Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Semangat Baru


__ADS_3

Sesuai janji kepada mama mertuanya, kini Hana tengah berji baku di dapur untuk menyiapkan makan malam ala ala orang Jawa, mie dengan nasi. Sebuah menu yang dianggap tidak lazim oleh Aleena itu sedang dimasak oleh Hana dengan sepenuh hati. Meskipun biasanya dianggap sebagai menu yang kurang sehat karena komposisi gizi yang tidak seimbang yang hanya dipenuhi oleh karbohidrat saja, namun Hana berusaha keras agar makanan yang ia masak tetap memiliki gizi yang lumayan dengan membuat sendiri mie yang akan ia olah. Ia mencampurkan beberapa sayuran yang telah dihaluskan ke dalam adonan untuk membuat mie. Setelah mie selesai dibuat, barulah Hana memasaknya menjadi mie goreng lengkap dengan sayuran hijau sebagai pelengkap. Dan tidak ketinggalan nasi putih sebagai bahan utama makan malam mereka.



" Selamat dinikmati, makanan yang hanya ada di pulau Jawa. Mie goreng dan nasi putih. Mari kita makan." Hana dengan semangat empat lima membagikan nasi putih dan mie goreng hasil olahannya sebagai lauk di masing masing piring yang ada di meja makan.


" Honey ini serius nasi putih dimakan dengan mie goreng? Bukankah keduanya sama sama sumber kabohidrat?" Aleena tampak ragu untuk memasukkan makanan di piring ke dalam mulutnya.


" Percayalah padaku Ma. Ini akan terasa nikmat. Dan jangan khawatir, aku telah sedikit mengkreasikan mie ini dengan beberapa sayuran agar lebih sehat. Kalau biasanya sich pakai mie instan, tapi karena ini khusus untuk mama mertua tersayang makanya aku membuat mienya sendiri. Ayo cobalah Ma, aku jamin pasti enak." ucap Hana dengan yakin.


" Baiklah kalau kamu berkata seperti itu." Aleena mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dengan sedikit ragu ia mulai mengunyah dan mengecap perpaduan mie dan nasi putih.


" Bagaimana? Lumayan enak bukan?" tanya Hana tidak sabar menunggu reaksi mama mertuanya.


" Its not bad." ucap Aleena datar.


Wajah Hana tampak kecewa mendengar jawaban Aleena.


" Aku bercanda Honey. Ini sangat lezat." Aleena menyuapkan kembali makanan itu ke dalam mulutnya.


" Ah, syukurlah." Hana bernapas lega.


" Apa benaran enak Sayang?" bisik Russell ke arah istrinya.

__ADS_1


" Tentu saja. Ini cobalah, jangan ragu." Aleena menyuapi suaminya dengan satu sendok penuh mie dan nasi putih.


Russell mulai mengunyah makanan di dalam mulutnya. Dan dalam sekejap matanya tampak berbinar.


" Kamu benar makanan ini terasa lezat. Meskipun dulu aku pernah tinggal di Indonesia tapi aku belum pernah mencoba makanan seperti ini." puji Russell tanpa menghentikan aktivitas makannya. Seakan ia melupakan adab makan yang melarang berbicara saat mulut terisi makanan.


" Syukurlah kalau Papa mertua juga menyukainya. Makanan seperti ini memang tidak ada di restoran Pa. Hanya ada di rumah atau kost kostan saat mode pengiritan, ha ha ha."


" Mode pengiritan?" tanya Russell penasaran.


" Iya, biasanya anak anak kost sering memasak seperti ini di tanggal tua. He he he." kekeh Hana.


" Benarkah? Tapi ini beneran enak Honey. Lain kali kamu harus membuat masakan seperti ini lagi." pinta Aleena.


Mereka berempat tampak lahap menikmati makanan yang ada di atas meja makan. Bahkan mereka sempat menambah beberapa kali sampai makanan itu tandas tidak tersisa. Mungkin ini adalah makan malam terlezat yang pernah Aleena dan Russell nikmati selama tinggal di desa Giethoorn. Bukan hanya karena rasa makanan saja yang membuat makan malam mereka terasa lezat tapi karena kehadiran Hana dan Dewa yang membawa banyak kasih dan cinta. Mereka merasa sebagai sebuah keluarga seutuhnya.


" Hari ini aku merasa seperti menemukan semangat hidup lagi Sayang. Meskipun sejenak tapi kehadiran Hana dan Dewa memberi kebahagiaan yang teramat. Mungkin ini semua adalah rencana Tuhan dengan menghadirkan mereka di akhir usiaku. Mereka seperti kado natal yang dipersiapkan Tuhan." ucap Hana sembari bersender di bahu suaminya.


" Ya kamu benar Sayang, kehadiran mereka memang seperti kado natal terindah untuk kita. Kamu tidak kecewa dengan diriku kan Sayang karena memiliki anak dengan wanita lain?" dengus Russell sambil mengecup pucuk kepala Aleena.


" Tentu saja tidak, aku justru merasa sangat bahagia karena akhirnya kamu mempunyai seorang keturunan. Tuhan mendengar semua doa doaku. Setidaknya jika kelak aku tiada kamu masih punya penyemangat hidup. Asal kamu tahu selama ini aku selalu bersedih jika memikirkan dirimu akan sendirian setelah kepergianku. Tapi kini aku sedikit merasa lega karena akan ada Dewa dan Hana di hidupmu. Di sisi lain salahkah aku jika aku menjadi serakah dengan menginginkan umur yang lebih panjang agar kelak aku masih bisa menikmati kebahagiaan sebagai orang tua bersama mereka. Hiks hiks, selama ini aku selalu tidak rela jika harus meninggalkan dirimu sendirian di dunia ini. Tapi kini setelah tahu kamu kelak tidak akan sendirian, kenapa malah tambah tidak rela untuk meninggalkan dunia ini. Aku masih ingin hidup lama Sayang, aku belum ingin mati. Hiks hiks hiks." Aleena terisak dalam pelukan suaminya.


" Kamu akan baik baik saja Sayang. Kita akan mencari pengobatan terbaik dan kelak kita akan menghabiskan masa tua kita bersama mereka dan anak anak mereka." Russell mengeratkan dekapannya.

__ADS_1


" Ya, aku akan baik baik saja. Mulai sekarang aku akan menerima semua pengobatan yang terbaik untukku. Aku pasti akan baik baik saja kan Sayang? Kelak kita akan bermain bersama cucu cucu kita yang lucu." tutur Aleena yang selama ini memang enggam menjalani pengobatan di rumah sakit terbaik dan lebih senang menjalani hari harinya di desa ini seakan mencari ketenangan di sisa umurnya Tapi kini semangat hidupnya tiba tiba bangkit kembali, ada keinginan untuk bisa memeluk dan bermain dengan cucu cucunya kelak.


" Ya, aku akan mencarikan pengobatan terbaik untuk dirimu. Kita akan menua bersama cucu cucu kita."


" Terima kasih Sayang, kamu memang suami yang sangat baik. Dan maaf ya karena selama ini aku sering menyia nyiakan pengobatan yang engkau usahakan." dengus Aleena.


" Syukurlah kalau kamu sadar. Kelak kamu harus lebih bersemangat dalam menjalani pengobatan."


" Baiklah suamiku tersayang."


" Oh ya, bisakah kamu menahan Hana dan Dewa agar di sini lebih lama? Aku ingin melewati lebih banyak waktu bersama mereka. Mereka membuat tiap moment menjadi lebih berwarna dan bahagia. Entah kamu sadar atau tidak tapi berkat mereka aku melihat tawa bahagia di wajah suamiku yang biasanya terlihat kaku ini. Bahkan aku hampir lupa kapan kamu bisa tertawa lepas seperti tadi."


" Kamu benar, aku sendiri juga sudah lupa kapan aku tertawa lepas seperti tadi. Dewa dan Hana memang luar biasa karena belum genap sehari bersama saja sudah memberi kita kabahagiaan yang melimpah di rumah ini. Tidak kebayang jika kita bisa bersama mereka selamanya. Tapi kita juga tidak boleh egois Sayang karena biar bagaimana pun mereka juga pasti punya kehidupan dan pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan sesuka hati."


" Berikan saja perusahaanmu kepada Dewa. Bukankah dia adalah satu satunya keturunanmu jadi sudah seharusnya kalau dia menjadi penerusmu." usul Aleena.


" Aku juga berfikir seperti itu Sayang. Tapi jika dilihat dari sifat Hana dan Dewa sepertinya mereka tidak akan mau jika kita tiba tiba serta merta menyerahkan perusahaan kepada mereka. Kita harus melakukannya secara bertahap. Dan diam diam menjadi bayangan yang akan membantu dan menjaga mereka."


" Kamu benar Sayang. Kamu memang terbaik." Aleena mengecup pipi suaminya.


" Sudahlah, ayo kita tidur. Kamu harus cukup istirahat untuk menyambut hari esok yang penuh dengan kebahagiaan."


" Baiklah. Aku tidak sabar menanti esok. Tingkah mereka penuh dengan kejutan yang menghibur. Bersama mereka aku merasa seperti kembali muda." Aleena mulai mengatur posisinya dan memejamkan mata untuk menyambut dunia mimpinya.

__ADS_1


" Nice dream my love." Russell mencium kening istrinya dengan lembut.


__ADS_2