
Siang itu terasa sangat panas. Matahari berada di atas cakrawala tanpa ada mendung dan awan yang menghalangi. Sinarnya menyilaukan mata dan menyengat kulit siapa pun yang berada di bawahnya.
Hana mengendarai motornya dengan malas menyusuri jalanan yang tampak berdebu. Badannya terasa lengket karena peluh yang mengalir ditambah dengan rasa lelah setelah mengajar.
Ponselnya berdering berkali kali di dalam tas, namun ia mengabaikannya. Akhirnya ia menghentikan motornya di dekat penjual es dawet langganannya untuk melepas penat dan membasahi tenggorokkannya yang terasa kering. Segarnya es dawet sungguh menggoda siapa pun yang melihatnya.
" Bang es dawetnya satu seperti biasa enggak usah pakai dawet." ucap Hana kepada penjual dawet yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Hana.
" Siap Mbak. Tunggu sebentar ya." abang penjual es dawet tampak sibuk melayani pembeli yang membludak. Hana tampak bingung mencari kursi untuk duduk, semua terlihat penuh. Sampai ada seseorang yang masih memakai seragam almamater SMA Pelita mempersilahkannya untuk duduk di kursinya.
" Bu Hana silahkan duduk sini, saya sudah selesai kok."
" Eh Bagas ya, terima kasih."
" Iya Bu sama sama. By the way kok sendirian saja, perlu ditemani Bu?" tanya Bagas menyeringai.
" Terima kasih tapi enggak usah repot repot Bagas, saya sudah biasa sendirian. Lagian nanti kalau pacar saya lihat malah repot, pacar saya cemburuan. Saya takut kalau nanti kamu malah diapa apain. Dia jago karate lho." kelakar Hana.
" He he he, kalau begitu saya permisi pulang dulu Bu Hana." Bagas ngacir menuju motornya.
Sembari menunggu pesanannya siap, Hana mengeluarkan ponselnya. Ia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Laura.
" Banyak banget misscall dari Laura." dengus Hana kemudian menelpon balik sahabatnya itu.
" Hallo assalamuaikum ada apa Ra?"
" Waalaikumsalam, kamu dimana? Kok berisik banget suaranya?" suara Laura terdengar menjawab panggilan Hana. Seiring bertambahnya umur kini Hana dan Laura memang sudah jarang memakai sapaan gue loe.
"Lagi mau minum es dawet di tempat langganan. Sebentar lagi sampai di tempat kamu. Ada apa sih tumben banget nyuruh datang ke butik?"
" Sudah enggak usah tanya, cepetan datang ke sini. Jangan lupa sekalian bungkusin es dawetnya. Denger es dawet langsung ngiler nih. He he he. Dua ya..."
Keduanya pun mengakhiri perbincangan itu.
Ada apa sih bikin penasaran saja? Enggak biasanya Laura nyuruh main ke butiknya.
"Silahkan Mbak ini esnya."
" Oh ya Bang terima kasih. Tolong bungkusin 3 ya, yang satu enggak pakai dawet."
" Siap..!"
Tidak butuh waktu lama, minuman yang terbuat dari santan yang diberi toping apukat, tape ketan, durian dan guyuran gula aren di atasnya beserta susu yang berasa manis dan gurih itu pun telah kandas diminum Hana. Setelah membayar, Hana kembali mengendarai motornya dengan membawa bungkusan plastik berisi es dawet. Hana melajukan motornya dengan kencang menuju ke arah butik milik Laura.
Hana menghentikan motornya di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Dinding depannya sebagian besar terbuat dari kaca. Terlihat ada banyak manekin berbalut pakaian indah berjejer di dalamnya. Di atas pintu masuk terlihat tulisan WELCOME TO RARA BUTIK.
Rara butik adalah butik milik Laura. Usaha ini sudah dibuka sejak 4 tahun yang lalu, semenjak Laura masih kuliah. Niat Laura yang tadinya ingin mengambil jurusan bisnis tiba tiba saja ganti arah ke jurusan fashion desain. Dan Laura memutuskan untuk membuka butik di tempat itu karena masih jarang ditemukan usaha sejenis di kota kecil.
" Selamat datang di Rara butik." sambut Nia, salah seorang pegawai baru Laura.
" Laura nya ada?" tanya Hana sembari nyelonong ke dalam.
" Maaf dengan siapa ya? Nanti saya konfirmasi dulu." ucap Nia sopan.
" Eh mbak Hana ya, silahkan masuk mbak. Sudah ditunggu mbak Laura di ruangannya dari tadi." ucap Lala, pegawai Laura yang sudah mengenal Hana.
" Terima kasih." Hana melenggang ke ruangan Laura. Tanpa mengetuk pintu Hana nyelonong masuk ke dalamnya.
Mata Hana terbelalak lebar tak percaya dengan yang dilihatnya.
" Yusuuuuufff.....!!" Hana berteriak kegirangan. Ia berlari memeluk sahabatnya yang sudah hampir 8 tahun tak bertemu. Saking semangatnya ia sampai lupa dan melemparkan es dawet di tangannya.
Awalnya Yusuf kaget dengan pelukan Hana yang tiba tiba, tapi akhirnya dia membalas pelukan itu. Bibir Yusuf tak henti menyunggingkan senyum bahagia. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan tanpa disadari pipinya merona.
" Ehem ehem.... Bukan muhrim enggak usah pakai acara peluk peluk kayak gitu, udah kayak kekasih yang lama tak jumpa saja." Laura yang baru keluar dari kamar mandi menyadarkan keduanya.
__ADS_1
" He he he maklum Ra, sudah lama banget enggak ketemu." kilah Hana sembari mengurai pelukannya.
" Bagaimana kabar kamu dan keluarga? Sehatkan?"
" Alhamdulillah sehat. Cieeee yang sudah jadi bu guru sekarang ngomongnya enggak loe gue lagi."
" He he he. Nyicil perubahan Suf, kalau tetap loe gue nanti kedengaran sama murid murid kan aneh. Masak guru mau kasih contoh yang enggak baik."
" Wuihhhhhh sudah jadi guru teladan ni ya?" goda Yusuf.
" Kamu pulang kok enggak kasih kabar sih?" Hana duduk di sofa yang tersedia di ruangan Laura.
" Iya nih tahu tahu tadi sudah nongol di depan butik, untung aku enggak jantungan." Laura melempar bantal ke arah Yusuf.
" Kan sengaja buat kejutan kalian."
" Kejutan apaan? Mana oleh oleh buat aku sama Hana? Jangan bilang kalau lupa." Laura mendelik ke arah Yusuf.
" Jangan kuatir, nih aku bawa parfume langsung dari Paris. Aku beli pas ketemu klient di sana. Semoga cocok dengan selera kalian." Yusuf mengambil dua buah paper bag dari dalam kopernya.
" Kamu masih bawa koper? Berarti belum mampir rumah dong. Terus kamu di sini mau tinggal dimana, sama siapa, dan berapa lama?" cecar Hana.
" Kebiasaan banget sih Han kalau tanya kayak berondongan peluru. Bingungkan mau jawab yang mana? Aku di sini cuma sebentar paling lama seminggu sekedar melepas kangen sama kalian dan om tante. Habis itu nanti balik kerja lagi deh."
" Ke luar negeri lagi?" tanya Laura.
" Enggak sih cuma ke Jakarta saja, dan kayaknya aku bakalan lama di kota itu soalnya dekat dengan induk perusahaan ayah. By the way tadi habis landing aku langsung kemari dan sampai sekarang sudah hampir setengah jam belum dikasih minum. Kebangetan kamu Ra. Aku haus banget nih." Yusuf merasa tenggorokannya kering.
" Kebetulan Suf aku bawa es dawet, enak lho. Eh tadi kemana ya es dawetnya?" Hana celingukan mencari bungkusan yang tadi tanpa sadar sudah dilempar.
" Maksud loe itu?" Yusuf menunjuk sebuah bungkusan plastik yang teronggok di lantai dengan kondisi rusak isinya telah luber kemana mana.
" AAAAA.....es dawetnya. Padahal dari tadi aku sudah membayangkan akan menikmati segelas es dawet yang manis, gurih dan seger. Kanapa malah dibuang kayak gitu sih Han?" Laura terlihat kecewa, angannya untuk minum es dawet sirna seketika.
" He he he, maaf. Tadi kan enggak sengaja lemparnya. Aku ambilin minuman dingin saja ya?" Hana melenggang menuju lemari pendingin di sudut ruangan, seakan dialah pemilik ruangan itu.
" He he he, diminum dulu Suf, Ra. Biar seger, biar enggak haus lagi. Ayo diminum silahkan." Hana menyerahkan dua botol minuman dingin ke Laura dan Yusuf sambil meringis merasa bersalah.
" Glekk glekk glek...." Yusuf meneguk habis minumannya.
" Pokoknya kamu harus tanggungjawab, mana es dawet aku?" Laura masih mempermasalahkan perkara es dawet.
" Ya elah Ra, kan cuma es dawet doang. Tadi aku sudah minum di tempat abangnya. Enak dan seger banget. Manis dan gurihnya,,,,, ehmmmm,,, sempurna." Hana malah menggoda Laura.
" Ihhhh kamu nyebelin banget sih Han." Laura tambah memonyongkan bibirnya.
" Ha ha ha ha..... Sini biar aku video terus kirim ke Kak Rayhan. Biar tahu seperti apa wajah calon istrinya pas lagi manyun." ledek Hana.
Laura dan Rayhan memang telah menjalin hubungan.
Semenjak pernyataan cintanya ditolak Hana, Rayhan mulai bisa membuka hati untuk Laura. Dan kini hubungan mereka sudah memasuki tahap serius, keduanya bahkan sudah bertunangan.
" Sudah, kalian masih saja sama seperti dahulu. Ayo kita jalan jalan saja sambil minum es dawet. Aku sudah kangen sama kota ini, pengen deh muter muter mengenang masa lalu." usul Yusuf.
"Boleh, tapi tunggu Hana bersihin sisa es dawet itu dulu." ucap Laura.
" Ih kok gitu sih, aku kan tamu. Masak disuruh ngepel lantai?" elak Hana.
" Bodo, salah siapa lempar es dawet di situ."
" Sudah sini biar aku yang bersihin." Yusuf bergegas hendak membersihkan kantong plastik di lantai.
" Eh jangan, kamu kan baru landing pasti masih capek. Lagian aku cuma bercanda kok, nanti biar Bibi yang bersihin." cegah Laura.
" Iya bener Suf, Laura enggak bakalan setega itu sama aku. Dia kan sahabat aku paliiiiing baik dan cantik." Hana mengedip kedipkan matanya ke Laura.
__ADS_1
" Baru nyadar kalau aku baik dan cantik?" Laura menaik turunkan alisnya.
" Kalau begitu ayo buruan kita jalan nanti keburu habis es dawetnya. Nanti sekalian kita makan bareng." ajak Yusuf.
" Ayo lets go.....!" Hana beranjak dari duduknya tampak bersemangat dengan ajakan Yusuf.
" Eiit tunggu dulu.....! Kalian yakin mau pergi dengan pakaian seperti itu?!" cegah Laura sambil menatap Hana dan Yusuf bergantian.
" Memangnya kenapa?" tanya Yusuf heran.
" Tuan Sultan yang terhormat, masak iya mau jalan jalan keliling kota pakai setelan jas kayak gitu? Ganti pakaian kasual! Sekalian mandi biar segar, kamu pasti lelah kan habis perjalanan jauh." Laura menelisik Yusuf dari atas sampai bawah.
" Dan kamu..." tunjuk Laura ke Hana.
" Cepat mandi dan ganti seragam kamu. Mau pamer keliling kota sambil pakai seragam guru yang sudah terkontaminasi debu dan keringat kayak gitu?"
" He he he, siap miss fashionable! Kalau begitu aku pulang dulu ya, buat mandi dan ganti baju." Hana nyelonong hendak pergi. Namun langkahnya terhenti seketika karena lehernya tercekik saat Laura menarik kerah bajunya bagian belakang.
" Ohok,,,, kamu mau bunuh aku?" teriak Hana.
" Enggak usah pulang...! Mandi di sini. Kamu enggak lihat di sini banyak baju ganti? Nanti biar tuan Sultan yang bayar. Benar kan Suf?"
" Iya, anggap saja hadiah pertemuan. Kamu sekalian Ra, pilih baju yang kamu suka." jawab Yusuf.
" Ha ha ha.... Kamu lupa kalau butik ini milik Laura. Masak iya pemiliknya beli di butik sendiri?"
" Ya enggak apa apa dong, kan yang beli aku. Atau begini saja, kalian pakai baju apa pun yang aku pilih. Anggap aku beli hadiah buat kalian. Tunggu sebentar ya." Yusuf keluar dari ruangan Laura menuju ke bagian depan. Ia memilih dua baju yang dianggap cocok untuk Hana dan Laura. Bahkan ia juga meminta pegawai Laura untuk membungkus baju baju itu dengan rapi.
Yusuf masuk kembali ke ruangan Laura dengan membawa dua buah kado berisi baju.
" Ini untuk kamu." Yusuf menyerahkan sebuah kado berwarna biru ke Hana.
" Dan yang ini buat kamu." Laura menerima kado berwarna pink.
" Kalian enggak boleh protes, apa pun isinya kalian harus pakai."
" Kamu enggak aneh aneh kan? Isinya bukan lingerie kan?" tanya Laura menyelidik.
" Kenapa tadi enggak kepikiran ambil lingerie saja ya?" Yusuf menepuk jidadnya.
" Sudah cepat buka, terus buruan mandi dan pakai bajunya."
Hana dan Laura membuka kado pemberian Yusuf.
Mereka tampak terperangah.
" Ini kan model terbaru dan terbaik di butik aku?!Harganya paling mahal lho Suf." ucap Laura.
" Berarti cocok dong buat dua sahabat terbaikku?" Yusuf tersenyum ke arah Hana dan Laura bergantian.
" Terima kasih." ucap mereka kompak.
Setelah beberapa menit, Laura dan Yusuf sudah duduk di sofa dengan pakaian baru. Mereka menunggu Hana yang belum juga keluar dari kamar mandi.
" Han cepetan, biasanya kamu kan kayak kilat kalau mandi. Tumben lama banget." teriak Laura.
"Ceklek..." pintu kamar mandi terbuka.
Hana melangkah keluar dengan ragu ragu.
Yusuf dan Laura menatap takjub ke arah Hana. Bahkan mata Yusuf sampai melotot.
" Aneh ya, enggak cocok? Atau aku lepas saja nanti ganti baju di rumah?" Hana merasa tidak pede dengan penampilannya. Ini adalah kali pertama baginya memakai gaun, selama ini ia lebih senang dengan gaya kasual, t-shirt dan celana menjadi pilihannya sehari hari.
" Kamu cantik banget." puji Yusuf yang tatapannya terpaku dengan penampilan Hana.
__ADS_1
Sebuah gaun berwarna putih setinggi lutut, bermotif bunga bunga kecil berwarna warni di pinggirnya. Gaun tanpa lengan itu memperlihatkan lengan Hana yang tampak putih mulus. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Tanpa sentuhan make up nyatanya malah membuat wajah Hana terlihat imut dan manis. Wajahnya memancarkan aura yang siapa saja melihatnya akan betah untuk terus memandangnya.