Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Jangan Bilang Tidak


__ADS_3

I love you? I love you too? Ini masih mimpi?


" Buruan jawab, malah bengong? Tadi malam gue udah nungguin lama, malah loe enak enak molor. Sekarang malah tinggal bengong." desak Dewa.


" Hah..? Apa? " Hana mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali.


" Wait mana ada orang nembak maksa gitu, lagian tadi malam gue kan enggak sadar, orang semalam gue cuma mimpi doang."


" Loe udah denger sendiri kan kalau semalam itu suara loe? Loe udah bilang i love you too lho."


" Enggak bisa semalam enggak dihitung! Mana ada orang tidur ditembak? "


" Ok,," Dewa menjeda ucapannya, menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya pelan entah berusaha meredam kekesalan atau gejolak dalam jiwanya.


" I love you , untuk kemarin, sekarang dan selamanya." Dewa menatap dalam netra Hana.


Hana terperanjat, mematung, terkunci dengan tatapan dan ucapan Dewa. Lelaki pertama yang telah mampu menembus hati dan bertahta di dalamnya, kini dengan gamblang dan mudahnya bilang cinta ke Hana. Senang, kaget, haru, bercampur jadi satu. Ingin rasanya ia meloncat kegirangan tapi otaknya masih mampu mengendalikan saraf motoriknya untuk tidak bertindak gila.


"Apa jawaban loe? Jangan bilang tidak loh."


" Hah? Secepat ini? Bahkan kita belum saling mengenal. Jalan juga baru sekali, itu pun juga enggak sengaja. Trus loe udah punya pacar kan ? Selvi, Vina, dan tentunya masih banyak gadis gadis yang lain kan?" Hana mengutarakan ganjalan di hatinya.


Dewa masih menatap lekat mata Hana.


" Enggak ada yang lain, gue enggak pernah punya pacar. Gue emang berengsek suka gonta ganti cewek tapi gue belum pernah terikat dalam sebuah ikatan yang bernama pacaran, gue belum pernah mengungkapkan cinta ma gadis manapun. Dan loe adalah gadis pertama yang mampu membuat gue berasa hidup lagi dan memaksa gue untuk bilang i love you. Gue enggak suka basa basi Han, suka ya suka , enggak ya enggak. Gimana jawaban loe?"


"Gue....." Hana bingung harus menjawab apa. Hatinya bersorak dan mendesak untuk bilang i love you too, tapi tidak dengan pikirannya. Akalnya masih terus menimang semua keadaan dan kemungkinan. Dewa memang berhasil merobohkan dinding hatinya yang belum pernah terusik oleh seseorang, tapi untuk pacaran sepertinya terlalu terburu buru.

__ADS_1


" Han gue serius, enggak lagi ngegombal. I' m promise, you' re the only one. "


"Gue rasa ini terlalu terburu buru deh, kita jalani dulu aja. Dan gue enggak mau gegabah buat komitmen yang entar hanya akan membuat gue dan orang sekitar gue kecewa."


" Enggak ada yang terburu buru Han, gue udah jatuh cinta ma loe sejak pertama kali berjumpa. Dan ya gue bukan cowok yang baik tapi gue enggak pernah berbohong. Dan gue akan membuka diri gue ke loe, seperti buku yang terbuka agar loe bisa ngebaca sesuka loe. Kalau loe memang belum mau pacaran , enggak apa apa. Tapi paling tidak beri jawaban cinta gue, biar enggak penasaran. Dan gue harap jawaban loe adalah iya." Dewa memelas dan Hana melihat kesunggguhan di dalamnya.


Hana menghela napas, akhirnya pertahanannya runtuh.


" Ok, ok.." Hana menepis semua rasa malu, toh dia juga bukan tipe orang yang suka berbelit belit. Cukup sudah hatinya dibuat bergelut sendirian selama ini, memendam rasa untuk Dewa sendirian.


" Ya gue cinta ma loe, loe adalah cinta pertama gue. Puas?"


Sebuah senyum bahagia terulas di bibir Dewa. Ia seperti mendapat oase di tengah gurun.


" Jadi kita pacaran?"


" Gue memang cinta ma loe, tapi gue enggak mau pacaran. Gue hanya mau pacaran kelak sama calon suami gue."


Dewa mencoba mencerna ucapan Hana, muncul rasa kecewa di hatinya tapi tetap tidak mengurangi rasa bahagianya karena cintanya bersambut.


" Trus , hubungan kita apa? Gue enggak mau ya kalau sekadar teman jalan."


"Mmmmmm apa ya? Udah ah yang penting kita jalani dulu. Yang jelas kita bukan pacar. Dan kalau memang loe enggak mau kita jalan bareng juga enggak masalah."


" Bukan gitu Han, siapa yang enggak mau jalan bareng? Bobok bareng aja gue mau. He he he." kelakar Dewa.


Karma is real. Selama ini gue sering mainin cewek, sekadar jalan bareng atau making love aja tanpa mau pernah terikat dengan status pacaran. Sekarang giliran gue untuk pertama kali merasakan cinta, malah loe yang enggak mau diajak pacaran Han. Hufff, sabar sabar yang penting loe juga cinta ma gue. It's enough.

__ADS_1


" Ngarep... Nih bobok bareng." Hana mengacungkan bogemnya di depan Dewa.


" Kalau kissing?"


" Enggak ada. Ciuman pertama gue mau gue simpen buat suami gue. Lagian loe kan udah sering nyosor bibir cewek sana sini."


"Deg." Hati Dewa tertohok. Kata kata Hana seperti tamparan keras di pipinya. Ya memang benar selama ini dia nyosor cewek sana sini, bahkan bercinta pun sudah biasa tanpa perlu ada cinta. Dan kini dia merasa cinta tanpa ada adegan bercinta. Perkataan Hana sungguh menyadarkan betapa bodohnya dia yang selama ini menjerumuskan dirinya sendiri.


" Selama ini gue memang bodoh Han. Tapi mulai hari ini gue Dewa berjanji enggak akan pernah mencium dan bercinta dengan cewek lagi selain dengan loe." ucap Dewa dengan penuh kesungguhan.


Mata Hana dan Dewa saling beradu, ada banyak cinta di dalamnya.


" Gue enggak pernah maksa loe untuk melakukan itu, dan jangan pernah menjanjikan sesuatu yang kelak tidak bisa loe tepati."


" Gue enggak terpaksa, janji gue tulus dari hati. Gue pasti akan menepatinya." ucap Dewa dengan penuh kemantaban.


" Trus hubungan kita apa namanya?"


Hana hanya menggerdikan bahu, ia juga bingung nama hubungan apa yang tepat untuk dia dan Dewa.


" Gue cinta ma loe, loe juga cinta ma gue. Tapi kita enggak pacaran? Kita kasih nama apa ya hubungan kita?"


" Memang semua hubungan harus ada namanya, bukankah cinta adalah masalah hati yang hanya dimengerti oleh hati. So, serahkan saja ma hati kita buat apa kita pusing pusing mikirin hubungan ini. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita tetap mempertahankan cinta kita satu sama lain meski tanpa sebuah ikatan yang bernama pacaran. Gue juga mau lihat seberapa besar rasa setia loe untuk tidak menghianati hati."


" Ok,, gue akan buktikan kalau gue bisa mempertahankan cinta ini sampai kelak bisa berakhir di KUA. Dan sampai saat itu tiba gue akan menjaga hati gue untuk setia pada satu cinta, yaitu loe Hana."


Tak ada tanggapan dari Hana, hanya sebuah senyum dan mata yang berbinar seakan mengaminkan ucapan Dewa.

__ADS_1


Baik Dewa maupun Hana kini hanya saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing. Memasuki sebuah dimensi lain yang hanya bisa dimengerti oleh mereka saja.


__ADS_2