Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Patah Hati


__ADS_3

" Ayo kita jalan." ajak Laura.


" Kita jadi minum es dawet?" tanya Hana.


" Iya jadi lah, dari tadi aku sudah ngebayangin rasa legit dan gurihnya masuk ke dalan mulut. Hemmmmm.." Laura membayangkan es dawet yang terasa sangat menggiurkan.


"Ayo buruan, kalau sampai habis kamu harus tanggungjawab." ancam Laura.


Mereka bertiga akhirnya meluncur ke tempat tujuan dengan mengendarai mobil pajero sport milik Laura.


Hana yang bertugas menjadi sopir sebagai hukuman dari Laura.


" Jangan ngebut lho, santai saja bawa mobilnya." ucap Laura yang duduk di samping kursi kemudi mengingatkan Hana untuk yang kesekian kalinya.


" Ya Allah Ra, telingaku sampai bosan dengarnya. Kamu ngomong kayak gitu sudah berapa kali? Bawel banget, kayak nenek nenek saja. Tadi siapa yang suruh aku nyetir?" dengus Hana.


Tangan Hana memencet mencet tombol mp3 player di depannya. Lagu On My Way milik Allan Walker yang berkolaborasi dengan Sabrina Carpenter dan Farruko menjadi pilihannya.


Hana fokus dengan jalanan di depannya sambil bersenandung lirih mengikuti alunan musik.


" Suara kamu bagus Han." puji Yusuf yang sedari tadi memperhatikan tingkah Hana dari kursi belakang.


Yusuf diam diam mencuri pandang wajah Hana melalui spion.


" Ha ha ha baru nyadar ya? Makanya jangan kelamaan hidup di luar negeri. Enggak tahu kan kalau sahabat kamu ini bersuara emas." ucap Hana sambil menyeringai.


Selanjutnya terdengar lagu Perfect milik Ed Sheeran. Ketiganya hanyut dalam kesyahduan lagu itu. Liriknya begitu mengena di hati. Tiap kalimat "We are still kids but we're so in love" mampu menghadirkan mereka ke masa remaja saat awal jatuh cinta dengan pujaan hati. Hana yang menemukan cinta pada pandangan pertama dengan Dewa di awal masa SMA nya, Laura yang jatuh cinta dengan Rayhan, dan Yusuf yang mencintai Hana dalam diam tanpa pernah mengungkapkan maupun memperlihatkan rasa cintanya.


Dan cinta mereka sampai kini masih membara di hati bahkan semakin berkembang.


" Lagu ini sesuatu banget ya? Siapa pun yang mendengar pasti akan hanyut dalam lirik dan melodinya." ucap Hana yang memecahkan lamunan Laura dan Yusuf.


" Oh ya Suf ngomong ngomong cewek kamu orang mana? Bule ya? Atau jangan bilang karena terlalu sibuk kerja kamu sampai tidak sempat untuk jatuh cinta?"


" Cinta aku ada di sini, tapi dia saja yang enggak pernah nyadar." jawab Yusuf dengan tersenyum penuh arti namun Hana tak melihat senyuman itu.


" Siapa? Kok kamu enggak pernah cerita?" Laura melongokkan kepalanya ke belakang sambil melayangkan tatapan menyelidik ke arah Yusuf.


" Itu... emm... dia..."


" Sudah sampai, ayo buruan turun." Hana menepikan mobilnya di dekat penjual es dawet.


Mereka bertiga pun turun dari mobil dan duduk di kursi yang tersedia.


" Bang es dawet tiga ya, yang satu biasa tanpa dawet." teriak Hana dari tempat duduknya.


" Tadi kamu kan sudah minum es dawet, kok sekarang mau minum lagi." bisik Laura.

__ADS_1


" He he, udaranya panas jadi gampang bikin haus." kilah Hana.


" Halah ngomong saja kalau kamu doyan." ketus Laura.


" Itu tahu. Siapa sih yang bisa menolak kenikmatan es yang satu ini?"


Tidak butuh waktu lama abang penjual es itu mengantarkan tiga gelas es dawet yang terlihat menggiyurkan.


" Silahkan Mas, Mbak."


" Oh ya, terima kasih Bang. Masih banyak Bang jualannya?" Hana menerima gelas dari abang penjual es.


" Alhamdulillah sudah habis, itu paling tinggal 2 porsi." ucap abang penjual dengan sopan.


" Kalau begitu sekalian saja Bang buat kami, biar abang bisa segera pulang." ucap Hana sambil mengaduk es dawet di tangannya agar gula merah dan susunya bercampur merata dengan santan.


" Baiklah, sebentar saya buatkan."


" Mbak ini? Mbak guru yang biasa mampir ke sini kan?" abang penjual itu menelisik penampilan Hana.


" Ya Alloh Mbak..... sampai hampir pangling saya. Biasanya Mbak terlihat cantik, tapi sekarang cantik bangeeeet ngalahin artis lho Mbak." pujinya dengan penuh semangat.


" Ah Abang ini bisa saja." Hana tersipu malu.


" Beneran loh Mbak, kalau enggak percaya tanya saja sama Masnya. Ya sudah saya buat dulu esnya."


" Benar kan Han kalau kamu itu terlihat cantik memakai gaun? Tapi kamu malah suka pakai kaos sama celana. Apa lagi kalau pas ngajar, pakai seragam guru rambut dicepol. Huff benar benar enggak modis." gerutu Laura.


" Tapi kamu mau pakai apa pun tetap cantik owk Han." puji Yusuf.


" Nah, dengar tu si Yusuf bilang apa. Mau pakai apa pun aku terlihat cantik. He he." Hana merasa menang.


Laura beranjak membawa gelasnya yang kosong menghampiri penjual es dawet. Dia kembali dengan membawa dua gelas berisi es dawet.


" Wuih gercep banget kamu Ra. Kayak lomba saja minumnya. Doyan apa haus?" ledek Hana.


" Dua duanya. He he. Itu masih satu mau diminum siapa?"


" Aku dong, punyaku kan juga sudah habis. Eh tapi ada dawetnya, Suf bantu aku makan dawetnya ya?" Hana memindahkan dawet di gelasnya ke gelas Yusuf.


" Suf tadi kamu belum jawab siapa cewek kamu?" tanya Laura dengan tiba tiba.


" Ohok ohok ohok." Yusuf tersedak karena pertanyaan Laura.


Dengan segera Hana menyodorkan gelas di tangannya.


Tanpa berpikir Yusuf menyesap gelas yang disodorkan Hana.

__ADS_1


" Sudah?" Hana mengusap punggung Yusuf pelan.


Yusuf menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kenapa sampai tersedak sih Suf? Aku kan cuma nanya siapa cewek kamu?"


" He he, cewek aku ada. Dia cantik, manis, dan baik." Yusuf menatap dalam Hana. Entah sihir apa yang membuat Yusuf justru larut terpaku pada sosok Hana.


" Siapa, siapa namanya?" desak Laura.


" Hana." ucap Yusuf tanpa sadar.


" Hah?" Laura dan Hana saling pandang.


" Ha ha ha ha...." tawa Laura dan Hana pecah.


" Kamu itu ada ada saja. Cepat katakan yang benar siapa nama cewek itu?" tanya Laura yang masih ingin tahu.


" Kan sudah aku sebutkan, Hana." jawab Yusuf dengan datar tanpa ekspresi.


" Aduh sayang banget Suf kamu terlambat, aku sudah punya cowok. Kamu sih enggak bilang dari dulu." jawab Hana masih dengan bercanda.


" Iya kamu telat Suf, ha ha ha." ucap Laura.


" Aduh sayang banget kalau begitu. Patah dong hati ini. Cintaku tak terbalaskan." Yusuf memegangi dadanya berakting seperti adegan sedih di drama.


Hana dan Laura terkekeh melihatnya. Mereka menganggap ucapan Yusuf sekedar gurauan belaka. Padahal Yusuf serius dengan semua ucapannya.


" Cowok kamu siapa Han? Kayaknya kamu juga enggak pernah cerita masalah cowok deh." tanya Yusuf dengan serius.


" Iya, tahu nih Hana. Dia bilang cowoknya bernama Arya. Tapi sampai sekarang aku juga belum pernah dikenalin. Jangan jangan kamu bohong ya?"


" Apaan sih? Ada, beneran ada, namanya Arya. Tapi memang selama ini kami LDR an. Nanti kalau sudah waktunya aku pasti kenalin ke kalian. Dan jika itu tiba jangan terkejut ya?" Hana menyeruput es terakhir di gelasnya.


" Deg..." jantung Yusuf seakan menolak untuk berdetak. Angannya untuk hidup bahagia bersama Hana sirna seketika.


Yusuf merasa sangat kecewa dengan kenyataan yang ada namun ia berusaha keras untuk tidak menampakkan perasaannya. Niat kepulangannya adalah untuk memberi kejutan bahagia ke Laura dan Hana. Tapi ia malah mendapat kejutan balik yang menyakitkan bahwa ternyata Hana telah mempunyai pujaan hati. Memang salah Yusuf yang hanya diam tidak pernah mengutarakan perasaannya selama ini.


Jadi Hana beneran sudah punya cowok? Aku telat dong. Padahal aku sudah menyimpan rasa ini selama 8 tahun. Semoga cowok pilihan Hana adalah orang yang baik. Aku tidak akan pernah rela jika Hana mendapat pendamping yang salah. Aku doakan semoga cowok pilihan Hana bisa membahagiakannya karena jika sampai dia membuat Hana sedih akau tak akan segan untuk merebut Hana dari sisinya.


Yusuf beranjak menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan ke penjual.


" Mas kebanyakan." ucap abang penjual es.


" Enggak apa apa sisanya bonus buat Abang." Yusuf melenggang ke arah mobil.


" Ayo kita karaoke, biar patah hati aku terobati. Hana kamu harus tanggung jawab karena telah mematahkan hatiku. Lets go...!" teriak Yusuf sembari memaksakan sebuah senyum di bibirnya.

__ADS_1


" Lah kok aku?"


Hana dan Laura masih belum menyadari perasaan Yusuf yang hancur. Mereka menganggap ucapan Yusuf tadi hanyalah sebuah gurauan saja.


__ADS_2