Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Panggilan Malam


__ADS_3

Hana masuk ke kamar dan mengecek ponselnya.


" What?" pekik Hana saat melihat panggilan tak terjawab sebanyak 47x, VC WA 28x, dan beberapa pesan yang belum terbaca yang sebagian besar berasal dari Laura.


#Laura #


Han loe nonton ma siapa?


*


*


Han?


*


*


Han loe marah ya ma gue?


*


*


Kok enggak dibales/ diangkat sih?


*


*


Han loe baik baik aja kan?


*


*


Han gue suruh Yusuf buat temenin loe, udah nyampe belum?


*


*


Han loe udah sama Yusuf kan?


*


*


Han jangan buat gue cemas dong.


*


*


Han loe udah pulang?


*


*


Udah sampe rumah belum?


*


*


Hana, answer me please...


*


*


Hana, sumpah gue cemas banget ma loe


*


*


Han, are you ok?


*


*


?????


*


*

__ADS_1


?????


*


*


Hallo......


*


*


"Mampus gue, Laura pasti ngomel nih. Sedari tadi gue enggak hubungin dia." Hana memegang kepalanya. Ia bingung harus ngomong apa ke Laura.


" Gue harus telpon dia, tapi ntar gue kasih alasan apa? Tapi kalau enggak telpon dia pasti cemas."


"Ayo Han, mikir..."


Belum hilang kegundahan Hana, tiba tiba.


" Drttt drrttt." ponsel Hana bergetar, dan terlihat nama Laura tengah memanggil.


Mampus gue, mampus.


Dengan ragu ragu Hana menggeser layar ponselnya tanda ia menerima panggilan itu.


" Halo." sapanya lirih.


" HANAAAAAAA!" Hana menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakkan Laura benar benar memekakkan gendang telinga.


" Loe udah pulang? Sama siapa? Jam berapa? Terus loe baik baik aja kan?" suara cempreng Laura yang terus memberondongi pertanyaan.


Hana menghembuskan nafas kasar, mencoba untuk tenang.


"Gue baik baik aja kok Laura sayang, maaf ya tadi ponselnya gue mode silent jadi enggak tahu kalau loe telpon gue, he he."


" Terus loe pulang ma siapa? Sampai rumah jam berapa? Kenapa enggak kasih kabar? Masak pesan gue dari tadi enggak ada yang dibales."


Busyet ni anak pertanyaannya banyak banget kayak polisi lagi interogasi tersangka aja.


" Atu atu ya tanyanya, biar gue enggak bingung mau jawab yang mana." kilah Hana.


" Udah enggak usah ngeles, pokoknya loe harus cerita ma gue tadi loe sama siapa. Tadi gue udah suruh si Yusuf buat jemput loe, tapi dia bilang enggak nemuin loe di bioskop."


" He he he, itu ya.... " Hana bingung harus jawab apa.


Ceritain enggak ya kalau tadi gue jalan ma Dewa. Jangan dulu ah, entar dia malah heboh.


" Tut tut tut." Hana mengakhiri panggilannya tanpa menunggu persetujuan Laura.


"Yah malah dimatiin." dengus Laura di dalam kamarnya.


Belum sempat diletakkan ponselnya bergetar lagi.


Hana kembali menjawab panggilan di ponselnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


" Apalagi sih Ra?" ketus Hana tanpa melihat nama pemanggil.


" Heh? Ini gue."


" Ups sorry, kirain Laura. He he he. Ada apa Kak Rayhan?" Hana merasa malu karena salah sebut.


" Enggak ada apa apa cuma pengen ngobrol aja, enggak ganggu kan?"


" Ganggu enggak ya? Kan ini udah malam waktunya bobocan."


" Ya kok gitu sih? Masak ditelpon orang ganteng malah mau ditinggal bobok?" goda Rayhan yang teringat akan ucapan Hana siang itu.


" Apaan sih Kak, enggak lucu. Apa ada orang yang nyebut diri sendiri ganteng?"


" Yang nyebut ganteng bukan gue,, kan loe."


"Apaan sih.. " Hana mulau terdengar kesal.


" Gue cuma bercanda, by the way besok free enggak? Main bareng yuk, nonton pameran lukisan. Lumayan sekalian jalan jalan." ajak Rayhan yang entah mengapa ia yakin Hana akan menerimanya karena toh selama ini mereka sudah lumayan dekat.


" Sorry Kak gue enggak bisa, gue udah janjian mau main ma Laura. Kalau Kakak mau boleh kok gabung ke rumah Laura." tolak Hana dan sedikit berbasa basi.


" Owh, kirain enggak ada acara. Oh ya Han kalau boleh tahu pacar loe siapa?" Rayhan memberanikan diri untuk bertanya yang agak privasi.


" Hah pacar? Enggak ada, emangnya kenapa Kak. Kakak kok aneh sih tiba tiba tanya pacar." Hana merasa heran.


Rayhan bingung mau menjawab apa. Ia sendiri juga heran kenapa malah bertanya tentang pacar. Niat awal telpon mau ngajak Hana ngedate dan ngobrol sampai larut layaknya pasangan yang lagi kasmaran tapi malah di luar ekspektasi, obrolan menjadi garing.


" Halo, Kakak ?" Hana memecah keheningan.


" Oh, enggak, anu Han." Rayhan menjadi salah tingkah.


"Ya udah selamat malam met bobok. Nice dream."

__ADS_1


"Tut tut tut" Rayhan memutus panggilan terlebih dahulu.


Sial kok malah gini sih, bego...bego... susah banget sih ngungkapin perasaan gue ma loe.


Hana masih merasa heran dengan sikap Rayhan yang sedikit aneh, bicara belibet dan obrolan yang garing.


" Drtttt drttt," ponsel kembali bergetar.


Yusuf? Tumben malem malem telpon gue.


" Halo , Assaalamualaikum gimana Suf?" Hana membuka panggilan.


" Heh loe tadi nonton ma siapa, gue susulin kok udah enggak ada?" cerocos Yusuf dengan menggebu.


" Yaelah Suf, kalau ada salam dijawab dulu napa. Menjawab salam itu hukumnya wajib. Kata pak ustadz sepelit pelitnya orang adalah orang yang tidak menjawab salam . Ente mau jadi orang terpelit di dunia?"


" Sialan loe,,,, Ya udah gue repeat .. Waalaikumsalam Hana. Sok jawab tadi loe nonton ma siapa? Gue bela belain susul loe di bioskop udah enggak ada. Panggilan ma pesan gue enggak ada yang dibales lagi." ketus Yusuf.


" Ha ha ha ya sorry, abis loe lama sih datangnya, keburu ketinggalan film. Gue enggak rela dong kalau harus ketinggalan babang Toretto cuma gegara nunggu loe. Lagian loe cari gue di pintu berapa? Gue tadi di pintu 3 nonton Fast and Furious."


" He he he tadi gue di pintu 1 si, akhirnya gue nonton film sekuel Wrong Turn sendirian, gila ngeri banget kejam bener tu psikopatnya. Beneran merinding gue." ucap Yusuf yang masih bergedik ngeri membayangkan adegan film itu.


Hana terlihat antusias mendengar cerita Yusuf. Tanpa sadar mereka larut dalam obrolan tentang film yang mereka tonton tadi hingga tengah malam. Mereka bertukar cerita dan review, hingga lupa tujuan awal Yusuf menelpon Hana adalah untuk menanyakan dengan siapa Hana nonton.


" Hoaaaammm." Hana tak mampu menahan rasa kantuknya, karena memang seharian ini cukup menguras tenaganya.


" Suf udahan ya, gue udah ngantuk berat ni. Besok lagi kita nonton bareng bareng biar rame, gue penasaran gimana reaksi Laura kalau kita ajak nonton film horror. Pasti seru banget. He he he."


" Ya udah met malam, enggak perlu mimpiin gue."


" Ih najis, ngapain mimpiin loe, ya udah gue tutup dulu." Hana menyentuh tombol merah di ponselnya.


Mata Hana merapat dengan sendirinya, tanpa dikomando ia telah terlelap memasuki alam mimpinya.


Pukul 2 dinihari ponsel Hana kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomer yang belum terdaftar di ponselnya. Masih dalam keadaan mata terpejam Hana menerima panggilan itu.


" Hai Hana, met malam menjelang pagi. Loe belum tidur?" sapa orang di panggilan itu yang tak lain adalah Dewa.


" Mmmmm" Hana masih belum keluar dari alam mimpinya.


"Gue enggak ganggu loe kan.?"


" Mmmmm"


" Loe tidur ya, kok cuma jawab mmmmmm doang?"


" Mmmmm"


" Loe lucu banget tidur sambil jawab telpon." Dewa terkekeh sendiri, merasa lucu entah dengan Hana yang tidur sambil telpon atau dirinya yang mulai error karena mengajak bicara orang yang tidak berada dalam alam sadar.


"Mmmmm"


Tiba tiba terlintas ide jahil di kepala Dewa untuk merekam percakapannya dengan Hana.


" Han, gue mau tanya loe jawab dengan bener ya,, jangan cuma mmmmm"


Entah karena apa ucapan Dewa mampu menembus alam mimpi Hana. Seperti berada di antara batas alam mimpi dan nyata, Hana tak mampu membedakannya


" Hana ini gue Dewa?"Dewa mulai kejahilannya.


" Ya,," jawab Hana.


" Gue ganteng enggak?"


" Ganteng."


" Gue baik enggak?"


" Baik, tapi playboy. Suka gonta ganti cewek." celoteh Hana tanpa ia sadari.


" Loe mau jadi pacar gue?"


" Ogah, loe kan pacarnya Selvi, entar gue dianggep pelakor."


" Deg." niat Dewa cuma mau menjahili buat lucu lucuan tapi jawaban Hana malah mengena di hatinya.


" Selvi bukan pacar gue, gue enggak pernah serius sama dia owk. Vina dan yang lainnya juga sama aja, cuma buat hiburan. Gue janji sama loe gue bakal berubah demi loe. Loe orang pertama yang mampu menggetarkan hati gue. Senyuman loe memberi kedamaian di hidup gue. Ada sinar dan ketulusan di dalamnya, yang selalu membuat gue terus terpaku dan tak mampu untuk berpaling. I love you Hana." Dewa mengeluarkan semua isi hatinya.


" I love you too." igau Hana yang nyatanya mampu menghentikan detak jantung Dewa untuk sesaat.


Dewa merasa melayang seakan gaya gravitasi bumi tak berlaku untuk tubuhnya. Ia melompat kegirangan berselancar dalam dunia khayalannya.


Dewa kembali fokus ke ponselnya.


" Han loe serius kan, kita jadian yukkkk..."


Satu detik, dua detik, tiga detik, Dewa menunggu sampai beberapa menit tapi tidak ada jawaban maupun suara dari Hana.


" Han...?"

__ADS_1


"Huuuurrrr hurrrrrrr." suara dengkuran Hana yang menjawab.


KAMPREEEETTTTTT...!!!


__ADS_2