
" Terima kasih untuk makanan yang lezat ini Nyonya Aleena, aku sangat kenyang." Hana mengelus perutnya. Tadi ia sempat menambah porsi makanan di mangkoknya, entah karena makanan itu yang enak, atau memang Hana yang doyan makan.
" Tidak perlu sungkan seperti itu Honey, bukankah kita keluarga?"
" Sayang sekarang waktunya minum obat." Russell mengingatkan sang istri.
" Iya, iya, kamu sudah mengucapkannya berulang kali." ketus Aleena.
" Honey aku tinggal sebentar ya, lelaki ini akan terus mengomel jika tidak dituruti." bisik Aleena ke arah Hana. Ia beranjak dari kursinya dengan malas.
" Minumlah obatmu Nyonya Aleena, aku dan suamiku akan membereskan sisa makanan ini."
" Terima kasih Honey. Maaf jika merepotkan." Aleena membelai pundak bahu Hana.
" Tidak sama sekali Nyonya."
" Sayang........" panggil Russell dengan penuh penekanan. Ia sudah berada di dalam kamar dan menyiapkan obat serta suntikan untuk istri tercintanya, karena memang seperti itulah rutinitas mereka tiap harinya. Aleena harus mengkonsumsi banyak obat obatan serta sebuah suntikan untuk menekan rasa sakitnya dan memperpanjang usianya.
" Iya aku datang, bersabarlah."
Sepeninggal Aleena ke kamarnya Hana dan Dewa membereskan meja makan dan membersihkan semua peralatan makan yang kotor.
" Sayang kamu semakin mahir mencuci piring. Sepertinya kita bisa membuka sebuah restoran, ha ha." goda Hana sembari menunggu suaminya mencuci peralatan makan karena lelaki tampan itu tidak membiarkan Hana melakukan pekerjaan itu.
" Begitukah?"
" Ya, dengan begitu kita akan menghemat pengeluaran karena kita tidak perlu membayar tenaga pencuci piring."
" Ya, lakukanlah sesukamu. Tapi kamu harus membayar aku dengan yang lain." bibir Dewa menyeringai.
" Apakah ini cukup?"Hana memeluk tubuh suaminya dari belakang.
" Lumayan, tapi itu saja tidak cukup." Dewa membalikkan tubuhnya sehingga kini posisi mereka saling berhadapan.
" Mmmhh..." Dewa melu*mat bibir mungil istrinya dengan lembut.
" Ini baru uang muka." Dewa tersenyum penuh arti.
" Kalau ini...." Hana membalas ciuman suaminya itu dengan ******* yang lebih dalam.
__ADS_1
" Sudahkah ini cukup untuk dihitung sebagai bayaran?" senyum Hanam terlihat sangat menggoda.
" Kamu lupa jika aku tidak pernah mengenal kata cukup jika itu berkaitan tentang dirimu?" Dewa mengeratkan pelukan dan merapatkan tubuhnya ke wanita yang telah membuatnya selalu mabuk kepayang akhir akhir ini.
" Maaf, kamar kalian sudah aku siapkan. Silahkan jika ingin beristirahat atau melakukan apa pun di dalamnya." ucap Russell memergoki aktivitas Dewa bersama istrinya.
" Maafkan kami Tuan Russell. Kami tidak bermaksud....." ucap Hana sungkan sambil melerai tubuhnya dari Dewa. Pipinya sudah memerah seperti tomat karena malu.
" Ayolah tidak perlu merasa malu seperti itu. Bukankah itu hal yang biasa apalagi kalian pasangan pengantin baru. Ayo aku tunjukkan kamar tidur kalian."
Wow ayah kandungku sangat pengertian. Dia sangat tahu kebutuhan anaknya.
" Silahkan masuk ini kamar kalian. Buatlah diri kalian senyaman mungkin." Russel membawa Dewa dan Hana ke sebuah kamar yang sudah ia bersihkan sebelumnya.
" Terima kasih Tuan Russell, maaf merepotkan Anda." ucap Hana sopan.
" Sudahlah tidak perlu sungkan seperti ini. Sebenarnya aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, tapi karena Aleena sangat menyukai kalian maka ini adalah pengecualian. Terima kasih sudah membuatnya merasa bahagia. Aku sangat senang bisa melihat dirinya kembali tertawa lepas seperti tadi. Apa yang sudah kalian lakukan sangat berarti untuk kami. Kalian seakan telah membuatnya hidup kembali. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
" Silahkan nikmati kamar kalian, anggap seperti kamar kalian sendiri."
" Terima kasih banyak Tuan Russell karena Anda dan Nyonya Aleena mau menerima kami dan memperlakukan kami dengan sangat baik. Oh ya dimana Nyonya Aleena?" tanya Hana.
" Tenang saja Tuan aku akan mengingat itu semua. Kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Nyonya Aleena? Apakah penyakitnya sangat parah?"
" Itu....." Russell terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
" Maaf jika pertanyaanku membuat Anda tidak nyaman." sela Hana.
" Tidak apa apa. Mungkin memang lebih baik jika kalian mengetahuinya agar ke depannya kalian bisa memperlakukan ia dengan semestinya. Aleena mengidap kanker darah stadium akhir. Sebelumnya dia tidak pernah menunjukkan gejala apa apa namun enam tahun terakhir baru lah penyakitnya ketahuan saat ia tiba tiba saja pingsan dan mimisan. Dokter memvonis bahwa umurnya tidak akan bertahan lama. Selama satu tahun ia menjalani pengobatan di rumah sakit terbaik namun penyakitnya tidak jua membaik. Dokter hanya bisa memberinya obat untuk meredakan rasa sakitnya saja. Lalu akhirnya Aleena bersikeras untuk keluar dari rumah sakit dan menghabiskan sisa umurnya di tempat yang damai dan indah. Ya, di sinilah kami sekarang desa Giethoorn. Dia terlihat lebih baik di sini dari pada saat harus berbaring di ranjang rumah sakit sebelumnya. Tiap hari aku harus memastikan dia meminum banyak obat agar ia tidak terlihat kesakitan. Setiap detik adalah berkah dan kemurahan Tuhan untuk dirinya karena masih dibiarkan bernafas. Aku selalu berusaha untuk tetap kuat dan menyembunyikan rasa sedihku. Aku tidak ingin dia merasa sedih dengan melihat kesedihanku." ucap Russell dengam sendu. Tak terasa setitik air telah merembes keluar dari sudut matanya.
" Ah maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian ikut bersedih." Russell tidak enak hati karena telah membuat Hana menangis dengan ceritanya.
" Tidak apa apa. Anda pasti sangat mencintai Nyonya Aleena." ucap Hana lembut.
" Sangat, dia adalah segalanya dan alasan aku hidup. Aku tidak tahu bagaimana nanti aku menjalani hidupku jika dia telah tiada."
" Ah, sudahlah kenapa aku jadi melantur kemana mana. Silahkan kalian beristirahat dulu. Di dalam ada beberapa baju ganti, semoga cocok dengan kalian. Aku harus menemani Aleena di kamar." Russell mengusap wajahnya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Hana dan Dewa yang masih terpaku di depan kamar.
" Dia sangat mencintai Aleena, Hana. Hanya ada dia dalam hidupnya." dengus Dewa wajahnya tertunduk sedih.
__ADS_1
" Sayang......." Hana membawa tubuh suaminya ke dalam pelukannya.
" Kita masuk dulu ya. Kita bisa berbicara di dalam."
Hana dan Dewa melangkahkan kakinya ke dalam kamar yang telah dipersiapkan Russell untuk mereka. Kamar itu terlihat nyaman dan damai dengan penampilan sederhana dengan sebuah kasur sebagai furniture utamanya.
Hangat dan tenang, itulah kesan pertama yang dirasakan Dewa dan Hana saat melangkahkan kakinya ke dalam kamar minimalis itu.
" Tenangkan dirimu sayang." Hana membimbing suaminya untuk duduk di tepi kasur yang terlihat sangat hangat.
" Apakah aku sebuah kesalahan sayang? Apakah aku pengganggu di antara cinta sejati mereka? Apakah aku seharusnya memang tidak pernah ada?" Dewa menatap nanar ke arah manik istrinya.
" Tentu saja bukan. Ingat Alloh pasti mempunyai rencana terbaik untuk tiap makhluknya. Kamu tidak boleh seperti ini. Ingat, ada aku di sisimu." Hana memegang kedua pipi suaminya dengan penuh kasih.
" Benarkah? Dulu aku selalu mempertanyakan tentang ayah kandungku. Kini saat bertemu dengannya aku bahkan tidak bisa memberitahunya tentang kebenaran ini. Apa yang harus aku lakukan sayang. Aku tidak ingin melukai hati wanita sebaik Aleena dengan mengatakan bahwa aku adalah anak kandung hasil pernikahan kontrak dari suaminya dengan wanita lain, apalagi dengan kondisinya saat ini. Aku tidak ingin membuatnya sedih. Aku juga tidak bisa mengatakan ini semua ke ayah, dia pasti akan merasa sangat bersalah karena todak pernah mengetahui keberadaanku dan menelantarkan aku selama ini. Apa yang harus aku lakukan sayang? Apa yang harus aku lakukan?" Dewa kembali terisak.
" Tenanglah, jangan seperti ini. Apa pun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu. Tolong jangan seperti ini." Hana mencoba menguatkan suaminya.
" Kamu benar, aku tidak boleh seperti ini. Selama ini aku berdoa agar bisa bertemu dengan ayah kandungku dan Alloh sudah mengabulkan itu semua." Dewa menghela nafas panjang dan menghapus semua air matanya.
" Biarkan tetap seperti ini saja sayang, aku akan tetap menjaga rahasia identitasku sebagai anak kandungnya. Mungkin memang inilah yang terbaik untuk kita semua. Yang penting aku sudah bertemu dan mengenalnya sebagai lelaki yang baik itu sudah cukup untukku. Ya, sepertinya memang ini yang terbaik." Dewa memantapkan hatinya.
" Kamu yakin tidak ingin memberitahukan ini semua?"
" Iya, biarkan seperti ini saja. Ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin kebenaran tentang diriku menghancurkan kebahagiaan mereka." Dewa memaksakan bibirnya tersenyum.
" Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku akan mendukung sepenuhnya." Hana mengecup lembut dahi suaminya.
" Kalau begitu ayo kita jalani hari hari kita selama di sini dengan penuh kebahagiaan. Mari kita buat banyak kenangan indah bersama mereka."
" Hari hari?" tanya Dewa.
" Oh ya, aku lupa memberitahumu sayang bahwa aku telah menyetujui permintaan Aleena untuk menginap di sini beberapa hari." Hana menepuk jidadnya sendiri.
" Kamu tidak keberatan kan?"
" Tentu saja tidak. Baiklah mari kita ukir banyak kenangan indah di sini." ucap Dewa dengan semangat.
__ADS_1
" Kalau begitu kita mulai dengan ritual kita Bukankah itu juga termasuk kenangan indah?" Dewa menerkam tubuh istrinya dan membawanya menuju ke puncak kenikmatan bersama seperti yang sudah sudah.