
Rombongan wanita berpakaian resmi ala ala bodyguard yang mengawal Hana kini telah sampai di kediaman Hana dan Dewa. Tanpa membuang waktu, Hana bergegas ke dalam rumah untuk mulai menjalankan rencananya.
" Aku ingin istirahat di kamar, kalian pergilah. Jangan ada yang mencoba menggangguku." Hana menegaskan ucapannya.
" Baiklah Nyonya. Selamat beristirahat. Kami akan berjaga di depan." jawab wanita yang sedari tadi menjadi juru bicara untuk teman temannya. Mungkin ia ditunjuk sebagai sang Alpha di rombongan itu, entahlah hanya mereka yang tahu.
" Mbok Mira ikut aku ke kamar." ucap Hana menghampiri wanita berbadan gembul yang tengah beres beres di dapur.
" Ada apa Mbak Hana? Mbak Hana baik baik saja kan? Kok pulang lagi, enggak jadi berangkat ngajar ke sekolah?" Mbok Mira menelisik wajah Hana takut kalau majikannya itu kurang enak badan.
" Aku baik baik saja. Mbok segera menyusul aku ke kamar ya, sekalian bawa jus lemon."
" Baik Mbak Hana. Mbok mau matur dulu sama si Mas koki yang katanya ahli gizi itu. Perintah Tuan Anton dan Bos Papa bule ganteng kan harus ngomong dulu ke Mas koki kalau mau buat apa pun untuk Mbak Hana. Takut nanti kalau si mbok disalahkan."
" Mbok, sejak kapan minum jus lemon itu salah. Sudahlah cepat buatkan dan antarkan ke dalam kamar. Nanti sekalian ajak Pak Solih. Lama kelamaan rumah ini beneran jadi penjara, apa apa serba lapor dan dilarang." gerutu Hana bersungut sungut sambil berjalan ke kamarnya.
Tak berselang lama Mbok Mira dan Pak Solih menyusul ke dalam kamar Hana sesuai dengan titah majikannya itu. Keduanya mendengarkan penjelasan dan pengarahan dari Hana dengan seksama.
" Mbak Hana apa beneran enggak apa apa kalau kita melakukan itu? Nanti kalau Tuan Anton marah bagaimana? Ditambah lagi Bos Papa bule ganteng pasti enggak akan membiarkan itu semua. Mbak Hana lupa ya kalau di rumah ini banyak pengawal dan pembantu yang merupakan kaki tangan dan sekaligus telinga dari Bos Papa bule ganteng." ucap Mbok Mira yang merasa sedikit ragu dengan rencana majikannya.
" Mbok Mira tenang saja, Ayah pasti tidak akan marah. Toh sebenarnya Ayah mertua orang yang sangat baik dan berpikiran luas. Sebelum kedatangan Papa mertua Beliau tidak pernah melarang atau pun mencampuri kehidupan aku dan Dewa. Jadi sasaran utama kita sebenarnya adalah Papa mertua yang notabennya adalah seorang kompeni." tutur Hana penuh emosional.
" Waduh jadi ceritanya kita mau melawan Tuan Russell ya Mbak? Bahaya lho Mbak, melawan orang tua itu dilarang sama agama. Mbak enggak takut durhaka? Bisa kualat itu Mbak." cecar Pak Solih yang sedari tadi diam menyimak.
" Bukan melawan orang tua Pak Solih...... Kita hanya memperjuangkan kebebasan kita. Pak Solih mau kita hidup seperti ini? Terus terusan diawasi dan diatur oleh Papa. Pak Solih enggak mau kehidupan seperti dulu lagi? Pokoknya kita harus berjuang bersama agar orang orang asing yang ada di rumah ini segera pergi. Kalau dibiarkan lama kelamaan kita akan tersisih."
Mbak Hana ini bagaimana tho? Lha wong Tuan Russell bilang ini semua demi kebaikan Mbak Hana dan calon anaknya. Kok malah mau diusir semua tho para pengawal dan pembantunya. Tapi omongan Mbak Hana ada benarnya juga, kalau dibiarkan lama kelamaan aku dan ayang beb memang bisa tersisih. Kalau dibandingkan dengan orang suruhan Tuan Russell aku memang kalah jauh. Dan tidak butuh waktu lama keberadaanku pasti akan tergantikan oleh orang orangnya Tuan Russell. Kalau begitu aku memang harus mendukung Mbak Hana. Seperti ucapan Mbak Hana di awal, sesama rakyat Indonesia harus bersatu melawan penjajahan, meski aku enggak paham dimana letak penjajahannya.
" Baiklah, Mbok Mira dan Pak Solih sudah paham kan dengan tugas masing masing?" tanya Hana meminta kepastian. Sebenarnya bukan tugas yang berat atau pun ekstreme apalagi melanggar hukum. Hana hanya meminta Mbok Mira untuk menyiapkan minuman dan makanan yang banyak, sedangkan Pak Solih bertugas membuka akses rumah untuk tamu undangan Hana.
" Paham Mbak...!!" jawab keduanya mantab.
" Satu hal lagi, hubungi semua tetangga dan teman teman Mbok Mira dan Pak Solih untuk ikut datang ke rumah ini." imbuh Hana.
" Siap Mbak Hana, tugas kami terima." Mbok Mira dan Pak Solih undur diri untuk segera melakukan tugas mereka.
Hana mulai menghubungi sahabat dan para muridnya. Tidak tanggung tanggung, para guru dan kepala sekolah tempat ia mengajar juga tidak luput dari daftar listnya. Team RAME yang notabennya sahabat baiknya pun harus ikut menghubungi para kenalan dan customer mereka untuk ikut dalam aksinya kali ini.
" Ah, ini sudah lumayan banyak. Cukup lah kalau untuk melakukan demo." Hana menghela nafas panjang.
" Laura....!!!! Aku hampir saja melupakannya. Kebetulan dia baru pulang kemarin." Hana bergegas menghubungi sahabat terbaiknya itu untuk menyampaikan maksud dan rencananya. Sebagai sahabat seperjuangan dan se tanah air tentu saja gadis berparas cantik itu mendukung sepenuhnya rencana Hana.
" Oke, semua sudah beres tinggal menunggu waktunya saja." Hana menyeruput jus lemon yang sedari tadi belum sempat ia sentuh.
Lewat tengah hari kala mentari tengah bersinar dengan kekuatan penuh seakan siap membakar apa pun yang berada di bawahnya termasuk semangat Hana yang kian membara.
__ADS_1
" It's the time......" seru Hana sembari melakukan video call ke Papa mertuanya.
" Hallo Sayang...... Bagaimana kabarmu?" sapa Russell di layar kotak itu. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak membutuhkan jawaban karena seyogyanya dia teramat sangat tahu dengan kondisi menantu tunggalnya itu yang berada dalam pengawasan orang orang suruhannya selama 24 jam penuh.
" Hallo Papa, i'm very well but i think i feel bad too." jawab Hana tanpa basa basi.
" Oh, apa yang membuatmu merasa seperti itu? Apa ada masalah? Apa orang orang suruhan Papa kurang memuaskan kinerjanya?" selidik Russell.
" Honey are you okey?" tanya Aleena yang tiba tiba saja ikut muncul di layar ponsel Hana.
" Mama Aleena, i miss you." rengek Hana seakan lipa dengan tujuan awalnya.
"Wait.....!! Apa aku mengganggu istirahat Mama? I'm so sorry....." ucap Hana dengan nada menyesal.
"No, justru Mama sangat senang karena bisa melihatmu. Kamu tahu Mama merasa sangat bosan di sini. Ingin rasanya Mama segera terbang ke sana berkumpul dengan dirimu dan Dewa." tutur Aleena dengan antusias. Saat ini Aleena tengah menjalani perawatan di Singapura karena negara kecil itu digadang gadang mempunyai salah satu rumah sakit terbaik untuk pengobatan kanker. Dan juga yang menjadi alasan Aleena dan Russell meninggalkan kediaman mereka yang mewah dan lengkap dengan fasilitas dan tenaga kesehatan yang ahli dalam bidangnya dan justru memilih negara dengan ikon patung Merlion itu adalah jaraknya yang lumayan dekat dengan anak dan menantunya. Sehingga mereka tidak perlu melakukan penerbangan yang membutuhkan puluhan jam.
Mereka memercayakan pengobatan Aleena di Mounth Elizabeth, spesialis hematologi. Tempat itu mampu memberikan diagnosis, pengawasan, dan penanganan terbaik kepada pasien kanker darah seperti Aleena. Tim hematologi mereka mempunyai spesialis yang terdiri dari tenaga ahli yang tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya.
Bangsal yang Aleena tempati pun terasa sangat nyaman. Ruangan VVIP itu diubah sedemikian rupa sesuai dengan keinginan Aleena dan Russell. Dilengkapi dengan ruangan tekanan udara positif sehingga pasien dengan sisitem imun yang lemah seperti Aleena akan memperoleh udara yang bersih dan terjamin dari kontaminasi maupun bakteri.
" Oh Mama Aleena, aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu di sana. Tapi Mama jangan kuatir karena kami di sini semua selalu berdoa untuk kesembuhan Mama."
" Mama tahu itu. Lagi pula dengan kondisimu saat ini Mama melarang keras dirimu untuk bepergian jauh. Jaga baik baik calon buah hati kalian." Aleena mulai mengucapkan kata kata yang sudah teramat sering Hana dengar entah itu dari ayah ibunya, ayah ibu mertua atau pun papa dan mama mertuanya. Entah dalam satu minggu terakhir ini sudah berapa sering gendanh telinganya mendengar kata kata " jaga baik baik calon buah hati".
" Ah aku hampir lupa. Mama bisa aku bicara dengan Papa Russell terlebih dahulu? Ini sangat penting." ucap Hana dnegan cepat saat teringat tujuan awal dirinya melakukan video call ini.
" Sure."
" Ada apa Sayang? Apa kamu punya keluhan dengan kinerja orang orang Papa?" Russell mengulangi pertanyaan yang tadi sempat terabaikan oleh Hana.
" Tidak, ah maksudku iya."
" Kinerja orang Papa kurang memuaskan?" tanya Russell dengam heran.
" Bukan seperti itu Papa. Kerja mereka bagus. Tapi aku merasa ini semua sudah berlebihan. Aku minta Papa menarik semua orang suruhan Papa dari sekelilingku." ucap Hana tanpa ada keraguan.
" Bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya? Dan jawaban Papa tetap sama. Ingat Papa tidak suka dibantah."
" Papa keterlaluan. Dan aku protes dengan ini semua. Mungkin Papa memang tidak suka dibantah, tapi aku juga tidak suka mengalah. Selama beberapa hari ini aku sudah berusaha menuruti keputusan Papa Russell, tapi yang ada aku malah merasa sangat tertekan. Aku seperti ikan yang berada dalam akuarium dengan air dan udara yang minim. Papa bisa bayangkan bagaimana keadaanku saat ini." geram Hana.
" Itu semua Papa lakukan untuk kebaikan dirimu dan calon baby di perutmu."
" No, itu semua hanyalah kemauan Papa. Pokoknya aku mau semua orang suruhan Papa ditarik titik." ketus Hana.
" Dan Papa tegaskan sekali lagi itu tidak akan pernah mungkin terjadi." ucap Russell penuh penekanan.
__ADS_1
" Aku keberatan. Aku tinggal dan hidup di negara demokrasi. Aku tidak mau menuruti keotoriteran Papa mertua. Sebagai orang yang merdeka aku mengajukan hak untuk melakukan voting. Dan apa pun hasilnya aku akan menerimanya." seru Hana.
" Baik. Aku terima usulanmu. Kita akan lakukan voting dalam 10 menit. Kita akan tanya orang orang yang dekat denganmu."
Akhirnya, Papa makan umpan dariku.
" Baiklah kita akan voting." ucap Hana berusaha menyembunyikan senyum kemenangannya.
Russell dan Hana melakukan teleconference bersama orang orang dekat mereka. Aleena bertindak sebagai pencatat voting. Entah kenapa setiap melihat Hana maupun Dewa semua penyakitnya seakan lenyap entah kemana.
Ibu Hana memberikan dua suara karena suaminya sedang bekerja sehingga tidak bisa ikut voting. Ia mendukung Russell karena memang itu dianggap terbaik untuk anaknya. Anton dan Rani pun juga mendukung Russell karena mereka juga sependapat dengan lelaki berdarah Belanda itu. Yusuf, Mbok Mira, dan Pak Solih dengan terpaksa mendukung Papa mertua Hana karena mereka takut untuk terang terangan menentang keputusan Russell. Dewa dan Aleena memberi suara untuk Hana.
" Lihat sendiri kan Sayang? 8 melawan 3, aku menang. Jadi kepu_"
" Tunggu dulu Papa, voting ini belum selesai." Hana dengan cepat memotong ucapan Papa mertuanya.
" Apa maksudmu? Semua sudah memberi suara. Bahkan kamu juga sudah memberi suara untuk dirimu sendiri." kilah Russell.
" Papa yakin???!!!"
" Bagaimana dengan mereka?" Hana mengarahkan kamera ponselnya ke arah ruang tamu dan ruang tengah di mana ada ratusan orang tengah berkumpul disana dengan membawa spanduk bertuliskan BEBASKAN HANA.
" WHAT....???!! Siapa mereka? Mereka tidak masuk hitungan!" nafas Russell memburu karena ia baru menyadari telah masuk perangkap menantunya.
" Tentu saja mereka masuk hitungan. Papa lupa yang Papa katakan bahwa kita akan menanyakan orang orang dekatku. Dan mereka semua adalah orang dekatku. Papa lihat, itu sahabatku, muridku, tetanggaku, kepala sekolahku bahkan bapak dan ibu guru ku dulu juga ada. Jadi bagaimana mungkin merela tidak masuk hitungan. Cukup dilihat tanpa perlu dihitung sudah bisa ditebak kan siapa pemenangnya? Atau Papa mau menjilat ludah Papa sendiri? Tidak mungkin kan seorang pengusaha sebesar Papa melakukannya. Apa lagi disaksikan oleh banyak orang." Hana tersenyum penuh kemenangan.
Sial... Aku terjebak. Ini sudah menit terakhir aku tidak mungkin menghubungi anak buahku untuk membantu memenangkan voting ini.Aku terpaksa harus mengakui kekalahan pertamaku. Tidak kusangka Hana telah memikirkan langkah seperti ini. Dia memang pantas menjadi menantu kesayanganku.
" Baiklah voting ini dimenangkan olehmu. Semua orang suruhanku di rumahmu akan aku tarik. Kamu bebas melakukan apa saja. Kamu juga boleh mengajar ke sekokah tanpa ada pengawalan." ucap Russell dengan menyunggingkan senyum licik.
" Yeahh..... !!!!!" seru Hana bersama dengan tamu undangannya.
" Ayo semua silahkan dinikmati makanan dan minuman yang ada, anggap ini sebagai pesta kebebasanku." teriak Hana kegirangan. Berbagai makanan dan minuman tersaji di sana. Beberapa pelayan dari beberapa restoran dan rumah makan berlalu lalang melayani para "tamu". Ternyata Mbok Mira melakukan tugas yang Hana berikan dengan sangat baik. Dengan arahan dari sang majikan wanita gembul itu bisa menghadirkan banyak makanan lengkap dengan pelayannya.
"Terima kasih Papa Russell. Aku tahu Papa adalah orang yang sangat baik. Mmmmuach..... Aku sayang Papa dan Mama. Bye....." Hana menutup panggilannya.
" Ha ha ha......" Aleena terkekeh melihat sang suami dikalahkan oleh menantu kesayangannya.
" Aku sangat puas Sayang karena bisa melihat ekspresi wajah kekalahanmu, ha ha ha."
" Aku terlalu meremehkan dirinya. Tapi aku belum sepenuhnya kalah. Aku memang akan menarik semua orang suruhanku dari rumahnya. Tapi bukan berarti aku akan berhenti mengawasi dan menjaganya." dengus Russell dengan senyum penuh maksud.
" Aku tahu itu. Seharusnya dari awal kamu melakukan itu semua dengan diam diam. Bukan secara terang terangan seperti itu. Gadis selincah Hana pasti akan berontak jika kau perlakukan dia seperti boneka barbie sebagaimana gadis gadis kaya pada umumnya. Ingat Hana bukanlah gadis biasa." imbuh Aleena dengan tersenyum lembut.
" Aku tahu. Dewa tidak akan mungkin memilih gadus yang biasa saja. Sama halnya diriku yang memilih dirimu karena kamu adalah sosok yang luar biasa." Russell mengecup kening Aleena dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1