Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Home Sweet Home 2


__ADS_3

Barang bawaan Hana dan Dewa yang tergeletak di depan rumah sudah berpindah tempat ke meja ruang keluarga Hana. Bahkan es dawet yang tadi sempat Hana beli sebelumnya sudah masuk ke tempat seharusnya berada yaitu sebuah tempat yang dingin dan teduh berbentuk kotak apalagi kalau bukan lemari pendingin atau orang lebih sering menyebutnya dengan kulkas.


" Jadi kalian benar adalah anak dan menantuku?" tanya ibu Hana untuk kesekian kalinya.


" Ya Allah Ibu, Hana harus menjawab bagaimana lagi? Ibu sudah bertanya seperti itu berkali kali dan kami juga sudah menjawabnya berulang kali juga kan?" dengus Hana merasa jengah dengan pertanyaan ibunya.


" Lihat Hana baik baik deh Bu, mana mungkin ada wewe gombel secantik dan seimut ini." Hana mengedip ngedipkan matanya berulang kali.


" Kamu benar juga. Jadi kamu beneran si panci gosong dan dia adalah Dewa, menantu kesayangan ibu?" ibu Hana mencoba menghilangkan keraguan dalam dirinya.


" Iya Ibu mertuaku yang paling baik dan cantik......" ucap Dewa.


" Ya Alloh Gusti...... Alhamdulillah kalian pulang dengan selamat." ibu Hana memeluk anak dan menantunya secara bergantian.


" Tapi bagaimana cara kalian masuk ke dalam rumah? Seingat Ibu, pintu pagar dan rumah terkunci rapat."


" Itu semua berkat bakat dari anak Ibu yang manis ini. Dia melompat pagar rumah dan menyongkel jendela kamarnya dengan obeng." Dewa menuturkan kronologis cara dirinya dan Hana menerobos ke dalam rumah yang terkunci rapat itu.


" Hah, HANAAAAA....!!! Bagaimana mungkin kamu menerobos masuk ke dalam rumah keluarga sendiri seperti seorang pencuri seperti itu?!" pekik ibu Hana.


" Kamu memang benar panci gosong. Tidak diragukan lagi. Sudah menikah tetap saja masih melakukan hal seperti itu. Kamu memang minta dijewer ya...?" ibu Hana menarik telinga anaknya sesaat.


" Ampun Bu, aku kan hanya berpikir cepat dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Coba Ibu pikir kalau aku dan Dewa tidak menerobos masuk maka sampai sekarang aku pasti belum berjumpa dengan Ibu. Itu semua kami lakukan karena kami merasa sangat rindu dengan Ibu, pintu dan pagar yang terkunci tidak menjadi penghalang kami untuk bisa segera bertemu dengan Ibu." ucap Hana dengan nada sendu.


" Aku kangen banget sama Ibu. Peluuukkk..." ibu Hana menyambut pelukan manja anaknya.


" Ibu juga kangen banget sama kamu. Rumah ini terasa sepi tanpa dirimu. Hah tapi mau apa lagi sekarang kamu bukan lagi gadis kecil ibu. Kamu sekarang sudah menjadi istri Dewa. Mau tidak mau ibu harus merelakan kepergianmu."


" Ibu ini bicara apa sih? Aku tetaplah anak Ibu yang cantik dan imut. Lagi pula jarak rumah kita dekat. Naik motor atau mobil kurang dari setengah jam juga sampai." ucap Hana.


" Hana benar Bu. Nanti kami akan sering sering main ke sini. Atau kalau mau Ibu dan Ayah juga boleh tinggal bersama kami. Rumah kami selalu terbuka untuk Ayah dan Ibu. Ngomong ngomong Ibu tidak merindukan aku? Hanya Hana saja yang dipeluk?" protes Dewa.


" Tentu saja ibu juga merindukanmu. Kamu kan menentu Ibu yang paling tampan dan baik. Yah meskipun terkadang juga ngeselin. He he."


" Oh ini kami bawakan oleh oleh langsung dari Belanda Bu. Semoga Ibu suka." Hana menyerahkan beberapa paper bag untuk ibunya.


" Dan yang ini untuk Ayah."


" Assalamualaikum...." sosok ayah Hana tiba tiba saja muncul di dekat mereka.


" Waalaikum salam." sahut mereka serempak.

__ADS_1


" Panjang umur Ayah, baru disebut namanya langsung muncul. Ini loh Yah, Hana dan Dewa bawa oleh oleh dari Belanda untuk kita." ucap ibu Hana dengan riang.


" Pulang kapan Nak?" tanya ayah Hana kepada anak dan menantunya.


" Tadi pagi Yah." Hana dan Dewa menyambut dengan sebuah pelukan hangat.


" Bagaimana bulan madu kalian, semua lancar kan?"


" Alhamdulillah semua baik baik saja."


" Oh ya tadi kami membeli es dawet, aku ambilkan dulu." Hana beranjak dari kursinya.


" Ibu bantuin ya." ibu Hana mengekor di belakang anak perempuannya. Meninggalkan suami dan menantunya di ruang keluarga.


Hana menyiapkan es dawet yang tadi sempat dibelinya. Ia juga mengambil beberapa potong kue dan buah buahan untuk cemilan.


" Sayang Ibu lihat kamu sangat bahagia. Dari tadi wajahmu terlihat berbinar." tanya ibu Hana menyusul anaknya di dapur.


" Benarkah? Apa sangat terlihat? Aku memang sangat bahagia Bu. Dewa memperlakukanku dengan sangat baik, dia melimpahiku dengan banyak cinta."


" Syukurlah. Dari pertama kali bertemu dengannya Ibu yakin bahwa dia mencintaimu dengan tulus. Dan satu hal, kenapa kamu memanggil suamimu dengan namanya? Itu tidak sopan. Panggil dia dengan Mas, Kak, Bang atau apa saja tapi jangan langsung menyebut namanya." tutur ibu Hana menasehati anaknya karena menurut budaya Jawa kuno sangat tidak sopan jika istri memanggil suaminya langsung dengan namanya.


" Iya, tadi kan cuma menyebutnya dalam cerita. Lagi pula kalau di depannya aku memanggil namanya dengan sebutan sayang." dengus Hana.


" Baiklah Ibu Dina tersayang, aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Ayo Ibu bantu bawa kue ini ke depan. Ayah dan Dewa pasti sudah menunggu." ibu Hana membawa nampan berisi kue dan cemilan sedangkan Hana membawa nampan berisi mangkok yang di dalamnya ada es dawet.


" Ini Yah, es dawet kesukaan Hana. Langganan Hana dari jaman SMA dulu, Ayah pasti suka." Hana meletakkan semangkok es dawet di depan ayahnya.


" Hem, kalau dilihat sepertinya enak. Apalagi ada duriannya. Ayah sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Tapi sebelumnya Ayah harus mandi dulu sebentar soalnya masih bau asem, he he. Sebentar ya, jangan dimakan dulu. Tunggu Ayah." ayah Hana bergegas untuk membersihkan diri.


" Dewa kemarin Ibu sempat berbicara dengan Nyonya Aleena dan Tuan Russell saat kalian ada di sana. Ibu ikut senang karena akhirnya kamu bisa bertemu dengan ayah kandungmu. Mereka terlihat sangat baik."


" Terima kasih Bu, mereka memang sangat baik. Aku dan Hana diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Dalam waktu yang singkat kami melewati hari hari sebagai keluarga yang utuh. Ibu tahu mungkin ini adalah titik terindah dalam hidupku. Aku mendapat istri semanis Hana, mertua sebaik ayah dan ibu, dan dipertemukan dengan ayah kandungku. Dari dulu aku selalu mendambakan kasih sayang dari orang tua. Dan sekarang Allah memberi lebih dari yang aku minta. Ia memberiku tiga ibu dan tiga ayah sekaligus dan mereka semua adalah orang orang yang baik dan dipenuhi dengan kasih sayang. He he. Bukankah Alloh sangat baik Bu." kekeh Dewa.


" Iya Alloh memang sangat baik. Rencananya sungguh sangat indah. Ini semua adalah buah dari kesabaranmu selama ini."


" Bukan buah kesabaranku Bu, tapi berkat doa dan kasih sayang dari kalian semua. Di rumah inilah pertama kali aku merasakan kehangatan sebuah keluarga, dan itu semua yang membuatku mampu keluar dari lubang gelap hidupku. Dan terima kasih karena telah mempercayakan Hana untuk Dewa dengan segala kekurangan dan kesalahan yang aku miliki. Aku sungguh sangat beruntung bisa masuk di keluarga ini."


" Sayang jangan diteruskan lagi kamu membuatku terharu." ucap Hana yang mulai berkaca kaca.

__ADS_1


" Itu semua memang benar, aku sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti dirimu." Dewa mengecup kening istrinya.


" Ah so sweet, Ibu jadi pengen muda lagi."


" Bukankah Ibu memang masih muda. Siapa yang bilang Ibu sudah tua." ucap ayah Hana yang telah selesai mandi dan mengganti bajunya.


" Ayah bisa saja. Tumben banget muji tanpa Ibu minta." ibu Hana tersipu malu.


" Ayah berkata benar. Ibu masih terlihat muda dan cantik. Tenaga dan semangat Ibu juga masih seperti anak muda. Buktinya omelan Ibu masih terdengar sangat menggelegar mengalahkan petir di bulan Desember. Ha ha ha."


" Oh dasar panci gosong bisa bisanya mengatai Ibu sendiri seperti itu." ibu Hana bersungut sungut.


" Memang benar seperti itu adanya. Benar kan Yah?" sontak ibu Hana menatap tajam ke arah suaminya.


" Apa memang benar seperti itu Yah?!" tanya ibu Hana dengan kilat mata yang kian tajam


Kenapa Hana jadi bawa bawa aku sih?


" Tentu saja tidak. Mana mungkin Ibu seperti itu. Suara Ibu kan penuh kelembutan seperti sebuah lagu yang mengalun merdu." ayah Hana memaksakan senyum di bibirnya.


" Tapi bohong. Ha ha ha." ejek Hana.


" Dasar panci gosong...!!! Ayah lihatlah kelakuan anakmu!"


" Sudah, kamu tidak boleh seperti itu Hana. Ingat surga di telapak kaki ibu." ayah Hana mencoba menenangkan suasana.


" Kalau begitu Ayah harus melarang Ibu berjalan."


" Kenapa? Apa kaki Ibumu sakit? Ibu sakit?" ayah Hana tampak kuatir.


" Tidak." ucap ibu Hana cepat.


" Ha ha ha. Tadi Ayah kan bilang kalau surga di telapak kaki Ibu. Jadi Ayah harus melarang Ibu berjalan agar surganya tidak hancur karena diinjak injak Ibu. Ha ha ha." Hana tertawa puas.


" Oh, kamu ini memang usil banget Hana." dengus Hana.


" Hah Ayah seperti tidak tahu saja ulah Hana."


"Oh ya Ibu hampir lupa, foto dan video pernikahan kalian sudah jadi lho. Mau nonton bersama?"


" Tentu saja." jawab Hana dan Dewa bersamaan.

__ADS_1


Mereka menonton bersama video pernikahan Hana dan Dewa sembari menikmati es dawet dan cemilan yang ada. Bibir mereka tak henti menyunggingkan senyum bahagia menyaksilan tiap moment yang ada.


__ADS_2