
Mentari terlihat memudar di ufuk barat. Sinarnya yang terik dan menyilaukan mata perlahan meredup menyisakan warna jingga yang indah, yang akan menghilang di cakrawala seakan tenggelam dalam lautan. Itulah SENJA.
Senja selalu identik dengan warna jingga, warna yang melambangkan kehangatan dan kenyamanan. Senja adalah penghantar dari siang menuju malam. Ia datang hanya sebentar namun dengan beribu makna dan pelajaran. Ia tak pernah merasa iri terhadap siang maupun malam, meski di antara bagian hari ia lah yang memiliki durasi paling sedikit. Ia mengajarkan arti keikhlasan, tentang bagaimana untuk tetap terlihat meskipun tak memiliki waktu yang banyak.
Senja selalu terlihat indah dan mampu menjadi magnet agar tiap mata terpaku ke arahnya. Namun selain menggambarkan keindahan yang berarti kebahagiaan ia juga menggambarkan tentang kesedihan di kala perpisahan. Perpisahan untuk hari ini dan berganti untuk hari esok.
Sepasang anak manusia tengah duduk tenang di tepi pantai. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Tenang tanpa ada kebisingan. Hanya semilir angin dan deburan ombak yang terdengar.
Hana menyandarkan kepalanya di bahu Dewa. Matanya yang sedikit sembab masih setia menatap mentari yang sudah sepenuhnya tenggelam dan hanya menyisakan semburat warna jingga di langit. Secara perlahan gelap pun datang untuk menyambut malam. Sungguh perpaduan gradasi warna yang sangat indah.
Dewa masih memeluk erat pinggang Hana, seakan enggan untuk melepaskannya. Sama seperti Hana, matanya juga menatap lurus ke depan menerawang ke arah cakrawala. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
" Hubungan kita seperti senja ya?" suara Hana memecah kesunyian.
" Indah namun tak berlangsung lama."
Dewa menolehkan kepalanya ke arah wajah gadis manis itu, sorot matanya tajam.
" Hubungan kita memang indah seperti senja tapi akan berlangsung selamanya tidak seperti senja yang hanya sesaat. Percayalah gue hanya pergi sebentar agar bisa kembali ke sisi loe untuk selamanya." sorot mata Dewa penuh dengan keyakinan.
Dewa merogoh saku celananya dan dalam sekejap sebuah kalung cantik telah berada dalam genggamannya. Hana terperangah saat Dewa memegang kalung yang terbuat dari emas putih itu di depannya dengan kedua tangan. Tanpa meminta ijin Dewa memakaikannya di leher jenjang Hana. Kalung dengan liontin huruf D itu terlihat indah dan pas di leher Hana.
"I- ini..." Hana menyentuh huruD yang menggantung di lehernya.
" Ini adalah bukti cinta gue. Meskipun hanya seutas kalung tapi ini adalah lambang cinta yang gue ikatkan ke loe. Anggap saja kalung ini telah mengikat cinta kita berdua. Gue janji dan pastikan bahwa gue Dewa Arya Rahadian hanya akan setia pada satu cinta. Yaitu loe Mikayla Hanania. Selamanya cinta dan hati gue hanya milik loe." Dewa menjeda ucapannya dan bangkit dari duduknya.
" Hana bersediakah engkau percaya dan menunggu gue kembali, dan kelak kita bisa bersama selamanya?" Dewa mengulurkan tangan kanannya dan berlutut di depan Hana.
Hana terharu melihat dan mendengar pernyataan Dewa. Kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga. Sungguh ia tidak menyangka akan melewati moment seperti ini. Perasaannya bercampur aduk.
Dengan ragu ragu Hana menyambut uluran tangan Dewa.
" Ya,,,, ya gue percaya dan akan menunggu loe kembali. Gue akan menunggu." tangis Hana pecah.
Tangan Dewa menarik tubuh Hana dalam pelukannya. Diciuminya ujung kepala Hana berkali kali.
" Terima kasih Hana, terima kasih. Gue enggak akan pernah mengecewakan loe."
Hana menganggukkan kepalanya berulang ulang masih dalam dekapan Dewa.
" Loe harus janji akan hidup dengan baik dan penuh dengan kebahagiaan." Hana mendongakkan kepalanya sehingga matanya kini beradu pandang dengan mata Dewa.
Keduanya tak mampu untuk memalingkan pandangan. Seperti medan magnet yang berlawanan kutub, mata mereka saling mengunci. Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat dengan sendirinya. Jarak mereka semakin menipis.
" I love you Hana." bisik Dewa dengan suara serak tanpa mengalihkan pandangannya.
" I love you too Dewa." lirih Hana. Wajahnya merah merona. Jantung Hana berpacu dengan cepat.
Mereka berdua bisa saling merasakan hembusan nafas dan mendengar detak jantung pasangannya.
Dewa memberanikan diri untuk memagut bibir mungil di depannya. Secara perlahan kedua bibir mereka pun menyatu. Tak ada penolakan dari Hana, namun juga tak ada balasan. Hana memejamkan mata mencoba mengontrol degup jantungnya yang kian tak terkendali. Tubuhnya terasa melayang seakan gaya gravitasi tak berlaku lagi. Dengan lembut Dewa mulai ******* bibir Hana, manis lembut dan hangat. Dewa tampak sangat menikmatinya. Meskipun sudah berpengalaman dan terlalu sering melakukan adegan ini, namun bersama Hana nyatanya Dewa malah merasa deg degan. Bibir Hana memberi sensasi yang sangat berbeda dengan gadis lainnya. Mungkin karena baru pertama kali ini Dewa mencium bibir gadis dengan penuh perasaan cinta.
Dengan ragu ragu Hana membalas ******* Dewa, namun masih terasa kaku karena ini adalah pengalaman pertamanya. Keduanya pun larut dalam ciuman yang bergelora itu. Dewa melepaskan pagutannya setelah melihat Hana yang kesulitan bernafas.
Hana mengambil nafas dalam dalam, menghirup oksigen sebanyak mungkin mencoba mengganti suplai oksigen yang tadi sempat terhenti karena si paru paru telah melupakan tugasnya untuk memompa oksigen ke tubuhnya. Wajahnya masih terasa panas, mungkin jika dilihat di bawah cahaya akan sangat terlihat merah merona karena malu dan bahagia yang bercampur menjadi satu. Hana menundukkan kepala dan menenggelamkannya ke bidang dada Dewa.
Dewa mengeratkan pelukkannya dan mencium puncak kepala Hana dengan penuh kasih sayang. Keduanya berpelukan cukup lama, ada rasa tak rela untuk saling melepaskan.
" Terima kasih karena telah membiarkan gue mengambil ciuman pertama loe. Itu akan menjagi penyemangat gue untuk lebih giat belajar dan berusaha. Kelak gue akan mengembalikannya saat gue pulang."
Dewa dan Hana masih larut dalam pelukan yang penuh dengan kehangatan. Sehingga tidak menyadari kedatangan sekelompok pemuda yang berjalan ke arahnya.
" Idiihhhh dunia milik berdua, yang lain mah ngontrak, pepet teruuuuusss." celetuk salah satunya yang membuyarkan Hana dan Dewa dari angan indah mereka.
Hana dan Dewa terpaksa melepas pelukan mereka. Dewa menatap tajam ke arah gerombolan itu. Sorot matanya seakan siap untuk menghabisi siapa saja yang berusaha menganggu ketenangannya.
" Hana?" tegur mereka kompak setelah melihat jelas wajah cantik Hana. Dewa dan Hana saling pandang merasa bingung karena ternyata mereka mengenal Hana.
Hana memperhatikan wajah pemuda itu satu per satu. Ia mengetukkan jari telunjuk di dahinya tampak berpikir mencoba untuk mengingat.
" AAA,,, RAME kan? Loe Om Radit, Bang Ali, Bang Muklis, terus yang ini Bang Emon kan?" seru Hana wajahnya tampak berseri setelah berhasil mengingat nama nama orang di depannya itu.
" Kok Om si? Gue kan sudah bilang kalau gue masih muda seumuran dengan mereka." protes Radit.
" He he he maaf Bang Radit keceplosan tadi."
" Nama gue Edi bukan Emon. Tapi kalau Hana mau panggil Emon juga enggak apa apa si, kayaknya lebih keren." ujar Edi karena Hana salah menyebut namanya tadi.
" Oh iya Bang Edi. Salah dikit enggak apa apa dong. Yang penting kan kalau disingkat tetap RAME. He he." Hana menggaruk kepalanya.
" Oh ya kalian berdua lagi ngapain di sini?" tanya Muklis dengan lugu.
" Ya elah Klis, loe itu oon bener ya. Sudah tahu tadi mereka lagi pelukan, ya jelas lagi pacaran lah masak iya lagi demo. Makanya loe cepetan cari cewek biar enggak kelamaan jomblo." sahut Ali yang geram mendengar pertanyaan bodoh dari sahabatnya itu. Hana dan Dewa saling melempar pandang merasa malu karena tadi kepergok sama team RAME.
" Eh Han, untung kita segera datang ke sini kalau enggak, kalian kelamaan berduaan. Tahu kan kalau ada orang bersama cuma berduaan, yang ketiganya adalah setan." sindir Radit.
" He he he." Hana tersipu malu.
" Berarti maksud loe kita setannya gitu Dit?" tanya Muklis lagi yang tidak paham dengan maksud Radit.
" Huf....!" Radit membuang nafas kasar merasa geram dengan pertanyaan Muklis yang dirasanya kelewat bodoh.
"Sabar, sabar...." Radit mengelus dadanya sendiri.
" Muklis sahabat gue, kayaknya loe memang harus sesegera mungkin deh punya pacar biar otak loe dapat asupan nutrisi." Radit menatap Muklis dan menepuk nepuk bahunya pelan.
Muklis masih tampak bingung belum paham maksud ucapan Radit.
" Apa hubungannya?" dengusnya.
__ADS_1
" Oh ya, by the way kalian mau ngapain? Jangan bilang juga mau pacaran ya?" goda Hana.
Edi dan Ali saling memandang.
" Idih amit amit.... " ucap keduanya berbarengan.
" Gini gini kita kita masih normal kali Han, tapi gue enggak tahu tuh sama si Muklis. Soalnya dari dulu dia enggak pernah gandeng cewek. Jangan jangan selama ini dia memang beneran enggak tertarik sama cewek tertariknya sama lekong kali ya." Ali mendongakkan dagunya ke arah Muklis sembari menatapnya penuh arti.
" Astaghfirullahal adzim, amit amit deh. Gue lelaki tulen ya, sembarangan kalau ngomong." sanggah Muklis dengan cepat.
" E, kalian bawa gitar. Asyik ni kalau gitaran rame rame." Hana melihat ke arah gitar yang sedari tadi ditenteng oleh Edi.
" Yoi, gitaran rame rame bareng team rame. Gimana?" ucap Radit yang mulai mencari posisi duduk.
" Boleh." sahut Dewa cepat yang sedari tadi terdiam menyimak obrolan Hana. Sebenarnya tadi ia sempat kesal karena moment romantisnya terganggu oleh team RAME, apalagi melihat Hana yang begitu mudahnya akrab dengan mereka tanpa menghiraukan perasaannya yang tidak suka melihat Hana dekat dekat dengan cowok lain. Tapi Dewa berusaha menepis rasa di dadanya itu karena terlalu tidak adil jika ia melarang Hana untuk dekat dengan cowok lain yang notabenya sekedar dekat untuk bercengkerama sebagai teman sedangkan ia sendiri malah sudah BEKAS dari banyak cewek.
" Ayo cowoknya Hana segera kita mulai." ajak Radit yang terlihat bingung harus memanggil siapa cowok yang berada di samping Hana itu.
" Panggil gue Dewa."
Akhirnya mereka pun duduk bersama sama membentuk sebuah lingkaran. Mereka menumpuk kayu di tengah dan menjadikannya api unggun berukuran kecil.
Edi tampak luwes memetik gitarnya yang sedari tadi ia tenteng. Teman teman yang lain bernyanyi mengikuti alunan gitarnya. Meskipun jauh dari kata merdu dan banyak nada yang melenceng namun tak mengurangi keseruan mereka. Bahkan setiap kali ada suara nyanyian yang terlalu sumbang akan menjadi hiburan tersendiri. Dan siap siap saja disambut dengan sorakan ejekan.
"Nyanyi dong Han, dari tadi loe ngemil terus. Gantian dong." ujar Radit merampas sebungkus besar Chitato yang dinikmati oleh Hana.
" Ye, kan sayang kalau enggak dimakan. MUBADZIR. Salah loe sendiri bawa makanan sebanyak ini." Hana mengerucutkan bibirnya.
" Oke gue nyanyi, loe yang iringin ya?"
" Siap." Radit mengambil alih gitar.
" Ayo buruan mau lagu apa? Lagu apa saja pasti Bang Radit libas." ucap Radit dengan penuh percaya diri karena memang kemampuan fingerstylenya yang lumayan bagus, dan paling jago di antara team RAME.
" Lathi." Hana menyebutkan sebuah judul lagu yang ingin ia nyanyikan.
Radit pun menggerakkan jemarinya memainkan nada lagu itu. Hana mulai bersenandung menyanyikan lagu kolaborasi Weird Genius dan Sara Fajira.
I was born fool
Broken all the rule oh...ho
Seeing all null
Denying all the truth oh....
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the fisrt stage
It isn't something we fought for
Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi
Pushing through the countless pain and i know that this love is bless and curse
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn't something we fought for
Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
Kowr ra isa mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi.
" Prok pro prok...." mereka bertepuk tangan memberi pujian kepada Hana dan Radit yang berhasil mengcover lagu itu dengan bagus.
" Jago juga loe ya, ternyata selain jago berantem suara loe juga lumayan. Tambah salut gue sama loe." Radit mengacungkan jempolnya.
" Permainan gitar loe juga lumayan kok." Hana balik memuji Radit.
"Sekarang giliran loe." Radit menyodorkan gitarnya ke Dewa.
" Gue?" Dewa menerima gitar itu dengan sedikit ragu.
" Jangan bilang loe enggak bisa!" ledek Radit.
Hah sialan, dia pikir gue enggak bisa main gitar? Memangnya cuma dia saja yang jago? Asal tahu saja gue ahlinya. Secara dulu ini adalah salah satu jurus andalan gue buat naklukin cewek.
Dewa mulai mengatur posisi tangan dan gitarnya agar merasa nyaman saat dimainkan.
" Lagu ini spesial buat loe Hana." ucapnya dengan sorot mata penuh cinta.
" Hidih spesial guys, pakai telur dong?" celetuk Muklis.
__ADS_1
" Ha ha ha." tawa mereka pecah. Namun sekejap sirna saat Dewa mulai memetik senar gitar dan melantunkan lagunya. Semua mata tertuju pada Dewa yang terlihat sangat piawai dan menjiwai nyanyiannya.
Kupilih hatimu tak ada ku ragu
Mencintamu adalah hal yang terindah
Dalam hidupku oh sayang
Kau detak jantung hatiku
Setiap nafasku hembuskan namamu
Sumpah Mati hati ingin memilihmu
Dalam hidupku Oh sayang
Kau segalanya untukku
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti disaat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti disaat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Setiap nafasku hembuskan namamu
Sumpah Mati hati ingin memilihmu
Dalam hidupku Oh sayang
Kau segalanya untukku oh
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti disaat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Oh Tolonglah jangan kau sakiti hati ini
Sampai Nanti di saat nafasku
Sudah tidak bernyawa lagi
Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati
Tolong lah Jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti
Aku tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Oh....
Tolonglah jangan kau sakiti hati ini
Sampai nanti di saat nafasku
Sudah tidak berhembus lagi
Karena sungguh cinta ini
Cinta sampai mati
Cinta sampai mati
Semua orang tertegun mendengar nyanyian Dewa yang terdengar sangat merdu dan penuh dengan perasaan.
Mata Hana menatap lekat manik Dewa, ia sangat terharu dengan lagu yang barusan Dewa nyanyikan. Sangat terlihat bahwa Dewa benyanyi benar benar dari hati.
" Wow...! Permainan gitar dan suara loe benar benar amazing. Loe boleh dong gabung sama team kita nanti biar kita bisa buat band D RAME. Gimana?" usul Ali yang meminta pendapat dari teman temannya.
" Boleh, usul bagus itu." Radit langsung mengiyakan.
" He he terima kasih atas pujiannya, tapi kalau untuk gabung maaf gue enggak bisa. Besok gue harus pindah keluar kota. Ini adalah malam terakhir gue berada di sini."
" Deg." hati Hana mencelos teringat kembali akan perpisahan yang sudah di depan mata. Tadi untuk sesaat ia sempat melupakan kesedihan hatinya karena akan berpisah. Tapi kini perkataan Dewa kembali mengingatkan bahwa ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka. Raut muka Hana langsung berubah sendu.
Dewa menyadari perubahan ekspresi wajah Hana.
Ia menyerahkan kembali gitarnya ke tangan Radit dan dengan segera menggenggam tangan Hana seakan berusaha untuk meyakinkan bahwa kepergiannya hanya sesaat dan pasti akan kembali.
RAME ikut prihatin melihat wajah sendu Hana dan Dewa.
" Sudah dong enggak usah sedih dan melow kayak gitu, mendingan ayo kita nyanyi lagi."
Radit mulai memetik senar gitarnya dan terdengarlah sebuah alunan nada. Lagu berjudul kemesraan nyatanya mampu membuat mereka terlarut dan hanyut di dalamnya. Tanpa dikomando mereka menyanyikan lagu itu bersama sama. Sungguh suasana yang mengharukan.
__ADS_1
Senja kali ini benar benar mempunyai banyak arti dan sarat makna, dalam waktu yang sekejab mampu membuat Hana meluapkan cinta, tawa dan air mata. Ada banyak rasa yang terkandung di dalamnya. Ada kebahagiaan karena cinta, ada kesedihan akan perpisahan, dan ada kehangatan persahabatan.