atas ranjang. Aku tidak akan berhenti sampai kamu minta ampun. Deal?" Dewa mengulurkan tangan untuk jabat tangan sebagai tanda persetujuan.
Hanya push up seratus kali? Itu sangat gampang. Kamu terlalu meremehkan aku sayang.
Kamu terlalu yakin sayang. Tapi aku juga sangat yakin bahwa kamu tidak akan bisa melakukannya.
Push up sebanyak seratus kali bukanlah hal yang sulit bagi Dewa. Setiap hari dia selalu menyempatkan diri melakukan olah raga tersebut untuk menjaga kebugaran tubuh dan sekaligus membentuk otot perutnya agar tetap size pack.
" Bersiaplah untuk ronde berikutnya sayang. Akan kubuat kamu mengerang dan merintih semalaman. Jangan menyesal dan mengingkari kesepakatan kita." ucap Dewa dengan pongah.
" Jangan khawatir, itu tak akan pernah terjadi. Lalu bagaimana jika kamu yang kalah?"
" Itu tidak mungkin. Kamu masih meragukan kekuatanku? Tidak kah tadi kamu sudah merasakan dan melihat bagaimana otot tubuhku?" Dewa melepas kaosnya dan membiarkan otot otot tubuhnya terekpose di depan istrinya.
Sial, tubuh Dewa memang sangat menggoda. Tidak heran jika banyak wanita yang menggilainya. Aku harus mulai pasang badan jika ada wanita yang ingin mendekatinya.
__ADS_1
" Iya, iya, otot tubuhmu memang terlihat sangat kuat. Lalu apa gunanya kamu pamer seperti ini? Atau selama ini kamu memang suka memamerkannya di depan para wanita?" ketus Hana.
" Ya enggaklah sayang, enak saja. Kamu anggap aku lelaki macam apa? Dulu aku memang berengsek tapi sejak bertemu denganmu aku sudah berubah. Dan otot ototku ini sengaja aku bentuk khusus untuk istriku tercinta seorang."
" Sudahlah tidak perlu gombal lagi, cepat mulai push up. Jika kamu gagal kamu harus bersiap menerima hukuman dariku."
" Baiklah aku akan menuruti semua perkataanmu. Bersiaplah sayang jangan sampai nanti kamu menangis." Dewa mulai memposisikan tubuhnya untuk memulai gerakan push up.
" Oh ya? Aku akan sangat menantikannya." Hana menyeringai.
" Satu..... Dua.....Tiga.....Empat...." Dewa mulai mendorong tubuhnya dengan sangat mudah, bahkan sesekali dia melakukan gerakan itu dengan satu tangan. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan seakan dia sudah sangat yakin bahwa dia akan memenangkan tantangan itu dengan mudahnya.
Namun senyum kemenangan Dewa tidak berlangsung lama.
"Tiiiii gaaa.......pu..luh.... ennn nnammmm...." Dewa mendorong tubuhnya ke atas dengan sangat kesulitan. Nafasnya terasa berat dan tersengal. Wajah tampan dan tubuh atletis kebanggaannya telah basah oleh keringat yang terus bercucuran seperti anakan sungai.
"Tiiiii gaaaa......puuuuu...." tangan Dewa gemetar tidak mampu mendorong tubuhnya ke atas lagi.
" Huhhhhh hhuuuhhhh.....huhh..... aku nyerah..." tubuh Dewa ambruk ke lantai. Nafasnya memburu dan tersengal.
" Sudah? Segitu doang? Katanya gampang push up seratus kali." ejek Hana sambil tersenyum penuh kemenangan karena sang suami tidak mampu menyelesaikan tantangan.
" Hufffff.... huuffff....." Dewa menghela napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia mengulangi beberapa kali untuk menormalkan ritme napasnya.
" Kalau cuma push up biasa sebanyak seratus kali memang gampang. Lah ini kamu duduk nangkring di atas punggungku gimana mau bisa seratus kali." kilah Dewa.
" Ha ha ha.... Tadi aku kan enggak bilang kalau aku enggak boleh nangkring di punggung kamu." Hana beranjak dari tubuh Dewa.
Awalnya Dewa melakukan push up dengan sangat lancar dan mudah, namun setelah hitungan ke dua puluh tiba tiba Hana dengan percaya dirinya tanpa rasa bersalah menduduki punggung suaminya seakan itu adalah kursi singgasananya. Dan Hana enggan untuk beralih dari posisinya meskipun suaminya sempat protes.
" Sekarang saatnya kamu menerima hukuman karena kamu telah gagal dalam tantangan tadi." tutur Hana dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
" Hah.... beneran ada hukumannya?" tanya Dewa sembari membalikan posisi tubuhnya.
" Tentu saja. Bersiaplah suamiku tersayang."