Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Dia Juga Ibuku


__ADS_3

Kediaman orang tua Hana telah kembali seperti semula sebelum diadakannya acara pernikahan. Semua dekorasi dan pernak pernik pernikahan telah bersih tak ada yang tersisa. Meja, kursi, dan perabot lainnya telah kembali ke posisi semula. Pekerjaan team WO pilihan Hana dan Dewa memang sangat memuaskan. Mereka sangat gesit dalam melakukan tugasnya, baik saat pembuatan dekor maupun pembersihan sisa acara.


Ruang keluarga Hana juga terlihat sama persis dengan sebelumnya. Hanya saja aura di ruang itu kini sangat berbeda dari biasanya. Ruang yang selalu rame dengan keriuhan Hana dan ibunya saat berkumpul kini terdengar sunyi dan mencekam padahal ada banyak orang di sana.


Hana dan Dewa berdiri dalam ruangan itu seperti pesakitan yang siap untuk diadili. Ibu dan ayah Hana duduk di sana dengan tatapan mata yang tajam seakan ada banyak pisau di dalamnya. Evi dan Laura juga ikut duduk di sana dengan wajah yang tidak kalah jutek.


" Hai semua, bagaima-" ucap Hana dengan canggung memecah kesunyian, namun ucapannya terpotong dengan tatapan ibu Hana yang kian menajam.


Bagaimana ini? Sepertinya ibu benar benar marah. Aku harus melakukan sesuatu untuk meluluhkan kemarahannya.


" Hua....hua.... hu....hu hu..."


" Ibu, maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Tapi ini semua bukanlah salahku, tapi salah menantu kesayanganmu itu. Dia semalam telah membawaku dengan paksa. Bahkan dia menyewa preman untuk mengikat kedua tangan dan kakiku." Hana menangis tersedu sedu sambil menunjuk nunjuk lelaki yang berdiri di sampingnya.


" Apa yang kau lakukan?" bisik Dewa sembari menelan ludah karena kini semua mata tertuju padanya.


" Diam kau, dari pada salah dua bukankah lebih baik salah satu." lirih Hana sambil terus melanjutkan isakan tangisnya yang sangat terlihat kalau dibuat buat.


Apa? Hana bermaksud menumbalkan diriku? Ck ternyata istriku sangat tega, bukankah semalam dia baru saja berkata malam pengantin kami sangat membahagiakan meski berakhir di jeruji besi tapi mengapa kini dia berkata seperti itu? Istriku memang tidak bisa ditebak jalan pikirannya.


" Benarkah? Oh kasihan sekali nasib panci gosongku." ucap ibu Hana datar tanpa ada rasa iba.


" Benar Bu, bahkan gara gara dia aku harus tidur di balik jeruji besi. Aku sangat menderita Bu, hu ..huhu..." imbuh Hana.


Wow aku baru tahu kalau istriku ini juga suka bermain peran. Semalam dia tidak keberatan sama sekali bahkan berkata bahwa itu semua sangat seru kini dia bilang bahwa semalam dia sangat menderita.


Dewa menghembuskan nafas panjang, seakan telah siap untuk menerima hukuman yang akan segera dijatuhkan.


" Semalam kamu sangat menderita ya? Tapi kenapa aku justru melihat kalau kamu sangat baik baik saja. Bahkan mungkin hatimu bersorak karena bisa melewati malam yang seru. Bukankah kamu sangat senang dengan hal hal semacam itu. Dan cepat hentikan tangis palsumu itu. Wajahmu sangat tidak cocok berakting seperti itu." pekik ibu Hana dengan mata membulat.


" Benar Bu, semalam dia berkata bahwa kemarin adalah pengalaman yang sangat seru karena bisa bermalam di jeruji besi. Bahkan dia terlihat sangat pulas tidurnya." ucap Dewa membalas ucapan Hana yang tadi sempat menyalahkan dirinya.


" Apa yang kamu lakukan?" bisik Hana dengan mata melotot ke arah suaminya.


" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." dengus Dewa dengan cuek.

__ADS_1


" Lihat, bahkan suamimu berkata seperti itu." bentak ibu Hana.


" Kamu tidak tahu bagaimana paniknya kami samalam mencari keberadaan kalian..! Bahkan ibu sempat berpikir bahwa kalian digondol wewe gombel belakang rumah."


" Jaman sekarang mana ada wewe gombel Bu...." ceplos Hana.


" Masih berani jawab kamu. Kamu itu memang beneran mau jadi panci gosong ya...! Biar ngerasain gimana rasanya dibakar tiap hari di atas kompor." ketus ibu Hana mengucapkan mantra andalannya.


" Mana ada panci gosong secantik aku." dengus Hana yang masih sempat didengar oleh ibunya.


" Ini anak beneran ngelunjak ya, enggak ada kapok kapoknya." geram ibu Hana.


" Bukan ngelunjak Bu, tapi_"


" Tapi apa?!" ibu Hana menjewer telinga anak sulungnya yang kini telah menyandang status istri dari Dewa.


" Aouw sakit Bu, ampun, ampuuun." teriak Hana memegangi tangan ibunya.


" Hi hi hi." tanpa sadar Dewa terkekeh geli melihat pemandangan yang menurutnya langka dan lucu, karena seumur umur dia belum pernah merasakan dimarahi apalagi jeweran seorang ibu.


" AOUW AOUW AOUW.....! Sakit Bu.... Ampun...ampun." teriak Dewa meringis kesakitan.


Ternyata seperti ini rasanya dijewer dan dimarahi ibu, alih alih takut atau sedih kenapa aku malah bahagia ya......?


"Sudahlah Bu, lepasin mereka berdua. Mereka pasti sudah kapok kok. Lagian sama anak mantu jangan galak galak dong, malu tau." ucap ayah Hana mencoba meredakan amarah istrinya.


" Memangnya kenapa kalau anak mantu, bukankah kemarin di upacara bobot timbang sudah dijelaskan bahwa kita akan memperlakukan anak dan menantu kita sama adil tanpa pilih kasih." timpal ibu Hana.


" Iya, tapi sudah dong marahnya. Lepasin telinga mereka, sudah merah banget lho. Kalau putus bagaimana?" ucap ayah Hana lembut.


" Iya Bu, tolong lepasin. Telinga Hana sakit banget bentar lagi mau putus." rengek Hana.


" Huuuffff, baiklah." ibu Hana akhirnya melepaskan kedua telinga yang memang sudah terlihat merah.


" Aouw, sakit tahu Bu. Ibu mau kalau aku dan Dewa telinganya memanjang atau bahkan putus?" Hana mengelus telinganya yang masih terasa sakit.

__ADS_1


" Terima kasih Bu." ucap Dewa dengan tulus.


" Hah?!" semua orang melongo ke arah Dewa.


" Terima kasih karena sudah menjewer telingaku. Ini semua aku anggap bentuk kasih sayang dari Ibu. Aku sangat bahagia karena seumur umur baru sekarang aku merasakan omelan dan jeweran seorang ibu." tutur Dewa dengan tersenyum.


" Dewa...." lirih ibu Hana.


" Sayang....." Hana mengelus pundak suaminya.


" I'm fine. Don't worry." Dewa menggenggam tangan istri tercintanya.


" Aku mohon maaf kepada kalian semua, terutama Ayah dan Ibu karena semalam sudah membuat kepanikan di rumah ini. Kalian pasti kalang kabut mencari keberadaan kami yang tiba tiba menghilang dari rumah. Tapi suwer, aku enggak punya niat untuk melakukan itu semua. Awalnya aku hanya ingin memberi kejutan ulang tahun untuk Hana, dengan merayakannya berdua secara romantis. Eh malah lupa buat memberi tahu kalian. Giliran ingat, ponsel sudah mati karena baterai habis." tutur Dewa menjelaskan keadaan semalam.


" Sudahlah, kami tidak menyalahkan kamu kok Dewa. Kami hanya geram saja karena kalian tiba tiba raib tanpa ada pemberitahuan. Lain kali jangan diulangi ya, kami semua sangat cemas. Bahkan Laura, Evi ,Yusuf dan Rayhan sampai keliling kota buat nyari kalian." ucap ayah Hana.


" Laura.... Evi...... maafin kami ya. Aku sayang banget sama kalian." Hana memeluk tubuh adik dan sahabatnya itu.


" Iya, aku juga sayang banget sama kamu. By the way ternyata amukan seorang ibu memang sangat menyeramkan. Sama seperti Dewa, aku juga belum pernah ngerasain omelan ibu. Terima kasih ya karena akhirnya aku bisa lihat semua itu secara live, enggak sekedar cerita dari kamu saja. Aku akan sangat bahagia jika kelak kamu diomelin lagi pas ada aku di sisimu biar aku bisa mengabadikan ekspresi kamu dan ibumu. Tadi sayang banget aku enggak sempat bikin videonya karena terlalu menikmatinya." Laura membalas pelukan sahabatnya itu.


" Heh, jadi kamu merasa senang jika aku kena omelan? Dan tadi itu semua kamu anggap sebagai hiburan?"


" Iya." jawab Laura tanpa rasa bersalah.


" Bu, lihatlah. Laura menganggap tadi semua adalah suatu hiburan." rengek Hana.


" Sini aku jewer telinga kamu biar ngerasain bagaimana rasanya." Hana hendak menarik kuping sahabatnya itu, namun tangannya segera ditepis oleh ibu Hana.


" Jangan coba coba, Laura sudah ibu anggap sebagai anak sendiri." ibu Hana memeluk tubuh Laura dengan penuh kasih sayang.


" See...?! Kini dia juga ibuku." Laura merasa menang.


" What?!! Sayang lihatlah, aku ditikung oleh sahabatku sendiri. Di depan mataku, dia mengambil ibuku." rengek Hana sambil merangsek ke pelukan suaminya.


" Ha ha ha. Kalian ini ada ada saja." tutur ayah Hana.

__ADS_1


" Dia juga ibuku, tidak hanya ibumu." dengus Evi sambil beranjak pergi dari ruangan itu tanpa disadari oleh yang lain.


__ADS_2