Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Bioskop part 1


__ADS_3

Sepulang sekolah, Hana mengistirahatkan tubuhnya. Ia merebahkan dirinya di kasur tanpa melepas seragam sekolahnya.


"Ya Allah anak gadis ibu jorok banget, enggak ganti baju malah langsung rebahan." tegur ibu Hana yang masuk ke dalam kamar Hana.


"He he he, nanggung Bu bentar lagi juga mandi. Temanku ada yang ngajakin cari buku sekalian nonton bioskop Bu"


"Siapa ? Cewek apa cowok ?" selidik ibu.


"Cewek Bu, si Laura. Tapi kayaknya ntar juga ada si Yusuf. Boleh kan Bu?" Hana bangkit dari tidurnya dan memeluk tubuh ibunya yang tengah duduk di tepi kasur.


" Iya, tapi pulangnya jangan malam malam lho.."


"Siap Bu Komandan..!" Hana melepaskan pelukanya dan meletakkan tangannya di dahi seperti gerakan hormat saat upacara.


" Sama Rayhan juga?"


" Enggak lah Bu, memangnya Kak Rayhan siapa Hana?" sanggah Hana dengan cepat.


" Ya kirain, Rayhan baik loh Han. Ganteng sopan lagi. Ibu sih boleh boleh aja kalau kamu jalan ma dia." Ibu Hana tersenyum menggoda anaknya.


" Apaan sih Bu, seharusnya Ibu nasehatin aku supaya jangan pacaran dulu, belajar yang bener enggak usah pacaran."


" Anak sekarang kalau dilarang kan malah semakin dilanggar, jadi Ibu ngebebasin kamu supaya bisa menikmati masa SMA kamu, masa SMA masa paling indah lo Han. Biasanya di bangku SMA kita mulai menemukan cinta pertama. Jadi nikmati aja asal enggak melanggar aturan agama dan hukum. Ibu kan bukan orang tua yang kolot. Dan ngomong ngomong Rayhan terlihat cocok ma kamu, Ibu ketemu sekali aja langsung suka." Ibu Hana tersenyum menatap Hana.


" Kalau Ibu suka ya udah Ibu aja sana yang pacaran ma Kak Rayhan, entar aku bilangin ma Ayah kalau Ibu mau nyari berondong, trus entar ayah biar cari daun muda, he,he,he." canda Hana.


" Dasar anak enggak ada akhlak, masak emaknya mau dijodohin ma brondong, terus tuanku Hasanudin mau dicariin daun muda. Bener bener ni anak, ibu kutuk kamu jadi panci baru tahu rasa, biar tiap hari dipanggang di kompor?" timpal Ibu Hana.


"Ha ha ha , masak jadi panci, gosong dong Bu."


" Ha ha ha, biar tau rasa ntar sekalian dibuat sinetron azab, Akibat Durhaka Dengan Ibu Berubah Menjadi Panci Gosong. Ha ha ha ha... Sudah cepat mandi, bau asem tau." Ibu Hana meninggalkan kamar Hana.


Hana dan ibunya memang sangat akrab. Selain sebagai ibu, dia juga merangkap sebagai sahabat Hana. Tak jarang mereka bercanda bahkan saling menggoda layaknya seorang teman seumuran.


Setelah setengah jam, Hana sudah tampil cantik dan wangi. Tak ada riasan di wajahnya, hanya sedikit sapuan bedak tipis dan pelembab bibir saja.


Hana terlihat cantik dan segar, rambut dikucir kuda memakai kaos kasual berwarna putih dan celana jeans navy selutut. Dipadukan dengan sepatu kets putih dan jaket berbahan jeans. Memang jauh dari kata feminim , tapi tak mengurangi kecantikannya.


Setelah menunggu 10 menit, akhirnya Laura tiba di rumah Hana.


Laura memarkirkan motornya asal di depan rumah Hana.


" Assalamualaikum."

__ADS_1


" Waalaikumsalam, masuk dulu Ra", Ibu membuka pintu.


"Hana sudah siap Tante?"Laura menyalami Ibu Hana.


"Sudah siap dari tadi, sampe jamuran nunggu. By the way mana Yusuf?" Hana nyelonong dari kamarnya sambil mengerucutkan mulutnya.


" Yaelah, cuma telat 10 menit doang, biasanya juga loe yang molor kalau janjian. Yusuf enggak jadi ikut katanya kalau cuma bertiga ma kita kesannya kayak jadi tukang becak secara kita asyik berdua dia jalan di belakang sendirian." jawab Laura.


Ibu Hana hanya tersenyum dan geleng geleng kepala.


"Ya sudah ayo langsung cuss biar enggak kesorean," ajak Hana.


" Kami berangkat sekarang ya Tan, Assalamualaikum." pamit Laura ke Ibu Hana.


" Waalaikumsalam"


Hana juga berpamitan dan mencium tangan Ibunya.


" Hati hati jangan ngebut." teriak Ibu.


"Siap komandan." Hana melambaikan tangan dan diakhiri dengan gerakan kiss bay.


Mereka meluncur menunggangi matic putih milik Laura, memecah keramaian jalanan. Dengan lihai Hana mengendalikan motor itu, meliuk, berbelok, menukik, dan melaju dengan kencang.


"Awww... sakit tau Ra." teriak Hana saat Laura mencubitnya karena Hana mengendarai si putih bak seorang pembalap.


"Pelan sedikit, gue takut. Lagian kayak ngejar maling saja." protes Laura.


"Yaelah kayak nenek nenek saja loe kalau dibonceng banyak komentar." Hana tak menghiraukan ocehan Laura, bahkan ia tambah melajukan motornya dengan kencang.


Perjalanan yang biasa memakan waktu 1 jam hanya mereka tempuh kurang dari setengah jam. Mereka sampai di sebuah mall Xx yang di dalamnya terdapat toko buku dan sekaligus bioskop.


"Huffff untung jantung gue enggak loncat keluar, tau kayak tadi mending gue yang nyetirin si putih. Loe enggak apa apa kan putih...?" Laura mengelus jok motornya seolah olah menenangkan si motor.


" Halah lebay loe Ra, kalau loe yang nyetir sampai sini entar keburu subuh. Lagian kita sampai sini enggak kurang apapun kan ? Loe juga masih sehat dan lengkap owk." dalih Hana.


"Maksud loe? Wah emang terlalu loe Han." celoteh Laura.


" Udah ayo cepat masuk, mau sampai kapan loe ngeluh disitu." Hana melenggang menuju toko buku.


"Tungguin dong Han..." Laura bergegas mensejajarkan langkahnya dengan Hana.


Hana dan Laura sibuk mencari buku Fisika yang sesuai dengan perintah bu Rita. Setelah mendapat buku yang dimaksud mereka pun membayarnya di kasir. Mereka melanjutkan langkahnya ke arah bioskop untuk menonton film aksi kesukaan Hana, kebetulan ada pemutaran sekuel film Fast and Furious terbaru.

__ADS_1


" Yakin mau nonton film ini Han? Apa enggak lebih bagus film yang romantis gitu?" keluh Laura.


" Loe kebanyakan nonton film romantis, makanya suka baperan, trus kebanyakan ngayal. Mending ini film kebut kebutan, mantab tau Ra, ntar bisa dicontoh saat di jalanan, he he he ." gurau Hana.


Tiba tiba ponsel Laura berdering.


" Mama." gumam Laura setelah melihat layar ponselnya.


" Bentar ya Han, nyokap gue ni." Laura menjawab panggilaan.


Setelah menjawab panggilan ponselnya, raut wajah Laura berubah sedikit muram.


" Han sorry, kayaknya kita harus pulang sekarang deh. Tadi nyokap gue telpon katanya paman gue dateng ma sepupu gue dan sekarang gue harus pulang buat nemenin mereka. Gue anterin loe pulang dulu trus pulang ke rumah ya." jelas Laura.


"Enggak usah Ra, mending sekarang loe langsung pulang aja, kalau nganterin gue pulang malah kelamaan. Ntar gue pulang sendiri, lagian ini juga sudah terlanjur beli tiket masuk, sayang kan kalau enggak jadi nonton? Loe kan tau kalau gue suka banget sama film ini. "


" Tapi ntar loe sendirian dong, gue enggak enak Han kan gue yang ajakin loe keluar." Laura menatap Hana dengan wajah mengiba.


" Sudah enggak apa apa, buruan pulang sono! Ntar gue gampang, gue bisa minta ditemenin Yusuf, Rizal, atau Agung, kita kan sefrekuensi getol banget sama film ini. He he he" Jelas Hana.


" Gue pulang dulu ya, sekali lagi sorry. Loe beneran enggak mau sekalian pulang?"


" Udah sono cepetan pulang, gue mau nonton film kesukaan gue. Hati hati di jalan ya..." pinta Hana yang merasa enggak enak karena Laura justru menghawatirkan dirinya.


" Ya sudah gue pulang duluan ya, jaga diri baik baik." Laura memeluk Hana.


" Iya Laura sayang,,,, sudah ah enggak usah lebay kayak emak emak mau ninggalin rumah saja, he he he." canda Hana.


Dengan berat hati akhirnya Laura pergi meninggalkan Hana sendirian di bioskop.


Hana berjalan ke pintu masuk dengan lesu.


" Yach sendirian, sayang tiketnya masih sisa satu dong. Apa gue ajakin Yusuf saja ya?" dengus Hana memandangi tiket di tangannya.


Tiba tiba ada seseorang yang merebut tiket di tangannya.


" Gue temenin."


_____________


Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan untuk semua pembaca mangatoon/ noveltoon yang menjalankan. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah untuk kita semua, kita bisa menjadi hamba dan pribadi yang lebih baik.. Amin


Mohon dukungannya ya para pembaca yang budiman. Silakan beri jempol jika berkenan...terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2