Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Bolu dan Susu Jahe


__ADS_3

Dewa menghentikan motornya di depan sebuah rumah berwarna hijau. Rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat rapi dan terurus. Ada banyak pot bunga dan sebuah kolam ikan mungil di pekarangan rumah itu. Di terasnya terdapat dua buah kursi dan sebuah meja kecil.


" Ini rumah loe? "


" Bukan." jawab Hana datar sambil turun dari motor.


" Trus ngapain ke sini?" Dewa terlihat heran.


" Karena gue tinggal di sini, ini rumah orang tua gue, he he."


" Dasar loe ya ditanya baik baik jawabnya slengekan."


" Jawaban gue bener kok, emang ini rumah orang tua gue, mau mampir?"


" Boleh." Dewa memarkirkan motornya dan berjalan mengikuti Hana menuju pintu.


Belum sempat mengetuk, pintu rumah telah terbuka. Muncul seorang wanita berusia 40an dengan pakaian daster rumahan. Wajahnya terlihat masih cantik meski tanpa make up sedikitpun.


" Malam tante." Dewa menganggukkan kepala dan melempar seulas senyum.


" Malam," jawab wanita itu sembari menelisik ke arah Dewa kemudian memandang Hana seperti meminta penjelasan.


" Dia kakak kelas aku Bu, tadi ketemu di bioskop terus dianterin pulang." jelas Hana.


" Oh,, kenalin saya Dina, ibunya Hana." tutur ibu Hana dengan lembut.


" Saya Dewa Tante, kakak kelas Hana." Dewa menyalami tangan Ibu Hana. Muncul rasa hangat di hatinya. Sudah lama sekali ia tak meyentuh tangan seorang ibu.


"Siapa Bu?" terdengar suara seorang lelaki yang tak lama kemudian disusul dengan kemunculan sosoknya. Lelaki paruh baya memakai kaos oblong putih dengan bawahan sarung dipakai asal.


" Saya Kakak kelas Hana Om." Dewa mengulurkan tangan menyalami Ayah Hana.


"Saya Ayah Hana." sambil tersenyum menyambut uluran tangan Dewa.


Seperti inikah sentuhan seorang ayah?


Dewa sempat mematung, karena memang baru kali ini ia bisa menjabat tangan seorang AYAH. Selama ini Dewa memang sering jalan bareng dengan cewek. Tapi tak pernah sekali pun ia mengantar atau menjemput mereka di rumah.


" Ayo masuk." suara Ayah Hana menyadarkan Dewa.

__ADS_1


" Makasih Om, tapi saya langsung pulang saja. Udah malam takut ganggu istirahat Om dan Tante." kilah Dewa.


" Udah enggak apa apa ayo masuk dulu, kebetulan tadi tante bikin kue."


Karena desakan kedua orang tua Hana akhirnya Dewa pun masuk ke dalam rumah. Dan dalam sekejap tersaji sepiring kue bolu dan 4 cangkir susu jahe anget di atas meja.


" Ayo dimakan dulu Nak Dewa, bolunya enak lho." ajak ayah Hana.


Mereka berempat pun mulai menikmati kue bolu dan jahe anget diselingi dengan obrolan dan candaan ringan. Hana juga bercerita kepada orang tuanya bagaimana ia bisa berakhir pulang bersama Dewa, tapi tentunya adegan berantem diskip. Karena kalau ibunya tahu ia berantem pasti akan panjang lebar jadinya.


Dewa merasa sangat nyaman bisa duduk dan berbincang di tengah sebuah keluarga yang dipenuhi dengan kasih sayang.


Pantas perangai Hana sangat baik, orang tuanya saja sangat baik dan ramah, ia tumbuh di keluarga yang sangat sempurna, penuh dengan kasih sayang. Beda banget ma gue. Gue sangat beruntung bisa mengenal loe dan keluarga loe, Han.


Sebenarnya Dewa masih betah mengobrol dan bercanda dengan Hana dan keluarganya, tapi waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam.


" Kalau begitu saya pulang dulu Om Tante. Makasih kue bolunya enak banget." Dewa pamit sambil menyalami kedua orang tua Hana.


" Oh ya , makasih sudah nganterin Hana pulang." ucap ayah Hana.


" Ini bawa pulang ya, buat cemilan di rumah sama keluarga." Ibu Hana menyodorkan kue bolu yang sudah dibungkus rapi.


Keluarga di rumah? Itu sebuah harapan yang tak pernah gue rasakan. Tuhan menciptakan seorang anak di tengah keluarga yang bahagia, itu pada umumnya. Tapi tidak dengan gue.


Dewa berlalu dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya. Kebersamaan dengan keluarga Hana nyatanya mampu menciptakan kehangatan yang yang selama ini tak pernah Dewa rasa.


Diam diam Hana menatap ke arah Dewa.


Sopan juga untuk ukuran seorang yang dicap palyboy dan sering membuat masalah di sekolah. Gue yakin loe enggak seburuk yang orang orang bilang selama ini. Gue percaya hati gue enggak salah memilih loe. Meskipun baru jalan 1 kali tapi gue sudah langsung yakin dan nyaman sama loe.


Dewa kembali mengendarai motornya meninggalkan kediaman keluarga Hana. Sekali lagi Dewa tersenyum menatap ke arah Hana dan orang tuanya yang berdiri di depan rumah mengantar kepergiannya.


Beberapa bulir air mata sempat lolos dari pelupuk mata Dewa. Ada rasa haru dan mendamba dalam dirinya. Sungguh ini kali pertama baginya bisa merasakan hangatnya keluarga yang utuh, bersama ayah dan ibu. Meskipun ya, itu bukan lah orang tuanya.


______


Nenek Ira tercengang melihat Dewa tengah duduk di depan layar televisi berukuran 40 inch yang terpasang di ruang tengah. Bagaimana tidak? Jarum jam dinding baru menunjuk pukul setengah 10. Biasanya Dewa akan pulang ke rumah setelah lewat tengah malam atau menjelang pagi. Bahkan terkadang juga tidak pulang.


" Belum tidur Nek?" sapa Dewa yang malah membuat nenek Ira keheranan. Sudah lama Dewa tidak pernah memulai percakapan dengannya. Biasanya Dewa hanya akan bicara seperlunya saja. Ya semenjak masa lalunya terungkap Dewa menjadi sosok yang teramat dingin.

__ADS_1


Nenek Ira tidak menjawab malah menyentuh kening Dewa sehingga membuat si pemiliknya berkerut.


" Apaan sih Nek, ditanya kuk malah pegang pegang dahi."


" Kamu enggak sakit kan?"


"Ya enggak lah, sehat sehat kayak gini masak dibilang sakit. Ya udah aku nonton tv di kamar aja, Nenek aneh. O ya di dapur ada bolu, kalau mau dimakan tapi jangan dihabisin." Dewa mematikan televisi dan masuk ke kamarnya.


" Aneh." dengus nenek, terukir senyum di wajahnya. Ia seperti mendapati sosok Dewa yang dulu. Kembali beranjak menuju dapur karena tadi sebelum perhatiannya teralihkan oleh Dewa ia memang ingin membuat minuman hangat di dapur.


" Emm bolu ya, pasti enak kalau dinikmati dengan susu jahe anget."


Tanpa menunggu lama, nenek Ira pun membuat secangkir susu jahe anget untuk menemani menyantap bolu yang ada tadi ditawarkan oleh Dewa.


Nenek Ira mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah, lebih tepatnya dekat dengan pintu kamar Dewa.


" Emmmm, ini memang sangat nikmat. Perpaduan yang sangat pas." ucap nenek Ira setelah menelan satu gigitan bolu dan seruputan susu jahe.


" Nek jangan dihabisin loh bolunya." Dewa memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar.


" Kalau takut dihabisin kenapa tadi ditawarkan, ayo sini makan bareng saja. Kalau nanti habis bukan salah nenek ya, soalnya ini enak banget lho Wa. Kalau mau nanti nenek buatin susu jahe buat temennya bolu."


Sebenarnya Dewa masih merasa kenyang, karena tadi habis makan sepiring nasi bebek goreng terus makan bolu di rumah Hana, tapi bayangan rasa bolu yang lezat membuatnya tak mampu untuk menolak.


" Aku buat sendiri saja susu jahenya." Dewa keluar dari kamar dan menuju ke dapur.


Sambil menenteng sebuah cangkir Dewa duduk di samping nenek Ira. Ia mencomot sepotong kue bolu yang ada di dekatnya. Ia memakan bolu itu dengan lahap, seakan akan takut kalau tidak akan kebagian.


Nenek Ira tersenyum geli melihat kelakuan Dewa yang dirasa sangat aneh dan kekanak kanakan. Tapi ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat Dewa seperti itu.


Dewaku telah kembali, makasih Ya Alloh....


" Ueekkk...!" Nenek Ira terkekeh mendengar Dewa bersendawa kekenyangan. Dewa tersenyum geli akan tingkahnya sendiri yang makan sampai perutnya mengeluarkan sinyal untuk berhenti.


" Kamu kembali Dewa, kamu kembali, jangan berubah lagi teruslah seperti ini." isak nenek Ira setelah tadi terkekeh. Buliran air terus mengalir ke pipi keriputnya.


Entah mengapa ada dorongan kuat dari dalam diri Dewa untuk memeluk tubuh renta itu yang selama ini telah menemani dan merawatnya dari bayi.


"Maafkan Dewa Nek." ucapnya sembari merengkuh Nenek Ira.

__ADS_1


Nenek Ira semakin terisak haru dan bahagia. Nyatanya pelukan Dewa mampu menghangatkan hatinya, seperti susu jahe yang menghangatkan tubuhnya.


__ADS_2