
Angin malam berhembus pelan membelai setiap makhluk yang dilaluinya, memberi rasa dingin yang menenangkan. Langit masih tetap terbentang dengan kokoh, dihiasi taburan bintang yang bersinar temaram dan rembulan yang bertengger dengan penuh kesombongan, karena malam itu ia memperlihatkan bentuknya secara utuh tanpa ada kabut dan mendung yang menghalangi pesonanya.
Hiruk pikuk kerumunan orang berlalu lalang di sebuah tanah yang cukup lapang. Berbagai macam wahana permainan dimainkan. Di sekitarnya ada banyak macam barang dan jajanan yang diperjual belikan. Hilir mudik manusia dari berbagai usia tengah larut di dalamnya.
Mata Dewa tak henti menatap wajah Hana yang masih terlihat agak cemberut. Hana masih merasa kesal karena tadi Dewa mengadukan dirinya berkelahi kemarin malam, sehingga tak urung ia terkena omelan dari ibunya. Setelah melewati sedikit drama antara ibu dan anak, akhirnya mereka bisa pergi bersama. Meskipun tidak sesuai dengan tujuan awal mereka, star cafe.
Dan di sinilah mereka, di puncak sebuah bianglala di pasar malam.
" Masih ngambek...?" tanya Dewa lembut sembari tersenyum memecah keheningan di antara mereka.
" Apa..?!" solot Hana sembari melotot.
" Ha ha ha,, loe kalau ngambek lucu, tambah imut."
Hana tidak menjawab hanya memutar bola mata saja.
" Kalau masih ngambek ntar gue cium loh." Dewa mendekatkan wajahnya ke arah Hana. Ditatapnya mata Hana dalam dalam.
" Apaan sih." Hana tersipu malu.
" Udahan dong manyunnya, gue minta maaf ya. Tadi gue keceplosan ngomong sama ibu loe. Gue sama sekali enggak punya maksud buat ngaduin loe. Suerrrr." bujuk Dewa lagi.
" Ya udah gue maafin loe. Tapi awas kalau loe berani ngadu lagi."
" Senyum dong biar tambah manis."
" Ogah, entar kalau kemanisan malah diabetes."
" Ha ha ha." sebuah tawa nyatanya lolos dari mulut mereka.
Mata Hana menelisik ke arah langit, mencoba mencari sesuatu.
" Cari apa sih Han?" tanya Dewa heran.
Hana tidak menjawab, netranya masih fokus melanjutkan pencariannya.
" Itu dia." Hana menunjuk sebuah bintang matanya berbinar.
Dewa mengikuti arah telunjuk Hana, mencoba mencari apa yang telah ditemukan oleh gadis manis yang sedari tadi duduk bersamanya.
__ADS_1
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum saat ia berhasil melihat apa yang dimaksud.
" Antares?" tanya Dewa mencoba meyakinkan.
"Ya, loe melihatnya? Itu bintang kesukaan gue." ucap Hana sumringah. Entah mengapa ia selalu semangat saat melihat bintang favoritnya.
Dewa hendak menimpali omongan Hana, namun tiba tiba bianglala berputar sehingga Dewa kaget dan tubuhnya terhuyung ke depan. Kepalanya terkantuk dengan kepala Hana.
" Aouw...." pekik mereka serempak. Hana dan Dewa memegangi dahi mereka bersama.
" Ha ha ha.." mereka kembali tertawa bersama.
" Sakit tahu." keluh Hana sembari mengusap usap dahinya.
" Maaf gue enggak sengaja. Lagian salah si bianglala ni yang muter tanpa aba aba."
"Loe juga aneh gue ajak ke cafe yang nyaman enggak mau. Malah akhirnya kita terdampar di sini. Di sebuah bianglala di tengah pasar malam yang rame." ketus Dewa
" Kenapa? Enggak suka? Belum pernah jalan ma cewek ke pasar malam? Lagian enak di sini kali, dari pada di star cafe, kalau ini kan benar benar star sungguhan." ucap Hana sambil tersenyum penuh arti.
" Gue memang enggak pernah jalan ma cewek ke pasar malam. Ini juga pengalaman pertama gue main ke pasar malam." lirih Dewa namun masih terdengar oleh Hana.
Dewa hanya tersenyum sinis, mengingat masa kecilnya yang jauh dari kata sempurna, bahkan bisa dibilang masa kecil yang tidak normal. Raut mukanya berubah menjadi muram. Terlintas kembali dalam benaknya pengakuan ibunya saat ulang tahunnya ke 17. Dadanya terasa sesak, matanya memanas, tanpa ia sadari matanya memerah menahan amarah dan bulir air mata agar tak lolos dari pelupuknya.
Hana menyadari perubahan ekspresi Dewa. Ia menatap lekat manik mata Dewa. Ada kesedihan dan amarah di dalamnya.
" Are you okay?" telisik Hana sembari memegang bahu Dewa.
Dewa terperanjat, membuang muka mencoba menyembunyikan kekalutannya.
" Sorry, apa gue salah bicara?" suara Hana lembut.
" Hufft..!" Dewa membuang nafas kasar.
" I'm okay. Sorry gue ngerusak suasana. Loe enggak salah bicara kok Han, tapi hidup gue aja yang salah dan bermasalah." Dewa mencoba untuk tersenyum.
" Kalau loe ada masalah, loe bisa kok cerita sama gue. Meskipun mungkin gue enggak bisa memberi solusi, tapi setidaknya beban loe akan sedikit berkurang. Dari pada loe pendam sendiri, malah cuma akan menyiksa loe. Itu pun kalau loe percaya ma gue."
Dewa menatap sendu wajah Hana. Senyum di bibirnya yang tadi ia paksakan menghilang. Lagi dan lagi tatapan mereka saling beradu. Tatapan Hana mampu memberi rasa damai di hati Dewa.
__ADS_1
" Boleh gue meluk loe?" suara Dewa tergetar seakan menahan sesak yang teramat.
Hana menatap Dewa penuh dengan iba dan tanya. Tampak jelas di sorot mata Dewa ada beban dan kesedihan yang mendalam.
Hana mengulurkan tangan menarik tubuh Dewa ke dalam dekapannya. Ia menepis rasa malu di hatinya. Ia dapat merasakan tubuh Dewa bergetar sembari terisak. Dewa memeluk erat tubuh Hana mencoba mengeluarkan semua beban di hatinya.
" Lepasin semua, jangan ditahan." entah mengapa hati Hana seperti bisa merasakan kesedihan Dewa. Tanpa ia sadari beberapa bulir air mata telah lolos dari matanya.
Setelah beberapa saat, Dewa mulai terlihat tenang. Ia tak lagi terisak. Secara perlahan Hana melepaskan dekapannya.
" Sudah tenang? Mau cerita?" tanya Hana dengan lembut sambari mengusap sisa air mata di pipi Dewa.
Seakan mendapat kekuatan, Dewa mulai bercerita tentang hidup dan masa lalunya.
Seiring dengan bianglala yang terus berputar, Dewa menceritakan kisah hidupnya tanpa ada yang ia lewatkan. Seperti sebuah buku, Dewa membuka semua halaman hidupnya satu per satu tanpa ada yang ditutupi. Membiarkan Hana untuk membaca kisahnya.
Berkali kali Hana terperangah mendengar penuturan Dewa. Ia tak menyela maupun berkomentar sedikit pun. Ia membiarkan Dewa untuk menuntaskan semua kisahnya dan mengeluarkan beban di hatinya.
" Loe pasti illfeel ya sama gue. Hidup gue berantakan penuh masalah, enggak sesempurna hidup Loe Han." Dewa mengakhiri ceritanya.
Hana tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya saja. Dewa menelisik wajah Hana, terlihat matanya tengah sembab pipinya telah basah oleh air mata. Dewa agak terperanjat karena baru kali ini ia melihat Hana menangis.
" Boleh pinjem kaos loe?" ucap Hana lirih.
" Ha? Kaos?" tanya Dewa heran.
Tanpa menunggu lama Hana membuka jaket Dewa bagian depan dan meraih kaos sembari mendekatkan wajahnya. Dewa hanya diam tak tahu apa yang ingin dilakukan Hana.
Tiba tiba...
" Hemmmprt hemmmrtt....!" Hana mengeluarkan ingusnya di kaos Dewa.
"Hei... whattt!?" pekik Dewa terkejut dengan ulah Hana yang sama sekali tidak terbaca olehnya.
Semua perasaan sedih dan beban di hatinya tiba tiba saja menghilang entah kemana.
Dewa menghela nafas dalam menghembuskan kasar kemudian tertawa. Ia tak menyangka semudah itu Hana mampu menghilangkan kesedihannya.
Ya, Hana memang berbeda dari gadis lainnya. Bersamanya hidup Dewa selalu lebih bernyawa.
__ADS_1