
Suasana ruang makan Dewa terasa dingin tidak seperti biasa. Suara tawa dan canda yang biasa mewarnai tatkala ketiganya sarapan bersama tidak terdengar. Mereka sibuk dengan makanan yang ada di hadapan mereka.
Hana sesekali menatap tajam ke arah Yusuf yang menikmati makanannya tanpa bersuara. Bahkan Yusuf tidak berani mengangkat kepalanya takut jika harus beradu pandang dengan wanita yang masih bertahta di hatinya.
Hana kalau marah ngeri banget sih. Perasaan dari tadi masih melototi aku deh. Aku belum pernah melihat dia semarah ini.
" Sayang hari ini kita jadi kan berkunjung ke Dokter Raisa untuk periksa kandungan?" suara Dewa memecah kesunyian.
" Tentu saja. Kemarin aku sudah buat janji untuk melakukan USG. Dan nanti akan ada kejutan yang menanti." ucap Hana dengan raut wajah yang berubah cerah seketika.
" Kejutan? Apa itu?" Dewa terlihat antusias.
" Emmmmmmm, rahasia. Nanti kamu juga akan tahu."
" Owh aku jadi penasaran. Kejutannya bukan hal yang aneh aneh kan?" selidik Dewa.
" Ish, tentu saja tidak. Aku yakin kamu akan sangat menyukainya."
" Benarkah? Aku jadi tidak sabar menantinya."
" Bagaimana dengan luka di bibirmu? Apa sudah diobati?" tanya Hana sambil menatap intens ke arah Yusuf. Dia tidak tega mendiamkan Yusuf lama lama. Meskipun masih sedikit marah namun ia merasa iba melihat Yusuf yang tertunduk diam selama sarapan terlebih luka di bibirnya terlihat lumayan parah.
" Hah? Belum. Lagi pula ini juga tidak terlalu sakit." Yusuf meraba bibirnya yang terasa nyonor dan perih.
" Aku minta maaf ya Han karena sudah membuat kamu marah. Aku janji lain kali enggak akan mengulanginya." imbuh Yusuf.
" Baiklah aku pegang janji kamu. Awas saja kalau kamu berani melanggar. Aku tidak akan segan menghajarmu." Hana melototkan matanya.
Serem banget sih Hana. Aku jadi enggak bisa bayangin bagaimana reaksi dia kalau tahu aku pernah bercinta dengan adiknya. Bisa babak belur dibuatnya.
" He he, kamu tenang saja aku enggak bakalan ngulangi itu semua kok." Yusuf menelan makanan yang ada di mulutnya. Dan entah kenapa makanan itu terasa sangat sulit untuk ditelan.
" Ngomong ngomong kenapa kamu pakai baju rapi seperti itu? Bukankah ini hari Minggu? Jangan bilang kamu lupa hari karena kebanyakan minum." Hana menelisik penampilan Yusuf yang memakai kemeja lengkap dengan celana formal.
" Ini semua ulah Bos besar, perkataannya adalah perintah." ketus Yusuf penuh sindiran dengan menatap ke arah Dewa.
Sedangkan si terdakwa tidak bereaksi sama sekali. Dewa asyik menikmati makanan di depannya.
" Bos besar siapa?"
" Huh, siapa lagi kalau bukan suamimu? Dia menghapus liburanku selama satu bulan penuh. Kamu bisa bayangkan Han, bagaimana aku harus bekerja selama satu bulan tanpa ada hari libur. Bukankah itu keterlaluan? Dasar tidak manusiawi." cibir Yusuf.
" Apa benar itu Sayang? Kamu menghapus liburan Yusuf selama satu bulan?"
" Tentu saja tidak. Mana mungkin aku seperti itu. Ini semua keinginan Yusuf sendiri yang ingin bekerja dan belajar lebih giat lagi. Bukankah begitu Yu-suf?" sorot mata Dewa penuh dengan intimidasi.
" Aish......." Yusuf mendengus kesal.
" Yusuf.....?" panggil Dewa dengan lembut tapi justru tersirat tekanan di dalamnya.
" Iya, ini semua adalah keinginanku sendiri." ujar Yusuf dengan nada malas.
__ADS_1
" Oh...... Jadi seperti itu. Lalu mengapa kamu tidak menyuruhnya lembur sekalian Yank biar Yusuf lebih cepat memahami dan menguasai tentang management perusahaan." usul Hana yang sontak membuat Yusuf melototkan mata dan menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya. Ia mengira Hana akan membelanya namun justru malah memberi ide untyk memberatkan dirinya.
" Aku sudah kenyang. Aku permisi mau berangkat kerja dulu." Yusuf menenggak habis air putih di gelasnya.
" Eh tunggu Suf, lukamu harus diobati terlebih dahulu." Hana mencegah kepergian Yusuf.
" Tidak perlu." jawab Yusuf enteng sambil beranjak dari kursinya.
" Tapi aku merasa itu perlu. Sebagai sahabat, kakak ipar, istri Bos dan sekaligus Nyonya rumah ini aku memintamu untuk mengobati luka di bibirmu terlebih dahulu." Yusuf terpaksa menghentikan langkah kakinya.
" Huff..... Kenapa kalian sangat menyebalkan hari ini? Kalian benar benar pasangan yang sangat serasi." Yusuf kembali duduk di tempatnya dengan muka ditekuk.
" Terima kasih atas pujianmu. Tanpa kamu katakan aku sudah tahu kalau kami adalah pasangan yang serasi. Bukankah begitu Sayang?" Hana tersenyum manis.
" Tentu saja." Dewa mengecup bibir Hana tanpa ada rasa canggung dan malu di depan Yusuf.
" Hei kalian....!! Ck..... Ah sudahlah. Terserah kalian...!" Yusuf mengambil buah apel di depannya dan membuka mulutnya lebar lebar untuk melampiskan kekesalannya.
" Aouw...!" teriak Yusuf saat buah berwarna merah itu terantuk keras dengan bibirnya.
Sial... Aku sampai lupa kalau bibirku sedang terluka. Hari ini benar benar menyebalkan.
" Kamu tidak apa apa Suf? Oh luka di bibirmu berdarah lagi. Ayo cepat kita ke tempat dokter Raisa agar lukamu segera diobati." ajak Hana.
" Ah tidak perlu ke sana. Ini kan cuma luka kecil. Lebay banget luka seperti ini saja harus pergi ke dokter." Yusuf menyeka darah di bibirnya dengan tissu.
" Cepat berdiri..! Kita pergi sekarang....! No debat..!!" Hana beranjak dari duduknya.
" Sayang cepat siapkan mobil."
" He he he iya aku sampai lupa." Hana menepuk jidadnya sendiri.
" Kalau begitu ayo cepat..... Kenapa kalian masih belum berdiri? Mau tunggu apa lagi?! Kereta di stasiun penuh?" seru Hana yang membuat kedua lelaki di dekatnya terpaksa segera beranjak dari kursinya.
Mereka bertiga berjalan ke arah klinik dokter Raisa. Hana berjalan beriringan sembari bergandengan tangan dengan Dewa, sedangkan Yusuf mengekor di belakangnya dengan langkah terpaksa.
Kenapa aku selalu berada di posisi seperti ini sih? Dulu sewaktu jalan bareng Hana dan Laura aku selalu berjalan sendiri di belakang mereka. Dan kini jalan bareng Hana dan Dewa pun posisiku tetap tidak berubah, sendirian di belakang. Huff, seperti abang tukang becak saja.
Sampai di depan klinik, seorang perawat langsung menyambut kedatangan mereka. Tentu saja perawat itu sudah sangat tahu dengan identitas Hana dan Dewa sebelumnya.
" Selamat pagi Nyonya Hana, silahkan masuk. Mohon tunggu sebentar karena Dokter Raisa sedang bersiap siap."
" Terima kasih." perawat itu membawa Hana, Dewa dan Yusuf ke dalam sebuah ruangan.
Ruangan itu terlihat nyaman dengan desain modern yang bernuansa putih. Ada lampu gantung cantik dan bunga tulip berwarna putih menghiasi salah satu sudut ruangan itu.
Sedangkan untuk ruang periksa sendiri masih berada dalam satu ruangan hanya saja dibatasi oleh sekat kaca dan kain gorden. Di sana ada sebuah ranjang pasien dan peralatan medis yang lumayan lengkap. Di ruang lain ada kamar khusus untuk melakukan persalinan dengan peralatan yang tidak kalah lengkap dengan rumah sakit sangat memadai jika hanya untuk melahirkan secara normal maupun sesar.
" Silahkan duduk Tuan dan Nyonya. Dan untuk Tuan...." perawat itu menggantung ucapannya karena belum mengenal Yusuf.
__ADS_1
" Yusuf." jawab Hana singkat.
" Ah, ya maaf. Silahkan duduk di ranjang pasien biar saya obati luka Anda terlebih dahulu." pinta perawat itu lembut.
" Tidak perlu Sus, dia hanya ingin diobati oleh Dokter Raisa. Biarkan dia menunggu Dokter Raisa datang saja." celetuk Dewa.
" Baiklah kalau begitu saya permisi terlebih dahulu untuk mempersiapkan keperluan yang lain." perawat itu beranjak pergi.
" Tempat ini lumayan juga, tidak kalah dengan fasilitas rumah sakit. Papa memang tidak pernah setengah hati dalam melakukan sesuatu." gumam Dewa.
" Suf sebagai pasien seharusnya kamu berbaring di ranjang pasien. Tunggu Dokter Raisa datang untuk mengobati lukamu." ucap Dewa yang jengah melihat Yusuf tampak mondar mandir mengamati tiap sudut ruangan.
" Lukaku tidak separah itu yang harus berbaring di ranjang pasien. Lagi pula yang terluka adalah bibirku bukan kaki atau anggota gerak yang lain jadi aku masih bebas untuk bergerak. Lihatlah bahkan aku masih bisa loncat loncat seperti ini. Lihatlah! Lihat...!" Yusuf meloncat loncat seperti anak kecil berlalu lalang di ruangan.
" Suf hentikan, kamu sangat kekanak kanakan." gerutu Hana sembari memainkan sebuah game di ponselnya.
" Benarkah? Tapi aku tidak merasa kekanak kanakan. Lihatlah lihat, aku akan terus meloncat seperti ini."
Dewa hanya menghela napasnya dalam, ia sangat paham bahwa saudaranya itu kini sedang melampiaskan kelesalannya.
" Selamat pagi, maaf membuat kalian menunggu." sapa dokter Raisa memasuki ruangan dengan mengulas sebuah senyum.
" Pa_" keseimbangan Yusuf oleng karena terkejut dengan kehadiran dokter Raisa di depannya.
" Awas hati ha_" secara refleks dokter Raisa ingin menggapai Yusuf agar tidak terjatuh namun naasnya karena terburu buru ia justru tersandung kakinya sendiri.
" Brugh.....!!!" Dokter Raisa dan Yusuf ambruk bersamaan. Posisi jatuh dokter Raisa tepat berada di atas tubuh Yusuf. Tubuh semampai dokter Raisa itu menggencet tubuh Yusuf yang terkapar.
Sakit? Pasti. Namun Yusuf tidak punya kesempatan untuk berteriak kesakitan karena bibirnya tertekan oleh bibir merah dokter Raisa.
" Deg deg deg...." jantung Yusuf berdetak dengan cepat. Bola matanya membulat. Ini adalah ciuman pertamanya di kala sadar. Sebelumnya ia memang pernah bercinta dengan Evi namun itu semua dilakukan secara tidak sadar. Dan apakah pada saat itu ia sempat berciuman atau tidak dia tidak mengingatnya.
" Ehem ehem..... Engggak sakit tuh Suf bibirnya?" deheman Hana menyadarkan Yusuf dan Dokter Raisa.
" Enggaklah Yank, kan sudah ketemu dengan pasangannya." goda Dewa.
" Ah maaf, saya tidak sengaja." Dokter Raisa segera bangkit dan merapikan pakaiannya.
Yusuf masih berbaring di lantai seperti orang linglung, ia menyentuh bibirnya yang kian membengkak. Bukan rasa sakit yang ia rasa justru sensasi lain yang membuat darahnya kian mendesir.
" Suf kamu mau berbaring seperti itu berapa lama?" tanya Hana menarik paksa jiwa Yusuf untuk kembali ke alam sadar.
" Hah....??? Aouw aouw....." erang Yusuf baru menyadari bahwa bibirnya terasa nyut nyutan karena kembali terluka. Mungkin inilah definisi luka di atas luka yang sesungguhnya.
" Baru terasa sakit tuh bibir? Tadi pas menyatu dengan bibir Dokter Raisa enggak terasa sakit malah enak ya....?" bisik Dewa sembari menolong saudaranya untuk berdiri.
" Kamu tidak apa apakan?" Hana menelisik tubuh dokter Raisa.
" Tidak apa apa. Baiklah kalau begitu mari kita langsung saja periksa kehamilanmu. Bukankah kalian ingin melakukan USG untuk melihat si baby?" tanya Dokter Raisa berusah menutupi kecanggungannya.
" Ck, kamu itu tega banget. USG bisa dilakukan nanti. Lihatlah ada hal mendesak yang harus kamu lakukan terlebih dulu. Obati Yusuf, kamu tidak lihat bibirnya sudah nyonor seperti itu."
__ADS_1
" He, baiklah. Mari Suf aku obati bibirmu terlebih dahulu." ucap Dokter Raisa dengan sangat canggung.
" Cie cie...... Diobatinya yang bener loh Dok, jangan dimacem macemin lagi tuh bibir. Nanti malah tambah nyonor. He he he." goda Dewa membuat pipi Yusuf dan Raisa kian merona menahan malu.