Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Sayonara


__ADS_3

Sebuah bingkai foto berukuran besar terpampang di dinding ruang keluarga Aleena dan Russell. Di dalamnya ada gambar mereka bersama Hana dan Dewa sambil tersenyum bahagia. Sungguh sebuah foto keluarga yang penuh dengan aura kabahagiaan dan kehangatan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasakan kedamaian di dalamnya.


" Akhirnya tiba juga waktu kita untuk berpisah. Jika boleh meminta sebenarnya aku tidak ingin kalian pergi." isak Aleena saat Hana dan Dewa berpamitan untuk pulang ke tempat asal mereka karena biar bagaimanapun masih banyak tanggung jawab yang harus mereka kerjakan.


" Ma, kita tidak berpisah. Lihatlah kita telah terbingkai bersama sebagai sebuah keluarga yang bahagia." tunjuk Dewa ke arah bingkai foto yang belum lama ini dipasang.


" Kamu benar, kita tidak akan bisa dipisahkan lagi. Jaga Hana baik baik ya, jangan biarkan dia bersedih." Aleena menghapus air mata di pipinya.


" Jaga janji suci kalian. Jangan biarkan sesuatu merusak ikatan cinta kalian. Aku akan selalu berdoa untuk kebahahagiaan dan kelanggengan cinta kalian." Aleena memeluk tubuh Dewa dengan penuh kasih sayang. Ia terlihat menyayangi Dewa sebagai anaknya meskipun tidak terlahir dari rahimnya sendiri.


" Aku berjanji. Tapi Mama juga harus berjanji untuk selalu hidup bahagia dan semangat. Jika pak tua itu berani berbuat aneh aneh, jangan sungkan untuk memberitahuku. Aku pasti akan segera datang untuk menolong Mama." Dewa mengurai pelukannya.


" Hei jangan bicara sembarangan bocah. Mana mungkin aku melakukannya." ketus Russell.


" Benar sayang, papamu tidak akan melakukan itu. Dia tidak akan membiarkan diriku mempunyai kesempatan untuk mengeluh tentang dirinya." Aleena tersenyum lembut.


" Jaga diri baik baik ya Sayang. Jika ada sesuatu jangan lupa untuk menghubungi kami. Dan bila bocah nakal itu berani menyakitimu aku akan segera memberinya pelajaran di mana pun dia berada." ucap Russell mengelus puncak kepala menantunya.


" Tentu saja Papa. Aku akan mengandalkan Papa jika dia berani melakukannya. He he."


" Terima kasih ya Sayang untuk semua yang telah kamu lakukan untuk kami. Kamu memang luar biasa." Russell hendak memeluk tubuh Hana namun segera dihadang oleh anaknya.


" Jangan memeluk istri orang sembarangan." ketus Dewa.


" What? Kamu sungguh keterlaluan bocah. Aku hanya ingin memeluk menantuku apa salahnya?" protes Russell.


" Tetap saja, dia adalah istriku. Aku tidak akan membiarkan lelaki lain memeluknya." imbuh Dewa.


" Apa yang kamu lakukan? Sungguh kekanak kanakkan. Minggirlah, biarkan aku melakukan pelukan perpisahan untuk papa." Hana memeluk tubuh papa mertuanya.


" Sudah cukup pelukannya. Aku serius dengan ucapanku. Mulai saat ini kamu dilarang memeluk lelaki selain dariku."


" Hah? Sejak kapan kamu jadi aneh seperti ini?" dengus Hana.


Kenapa tiba tiba Dewa posesif seperti ini sih. Ada apa dengan dirinya?


" Hah, turuti saja ucapan bocah yang kekanak kanakan ini Sayang." Russell menepuk nepuk pundak menantunya.


" Ehem ehem, kenapa aku merasa pernah mendengar ucapan seperti ini sebelumnya ya?" sindir Aleena.


" Papa juga melarang Mama memeluk lelaki selain dirinya? Hah..... Ternyata buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Kalian memang pasangan papa dan anak." Hana menggeleng gelengkan kepalanya.


" Kalau begitu mulai sekarang aku melarangmu memeluk bahkan menyentuh wanita lain. Dan ini juga berlaku untukmu Papa." ancam Hana dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


" Ho ho ho, menantu kesayanganku sudah mulai menunjukkan taringnya. Jangan kuatir Sayang, aku hanya akan mencintai mama mertuamu seorang. Dan kamu bocah, dengar ucapan istrimu baik baik. Kamu dilarang memeluk dan menyentuh wanita lain. Jika kamu berani melanggar aku akan memberimu pelajaran."


" Aku tidak akan membiarkan Papa mempunyai kesempatan untuk melakukan itu." Dewa berhambur ke dalam pelukan papanya.


" Aku menyayangi Papa, jaga diri baik baik Pa." ucap Dewa lirih.


" Aku juga sangat menyayangi Son, terima kasih karena kami mau mengakui lelaki bodoh ini sebagai Papamu. Itu sangat berarti bagi hidup kami."


" Terima kasih untuk beberapa hari yang penuh dengan kebahagiaan ini." ujar Aleena mencoba tersenyum namun tetap saja ia tidak mampu membendung air matanya. Tangannya mendekap erat tubuh menantu kesayangannya itu seakan tidak rela untuk melepas kepergian anak dan menantunya.


" Aku pasti akan sangat merindukan Mama. Jaga diri Mama ya. Ingat untuk selalu tersenyum. Mama harus sehat dan baik baik saja." balas Hana ikut mengeratkan dekapannya.


" Aku juga berterima kasih karena kalian mau menerima kami sebagai orang tua kalian, meskipun sebelumnya kami tidak pernah melakukan kewajiban kami sebagaimana mestinya."


"Dan Dewa, tolong kamu pikirkan permintaanku untuk mengurus perusahaan Van Nero. Aku sangat berharap kamu bisa segera mengambil keputusan untuk mengambil alih tanggung jawab itu karena memang kamu adalah satu satunya penerus Papa." bisik Russell sambil menepuk bahu anak kandungnya.


" Akan aku pikirkan Pa, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena aku masih ingin mewujudkan mimpiku untuk membangun sebuah perusahaan hasil jerih payahku sendiri. Selain itu untuk mengurus perusahaan sebesar milik Papa harus diimbangi dengan kemampuan yang mumpuni juga kan? Aku akan belajar lebih giat lagi. Jika nanti aku sudah merasa mampu barulah aku akan menerima tanggung jawab sebesar itu. Biar bagaimanapun aku tidak ingin mengecewakan banyak orang, terlebih orang orang di dekat ku." tutur Dewa.


" Ya, kamu benar. Kamu memang harus mempunyai kemampuan besar untuk mengambil alih perusahaan Van Nero. Dan aku yakin bahwa kamu akan segera memiliki kemampuan itu. Karena di dalam darahmu mengalir darah Russell Van Nero." Russel menatap manik hijau anaknya dengan penuh rasa bangga.


" Jika kalian perlu apa pun jangan sungkan untuk menghubungi kami. Dan satu hal lagi, kalian masih berhutang hadiah untukku, seorang atau beberapa cucu yang lucu. Kamu harus berusaha keras Dewa." ucap Russell penuh dengan penekanan.


" Soal itu jangan kuatir Papa, aku akan mengusahakannya setiap hari bahkan setiap saat. Bukankah begitu Sayang?" Dewa mengedipkan salah satu matanya ke arah Hana yang membuat wanita itu tersipu malu.


" Oh ya Honey terimalah ini. Dulu lelaki kaku itu memberikannya padaku. Dan kini aku memberikannya padamu sebagai hadiah pernikahan dari kami." Aleena menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam.



" Ma, ini sangat indah. Pasti kalung ini sangat berharga untuk Mama. Aku tidak bisa menerima ini semua." tolak Hana dengan halus.


" Hei apa yang kamu katakan? Kamu menolak pemberian istriku? Kamu tidak menghargai kasih sayang kami?" tanya Russell yang terdengar tidak menerima penolakan.


" Benar Honey, kamu tidak boleh menolak kasih sayang orang tua."


" Bukan begitu Ma, tapi kalung ini pasti sangat mahal. Aku ti_"


" Ssttttt, diamlah. Aku tidak mau mendengar apa apa lagi. Aku tidak menerima sebuah penolakan." Aleena memakaikan kalung berlian itu di leher menantunya.


" Cantik. Kalung ini sangat cocok untukmu." puji Aleena menatap wajah Hana yang tengah memakai kalung berlian dengan harga lebih dari 100 milyar rupiah itu.


" Mamamu benar Sayang, kamu sangat cocok memakai kalung Christie's Diamond itu, bukan kah begitu Dewa?" imbuh Russell.


" Iya mereka benar Sayang, kamu memang terlihat sangat cantik."

__ADS_1


" Terima kasih Ma, Pa. Kalian sangat baik. Aku sangat beruntung bisa mengenal kalian." Hana berhambur memeluk kedua mertuanya lagi.


" Hei, ayolah. Kalau seperti ini terus kapan kita pulang? Atau memang kamu tidak berniat kembali ke Indonesia Sayang?" goda Dewa.


" Ish kamu ini. Kemarilah bergabung bersama kami. Kita lakukan pelukan perpisahan sebelum kalian pergi." ajak Russell.


" Baiklah." Dewa ikut bergabung dalam pelukan yang penuh kasih sayang itu. Untuk beberapa saat mereka larut di dalamnya.


" Matahari mulai terang, teletubbies berpamitan....." ucap Dewa membuyarkan moment haru mereka.


" He he he. Kamu ada ada saja. Baiklah cepatlah kalian pergi sebelum kami berubah pikiran untuk menahan kalian selamanya di sini." Russell terkekeh sambil mengurai pelukan di antara mereka.


" Ma, Pa kami pergi dulu. Terima kasih untuk semua." Hana dan Dewa berpamitan.


" Ngomong ngomong apa hadiah untukku? Yang menikah kan tidak hanya Hana. Aku adalah suaminya." tanya Dewa yang kini sudah tidak merasa canggung lagi dengan Russell. Bersama dengan Papa kandungnya seakan ia bisa menumpahkan sifat manja anak ke ayah yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


" Jangan kuatir, aku sudah mempersiapkan hadiah juga untukmu bocah. Kamu akan segera melihatnya di bandara." ucap Russell dengan senyum terkembang.


Sama seperti saat mereka memasuki desa Giethoorn, Hana dan Dewa meninggalkan desa indah itu dengan menggunakan whisper boat. Namun bedanya perahu kali ini telah dihiasi dengan banyak bunga, sengaja dipersiapkan untuk mengantar kepergian sepasang pengantin baru itu.


Sebuah mobil mewah mengantar Hana dan Dewa ke bandara Schiphol.


Setibanya di bandara mereka disambut oleh orang suruhan Russell yang membawa mereka ke arah jet pribadi yang berbeda dengan jet milik ayah sambungnya.


" Silahkan naik Tuan dan Nyonya. Ini adalah hadiah pernikahan dari Tuan Russell. Jet pribadi ini dibeli khusus untuk Anda berdua. Semoga kalian menyukainya." ucap lelaki itu dengan ramah.



Mata Hana dan Dewa terperangah, mereka tidak mengira akan mendapatkan sebuah jet pribadi sebagai hadiah pernikahan mereka.


" Sayang, Papa memang bukan orang sembarangan. Bagaimana ia bisa membelikan sebuah jet pribadi untuk hadiah dalam waktu yang sangat singkat. Bukankah biasanya diperlukan waktu yang lama untuk bisa membeli sebuah jet pribadi?" bisik Hana di telinga suaminya.


" Kamu benar Sayang. Ternyata Pak Tua itu bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Seakan dia mempunyai teko ajaib yang di dalamnya ada jin yang bisa mengabulkan semua permintaan pemiliknya dengan sekejap." dengus Dewa.


" Mungkinkah Papa memang memiliki teko ajaib itu? Atau Papa memiliki kekuatan yang setara dengan jin?" tanya Hana mulai berkelana dalam imajinasinya.


" Kenapa tidak sekalian berpikir kalau Papa adalah seorang jin, dan aku adalah anak jin?!" Dewa mencubit ujung hidung istrinya.


" Benar juga itu Sayang. Siapa tahu kamu memang beneran anak jin. Ha ha ha. "


" Sudahlah ayo cepat naik."


Di dekat jet pribadi itu ada dua orang lelaki tampan dan dua wanita cantik. Mereka akan bertugas menerbangkan dan melayani keperluan Dewa dan Hana selama perjalanan.

__ADS_1


Jet pribadi pemberian Russell lebih mewah dari milik ayah Yusuf. Interior di dalamnya terlihat lebih berkelas dan indah. Namun itu semua tidak terlalu berpengaruh untuk Hana dan Dewa. Karena mereka lebih tertarik untuk segera memasuki kabin yang berisikan tempat tidur yang nyaman.


Dan sama seperti perjalanan lintas benua sebelumnya, mereka menikmati penerbangan panjang itu dengan tetap berada dalam kamar nyaman mereka. Memacu dan menggeliat bersama menuju puncak kenikmatan. Entah mengapa tidak ada rasa bosan untuk mereka. Waktu honeymoon ini benar benar mereka manfaatkan untuk memadu kasih bersama.


__ADS_2