
Kegiatan Hana cs di mall itu masih berlanjut. Setelah mengubah penampilan Yusuf menjadi seorang lelaki pada umumnya yakni memakai kaos dan celana jeans yang dilengkapi dengan sepatu sneaker, Rani mengajak anak, menantu sekaligus Laura untuk berbelanja. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat bersemangat untuk melakukan aktifitas rutinitas kaum sosialita itu. Mungkin karena ia berjumpa dengan Laura yang notabene sefrekuensi dengannya yang memang hafal dan teramat sangat memahami barang branded berkualitas sekaligus bernilai fantastis.
Seperti saat ini, Laura dan Rani sedang memanjakan matanya di sebuah toko tas kenamaan. Mereka terlihat sangat antusias mengamati tiap tas yang dibandrol dengan harga ratusan juta bahkan sampai milyaran. Pegawai toko itu dengan sabar dan telaten memperlihatkan sekaligus memaparkan koleksi terbaru tas bermerk andalan mereka.
" Laura ini bagus banget. Tante belum punya model seperti ini."
" Benar Tante, tas ini terlihat cocok untuk Tante. Selera Tante memang bagus." puji Laura.
" Baiklah kalau begitu aku ambil 2, Mbak Dina pasti juga suka." Rani terlihat sumringah.
" Benar kan Sayang? Tas ini juga pasti cocok untuk Mbak Dina?" Rani meminta pendapat Hana yang sedari tadi duduk bersama Yusuf sembari sibuk memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
" Iya, pilihan Ibu pasti bagus." jawab Hana tak beralih dari posisinya tanpa melihat ke arah dua wanita yang sedari tadi asyik melihat dan mencoba tas yang ada.
Akhirnya Rani menjatuhkan pilihan pada tas berwarna putih yang terbuat dari kulit aligator yang dibandrol dengan harga sekitar satu milyar itu.
" Mbak tolong model dan warna yang sama seperti ini dua ya." ucap Rani ke pegawai toko.
" Bagaimana denganmu Ra? Mana tas pilihan kamu?"
Laura memilih sebuah tas berwarna putih dengan sedikit aksen warna pink, masih dari seri Hermes Birkin yang dibandrol dengam harga 600 jutaan.
" Bagus, warnanya cute banget." puji Rani.
" Mbak tolong sekalian yang ini juga ya."
" Tante biar saya bayar sendiri saja." Laura merasa tidak enak hati.
" Eh, mana bisa seperti itu. Sudahlah jangan merasa segan dengan Tante. Kamu kan juga susah Tante anggap seperti anak Tante. Bagaimana denganmu Sayang? Kamu mau tas yang mana?" Rani menengok ke arah Hana.
" Aku enggak usah saja Bu, tas aku masih banyak." jawab Hana yang memang kurang berminat dengan hal hal seperti itu.
__ADS_1
" Bagaimana kalau yang ini?" Rani menunjukkan sebuah tas dengan harga lebih dari lima milyar rupiah.
" Ah pilihan Tante memang tidak perlu diragukan lagi. Benar Han ini bagus banget lho." imbuh Laura.
" Ck, biar aku pilih sendiri." Hana beranjak dari posisinya dengan enggan.
Mengenai selera tas Hana memang berbeda dengan Laura dan ibu mertuanya. Ia tidak terlalu tertarik dengan tas yang terlihat mewah.
" Yang ini saja." tunjuk Hana cepat tanpa butuh waktu lama seperti Laura dan Rani yang menghabiskan banyak waktu untuk membuat pilihan tas mana yang ingin dibeli.
" Kamu yakin Sayang? Tas selempang?"
" Iya, aku pilih itu saja."
Sebuah tas selempang berwarna hitam dengan look yang lucu menjadi pilihan Hana. Tas berukuran tidak terlalu besar dengan harga 170 juta itu memang cocok dengan selera Hana yang tidak suka dengan tas besar yang terlihat galmour.
" Ada lagi tas yang kamu inginkan Sayang?"
" Ayo Sayang kita lanjutkan belanjanya." ucap Rani sejenak setelah menyelesaikan transaksi belanjanya.
Belanja lagi? Huft, harus berapa lama? Padahal tadi dari rumah aku kan cuma mau beli baju hamil saja. Kenapa sekarang malah Laura dan Ibu yang asyik belanja seperti ini? Sepertinya Ibu menemukan teman yang cocok untuk belanja. Laura dan Ibu memang sefrekuensi mengenai hal ini.
Hana menyenggol kaki Yusuf tanpa sepengetahuan Rani dan Laura. Seakan paham dengan maksud Hana, Yusuf segera menghentikan aktifitas permainannya. Dengan menggunakan gerakan bibir dan kedipan mata Hana memberi isyarat kepada Yusuf agar mencari alasan untuk bisa terbebas dari situasi yang membuatnya bosan.
Yusuf membalas isyarat Hana, namun Hana hanya melototkan matanya karena tidak paham dengan maksud Yusuf. Bagaimana mau paham, Yusuf lupa melepas maskernya sehingga gerakan bibirnya tidak terbaca oleh Hana.
" Kamu ngomong apa?" ceplos Hana.
" Ada apa Sayang?" Rani menoleh ke arah Hana dan Yusuf.
" Em, enggak apa apa kok Bu. Yusuf sepertinya sudah capek. Dari tadi diam saja." Hana mencari alasan.
" Kenapa aku lagi? Bilang saja kalau kamu sudah bosan." dengus Yusuf yang tidak terima dijadikan kambing hitam oleh Hana. Bagaimana pun ia masih sesikit kesal dengan ulah Hana dan Laura yang membuat martabatnya hancur di depan ihu sambungnya.
__ADS_1
" Kamu sudah capek Sayang? Ibu sampai lupa kalau kamu sedang hamil. Maafkan Ibu ya karena terlalu bersemangat belanja. Atau kita pulang sekarang saja?"
" Enggak perlu Bu. Ibu dan Laura lanjut belanja saja, jarang jarang kan Ibu dapat teman belanja se MA_HIR Laura. Aku dan Yusuf jalan jalan berdua saja. Kebetulan aku pengen makan es krim." tutur Hana.
" Tapi kamu_"
" Enggak apa apa Bu, lagi pula Laura masih terlihat sangat semangat untuk melanjutkan belanja. Ibu juga kan? Masih banyak barang yang ingin Ibu buru?"
" He he, kamu memang sangat pengertian Hana. You are the best." Laura menoel kedua pipi Hana yang kini terlihat semakin chubby karena semenjak hamil naf-su makan Hana meningkat pesat.
" Ih, apaan sih? Sakit tahu."
" Beneran enggak apa apa Ibu tinggal belanja lagi?" Rani tampak ragu untuk meninggalkan anak menantunya yang kini tengah berbadan tiga.
" Sudah Ibu tenang saja. Selamat belanja, bye... Aku dan Yusuf mau cari es krim dulu." Hana berlalu bersama Yusuf.
Huft, akhirnya aku terbebas juga. Bosan banget jika harus menemani Ibu dan Laura belanja.
" Mau kemana kita?" tanya Yusuf yang berjalan beriringan dengan Hana.
" Tentu saja cari es krim."
" Kamu serius? Dari tadi kamu sudah makan cemilan dan minum milk shake lho Han? Yakin masih mau makan es krim? Aku kita tadi hanya mencari alasan agar terbebas dari Ibu dan Laura."
" Tentu saja aku serius. Kamu lupa ya kalau di perutku ini ada dua baby, jadi memang cepat lapar, he he." kilah Hana.
" Halah alasan, bilang saja kalau kamu memang doyan makan. Dari dulu semenjak sekolah kamu kan memang jago makan. Jadi enggak usah bawa bawa baby di perut kamu sebagai alasan." Yusuf memencet ujung hidung Hana.
Baiklah anggap saja ini adalah ngedate bareng Hana. Tapi sepertinya perasaanku ke Hana memang sudah berubah, tidak seperti sebelumnya. Waktu memang obat dari segala hal, entah sejak kapan kini perasaanku ke Hana tulus sebagai sahabat dan saudara.
" Aouw sakit tau....!" Hana memukul tangan Yusuf.
" Bagaimana kalau nanti hidungku penyok?!!"
" Lebay, enggak bakalan lah. Sudah ayo cepat, itu ada kedai es krim di depan sana."
__ADS_1
" Oke, cusssss ayo meluncurrr. Ice cream, i'm coming." seru Hana dengan semangat 45.