
Dewa menyusuri jalan setapak di dekat rumah Aleena dan Russell. Dan benar saja, ia menemukan Russell tengah duduk santai sembari memegang pancing di tangannya. Alih alih fokus ke pancingan kedua matanya malah terlihat menerawang jauh ke depan seakan tengah menyaksikan bebek yang berlalu lalang di depannya.
" Straight.....!" teriak Dewa yang membuyarkan lamunan Russell, bahkan ia terlihat sedikit terperanjat.
"Hah...??!!!!" Russell seperti orang bingung.
" Cepat tarik pancingnya Tuan, jangan biarkan ikan itu terlepas." seru Dewa.
" Ah, iya , tentu saja." pancing itu terasa berat saat ditarik bahkan Russell terlihat harus mengerahkan banyak tenaga untuk melakukannya dan benar saja seekor ikan berukuran cukup besar terlihat telah tersangkut di kailnya.
" Splash...pyak pyak....!!" suara kepakan ekor ikan itu yang berulang kali mengenai permukaan air.
" Wow, tangkapan yang bagus Tuan Russel. Itu ikan yang cukup besar." puji Dewa sembari ingin membantu ayah kandungnya mengambil ikan itu dari kail pancing.
"Cepat pegang ikannya dengan kuat...!" seru Russell sambil mempertahankan pegangan pancing dengan kedua tangannya.
" Yap aku dapat, aku dapat." Dewa berhasil memegang ikan besar itu. Dengan hati hati dia melepaskan mulut ikan yang menyangkut di kail.
Namun tiba tiba.....
" BYUUURRRRR...!!!" ikan itu terlepas dari tangan Dewa dan melompat ke dalam air. Dalam sekejap ikan itu menghilang dari pandangan Dewa dan Russell.
" Ikannya....." mulut Dewa menganga lebar sambil tangannya menunjuk ke arah air.
" Seriously???" Russell memandang Dewa dengan nanar.
" He he, maaf Tuan Russell ikannya terlepas dari tangan. Mungkin hari ini memang bukan takdir ikan itu untuk mati di tangan kita." Dewa tersenyum kaku merasa bersalah.
" Kamu.....?!"
" Ah sudahlah. Aku sudah salah memercayakan hasil pancinganku padamu. Memegang ikan seperti itu saja kamu tidak bisa. Jangan jangan kamu malah belum pernah memancing ikan sebelumnya ya?" selidik Russell menajamkan pandangan ke arah Dewa.
Busyet..... Bagaimana dia bisa tahu kalau aku memang belum pernah memancing ikan sebelumnya. Ini sungguh memalukan.
" Ha ha ha. Jangan sembarangan kalau ngomong Tuan Russell. Siapa yang belum pernah memancing ikan? Aku sangat ahli dalam hal ini. Ayo kita bertanding. Lihat saja siapa yang akan pulang dengan ikan besar di tangannya." tantang Dewa terlihat penuh percaya diri.
Bukankah memancing itu mudah bukan? Cukup melempar kail pancing ke dalam air lalu tunggu sampai ada ikan yang menyambar umpan. Yup, its easy.
" Kamu terlalu percaya diri anak muda. Aku terima tantanganmu. Ambil pancing ini dan buktikan ucapanmu." Russell menyerahkan sebuah pancing dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
" Baiklah, tapi agar tidak saling mengganggu kita harus duduk agak berjauhan. Aku akan duduk di sana." ucap Dewa sembari mulai mengambil jarak sekitar 10 meter dari tubuh ayahnya.
Memancing ya? Baiklah kita mulai, aku tidak akan kalah darimu ayah. Seharusnya moment seperti ini sudah kita lakukan sedari dulu. Tapi tidak apa apa, kita lakukan sekarang. Oke saatnya bertanya kepada mbah google yang serba bisa.
Diam diam Dewa melihat tutorial memancing yang ada di google. Ia memperhatikan arahan yang ada dengan seksama seakan nanti setiap gerakkannya akan diawasi dan dinilai.
Aku siap.....
Dewa mulai mengayunkan pancingnya dengan sekuat tenaga ke dalam air, gerakkannya dibuat semirip mungkin dengan yang ada di video yang baru ia tonton.
" Splash..."
" Ayo cepat mulai Tuan Russell, lempar kail Anda..!" seru Dewa dengan percaya diri yang tinggi.
" Ha ha ha, kamu yakin akan memulai tantangan ini?" balas Russell dengan suara lantang.
" Tentu saja. Tidakkah tadi Anda lihat aku sudah melemparkan kail pancingku?"
" Ha ha ha. Apa yang kamu maksud tali pancing tanpa umpan dan kail di ujungnya ? Ha ha ha. Bagaimana kamu akan menangkap ikan dengan ujung kosong seperti itu. Ha ha ha." ledek Russell dengan mulut yang terbuka lebar karena tertawa lepas.
Apa? Mana mungkin aku salah? Benarkah aku belum memasang umpan di ujung tali pancingku. Ah sial, ini sungguh memalukan. Apakah tadi aku tidak sengaja menskip bagian itu? Aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak boleh terlihat bodoh di depannya. Jangan sampai dia tahu kalau aku belum pernah memancing seumur hidupku.
" Oh tadi aku baru pemanasan. Sengaja melempar ujung pancing yang masih kosong, untuk mengukur kekuatan tali pancingku terlebih dahulu. Apakah Anda tidak mengetahui hal ini? Di tempatku setiap pemancing profesional biasa melakukannya." kilah Dewa bicara sembarangan.
" Tentu saja itu benar. Sekarang sepertinya pemanasanku sudah cukup. Dimana Anda menyimpan kail untuk pancing ini?" Dewa mendekat ke arah Russell.
" Ambil ini...! Pilihlah kail yang kamu suka. Atau kamu juga punya cara lain yang berbeda untuk memasang kail di ujung tali?" Russell melemparkan sebuah kotak yang di dalamnya ada beberapa pilihan kail pancing. Kata katanya mengandung ejekan.
" Lebih baik Anda fokus dengan pancing yang ada di tangan Anda. Dan lihatlah bagaimana aku akan memenangkan tantangan ini." Dewa mengambil salah satu kail itu sembari menarik bibirnya ke atas dengan terpaksa.
Dewa kembali melihat benda pipih berbentuk kotak di tangannya. Sekali lagi ia meminta bantuan google cara memasang kail pancing yang benar. Ia memastikan tidak ada kesalahan lagi kali ini.
" Plung...!" ia mulai melempar kailnya ke dalam air.
" Straight...!" teriak Russell kegirangan saat kailnya telah ditarik oleh seekor ikan. Dengan segera ia mulai menarik pancingannya agar ia bisa segera menangkap ikan yang ada di kailnya. Seekor ikan berukuran sedang berhasil ia tangkap, meskipun ukurannya tidak sebesar ikan yang tadi terlepas.
" Ha ha ha, lumayan. Bagaimana denganmu anak muda?"
" Tunggu saja sebentar lagi."
__ADS_1
" Straight....." Russell kembali berteriak karena kailnya kembali ditarik ikan.
" Straight...." teriak Russell untuk yang ke sekian kalinya membuat hati Dewa semakin memanas.
Ah sialan...!! Kenapa tidak ada seekor ikan pun yang menyangkut di kailku? Ini sungguh memalukan.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya kail milik Dewa ditarik juga oleh seekor ikan.
" Straight... Straight....!!! Lihatlah ayah, itu adalah ikan tangkapan pertamaku." teriak Dewa dengan keras. Ia tidak sadar telah memanggil Russell dengan kata "ayah".
" Deg...!" jantung Dewa seakan berhenti saat menyadari ucapannya barusan.
" Eh, ma- maaf maksudku Tu-Tuan Russell." Dewa mengoreksi ucapannya dengan sedikit tergagap. Ia bahkan melupakan untuk menarik pancing di tangannya.
Bagaimana ini? Kenapa tadi aku bisa keceplosan memanggilnya ayah?
Russell berjalan mendekat ke arah Dewa dengan tatapan tajam ke manik hijau yang ada di depannya, membuat Dewa semakin salah tingkah.
" Kamu harus segera menarik pancingnya agar ikannya tidak terlepas kembali." ucap Russell dengan nada dingin.
" Tarik pancing itu, anakku."
Dewa terperangah mendengar lelaki di depannya telah memanggil dirinya dengan sebutan " anakku". Seakan semua organ dalam dirinya telah berhenti berfungsi untuk sejenak.
" A-anak?? Anda memanggilku anak?" Dewa memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
" Iya, kamu adalah anakku bukan? Kamu anakku, anakku." Russell mengulangi ucapannya sambil berlinangan air mata.
" AYAAAHHHHH....!!!" tangis Dewa pecah. Semua rasa rindu, benci dan kecewa yang telah menumpuk selama 27 tahun kini luruh sudah tersapu dengan derasnya air mata yang terus mengalir.
" Ayah.... Ayah...." isak Dewa dalam dekapan ayah kandungnya. Sosok yang telah ia nantikan kehadirannya seumur hidup kini tengah berada dalam pelukannya dan memanggilnya dengan sebutan anak. Sungguh hal yang sangat membahagiakan dan tidak terduga.
" Anakku... Anakku... Kamu anakku.... Anakku." isak Russell.
Kedua lelaki beda umur itu saling mengeratkan dekapan dengan dipenuhi isakan dan air mata. Seorang anak yang merindukan sosok seorang ayah, dan seorang lelaki yang sangat mendamba kehadiran seorang anak dalam hidupnya akhirnya kini mereka berdua bisa saling berpelukan mencurahkan semua perasaan mereka.
" Berhentilah menangis, hapus air matamu. Kamu terlihat jelek saat menangis." Russell mengurai pelukannya.
" Bagaimana dengan dirimu sendiri Pak Tua? Kamu terlihat lebih jelek dariku."
" Pak Tua????"
__ADS_1
" Kamu memanggilku Pak Tua? Dimana sopan santunmu saat kemarin kamu memanggilku tuan?"
" Ha ha ha......" mereka tertawa bersama.