Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Siap Boss


__ADS_3

" Dari mana kamu? Pagi pagi baru pulang?!" tanya Hana dengan berkacak pinggang. Wajahnya terlihat marah dan mengintimidasi. Yusuf berjalan mendekat perlahan ke arah Hana sambil menyunggingkan senyum penuh paksaan dan tekanan. Ia sudah seperti anak kecil yang siap untuk diomeli sang ibu karena pulang terlambat keasyikan main di luar.


Hana menatap Yusuf dengan tajam seakan burung elang yang siap menerkam mangsanya. Sedangkan Dewa terlihat duduk tenang mengotak atik ponsel sembari sesekali menyesap minuman di cangkirnya.


" He he, pagi Hana. Aku dari itu, em... anu......"


" Enggak ada itu anu... Kemana kamu semalaman enggak pulang?! Dan apa ini? Kamu habis mabuk ya?" hidung Hana menangkap aroma alkohol dari tubuh Yusuf.


Aduh sialan, tadi buru buru pulang sampai lupa mandi dulu. Bego banget sih..... Aku harus cari alasan. Aku enggak boleh ngomong kalau semalam habis minum bersama dokter Raisa.


" Aku enggak mabuk kok Han, cuma semalam habis minum sedikit bareng teman."


Hana menyipitkan matanya, " Teman? Siapa.....?".


" Emmmmm, teman SMA dulu." jawab Yusuf sekenanya.


" Siapa???!"


" Rizal." entah kenapa malah nama itu yang keluar dari mulut Yusuf.


" Rizal??? Kamu yakin?"


" Tentu saja..... Semalam aku ketemu dia terus kami jalan sebentar." kilah Yusuf.


"Rizal kepalamu..!" Hana menonyor jidad Yusuf dengan keras.


" Kamu lupa ya? Kalau Rizal sekarang ini sudah menjadi seorang kyai dengan tiga istri. Jadi dia enggak mungkin keluar malam hanya untuk mabuk bersama kamu."


Mampus...... Kenapa aku malah lupa kalau Rizal sekarang menjadi seorang kyai.


" Itu beneran Rizal, tapi bukan Rizal sahabat kita. Rizal yang satunya."


" Enggak usah bohong. Cepat ngaku sebenarnya kamu semalam habis minum sama siapa?!" sorot mata Hana kian menajam.


Yusuf menelan ludah. Ia menatap Dewa dengan tatapan memelas berharap lelaki yang telah menjadi saudara serta bosnya itu mau membantunya keluar dari amukan Hana. Namun alih alih membantu, Dewa malah tersenyum penuh ejekan.


" Aku sedang ngomong sama kamu, enggak usah mengalihkan pandangan. Kamu keterlaluan Suf, bisa bisanya semalaman enggak pulang malah mabuk mabukan. Dan lihat mukamu itu? Mengapa bibirmu jadi nyonor seperti itu? Bagaimana nanti jika ayah dan ibu tahu? Apa yang harus aku katakan?"

__ADS_1


" Aku enggak mabuk Han, suerrrr. Aku cuma minum sedikit."


" Minum sedikit??? Lalu apa bedanya?" Hana menjewer telinga Yusuf.


" Aduh sakit Han, maaf aku mengaku salah. Aku janji enggak bakalan mengulangi. Lagian lama lama kamu sudah seperti emak emak galak yang ngawasin anak perawannya saja." rintih Yusuf sambil memegangi telinganya yang memerah.


" Apa kamu bilang? Aku seperti emak emak galak? Kamu keterlaluan Suf, meskipun kita seumuran dan sahabatan tapi di sini aku dan Dewa menjadi walimu. Menggantikan posisi ayah dan ibu untuk mengawasimu. Dan kamu mengataiku seperti emak emak galak?!" Hana bersiap untuk memukul sahabat dan sekaligus adik iparnya itu. Namun dengan gesit Yusuf menghindarinya.


" Sayang sudahlah. Kasihan baby kita. Enggak baik buat baby lho kalau kamu marah marah kayak gini. Sudah ya marahnya, mendingan kamu lihat Mbok Mira sudah selesai belum nyiapin sarapannya. Masalah Yusuf biar aku yang lanjutin. Aku janji bakalan buat dia kapok." Dewa mengelus perut Hana.


" Huft...... Baiklah." Hana menghela napas kasar.


" Pastikan Yusuf kapok dengan ulahnya." bisik Hana kemudian melenggang masuk ke dalam rumah.


" Huhhhhhh, syukurlah." Yusuf bernapas lega.


Tanpa permisi Yusuf menyeruput minuman di cangkir Dewa.


" Leganya......."


" Heh itu minumanku, kenapa kamu minum? Siapa yang memberimu ijin?" geram Dewa.


Dewa hanya berdecak dan menatap Yusuf dengan malas.


" Ngomong ngomong semalam kamu dan dokter Raisa melakukan berapa ronde?"


" Uhuk uhuk....." Yusuf tersedak seketika mendengar pertanyaan Dewa.


" Apa maksudmu?"


" Sudahlah tidak perlu kaget seperti itu. Dan berhenti berkilah kepadaku. Aku tahu kamu semalam minum dan menginap bersama Dokter Raisa. Bahkan aku juga tahu hotel dan nomor kamar tempat kalian menginap." ucap Dewa dengan santai.


" Ah, aku hampir lupa kalau ada banyak pengawas di sini." dengus Yusuf.


" Jadi berapa ronde?" Dewa mengulangi pertanyaannya.


" Apanya yang berapa ronde? Semalam tidak terjadi apa apa di antara kami."

__ADS_1


" Seriously? Lalu mengapa bibirmu sampai bengkak seperti itu? Jangan bilang bahwa semalam dokter Raisa yang terlalu agresif." goda Dewa.


" Hentikan pikiran kotormu. Aku tegaskan sekali lagi bahwa tidak terjadi apa apa antara aku dan Dokter Raisa. Dan mengenai bibirku, ini terantuk lantai karena jatuh dari tempat tidur."


" Ha ha benarkah? Kamu serius? Kamu menginap bersama seorang wanita cantik di hotel dan kamu malah berciuman dengan lantai?! Ckckck, kamu masih normal kan Suf? Atau jangan jangan juniormu tidak bisa berfungsi dengan baik ya.....?" ejek Dewa.


" What??!! Sembarangan kalau ngomong. Milikku masih berfungsi dengan sangat baik. Dan meskipun sekali aku sudah pernah melakukannya." Yusuf menutup mulutnya karena merasa keceplosan.


" Wah, ternyata lelaki jomblo satu ini sudah melepas keperjakaannya. Ha ha ha. Aku harus segera memberitahu ayah dan ibu agar kamu segera dinikahkan. Siapa wanita itu? Ayo cepat beritahu aku siapa wanita yang telah berhasil merenggut keperjakaanmu? Siapa dia? Siapa?" desak Dewa.


" Aish, sejak kapan kamu jadi kepo seperti ini? Bukankah dulu kamu orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain? Kenapa sekarang berubah seperti ini. Pengaruh Hana memang benar benar kuat. Kamu telah berubah seperti dirinya."


" Hey, jangan mengatai istriku ya. Kamu lupa kalau dia adalah wanita paling berharga di hidupku."


" Ah sudahlah aku mau mandi." Yusuf beranjak hendak pergi.


" Ya segeralah mandi dan bersiap ke kantor."


" Kantor? Kamu lupa kalau hari ini libur?" Yusuf menghentikan langkahnya.


" Libur? Maaf ya Suf dalam satu bulan ini jatah libur untuk dirimu di-ti-a-da-kan." ucap Dewa dengan penuh penekanan sembari tersenyum devil.


" Hey apa maksudmu? Mana bisa seperti itu?" protes Yusuf.


" Tentu saja bisa. Kamu lupa kalau Bos selalu bisa?! Dan di sini akulah bosnya, he he."


" Kamu_"


" Atau kamu mau aku mengadukan dirimu ke ayah dan ibu? Sepertinya mereka akan dengan senang hati menyelenggarakan pesta pernikahan untuk dirimu." ancam Dewa.


" Ya ya baiklah. Aku terima. Kurelakan jatah liburku dalam satu bulan ini. Hufff, like father like son. Dasar diktator." dengus Yusuf.


" Kamu bilang apa?" Dewa memicingkan matanya.


" Ya kamu bosnya. Kamu menang."


" Good boy. Sudah cepat mandi sana. Aku dan Hana akan menunggumu di meja makan. Jangan membuat kami menunggu terlalu lama atau nanti Hana akan ngomel lagi."

__ADS_1


" Oke seperti ucapanmu Bos, perintah dilaksanakan. He he." ujar Yusuf sambil berlalu.


__ADS_2