
" I love you too."
Jantung Dewa seakan berhenti berdetak. Ia melompat kegirangan. Tubuhnya seakan melayang tak lagi berpijak di bumi. Pikirannya berselancar kemana mana.
Dewa mengumpulkan kesadarannya kembali, tanpa basa basi ia mengutarakan niat hatinya untuk menjalin hubungan dengan Hana.
" Han loe serius kan? Kita jadian yuk..."
Hening tak ada jawaban maupun suara.
Kok enggak dijawab sih? Oh mungkin butuh waktu untuk berpikir dulu kali ya. Gue tunggu dulu deh,,,
Hati Dewa harap harap cemas menanti jawaban Hana. Detak jarum jam di dinding kamarnya seakan melambat.
Satu detik, dua detik ,tiga detik sampai beberapa menit kemudian tetap tak ada suara.
Lama banget mikirnya, apa gue terlalu tergesa gesa ya ngajak dia jadian. Gue kan baru jalan sekali ma dia. Tapi gue emang enggak suka basa basi. Dia enghak mungkin pingsan kan? Coba gue pastiin lagi deh.
" Han...?"
"Huurrrrr, hhuuuurrrr...."
Terdengar suara dengkuran dari ponselnya.
KAMPREEEETTTT..! Hati gue enggak karuan menanti jawaban darinya dia malah enak enak molor. Dasar enggak berperikemanusiaan. Eh bukannya dari awal gue udah tahu ya kalau dia lagi tidur?
He he he,, Hana Hana...Loe benar benar udah membuat gue gila.
Gue merasa hidup gue udah enggak sepekat dulu, loe memberi banyak warna Han....
" Met tidur Han, mimpi indah ya.." Dewa mengakhiri panggilannya dan mengecup ponselnya seakan mengecup kening kekasihnya.
Masih dengan seulas senyum di wajahnya, Dewa mulai terlelap dalam alam mimpinya.
Sebuah taman dipenuhi dengan bunga warna warni. Tanahnya ditutupi dengan rumput hijau yang lembut, seperti permadani. Ada banyak kupu kupu yang berterbangan di atasnya. Di dahan besar ada sebuah ayunan yang dihiasi dengan rangkaian bunga. Ya sebuah taman yang indah mirip seperti yang ada di film film dongeng.
Hana terlihat duduk di ayunan, memakai gaun putih panjang dengan mahkota bunga di kepalanya, terlihat sangat cantik. Ditambah dengan senyumnya yang menawan, senyum yang selama ini mampu menembus jantung hati Dewa. Sungguh seperti pemeran putri di film disney.
Dewa berjalan bak seorang pangeran yang siap menjemput kekasihnya. Seperti dongeng klasik yang selalu diperankan oleh pangeran tampan dan putri cantik jelita. Seikat bunga mawar merah menambah suana romantis di antaranya.
Dewa mendekati Hana, mengulurkan bunga di tangannya. Dengan senyum merekah Hana menyambut bunga itu.
" Cantik... Kamu cantik banget, bahkan mengalahkan kecantikan puteri puteri dalam dongeng." puji Dewa
" Kamu juga sangat tampan pangeranku."
Hati Dewa meloncat kegirangan. Seakan semua kebahagian ditumpahkan ke dirinya.
"Boleh,,,?" Dewa memegang dagu Hana berniat untuk mencium bibirnya.
" Dengan senang hati cintaku.." Hana menyambut bibir Dewa dengan lembut. Kedua bibir mereka bertemu.
Mata Dewa terbelalak tak menyangka Hana akan menyambut ciumannya. Pikirannya sejenak melayang menikmati sensasi dari bibir Hana yang terasa sangat berbeda dengan bibir milik perempuan perempuan yang selama ini pernah ia cicipi.
Dewa menyesap dan ******* bibir mungil yang berwarna kemerahan bak buah cerry. Manis, kenyal, dan terasa sangat hangat hingga mampu membangkitkan gelora di jiwanya. Lidahnya mulai menjelajah ke dalam mulut dan sesekali membelit lidah Hana. Muncul desiran hebat dalam tubuhnya, ada gelenyar yang memaksa dirinya untuk berbuat lebih.
Tangan Dewa mulai bergerak untuk menelusuri tubuh Hana hingga sebuah cengkeraman kuat di tangannya mampu membuatnya kesakitan dan menghentikan aksinya. Hana mencengkeram dan memelintir tangan Dewa.
__ADS_1
" Aouww aouw..." rintih Dewa kesakitan.
" Lets begin...!" teriak Hana diikuti dengan kemunculan 4 sosok lelaki berpawakan kekar dan berwajah sangar membawa senjata M16 di tangan mereka.
Belum sempat memahami keadaan, tiba tiba mereka memberondong Dewa dengan tembakan yang membuatnya roboh terkapar tak berdaya. Ratusan peluru bersarang di dadanya.
Mata Dewa membelalak seketika, jantungnya memompa dengan sangat cepat hingga suaranya terdengar sangat keras. " Dug dug dug dug." Nafas Dewa agak tersengal sengal.
" Gue masih hidup.." Dewa meraba dadanya yang tadi terkena tembakan.
" Fuhhh...,!" Dewa membuang kasar nafasnya.
Gue cuma mimpi.... Mimpi apaan tu, serem banget. Kenapa tiba tiba ada serangan di tengah tengah keromantisan gue dan Hana sih, padahal hampir aja gue ma Hana....... he he he.
Dewa tertawa geli mengingat mimpinya. Ciuman Hana terasa sangat nyata. Bahkan rasa manis bibirnya seakan masih tertinggal di bibir Dewa.
Dewa hendak beranjak dari tempat tidurnya, tapi ada sesuatu yang membuatnya terhenyak. Ia meraba celananya dan benar saja ada cairan kental yang telah membasahinya.
"Shittt shitttt..." Dewa mengumpat seakan tak percaya dengan apa yang telah ia alami. Wajahnya memerah karena malu. Ia terus merutuki dirinya dan mimpinya. Bagaimana seorang Dewa yang notabenya biasa melakukan "itu" bisa keluar hanya karena sebuah mimpi.
Hana loe bener bener.....!
"Hoaaaaammm..." Hana menarik tangannya ke atas, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal padahal semalam tidur dengan sangat nyenyak. Samar samar ia teringat kalau ia sempat ngobrol dengan Dewa dalam mimpinya semalam.
Kenapa gue bisa ngimpiin Dewa ya? Bahkan obrolan gue terasa nyata banget kayak bukan mimpi. Tapi gue ngobrolin apa ya, kok gue enggak inget. Hufff, Dewa.....
Ish, apa apaan sih pagi pagi kok langsung mikirin dia... Wake up Hana ,, wake up...
Tangan Hana meraih jendela dan membukanya lebar. Dihirupnya dalam dalam udara pagi yang terasa sangat menyejukkan paru parunya. Seakan pikiran dan semangatnya telah ikut terbaharui.
" Hmmmmm ..aroma hari Minggu, selalu terasa menyenangkan." angin pagi berhembus mengelus wajah Hana.
" Hana ...Evi... bangun, cepat sholat Subuh dulu, dah siang matahari hampir tinggi." teriakan Ibu Hana menggema di dalam rumah menghancurkan suasana damai pagi hari.
" Siap Bu komandan,, lagian baru jam 5.." teriak Hana dari dalam kamarnya.
Setelah melakukan ibadah sholat subuh, Hana bergegas ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
" Pagi Ibu Dina yang cantik jelita..." sapa Hana sembari memeluk dan mencium ibunya .
" Pagi Honey... tumben muji muji pasti ada maunya."
" He he he apaan sih Bu, negatif mulu pikirannya. Tapi memang bener sih, Ibu memang the best." Hana melepas pelukannya dan mengacungkan dua jempolnya.
" Buruan bilang mau apa, enggak pakai lama." ketus Ibu Hana.
" He he he, hari ini Hana enggak ikut jaga toko roti ya Bu. Hana capek, pegel pegel semua, lagian mau main ke tempatnya Laura buat ambil buku yang kemarin dibeli. Boleh ya Bu, boleh ya...?" rengek Hana dengan manja. Hana memang merasa pegal di semua tubuhnya, bagaimana tidak semalam ia habis melewati pertarungan seru melawan group RAME, yang berhasil ia menangkan dengan telak.
Biasanya di hari Minggu, Hana dan Evi membantu Ibu menjaga toko roti, karena mbak Lia, karyawan toko roti milik Ibunya libur. Sedangkan toko roti selalu ramai pengunjung di hari libur.
Ibu Hana selalu memberi upah kepada Hana dan Evi saat membantu di toko roti. Itung itung melatih mandiri, menghasilkan uang di hari libur mereka. Lumayan uang yang mereka peroleh bisa ditabung untuk kehutuhan yang mendesak atau sekadar untuk jalan jalan.
" Ya udah tapi jaga rumah ya, enggak usah main. Laura aja yang disuruh main ke sini. Entar biar Ayahanda tercinta ma Evi yang nemenin Ibu di toko roti."
" Ok,,,, makasih ya Ibuku yang paling cantik dan baik hati. Ayah memang pinter milih istri. You are the best. Mmmuach" Hana mencium Ibunya lagi.
" Udah, ayo buruan bantu Ibu masak biar cepat kelar nyiapin sarapannya."
__ADS_1
Hana pun membantu Ibunya menyiapkan sarapan. Setelah berkutat di dapur hampir 1 jam sarapan pun telah tersaji rapi di meja makan.
" Ibu panggil Ayah dan Evi dulu ya buat sarapan."
Tak lama Ibu kembali ke meja makan bersama Evi dan Ayah dalam keadaan yang sudah rapi siap untuk ke toko roti.
" Kakak kok belum mandi? " tanya Evi yang heran melihat Hana masih memakai pakaian tidurnya.
" He he he, sorry ya hari ini gue stay at home, jaga rumah biar rumahnya enggak ilang." celetuk Hana yang disambut dengan gelengan kepala ibu dan ayahnya.
Evi hanya tersenyum mendengar jawaban Kakaknya itu. Jika dibanding Hana, Evie memang lebih terlihat kalem dan feminim. Pagi itu ia terlihat cantik dengan balutan dress biru laut selutut dengan lengan pendek. Rambutnya digerai dihiasi dengan pita warna putih dipadukan dengan flat shoes warna senada dengan pitanya.
Setelah rutinitas sarapan selesai, Ibu , Ayah dan Evi pun berangkat ke toko roti. Tinggallah Hana di rumah seorang diri tiada teman yang menemani, he he.
" Akhirnya.... gue bisa bobocan lagi.." celoteh Hana dengan riang. Hana kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.
"Drrrrt drrrt" ponsel Hana bergetar.
Nomer baru tertera di layar ponselnya. Hana menjawab panggilan itu dengan malas.
Siapa sih pagi pagi udah nelpon. Ganggu orang mau tidur aja.
"Halo, Assalamualaikum siapa ni?" ketus Hana.
" Ini gue."
"Gue siapa? Emangnya gue cenayang bisa langsung tahu loe siapa."
"Yaelah,,, ketus amat sih Han, pagi pagi udah nyolot. Gue Dewa."
" Deg." Hana sempat tertegun.
Dewa....? Tadi bangun tidur gue mikirin dia, e,,, sekarang dia telpon? Jodoh kali ya.... he he he
"Ada apa, pagi pagi udah telpon, trus loe dapat nomer gue dari mana?"
" Enggak penting gue dapat nomer loe dari mana. Gue mau jawaban loe sekarang. Loe di rumah kan? Loe ada di mana?" cerocos Dewa.
" Ha....? Gue ada di kamar. Jawaban apa?" tanya Hana heran.
" Gue samperin loe."
" Tut tut tut tut..." panggilan terputus.
Hana masih heran dan belum menurunkan ponselnya dari telinga, tiba tiba... " Brughh.." Dewa melompat masuk ke dalam kamar Hana melalui jendela kamar yang sedari tadi telah terbuka lebar.
"Ahhhh..." Hana berteriak kaget sampai ponsel di tangannya terjatuh.
" Sssstt...Enggak usah teriak napa?" Dewa meletakan jari telunjuk di bibirnya.
" Ngapain loe masuk ke kamar gue?" Hana mengacungkan telunjuknya ke arah Dewa.
" Gue tadi kan udah bilang kalau gue mau jawaban loe sekarang." Dewa melangkah mendekat ke arah Hana.
" Jawaban apa sih, gue enggak ngerti dech. Loe tu aneh ya, pertanyaannya apa kenapa langsung tiba tiba minta jawaban, emang gue dukun yang bisa ngasih jawaban sebelum pertanyaan?" Kilah Hana.
" Wait for a minute." Dewa mengotak atik ponselnya, dan terdengarlah obrolan Dewa dengan seorang gadis yang Hana yakini itu adalah suaranya.
__ADS_1
Kok bisa? Itu kan suara gue, bukannya itu cuma mimpi? Wait.... tadi Dewa bilang i love you ke gue, dan gue bilang i love you too...?? Ini masih mimpi??