Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Tamu Agung


__ADS_3

Mata Dewa dan Yusuf terbelalak saat memasuki ruang keluarga. Berbagai macam jajanan tradisional telah tersusun rapi di atas meja yang seharusnya bukanlah sebuah meja makan.



" Ada acara apa? Kenapa ada banyak makanan seperti ini?" bisik Yusuf ke arah Dewa.


" Entahlah aku juga tidak tahu. Mungkin ada acara arisan. Tapi Hana tidak pernah cerita kalau dia ikut arisan ibu ibu." jawab Dewa dengan mengerdikan bahu.


Keduanya dibuat semakin terbelalak saat ayahnya muncul dari dalam dengan membawa sebuah nampan besar yang juga dipenuhi oleh jajanan tradisional yang terbuat dari agar agar maupun tepung hongkue.


" Ayah sebenarnya ada apa? Mengapa banyak jajanan seperti ini?" tanya Dewa sembari membantu ayahnya meletakkan nampan besar itu.



" Ayah juga tidak tahu. Begitu masuk rumah langsung disodori nampan ini agar segera dibawa ke ruang tengah." tutur ayah Yusuf yang memang tidak tahu menahu mengenai rencana kedua wanita cantik yang saat ini masih berjibaku di dalam dapur. Setiba di rumah Anton bergegas memasuki rumah terlebih dahulu meninggalkan Dewa dan Yusuf di dalam mobil tapi bukannya dapat sambutan hangat dari sang istri malah langsung diminta untuk membantu membawa nampan yang penuh dengan makanan manis tradisional.


Mereka bertiga saling pandang.


" Apa mungkin ada syukuran atau arisan?" tanya ayah Yusuf.


" Entahlah. Hana dan Ibu tidak bicara apa apa tentang itu. Sudahlah biar aku tanya langsung kepada Ibu. Ibu ada dimana?"


" Di dapur. Oh ya tolong sekalian suruh Mbok Mira untuk mengantarkan minum ke sini." pinta ayah Yusuf.


" Aku sekalian es teh ya. He he." imbuh Yusuf.


" Ck, kamu kira aku pelayan kafe. Kamu ambil sendiri sekalian ambilkan untuk Ayah." seru Dewa.


" Huffft menyebalkan. Tidak bisakah sekali kali aku mendapat pelayanan di sini." gerutu Yusuf yang berjalan mengekor di belakang Dewa ke arah dapur.


" Ibu sebenarnya ada apa ini? Mengapa _" mulut Dewa ternganga melihat keadaan dapur yang juga dipenuhi oleh berbagai jajanan tradisional.



" Sayang kamu sudah pulang. Tolong kamu bawa ini ke ruang tengah ya."


" Oh kamu juga ya Yusuf. Bawakan ini ke ruang tengah." pinta Rani.



" Ibu apa apaan ini. Kenapa ada banyak makanan seperti ini? Apa akan ada acara arisan atau syukuran?" tanya Dewa.


" He he bukan seperti itu. Tidak ada arisan ataupun syukuran. Ini semua adalah..." Rani tidak melanjutkan ucapannya malah menggaruk pelipisnya yang tiba tiba saja terasa gatal.

__ADS_1


" Ini semua adalah buatan kami berdua." ucap ibu Hana dengan semangat.


" Sebanyak ini?" tanya Yusuf.


" He he sebenarnya tadi kami tidak mengira akan jadi sebanyak ini. Aku hanya meminta Mbak Dina untuk mengajariku membuat beberapa jajanan tradisional. Tapi karena kami terlalu bersemangat dan keasyikan malah jadi sebanyak ini. Jadi sekalian kami susun menjadi seperti ini."


" Lalu sebanyak ini siapa yang akan makan Bu?" protes Dewa.


" Tentu saja kalian. Kami kan sudah capek membuat ini semua dari tadi pagi. Jadi kini giliran kalian untuk menghabiskannya." tutur ibu Hana dengan entengnya.


" Sudahlah cepat bawa jajanan ini ke depan. Aku masih harus memasak untuk makan malam nanti."


" Ibu masih ingin memasak lagi? Lalu semua makanan ini bagaimana?" cegah Dewa.


" Dewa sayang..... Itu semua kan jajanan. Ibu belum menyiapkan lauk untuk makan malam. Kamu lupa ya kalau sebanyak apa pun makan selama belum makan nasi maka belum dihitung makan. Sudahlah cepat bawa ke depan, Mbok Mira sedang menyiapkan minuman untuk kalian."


" Benar sayang. Kalian keluar lah dahulu. Jangan mengganggu kami di dapur. Biarkan kami memasak makanan yang lezat untuk kalian. Dan ngomong ngomong sebaiknya kalian ganti baju terlebih dahulu." imbuh Rani.


Dewa dan Yusuf hanya bisa mengiyakan ucapan kedua wanita itu. Mereka terpaksa berlalu meninggalkan dapur dengan membawa beban berat di kedua tangannya.


Selang beberapa saat ayah Hana datang dengan membawa sebuah kardus besar berisi berbagai macam kue dari toko roti milik keluarganya. Tadi pagi istrinya sempat berpesan agar sepulang kerja untuk mampir ke toko roti dan segera bergegas ke rumah menantunya untuk makan malam bersama. Namun siapa sangka jika saat ini sudah ada begitu banyak jajanan tradisional hasil olahan dari tangan dinginnya bersama dengan besan cantiknya.


" Pak Hasan, selamat datang." sapa ayah Yusuf menghampiri ayah Hana.


" Pak Anton, bagaimana kabar Anda?" ayah Hana menjabat tangan besannya.


" Terima kasih." ayah Hana duduk di sofa bersebelahan dengan ayah Yusuf.


" Ngomong ngomong ada apa ini? Kenapa ada banyak jajanan seperti ini? Apa ada arisan atau syukuran?"


" Tidak Ayah, ini semua buatan Ibu dan Ibu mertua. Mereka terlalu bersemangat memasak. Bahkan kini mereka masih memasak lagi." Dewa muncul dengan penampilan yang jauh lebih segar. Dia menghampiri ayah mertuanya dan menjabat tangannya.


Ini semua? Lalu kenapa tadi ibu menyuruhku untuk membawa banyak kue dari toko roti? Hah.....


" Kalau begitu kamu temani ayah mertuamu dulu ya Dewa. Ayah ingin membersihkan badan dulu." ayah Yusuf beranjak untuk segera mandi.


" Pak Hasan, saya tinggal dulu sebentar ya. Silahkan berbincang dengan Dewa."


" Oh ya silahkan Pak Anton."


"Ngomong ngomong apa itu Ayah?" Dewa menunjuk kardus yang tadi dibawa oleh ayah mertuanya.


" Owh, ini kue dari toko roti kita. Sepertinya hari ini kita benar benar akan mukbang kue dan jajanan tradisional." kekeh ayah Hana.

__ADS_1


" Ayah benar. Hari ini kita akan mukbang ini semua. He he."


" Om, kapan datang?" tanya Yusuf sembari mencium tangan ayah Hana.


" Baru saja Nak. Bagaimana kabarmu, semua baik baik saja kan?" balas ayah Hana.


" Semua baik Om."


" Oh ya Dewa, dimana Hana?"


" Deg....!!!" Dewa bari menyadari bahwa dari tadi ia belum melihat sosok istrinya.


Ayah benar, dimana Hana? Dari tadi aku belum melihatnya. Bukankah biasanya jam segini Hana sudah ada di rumah? Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan rumah ini.


" Dewa...?" panggilan ayah Hana mengembalikan Dewa ke alam sadarnya.


" Iya Ayah. Aku akan menelponnya dulu. Tidak biasanya jam segini Hana belum pulang ke rumah." Dewa mulai mencoba menghubungi no ponsel istri tercintanya.


"Tuuutt...tuuutt...tuuutt...." panggilan Dewa terhubung namun tidak ada jawaban. Dewa mencoba menghubungi istrinya kembali sampai beberapa kali namun hasilnya masih tetap sama tidak ada balasan.


Kemana Hana? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku. Semoga dia baik baik saja, tidak biasanya dia seperti ini. Ya Allah lindungilah selalu istriku di mana saja di berada.


" Bagaimana Wa?" tanya ayah Hana mulai cemas.


" Enggak ada jawaban Ayah."


" Sebaiknya kamu coba hubungi pihak sekolah. Aku akan mencoba menghubungi Laura siapa tahu dia sedang bersamanya." usul Yusuf.


" Baiklah."


" Mas Dewa... Mas Dewa..." teriak Pak Solih lari tergopoh dari depan rumah.


" Ada apa Pak Solih? Kenapa lari seperti ini?" tanya Dewa heran dengan perilaku penjaga rumahnya.


" Di depan ada banyak orang Mas. Ada banyak lelaki berjas hitam turun dari mobil mewah. Me-" ucap Pak Solih terpotong oleh kehadiran seorang laki laki di dekatnya.


" Hey my son. Bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu dengan suara yang berat.


" Papa?!!!" seru Dewa dengan mata terbelalak. Ia sungguh tidak menyangka ayah kandungnya itu akan hadir di depannya.


" Hey Sayang." sapa seorang wanita cantik berambut pirang berjalan anggun memasuki rumah sesaat setelah Russell.


" Mama Aleena?!!"

__ADS_1


" Assalamualaikum." ucap Hana saat memasuki pintu rumah dengan menggunakan sebuah kursi roda. Seorang wanita berpakaian perawat mendorong di belakangnya.


"Sayang...??!!! Are you okey?!!" seru Dewa beranjak menghampiri istrinya.


__ADS_2