Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Hak yang Dipertanyakan


__ADS_3

Waktu terus berjalan seiring dengan jarum jam yang terus berputar. Tak terasa satu bulan sudah Hana dan Dewa menjalani biduk rumah tangganya dengan penuh kebahagiaan. Dewa kembali dihadapkan dengan kesibukan pekerjaannya di perusahaan yang baru saja ia rintis, Hana kembali ke rutinitas mengajar di sekolah dan bisnis toko roti milik ibunya yang kini telah dilimpahkan ke dirinya. Ibu Dewa masih di Jakarta menemani sang suami mengurus perusahaan bersama Yusuf. Sedangkan Laura sesekali bola balik Jogja Singapura dan terpaksa menangguhkan rencana pernikahannya karena dari pihak keluarga Rayhan meminta agar pernikahan diadakan setelah Rayhan menyelesaikan program pasca sarjananya terlebih dahulu.


Hana dan Dewa mengendarai mobil Nissan GT R50 yang merupakan mobil mewah limited edition hadiah pernikahan dari Russell. Hana terlihat sumringah dan bersenandung lirih mengikuti alunan musik yang keluar dari audio player di dalam mobil. Keduanya memang sering menghabiskan waktu sore bersama untuk jalan jalan menikmati senja ataupun sekedar berkeliling kota dan makan di kafe atau pinggiran jalan.


Di tengah kesibukan Dewa yang kian padat ia selalu mengusahakan untuk bisa pulang awal agar bisa mempunyai waktu lebih bersama sang istri. Karena baginya meskipun perusahaannya penting tapi tidak boleh mengesampingkan kebahagiaan keluarga.


Senandung Hana terhenti karena ada sebuah panggilan masuk di ponselnya.


" Dari rumah, tumben banget." dengus Hana sembari menggerakkan jarinya di layar ponsel.


" Hallo assalamualaikum."


" Waalaikum salam Mbak Hana. Maaf ini di rumah ada tamu yang ngotot mau ketemu Mbak Hana dan Mas Dewa. Tadi Mbok sudah bilang kalau di rumah lagi enggak ada orang, tapi mereka malah tetap nerobos masuk." tutur Mbok Mira.


" Siapa Mbok?" tanya Dewa menimpali karena Hana memang sengaja mengubah mode ponselnya ke loudspeaker.


" Mbok juga enggak tahu Mas, tapi mereka bilang suadara Pak Anton. Namanya Pak Rahmat dan Bu Zuli."


" Baiklah tunggu sebentar kami akan segera pulang. Layani mereka dengan baik ya Mbok." ucap Dewa.


" Inggih Mas, wassalamualaikum." Mbok Mira mengakhiri panggilannya.


" Kita lihat senja lain kali saja ya Sayang." Dewa segera memutar arah dan menambah kecepatan mobilnya.


" Kamu kenal mereka Yang?" tanya Hana di sela perjalanan mereka.


" Enggak juga sih. Tapi mereka bilang saudara Ayah, jadi kita harus segera menemui mereka siapa tahu ada kepentingan mendesak atau urusan lain, may be."


" Saudara Ayah yang mana ya, kalau dari cerita Ibu dan Yusuf sepertinya Ayah anak tunggal." Hana mencoba mengingat.


" Siapa tahu saudara jauh Yank, kamu coba hubungi Ayah atau Yusuf saja biar lebih jelas."


" Baiklah." Hana menghubungi no ponsel sahabat sekaligus adik iparnya itu namun tidak ada respon.


" Enggak dijawab Yang, aku chat saja lah."


" Coba hubungi ponsel Ayah atau Ibu." pinta Dewa.

__ADS_1


Hana menuruti permintaan suaminya namun hasilnya tetap saja sama, tidak ada balasan. Dewa menambah kecepatan mobilnya lagi agar cepat sampai di rumah. Rasa penasaran menggayuti pikirannya. Mobil berwarna abu abu itu sampai di rumah kurang dari setengah jam karena memang jalanan agak sepi jadi mobil itu bisa melesat dengan cepat tanpa hambatan.


Rahmat dan Zuli dengan lancang berkeliling rumah Dewa tanpa permisi. Bahkan Mbok Mira dan Pak Sholeh sudah melarang dan memperingatkan mereka tapi tidak diindahkan. Bahkan mereka berani membentak kedua pengurus rumah Dewa itu dan mengatakan tidak segan memecat keduanya. Alhasil Mbok Mira dan Pak Sholeh hanya bisa membiarkan keduanya untuk berkeliling semau mereka. Pak Sholeh mengekor dan mengawasi gerak gerik dari tamu yang dirasa tidak sopan itu sedangkan Mbok Mira menunggu di teras rumah menanti kedatangan majikannya dan jaga jaga bila ada sesuatu ia bisa meminta bantuan dari warga sekitar.


" Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya Mas Dewa dan Mbak Hana datang juga." seru Mbok Mira saat mobil majikannya memasuki pekarangan rumah melewati sebuah mobil Avanza yang terparkir di deoan rumah. Hana dan Dewa bergegas keluar mobil dan menghampiri Mbok Mira yang terlihat cemas.


" Kenapa sih Mbok? Kok seperti orang kuatir." sapa Hana.


" Itu loh Mbak Hana tamunya lancang banget keliling rumah tanpa permisi. Padahal sudah Mbok larang, tapi malah marah marah. Enggak sopan banget pakai ngancam mau pecat Mbok dan suami Mbok lagi. Katanya sih saudara Tuan Anton, tapi entahlah Mbok baru pertama melihat mereka."


" Ya sudah, ayo kita temui mereka." Dewa melangkah ke dalam rumah diikuti oleh Hana dan Mbok Mira.


" Mereka dimana Mbok?" tanya Dewa saat mendapati ruang tamu kosong hanya ada cangkir berisi minuman dan beberapa piring camilan.


" Mbok tadi kan sudah bilang toh Mas, kalau mereka dari tadi keliling rumah. Untung tadi Mbok sempat mengunci kamar Mas dan milik Nyonya Rani. Ini kunci kamar Mas." Dewa menerima kunci kamar itu dengan dahi mengkerut.


" Lain kali kalau Mas Dewa dan Mbak Hana pergi jangan lupa untuk mengunci kamar. Kalau ada barang berharga yang hilang kan malah repot." imbuh Mbok Mira.


" Iya, terima kasih ya Mbok." Hana tersenyum manis.


" Maaf Mas Dewa, tadi saya sudah mencoba melarang mereka. Namun mereka tetap nerobos masuk ke dalam rumah." ucap Pak Sholeh terlihat sedikit ketakutan.


" Enggak apa apa kok Pak, terima kasih ya. Sekarang Pak Sholeh dan Mbok Mira bisa pergi. Biar kami yang menjamu para tamu ini." Dewa tersenyum ke arah lelaki yang sudah beberapa tahun menjadi pekerja di rumahnya itu.


Mbok Mira dan Pak Sholeh meninggalkan kedua majikan bersama tamunya dengan segera.


" Maaf silahkan duduk. Kalau boleh saya tahu Bapak dan Ibu siapa ya? Sepertinya kita belum pernah bertemu." tanya Dewa dengan sopan.


" Saya Rahmat dan ini istri saya Zuli. Kami adalah Om dan Tantenya Yusuf." jawab lelaki itu dengan tatapan seperti mencemooh.


" Oh benarkah? Kalau begitu maafkan kami karena tidak mengenali kalian. Kami juga minta maaf jika mungkin tadi Mbok Mira dan Pak Sholeh bersikap kurang sopan." Dewa tetap berusaha bekata sopan meskipun sebenarnya ia merasa sedikit geram dengan kelakuan sepasang suami istri di depannya.


" Silahkan duduk Om dan Tante. Silahkan dicicipi dulu hidangannya." Hana berusaha menjadi nyonya rumah yang ramah.


" Kalian menganggap kami seperti orang asing saja. Kalau kami mau kami bisa makan apa pun yang ada di rumah ini. Toh kami adalah saudara dari Mas Anton. Kami yang membesarkan Yusuf jadi kami juga punya hak atas rumah ini." ketus wanita yang bernama Zuli itu membuat Hana dan Dewa saling pandang.


" Kami tadi sudah berkeliling, rumah ini sangat mewah. Bahkan ada kolam renangnya juga di belakang. Apalagi kami juga melihat ada banyak barang barang mahal menghiasi tiap sudut. Garasi juga penuh dengan mobil mobil mewah. Kamu pasti sangat suka tinggal di sini bukan?!" sindir Rahmat menatap ke arah Dewa.

__ADS_1


Sialan mereka. Datang ke rumah orang tidak sopan malah sekarang berkata seperti itu ke Dewa. Persetan kalau mereka Om dan Tante Yusuf, aku tidak bisa tinggal diam.


" Maaf?! Maksud kalian apa ngo_" ucap Hana penuh dengan penekanan namun Dewa segera menggenggam erat tangan sang istri dan menggelengkan kepalanya pelan pertanda agar Hana tidak melanjutkan ucapannya.


" Hah kenapa? Kamu tidak terima? Memang kenyataannya seperti itu. Dia hanya seorang anak tiri yang sangat beruntung karena ibunya berhasil merayu ayah keponakan saya sehingga ia dengan bodohnya memberi anak tiri ini dengan fasilitas yang serba mewah. Rumah mewah ini dan seisinya seharusnya lebih pantas menjadi milik Yusuf karena dia adalah anak kandungnya. Dan mobil mobil mewah itu dia tidak pantas untuk memakainya karena itu juga hak keponakan saya." ucap Rahmat dengan nada tinggi nan menusuk hati dengan menunjuk nunjuk wajah Dewa.


" Seharusnya kamu punya malu dan bercermin dulu kamu itu siapa?! Dasar anak tidak tahu diri, sudah untung ibumu menikah dengan Mas Anton sehingga ia bisa hidup mewah seperti sekarang ini. Tapi kamu dan ibumu malah tamak ingin merebut semua yang seharusnya menjadi milik keponakan saya, Yusuf."


" Maaf Om, tapi saya tidak pernah merasa seperti itu. Saya membangun rumah ini dari uang tabungan saya selama bekerja di perusahaan ayah, dan seingat saya tanah ini adalah milik ibu saya yang dibeli jauh sebelum menikah dengan ayah. Mobil mobil itu juga hasil kerja keras saya. Yah memang ada beberapa mobil yang merupakan hadiah pernikahan saya dan istri saya." tutur Dewa dengan tenang.


" Halah alasan, kerja keras apa?! Kamu dan ibumu sama saja, pasti ingin menguasai semua harta Mas Anton kan?! Nyatanya kamu enak enakan tinggal di rumah mewah ini sedangkan Yusuf harus bekerja di Jakarta sana." imbuh Zuli.


" Mungkin Yusuf bisa diam saja dan menganggap kamu adalah saudaranya yang baik sehingga tidak melihat kelicikan dan kebusukan hatimu. Tapi tidak dengan kami. Kami sangat paham dengan orang orang semacam dirimu dan ibumu...!!"


" Maaf Om dan Tante, saya rasa kalian sudah keterlaluan. Saya bisa diam saja jika itu hanya tentang saya. Tapi saya tidak terima jika kalian terus menghina ibu saya." ucap Dewa dengan tatapan yang tajam.


" Tidak terima?! Kamu tidak terima saya berbicara seperti itu? Lalu mau kamu apa? Kami meminta maaf kepadamu?!" bentak Rahmat.


" Byurrrr...!" tanpa pemisi Hana menyiramkan minuman ke wajah Rahmat.


" Heh..!!! Berani beraninya kamu menyiram saya. Kamu tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu ya...?!" seru Rahmat dengan nafas memburu. Matanya melotot ke arah Hana penuh dengan kemarahan.


" He he maaf Om, saya hanya bantu Om buat ngademin kepala om saja biar enggak terlalu panas. Tapi sepertinya saya salah deh, karena yang saya siram ke wajah Om malah teh hangat, seharusnya kan air es biar adem." kekeh Hana.


" Dan satu hal lagi. Orang tua saya mengajarkan saya sopan santun sejak saya kecil. Saya diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Tapi sepertinya untuk kalian adalah pengecualian. Untuk apa saya berlaku sopan kepada orang yang tidak mempunyai sopan santun. Hormat saya hanya akan saya tujukan untuk orang yang mengerti arti dari kata hormat itu sendiri. Seharusnya sebelum kalian mempertanyakan tentang hormat dan sopan santun saya, kalian lihat dulu apakah kalian sendiri sudah mempunyainya. Kalian jangan menuntut orang lain untuk melakukannya tapi kalian sendiri mengabaikannya. Ingat ya hukum Newton 3 tentang gerak dalam kehidupan bahwa ada aksi dan reaksi. Saya sudah berusaha untuk menahan diri dari tadi tapi kalian malah kian menjadi. Dan tolong dengan teramat sangat, sebelum kalian menghina suami dan ibu mertua saya alangkah lebih baiknya jila kalian tanyakan dulu ke Yusuf maupun ayah mertua saya tentang kebenarannya." jawab Hana dengan nada santai membuat Rahmat dan Zuli kian meradang.


" Kamu keterlaluan. Kalian memang pasangan yang serasi. Kali_" ucapan Zuli terputus oleh Hana.


" Terima kasih. Kami memang pasangan yang sangat serasi. Suamiku lelaki yang baik dan tampan, dan aku adalah wanita yang cantik dan menggemaskan." tutur Hana dengan penuh rasa bangga.


" Kamu_"


" Ya? Saya Hana istri dari Dewa. Ada apa lagi?! Kalau sudah tidak ada kepentingan cepat tinggalkan rumah kami. Kalian hanya merusak kedamaian sore kami saja. Cepat pergilah dari sini." ketus Hana.


" Kamu mengusir kami?!!! Punya hak apa kamu melakukan itu????!!!" mata Zuli kian merah karena merasa marah.


" TENTU SAJA DIA PUNYA HAK...!!!" seru ayah kandung Yusuf yang berdiri di tengah pintu entah sejak kapan.

__ADS_1


__ADS_2