Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Menginap 2


__ADS_3

Hana dan Dewa sudah kembali duduk bersebelahan di sofa. Keduanya tengah asyik membuka hadiah yang Hana bawa. Dewa tampak bersemangat mencoba semua baju yang ia terima.


" Bagaimana bagus kan?" tanya Dewa untuk yang ke sekian kalinya meminta pendapat Hana tentang baju yang ia coba.


" Tentu saja bagus, itu kan pilihan aku."


Dewa memang terlalu ganteng. Mau pakai baju apa pun tetap saja ganteng. Semua baju yang aku beli tadi terlihat cocok dan bagus di tubuhnya.


"Sudah lah memangnya kamu tidak capek mencoba dan meminta pendapat untuk semua baju itu?"


" Kalau tentang kamu enggak akan pernah terasa capek. Terima kasih ya sayang untuk semua hadiah ini, dan yang lebih penting lagi terima kasih untuk cinta yang telah kau berikan." Dewa mengecup kening Hana.


" Sama sama, aku juga sangat berterima kasih untuk semuanya." balas Hana dengan senyum manisnya.


" Hufff, kalau sudah seperti ini jadi pengin cepat cepat segera disahkan. Tidak sabar aku harus menunggu dua minggu lagi." dengus Dewa.


" Enggak usah mulai." Hana menatap Dewa dengan jengah.


" Mulai apa?" Dewa menyeringai menatap Hana dengan tatapan penuh maksud.


" Mau mulai apa Nak?" ibu Dewa muncul tiba tiba membuat Hana sedikit terperanjat.


" Ibu? Eh enggak owk, ini Dewa mulai jahil lagi." jawab Hana dibuat setenang mungkin.


" Kamu juga Wa, jangan menggoda Hana terus kasihan dia, wajahnya sampai merona merah." goda ibu yang melihat pipi Hana memerah.


" Heh cokelat panasnya belum diminum? Enggak enak ya? Atau karena kalian sudah bertemu jadi cokelatnya diabaikan?"


" He he he.." kekeh Hana dan Dewa saling pandang.


" Oh ya, kalian makan dulu, tadi Mbok Mira sudah siapin makanan. Kamu pasti lapar kan sayang?"


Aku sampai tidak sadar kalau pulang kerja Dewa belum sempat makan dan istirahat. Calon istri macam apa aku ini?


" Ayo kita makan, kamu pasti lapar kan?" ajak Hana menggandeng tangan calon suaminya menuju meja makan.


Ibu Dewa menghela nafas dalam melihat kedekatan anak dan calon mantunya yang terlihat sangat serasi.


Di meja makan telah tersaji cumi dan udang bumbu balado. Aroma dan penampilannya menggugah selera. Dewa mengambil piring dan menuangkan nasi beserta lauk yang ada, sedangkan Hana hanya duduk diam sambil memandangi makanan di depannya.


" AAAA...." sesendok nasi berikut lauknya telah tersodor di depan mulut Hana.


" Hah?" Hana tersadar dari lamunannya.


" Ayo ,AA..." Dewa semakin mendekatkan sendoknya ke arah mulut Hana.


Dengan sedikit ragu Hana membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu.

__ADS_1


Enak banget, sayang aku sudah kenyang.


" Enak kan? Kenapa dari tadi cuma diam mandangi makanan? Mikirin apa?" tanya Dewa heran dengan sikap Hana.


" Enggak mikirin apa apa."


" Terus kenapa enggak makan? Enggak suka lauknya? Mau dibelikan makanan lain?" tanya Dewa lembut.


" Enggak usah, aku suka kok dengan lauknya tapi aku sudah kenyang. Aku lihatin kamu makan saja ya."


Cumi balado..... Makanan kesukaanku, tapi sayang tadi aku sudah makan dua porsi steak. Perutku sudah terasa penuh.


" Yakin enggak mau makan?"


" Enggak, aku temenin kamu saja ya..."


" Kalau begitu kamu suapin aku." Dewa menyodorkan piring dan sendoknya ke arah Hana.


" Ih, kayak anak kecil minta disuapin. Makan sendiri saja, punya tangan kan?"


" Kalau kamu enggak mau, ya sudah aku enggak mau makan. Biarkan aku tidur dengan perut kelaparan." Dewa memasang wajah memelas.


" Iya, iya, aku suapin." Hana meraih piring dan sendok dari tangan Dewa dengan terpaksa.


Benar benar keterlaluan Dewa. Dia tidak tahu bagaimana aku menahan diri untuk tidak memakan cumi ini apa. Ah aku menyesal kenapa tadi harus makan steak dua porsi, seharusnya tadi satu saja cukup biar masih tersisa ruang untuk cumi ini. Kalau aku paksakan tetap makan bisa bisa nanti baju pernikahanku tidak akan muat pas hari H. Ah.... menyebalkan...


" Alhamdulillah.... Makan dari tangan orang yang dicintai memanh lebih nikmat. Kamu serius enggak makan? Diet?"


" Enggak, tadi aku sudah makan steak dua porsi sama Laura ditraktir Aryo." ucap Hana dengan enteng.


" Aryo? Siapa dia?" tanya Dewa menyelidik.


" Kakaknya Arin, murid aku yang kemarin kita tolongin." jelas Hana.


" Hanya sekedar traktiran biasa? Kamu enggak tertarik sama dia kan?"


" Apa maksudmu?" dengus Hana. Tiba tiba bibirnya menyeringai, terlintas sebuah ide di benaknya.


" Ah..... Sebenarnya dia lumayan ganteng juga sich. Tubuhnya tegap, tampak kokoh dia pasti sering olah raga. Dan yang membuat nilai plus adalah kulitnya coklat eksotis, terlihat macho. Dia pasti kuat banget." puji Hana. Ia sengaja melebih lebihkan ceritanya, bahkan ada bagian yang sengaja ia tambah tambahi.


" KAMU...." pekik Dewa dadanya mulai bergemuruh karena mendengar Hana memuji cowok lain tepat di hadapannya.


" Dimana rumahnya biar aku samperin dia. Aku penasaran seberapa kuat dirinya. Dan jika memang kamu suka dengan cowok berkulit coklat, mulai besok aku akan rajin berjemur kalau perlu seharian di lapangan biar gosong sekalian." Dewa bersungut sungut.


" Ha ha ha ha ha......." tawa Hana meledak.


" Kamu kalau cemburu lucu banget. Ha ha ha."

__ADS_1


" Lucu ya? Coba kalau berani tertawa lagi." Dewa tersenyum miring. Kedua tangannya memcengkeram sandaran kursi Hana, matanya menatap lekat manik Hana penuh dengan intimidasi. Ia sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Hana, menyisakan jarak tidak lebih dari 2 cm. Hana bisa merasakan hembusan hangat nafas Dewa menerpa kulit wajahnya. Jantungnya mulai berdetak kencang tak karuan seperti mau copot dari tempatnya. Tenggorokannya terasa tercekat.


" Ka_ kamu mau apa?" tanya Hana terbata dengan pikiran yang sudah melang lang buana entah kemana.


" Menurutmu?" Dewa menyeringai. Tatapannya berubah menjadi penuh *****. Niat awal tadi hanya ingin mengerjai Hana saja. Tapi kini ia justru larut dalam hasrat yang kian menggelora.


" Ah, Ibu....!" pekik Hana membuat Dewa terperanjat dan segera menggeser tubuhnya menjauh.


Tanpa berpikir lagi Hana segera memanfaatkan kesempatan itu untuk segera bangkit dari duduknya.


" Tapi bohong..... Ha ha ha, weeeek...." Hana menjulurkan lidahnya sembari berlari menuju ke ruang keluarga dimana ibu Dewa sedang duduk sambil menikmati teh.


" Kok lari lari sih Sayang?" tanya ibu Dewa lembut.


" He he enggak apa apa kok Bu, biasa Dewa suka usil."


" Owh...... Kirain ada apa."


" Malam ini kamu nginap di sini ya sayang?"


" Menginap?" Hana mengerjapkan matanya berulang kali.


" Iya menginap, mau ya sayang. Tadi ibu sudah telpon ibu kamu buat minta izin. Dan ibu kamu sudah beri izin kok." pinta ibu Dewa.


" Tapi_"


" Enggak ada tapi tapian. Kamu harus mau." bujuk ibu Dewa setengah memaksa.


Ibu memaksa Hana buat menginap di sini? Yes, ternyata ibu sangat memahami keinginanku. Pikiran ibu sungguh sangat terbuka. Apakah ini pertanda ibu memberi lampu hijau agar aku dan Hana bisa menghabiskan malam bersama.


" Iya kamu harus mau Han, ini kan sudah larut malam. Masak kamu mau pulang sendiri malam malam. Sebenarnya aku bisa saja nganterin kamu, tapi badanku sedang benar benar capek soalnya tadi kerjaan aku banyak banget. Dan kamu tahu sendiri kalau akhir akhir ada banyak perampokan, nyatanya kemarin saja muridmu hampir menjadi korban." Dewa tersenyum penuh kemenangan.


Ish, Dewa pasti sengaja ngomong kayak gitu.


" Hah, benarkah? Ibu enggak menyangka kalau sekarang keadaannya lagi enggak aman. Kamu jangan lagi keluar malam sendirian ya sayang. Kamu harus berhati hati." ibu Dewa tampak cemas.


" Enggak usah khawatir Bu, aku bisa jaga diri kok. Aku pemegang sabuk hitam taekwondo." sanggah Hana.


" Apa pun itu, tetap saja kamu seorang cewek. Sudah ayo bersihin diri dulu terus tidur." ajak ibu Dewa.


" Iya sayang mendingan kamu turuti perkataan Ibu, cepat mandi terus tidur, aku tunggu di kamar ya." wajah Dewa tampak sumringah.


" Tunggu di kamar? Maksudmu apa? Hana akan mandi dan tidur di kamar bersama ibu. Pikiran kamu enggak usah aneh aneh, tunggu dua minggu lagi baru boleh tidur sekamar."


" Ayo sayang kita ke kamar." ibu Dewa menarik tangan Hana agar mengikuti langkahnya.


" Selamat malam sayang, aku mandi dan tidur dulu ya. Nice dream." Hana melangkah meninggalkan Dewa dengan penuh kemenangan.

__ADS_1


" Huffff kirain bakal tidur sekamar dengan Hana." dengus Dewa kecewa.


__ADS_2