
Setelah beberapa adegan drama yang penuh dengan romansa yang mengaduk aduk perasaan Yusuf dan dokter Raisa, akhirnya kini mereka bisa bernafas lega dan terlepas dari bulian dan ejekan dari sepasang anak Adam dan Hawa, yakni Dewa dan Hana. Entah karena sudah kehabisan bahan ejekan atau karena kecapekan kini mereka tidak lagi melancarkan serangan serangan yang menyudutkan Yusuf dan membuat wajah lelaki berstatus jomblo itu bersemu merah menahan malu.
" Baiklah Hana sekarang mari kita periksa kandunganmu terlebih dahulu. Bukankah kita ingin melihat baby di perutmu?" ucap dokter Raisa dengan tenang sembari memandu Hana dan Dewa masuk ke ruangan khusus ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan sekaligus USG.
Tanpa diminta maupun dikomando Yusuf berjalan mengekor di belakang Raisa.
" Hey, kamu mau apa bukankah lukamu sudah diobati? Pulang sana...!" usir Dewa menghadang langkah Yusuf.
" Kamu mengusirku? Bukankah tadi kamu dan Hana yang memaksaku untuk ikut ke sini?"
" Itu kan tadi, tapi sekarang giliran Hana untuk di USG. Kamu pergi sana, bukankah kamu harus ke kantor? Jangan bilang kamu lupa bahwa satu bulan ini kamu tidak mempunyai hari libur." Dewa tidak beranjak dari posisinya.
" Ck, kau ini sangat keterlaluan... Aku kan juga ingin melihat calon keponakanku. Sejak kapan kamu jadi berubah kejam seperti ini? Aku tidak mau ke kantor, kamu tidak lihat kalau aku sedang terluka?!" Yusuf berusaha menerobos tubuh Dewa.
" Apa yang kamu lakukan?! Pergi sana....!!! Ini adalah penampakan pertama calon buah hatiku dan Hana. Kamu tidak boleh seenaknya ikut melihat."
" Kau kejam sekali mengusirku, habis manis sepah dibuang. Tadi siapa yang memaksa aku datang ke sini? Kenapa sekarang malah terus mengusirku? Aku tidak akan pergi, aku ingin melihat calon keponakanku."
" Ish, habis manis sepah dibuang apanya? Bukannya lebih tepat habis manis bibir makin nyonor...?" ejek Dewa mulai menggoda Yusuf lagi.
" Kau_ ah sudahlah..... Pokoknya aku tidak mau pulang!" ketus Yusuf.
" Ehm...." deheman dokter Raisa menghentikan pertikaian Yusuf dan Dewa.
Yusuf tersenyum miring melewati tubuh Dewa. Ia merasa menang di atas awan.
" Maaf Tuan Yusuf, Anda sebaiknya tidak ikut ke dalam. Kehadiran Anda mengganggu privasi Nyonya Hana untuk melakukan USG. Anda tahu kan bahwa saat melakukan USG kami harus membuka pakaian Nyonya Hana bagian perut? Jadi sebaiknya Anda tidak ikut masuk ke dalam." ucap dokter Raisa penuh dengam penekanan.
Sial kenapa aku bisa lupa kalau pemeriksaan USG harus membuka baju bagian perut? Tapi kenapa tiba tiba gaya bahasa Raisa berubah seperti itu? Bahasanya juga terdengar formal seakan pembicaraan antara dokter dan pasien saja. Eh tapi memang dia seorang dokter sih.... he he
" Iya baiklah, aku akan tunggu di sini." jawab Yusuf terdengar tidak bersemangat.
" Per-mi-si."
" Bragh...!!!" Dewa menutup pintu tepat di depan wajah Yusuf.
" Hey...!! Ck, keterlaluan sekali. Dasar kekanak kanakan." umpat Yusuf.
__ADS_1
Heh, sejak kapan Dewa dan aku jadi sering bertikai seperti ini ya? Dulu aku dan dia tidak pernah berdebat. Apa dulu kami belum bisa sepenuhnya menerima dan terbuka sehingga hanya bisa saling bersikap baik satu sama lain? Dan sekarang kami sudah sepenuhnya bisa saling terbuka dan menunjukan sifat kami sebenarnya tanpa harus menutup nutupi. Ini sangat menyenangkan, hubungan kami terasa seperti kakak adik sesungguhnya. Kadang kala berdebat, berselisih, menggoda, memarahi ataupun mengejek. Yey....aku benar benar punya saudara yang bisa aku ajak untuk melakukan itu semua.
Hana mulai berbaring di ranjang pemeriksaan dengan sedikit gugup. Ini adalah kali pertama ia melakukan USG. Hatinya sudah tidak sabar igin melihat baby di dalam perutnya.
Dokter Raisa mulai melakukan pemeriksaan dibantu oleh seorang perawat.
Dengan lembut perawat itu mengoleskan gel USG di perut bagian bawah Hana dan juga ujung transducer. Sensasi sedikit dingin Hana rasakan tatkala kulitnya tersentuh oleh gel yang berfungsi sebagai pelumas atau pelicin agar ujung alat USG dapat bergerak dengan mudah di atas kulit tanpa menimbulkan gesekan. Gel itu juga berfungsi untuk membantu proses pengiriman gelombang ultrasound ke dalam tubuh.
Adapun cara kerja USG atau ultrasonografi itu sendiri adalah dengan cara memancarkan gelombang ultrasound melalui transducer dengan media gel. Kemudian gelombang ultrasound itu akan dipantulkan kembali dalam bentuk gambar di layar monitor.
" Tahan ya, ini akan terasa sedikit tidak nyaman." dokter Raisa mulai menggerakkan transducer di perut bagian bawah Hana.
Dan benar saja, Hana merasa sedikit tidak nyaman kala dokter Raisa menekan alat di tangannya agar memperoleh gambar yang diinginkan.
" Itu dia si baby." ucap dokter Raisa dengan senyum terkembang.
" Oh, look...! Twins. Kalian akan mempunyai dua baby sekaligus." seru Raisa saat ia melihat ada dua janin dalam perut Hana.
Hana dan Dewa memandang gambar hitam putih di layar monitor dengan takjub. Keduanya terpana dan terharu menyaksikan buah hati mereka yang masih bersemayam di dalam perut Hana. Bahkan tanpa terasa mata keduanya mulai berkaca kaca.
" Iya, mereka anak anak kalian, selamat kalian akan memiliki baby kembar." Hana tersenyum namun dengan berlinang air mata. Mungkin inilah definisi dari tangis bahagia.
" Hah, aku akan memiliki dua anak sekaligus. Tapi mengapa mereka sangat kecil?" keluh Dewa.
" Itu karena usia kandunganku masih muda. Benar kan Raisa. Tapi mereka baik baik saja kan?" Hana terlihat cemas.
" Jangan khawatir, mereka baik baik saja. Ukuran tubuh dan detak jantung mereka normal."
" Jantung mereka sudah berdetak?!" Hana terlihat sangat antusias.
" Iya tentu saja, dengarkan ini baik baik." Hana dan Dewa diam memfokuskan pendengaran mereka.
"Dug dug dug dug..." terdengar suara detak jantung yang sangat cepat.
" Sayang, aku mendengarnya. Aku mendengar detak jantung anak anak kita." Dewa tersenyum dengan bahagia, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari monitor di depannya.
" Ini suara jantung mereka? Kenapa terdengar sangat cepat?" Hana merasa khawatir.
__ADS_1
" Jangan takut, ini semua normal. Mereka dalam kondisi yang sangat baik. Frekuensi detak jantung janin berusia 2 bulan memang sangat cepat yakni 150 sampai 160 kali per menit, lebih cepat dua kali lipat dari detak jantung manusia pada umumnya. Dan, lihatlah mereka sudah mulai bergerak walaupun belum aktif dan belum terasa."
" Sayang mereka benar benar hidup dalam perutku." ucapan Hana diangguki oleh suami tercinta. Mereka benar benar merasa bahagia.
" Walaupun mereka masih terlihat sangat kecil dan ukuran mereka masih sekitar 2.5 cm, tapi organ mereka sudah mulai berkembang, meski belum terlihat sempurna tapi mereka sudah memiliki mata, hidung, mulut dan telinga. Sistem pencernaan dan pernapasan juga sudah terbentuk. Mereka sangat hebat kan."
" Tentu saja hebat, mereka kan anak anakku." Dewa terlihat sangat bangga.
" Ish, gaya bicaramu semakin mirip dengan papa Russel." dengus Hana.
" He he. Mau bagaimana lagi, aku kan hasil cetakkannya."
" Mereka sangat imut, meskipun sekarang masih sebesar kacang tapi aku yakin mereka akan tumbuh menjadi bayi lucu yang menggemaskan. Aku tidak sabar menanti kelahiran mereka." Hana terlihat sumringah.
" Hei mengapa kamu membandingkan anak kita dengan kacang?!" protes Dewa.
" Aku tidak membandingkan mereka dengan kacang aku hanya berkata mereka saat ini masih sebesar kacang. Aku betul kan Raisa ukuran baby di perutku memang masih sebesar kacang, yakni sekitar 2.5 cm?"
" Iya." dokter Raisa menjawab dengan canggung.
" Kalau memang ukurannya 2.5 cm bukankah itu juga sebesar strawberi. Aku lebih suka membandingkan mereka dengan strawberi. Benar kan my little strawberies. Mereka pasti lebih senang dibandingkan dengan strawberi ketimbang kacang. Strawberi terasa lebih segar dan menggiurkan. " tutur Dewa yang akhir akhir ini menjadi penyuka makanan masam.
" Tapi aku lebih suka kacang, mereka gurih dan nikmat. Benarkan my little peanuts?" Hana tidak ingin kalah.
" Mereka seperti strawberi."
" Kacang. Mereka sebesar kacang." Hana dan Dewa justru terus berdebat mengenai kacang dan strawberi.
" STOP.....!" teriak dokter Raisa yang berhasil membuat Hana dan Dewa terdiam dan beralih menatap ke arahnya dengam tajam.
" Eh, itu....Bukankah mereka ada dua. Jadi kalian tidak perlu berdebat. Satu baby seperti strawberi, dan yang satu seperti kacang. Bagaimana? Cukup adil kan?"
" Peanuts strawberry...???"
" Baiklah, itu terdengar bagus." Hana dan Dewa mengiyakan.
" Huuuffffft....." dokter Raisa bernapas lega.
__ADS_1