Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Ini Cinta


__ADS_3

Aksi Dominic Toretto dan kawan kawannya telah berhasil menghipnotis para penonton. Hana tak henti memuji karakter yang dimainkan oleh aktor kawakan Vin Diesel itu. Hingga tak terasa film pun berakhir.


" Wow film yang sangat bagus, sayang sekali sudah selesai. Ayo kita pulang." Hana keceplosan mengajak Dewa pulang.


"Pulang? Bersama? Tentu, mengapa tidak?" Dewa tersenyum merekah.


"M m maksud gue, saatnya kita pulang ke rumah masing masing dan enggak perlu bersama." Hana mencoba meralat ucapannya.


Senyum Dewa tambah merekah, merasa sikap Hana sangat lucu dan polos.


" Ya udah gue pulang dulu." Hana bangkit dari kursi hendak melangkahkan kaki, namun sayang dia malah tersenggol seseorang hingga dia tidak bisa mempertahankan keseimbangannya.


"Brugh..!" tubuh Hana roboh.


"M ma maaf," wajah Hana memerah, menahan malu. Jantungnya seperti mau meledak berdetak tak karuan, terasa aliran darahnya terpompa semakin cepat. Paru parunya kembang kempis menyalurkan pasokan oksigen.


Mampus gue, gue jatuh di pangkuan Dewa. Busyet klise banget kayak adegan di sinetron aja. Serasa jadi pemeran utama, he he he. Sial kuk pikiran gue malah kayak gini, ada yang konslet deh kayaknya. Tapi tubuh Dewa kok terasa empuk banget ya.


" Loe enggak apa apakan?" Dewa mengulurkan tangan ke arah Hana, membuyarkan pikiran Hana yang melanglang kemana mana.


" Deg..."


Kalau Dewa di depan gue terus gue jatuh di pangkuan siapa?


Dengan cepat Hana mendongakkan kepala, menelisik si empunya wajah. Betapa terkejutnya Hana saat ia sadar bahwa ia jatuh dalam pangkuan seorang lelaki bertubuh gendut berkumis tebal.


" Enggak apa apa dek, mau duduk kayak gini terus juga saya siap." lelaki itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Menatap Hana dengan penuh arti.


"Ma maaf." Hana meraih tangan Dewa, berusaha berdiri secepat kilat.


" Mau kemana, kok buru buru?" tangan lelaki itu berusaha meraih tubuh Hana. Namun Dewa dengan sigap menepis tangan lelaki itu.


"Jangan kurang ajar, tangan loe mau ngapain?" Dewa menatap lelaki itu dengan tatapan penuh amarah, seakan ingin menerkamnya.


" Woi, santai coy. Siapa loe? Dia aja tadi minta pangku ke gue." lelaki itu memandang Hana sambil menyunggingkan bibirnya. Hana terlihat risih dengan tatapan dan senyuman lelaki itu.


Dada Dewa bergemuruh, seakan ada api yang membakar dalam rongga dadanya. Tubuhnya terasa bergetar. Tangannya sudah mengepal erat, namun ia masih berusaha untuk menahan amarahnya.


" Sini adek manis, sa-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, lelaki itu sudah dihadiahi bogem di mukanya hingga hidung dan bibirnya mengucurkan darah.


"Jangan kurang ajar loe ma cewek gue!" Dewa hendak melayangkan bogemnya lagi, tapi Hana memegangi tangannya dan menatapnya intens sambil menggelengkan kepala seakan memohon agar Dewa berhenti.


Lelaki itu terhuyung memegangi hidungnya.


" Sial awas loe ntar." ancamnya sambil berlalu keluar dari bioskop.


" Loe enggak apa apa kan?" Dewa menyentuh bahu Hana mencoba untuk menenangkan Hana yang terlihat shock.


" Mm? Oh, ya gue enggak apa apa,"


Dewa tadi bilang gue ceweknya? Gue cewek Dewa? Huff, jantung gue, oh tolong jangan cepat cepat dong berdetaknya, ntar kalau meledak gimana? Tunggu, tunggu dulu, sadar Hana, sadar. Gue enggak boleh GR. Dewa kan pacar Selvi. Ya, tadi pasti cuma buat nglindungin gue aja makanya dia ngomong kayak gitu.


Hana tersentak saat merasakan tangannya digenggam erat oleh seseorang. Hana menatap lekat tangannya yang berada dalam genggaman Dewa.


"Ayo pulang." Dewa menarik tangan Hana.


Maksud Dewa apaan sih, kalau kayak gini bisa GR lagi gue. Tenang, gue harus tenang gue enggak boleh berpikiran macam macam. Tapi jantung gue enggak bisa diajak kompromi, gimana kalau Dewa sampai dengar detak jantung gue yang udah kayak benderang ditabuh? Pasti malu banget gue. Dewa kan udah punya pacar.


" Gue bisa jalan sendiri." ucap Hana sembari berusaha melepas genggaman tangan Dewa.


"Udah ayo jalan, dari pada ntar loe jatuh di pangkuan orang lagi. Mau?" Dewa mengeratkan genggamannya dan menarik tangan Hana agar segera mengikuti langkahnya. Dewa berusaha keras untuk meredam suara detak jantungnya yang sedari tadi berdentum tak karuan.


Gila, gue bener bener gila. Gue belum pernah senervous ini saat jalan ma cewek. Dulu saat pertama kali ngelepas keperjakaan gue juga enggak gini gini amat. Gue harus bisa ngontrol diri gue biar enggak terlihat grogi.


Dengan terpaksa Hana hanya bisa menurut berjalan sambil berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih. Tanpa Hana sadari, Dewa menyunggingkan senyum.


Ya, bermula dengan menonton film action, terlibat aksi memukul kini berlanjut dengan adegan gandengan tangan yang romantis.


Mereka berjalan keluar dari bioskop tanpa berbicara. Berusaha mengontrol detak jantung dan pikiran masing masing.

__ADS_1


" Kita makan dulu ya?" Dewa memecah keheningan di antara mereka.


" Gue langsung pulang aja."


" Beneran? Ya udah gue antar."


" Gue bisa pulang sendiri." Hana berbicara dengan mantab.


Dewa menatap tajam Hana, entah mengapa Hana merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Hana menundukkan wajahnya semua kata penolakan yang akan ia lontarkan menguap entah kemana.


Tanpa bersuara Dewa melangkahkan kaki masih dengan menggandeng tangan Hana menuju parkiran motor.


"Ayo naik, jangan lupa pegangan yang erat biar enggak jatuh."


Tanpa penolakan dan bantahan, Hana menuruti semua perkataan Dewa. Tubuhnya dengan luwes duduk di belakang Dewa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dewa.


Motor sport hitam dengan sepasang anak manusia di atasnya itu pun melaju memecah jalanan. Motor melaju dengan tenang, dengan kecepatan rendah karena Dewa tak ingin buru buru mengakhiri kebersamaan mereka. Bahkan jika ia mempunyai kekuatan super ingin rasanya ia menghentikan perputaran waktu, seperti yang ada di cerita film maupun novel. Tapi sayang itu semua tak mungkin, jadi alih alih memperlambat atau menghentikan waktu yang dirasa mustahil, Dewa hanya bisa melambatkan laju motornya.


Tanpa bersuara, mereka hanyut dalam pikiran masing masing. Saling mencoba mengatur detak jantung dan nafas agar lebih terkendali.


" Kruyuuukk" suara perut mereka bersamaan, memecah lamunan dan keheningan di antara mereka.


"Ha ha ha ha" secara spontan mereka tertawa bersama.


Dewa menepikan motornya di dekat warung tenda di tepi jalan. Warung itu tampak sepi tak ada pengunjung.


" Kita makan dulu ya. Kasihan cacing di perut udah teriak teriak."


Hana mengangguk, karena menolak pun percuma perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Mereka duduk lesehan di tikar saling berhadapan.


"Mau makan apa?" tanya Dewa lembut.


" Terserah."


" Ya udah bebek aja, sambelnya yang pedes."


" Bang Sat nasi dan bebek goreng 2 sambelnya yang pedes, teh anget 2." teriak Dewa kepada penjual.


"Kok bangsat sih?" protes Hana.


"Namanya Satria, trus gue harus panggil apa?" jelas Dewa.


Hana ber oh ria.


"Siap mas Dewa, tunggu sebentar ya?"


Hana agak terkejut karena abang penjualnya ternyata kenal dengan Dewa.


" Loe sering ke sini ya?" selidik Hana.


Dewa hanya menganggukkan kepala.


" Sama pacar loe?"


"Pacar gue yang mana? Gue enggak punya pacar."


Hana menatap Dewa seakan tak percaya dengan ucapannya.


" Serius, gue enggak punya pacar."


Enggak punya pacar? Yang bener aja? Dia kan playboy. Tadi pagi aja masih jalan ma Selvi.


" Trus Selvi? Vina?"


" Oh mereka cuma teman jalan, sebelum mereka juga banyak" jawab Dewa dengan enteng.


" Teman kok nyosor?" Hana menutup mulutnya karena merasa keceplosan.

__ADS_1


Dewa menatap lekat mata Hana. Jantung Hana berdetak cepat lagi takut kalau Dewa akan marah karena tersinggung.


" Ha ha ha ha." tak disangka Dewa malah tertawa terbahak bahak.


" Loe masih ingat ya kejadian gue dan Vina yang di toilet? Sumpah boker loe bau banget kayak ******. Bener bener ngerusak mood gue."


" Apaan sih kok malah bahas boker gue. Kayak boker loe juga enggak bau? Emang ada boker wangi?" suara Hana meninggi.


"Ehem ehem." deheman Bang Sat seakan memperingatkan keduanya untuk tidak membahas kotoran di tempat makan.


Hana tersipu malu.


" Sorry Bang keceplosan, tapi emang beneran boker dia bau banget. Ha ha ha" Dewa tertawa lepas. Baru kali ini ia bisa tersenyum tertawa dan bercerita secara lepas seakan tak ada beban lagi di hatinya.


" Apaan sih loe, sumpah ya loe masih bahas boker gue pulang ni. Enggak lucu tau malu maluin. Diam enggak?" Hana memukul lengan Dewa.


" Auw, sakit tau! Ha ha ha." Dewa masih belum bisa menghentikan tawanya.


Tiba tiba secara refleks tangan Hana membekam mulut Dewa, seketika Dewa terperanjat. Tawanya berhenti, ada desiran aneh di hatinya muncul gejolak dalam jiwanya. Tangan Dewa meraih tangan Hana yang ada di bibirnya. Menggenggam tangan itu, dan meletakkan di dadanya. Hana dapat merasakan alunan detak jantung Dewa, seakan seirama dengan miliknya, cepat dan menggebu.


Mata mereka saling mengunci, tubuh mereka memanas, tanpa mereka sadari wajah mereka memerah. Tak ada suara yang keluar, mereka larut dan hanyut dalam tatapan itu. Jiwa mereka seakan meninggalkan raga dan menyatu dalam dunia romansa mereka. Seperti magnet yang berlawanan kutub, mata mereka saling tarik menarik hingga wajah mereka mendekat dengan sendirinya.


Saat wajah mereka hanya berjarak 3 jari, " Kruyuuukkk". Kembali cacing di perut mereka berteriak, memaksa mereka untuk kembali ke alam sadar.


Ya Allah, hampir saja gue khilaf. Untung Engkau masih menyadarkan gue melalui jeritan perut gue. Gila, seperti inikah cinta? Mampu membuat orang mabuk kepayang. Bahaya banget, ini benar benar bahaya. Dalam sekejab mata gue bener bener kehilangan kendali. Mungkinkah loe cinta pertama gue?


Hana menghembuskan nafas kasar, menghirup oksigen sebanyak banyaknya karena pasokan oksigen di paru parunya seakan kosong.


"Ma af." dengus Dewa. Ia merasa bersalah.


Aneh kenapa gue malah minta maaf. Hana.... sumpah loe bener bener mengacaukan hati gue. Gue enggak pernah merasa kayak gini. Semua beban di hati gue lenyap begitu saja, dan loe dengan mudahnya membuat tertawa dan cerita lepas tanpa kepura puraan. Shitt gue bener bener jatuh cinta ma loe. Loe cinta pertama gue. Gue enggak akan bisa menepis rasa ini Han. Ya, inilah cinta.


"Hehhh?" Hana merasa heran dengan permintaan maaf Dewa.


" Oh ..ya.."


Sial kenapa jadi canggung begini? Bodoh banget gue,,


Dewa mengepalkan tangannya seakan menyalurkan kebodohannya.


"Silakan Mas, Mbak" pesanan telah tersaji di depan mereka.


"Ayo makan!"ujar Dewa untuk menepis kecanggungan.


" Ayo." untuk menutupi perasaannya yang tak karuan, Hana mencomot bebek di depannya dengan tergesa.


" Aouwww aouw!" Hana mengibaskan tangannya karena ternyata bebek di depannya masih sangat panas. Tanpa ia duga Dewa dengan cepat meraih tangannya dan meniupnya.


Hana mematung, seakan Dewa telah menghentikan waktu.


Wajahnya memerah, bahkan lebih merah dari tangannya yang tadi terkena panasnya bebek goreng.


Ya, gue yakin INI CINTA. Padahal hanya bersama sejenak tapi loe udah bisa mengaduk aduk hati dan pikiran gue. Lama lama gue bisa kena serangan jantung kalau terus terusan deg degan kayak gini.


Sebuah suapan di mulutnya membuat ia terperanjat.


"A..." seperti menyuapi anak kecil Dewa menyodorkan tangannya ke mulut Hana.


Entah sadar atau tidak, Hana membuka mulut dan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.


"Enak?"


"Ya enak lah mas, masakan SATRIA pakai ditanya. Apalagi makannya sambil disuapi sama orang tercinta. Ya kan mbak?" goda Bang Sat.


Hana dan Dewa tersipu malu. Mereka melanjutkan menyantap makanan. Dua piring nasi beserta bebek goreng lengkap dengan sambal dan lalapan pun habis tak tersisa. Setelah membayar mereka kembali ke atas


motor untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Namun tanpa mereka sadari ada dua buah motor membuntuti.

__ADS_1


__ADS_2