Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Ada Apa Dengan Evi?


__ADS_3

" Sudah, bersihkan diri kalian. Penampilan kalian terlihat kucel dan berantakan mirip dengan narapidana sungguhan. Habis itu langsung sarapan. Kami tunggu di meja makan ya.... Jangan lama lama mandinya." ucap ibu Hana dengan lembut.


" Siap Ibu komandan...!" celetuk Hana. Tanpa berlama lama, Hana melenggang ke kamarnya.


" Mau apa kamu ke sini?" tanya Hana dengan polosnya saat menyadari bahwa Dewa tengah mengekor di belakangnya dan hendak masuk ke dalam kamar.


" Tentu saja mau masuk. Kamu enggak dengar tadi ibu nyuruh kita buat cepetan mandi terus sarapan. Mau dijewer lagi kalau kita kelamaan?" jawab Dewa dengan entengnya.


" Terus kenapa kamu ke kamarku? Masuk sana ke kamar lain. Kalau ayah dan ibu lihat bagaimana?"


" Bu guru tercinta, jangan bilang kalau gara gara tidur di sel tahanan semalam kamu jadi amnesia. Kita kemarin kan sudah menikah sudah sah secara agama dan negara. Mau apa pun kita sudah bebas. Malah kalau ayah dan ibu lihat aku masuk ke kamar lain pasti kamu kena marah karena mengusir seorang lelaki yang telah resmi menjadi suami kamu. Ayo buruan, nanti kalau kelamaan ibu marah lagi. Kamu mau beneran dikutuk jadi panci gosong?" Dewa menoel ujung hidung istrinya. Ia merasa gemas dengan tingkah Hana yang kadang terlihat sangat pandai sebagai seorang guru namun terkadang juga bisa tertingkah bodoh dan konyol.


" Please come in my sweetheart....." tangan Dewa terulur ke arah pintu dan yang satunya di depan dada, tubuhnya sedikit membungkuk seperti adegan di film bertemakan kerajaan saat seseorang mempersilahkan seorang putri.


" Thank you." Hana hendak membuka pintu namun segera dihentikan oleh Dewa.


" Oh, sorry. Let me open the door. Please..." Dewa mengambil alih handle pintu dan mempersilahkan Hana untuk masuk ke dalam kamar.


Mata Hana terbelalak saat melihat kamar tidurnya telah disulap menjadi ruangan yang sangat indah. Ada banyak bunga mawar putih dan melati yang dirangkai di atas tempat tidurnya. Ranjang dan kasurnya juga telah diganti baru dengan model yang lebih elegan. Beberapa kelambu yang menjuntai ke bawah menjadi penyempurna untaian bunga bunga itu.



Aroma keharuman bunga yang khas dan menenangkan menyeruak masuk ke indra penciuman Hana saat kakinya melangkah.ke dalamnya. Seakan mampu mewakili aroma cinta penghuninya. Hana menelisik tiap sudut kamarnya, wajahnya berbinar merasa puas dengan dekorasi kamarnya.


" Kamu suka?" tanya Dewa membuyarkan lamunan Hana.


" Huum, ini sangat indah. Terima kasih." Hana terlihat sangat bahagia. Ia berbalik dan segera memeluk tubuh suaminya yang atletis. Dewa tentu saja tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Ia membalas pelukan istrinya dengan sebuah ciuman yang lembut.

__ADS_1


" Aku rasa aku memang harus mandi di kamar lain. Jika kita mandi bersama di kamar ini, pasti aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menerkamu. Dan alhasil kita tidak akan keluar untuk sarapan." bisik Dewa dengan pandangan berkabut namun pikirannya masih bisa mengontrol tubuhnya untuk segera melepaskan tubuh istrinya. Bagaimana pun juga mereka harus sarapan dulu, terlebih orang tua Hana sudah menunggu kehadiran mereka di meja makan.


" Kamu cepatlah mandi, aku akan mengambil baju dan mandi di kamar lain. Nanti kita ke meja makan bersama ya?" Dewa mengecup singkat bibir mungil Hana yang terlihat manis dan merona meskipun tanpa memakai lipstik. Setelah itu ia bergegas ke kamar lain untuk mandi.


" Kalian cepat juga mandinya. Tadinya ibu pikir kalian mungkin tidak akan keluar kamar untuk sarapan." goda ibu Hana saat anak dan menantunya tiba di meja makan dengan penampilan yang segar dan wangi.


Bolehkah seperti itu? Kalau aku tahu, aku tidak akan menahan diri tadi. Sepertinya ibu mertua sengaja melakukannya.....


"Tentu saja kami akan sarapan, cacing di perutku sudah meronta sedari tadi, aku sangat lapar. Sudah tidak sabar menyantap masakan Ibu." Hana duduk bersebelahan dengan suaminya.


Berbagai macam makanan tersaji di atas meja makan. Di sana juga ada tumpeng lengkap dengan lauknya yang bervariasi.


" Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur dan bahagia selalu." Ibu Hana memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Diikuti dengan ayah Hana, Evi dan Laura.


" Mari kita berdoa dulu, AlFatihah....." ayah Hana memimpin doa untuk ulang tahun anak sulungnya.


" Kamu juga harus makan yang banyak, besok kamu sudah keluar dari sini." ucap ibu Hana sambil mengisi nasi dan lauk di piring Hana.


" Keluar dari sini? Ibu ingin mengusirku?" Hana menelisik wajah ibunya.


" Ya ampuuunnnn Hana,,,,, aku heran dengan otak encermu itu. Bukankah kamu selalu juara saat sekolah bahkan lulus kuliah dengan nilai yang sangat memuaskan, tapi mengapa kamu sangat dodol dengan hal semacam ini? Besok kamu kan memang harus meninggalkan rumah ini untuk pergi bulan madu? Dan setelah itu kamu akan tinggal di rumah suamimu kan?" jelas Laura yang justru lebih mengetahui rencana pasangan suami istri.


" Oh iya, aku hampir lupa. He he he."


" Tak terasa sekarang gadis kecil kita sudah dewasa dan kini telah menjadi istri orang ya Yah? Rumah ini pasti akan terasa sepi tanpa kehadiran Hana." dengus ibu.


" Jangan khawatir Bu, kelak aku akan sering sering membawa Hana kesini, jarak rumah kita kan dekat. Lagian dengan menikahnya Hana dan Dewa, Ibu tidak kehilangan anak perempuan tapi justru mendapatkan tambahan seorang anak laki laki tanpa harus susah susah mengandung selama sembilan bulan terlebih dahulu. Apalagi anak laki lakinya seganteng aku." ujar Dewa dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


" Kamu benar sayang, ibu tidak seharusnya merasa kehilangan. Ibu harus bahagia karena mempunyai mantu sesuai dengan kriteria Ibu, yaitu ganteng. Jadi Ibu bisa pamer ke teman teman Ibu." imbuh Hana sambil menambah nasi dan lauk ke piring suaminya.


" Benar juga ucapan kamu sayang."


" Bagaimana denganmu Ra? Kapan rencana pernikahanmu dengan Rayhan?" pandangan ibu Hana beralih ke sahabat dekat anak sulungnya yang kini sudah ia anggap seperti anak sendiri.


" Kalau tidak ada halangan bulan depan Tante."


" Secepat itu?" Hana terkejut dengan pengakuan Laura.


" Huum, aku sengaja memajukan dari rencana awal. Setelah kemarin lihat pernikahan kamu dan Dewa aku dan kak Rayhan sepakat untuk mempercepat meresmikan hubungan kami. Tiga hari lagi aku akan ke Singapura untuk membahas rencana kami dengan mama dan papaku. Dan sepertinya kami akan menikah di sana karena semua kerabat kami ada di sana." tutur Laura.


" Selamat ya Laura.... Ibu doakan semoga semuanya lancar dan kamu menjadi pasangan yang langgeng dan bahagia selalu."


" Aamiin.... Terima kasih Tante. Nanti Om dan Tante harus datang di acara pernikahan Laura lho." Laura menatap ayah dan ibu Hana bergantian.


" Insyaallah, Om akan usahakan untuk bisa hadir. Semoga nanti diberi kelancaran." jawab ayah Hana disela sela makannya.


" Kamu kenapa Dek? Sedari tadi kakak lihat kamu diam saja. Ada masalah?" Hana menyadari tingkah Evi yang lebih banyak diam semenjak kepulangannya.


" Enggak ada. Aku baik baik saja." jawab Evi singkat.


" Oh Kakak sampai lupa, bagaimana kabar pacar kamu? Kalau enggak salah Diki kan namanya. Kenapa tidak dikenalkan dengan ayah dan ibu?"


" Enggak penting, aku sudah putus dengannya. Lagi pula dia tidak seganteng Kak Dewa. Jadi ibu enggak bisa memamerkannya. Aku sudah selesai sarapannya, permisi semua aku pergi dulu." Evi beranjak pergi dari ruang makan. Ia menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding garasi.


" Evi kenapa sih Bu? Kenapa sikapnya seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2