Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Calon Suami


__ADS_3

Hana memasuki ruang kelas dengan wajah berbinar. Tampak sekali aura kebahagiaan sedang menyelimutinya. Sedari tadi bibirnya tidak lelah menyunggingkan senyum. Ini adalah kali pertama Hana diantar oleh kekasih hatinya. Memang hal sederhana tapi entah mengapa terasa sangat spesial baginya.


Sesuai jadwal Hana mengajar di jam pelajaran pertama. Jatah untuk kelasnya hari ini adalah 3 jam pelajaran dengan durasi 45 menit tiap 1 jam pelajaran, setelah itu dia free. Dia sudah mengirim pesan ke Dewa bahwa dia hanya mengajar sampai jam 9 an saja.


" Selamat pagi murid murid, sesuai jadwal hari ini kita akan mengadakan ulangan harian. Saya harap kalian sudah siap karena sudah saya umumkan saat pertemuan kemarin." tutur Hana dengan semangat.


" Oke, sekarang silahkan keluarkan alat tulis dan jawab soal soal yang ada." Hana membagi kertas berisi soal matematika ke semua murid.


" Soalnya hanya berjumlah 10, jadi waktu 45 menit saya rasa sudah cukup."


" Aaaa,,,, Bu waktunya tambah lagi dong." pinta beberapa murid yang merasa keberatan dengan durasi waktu yang Hana berikan.


" No, 45 menit cukup. Jika kalian sudah belajar dengan sungguh sungguh saya yakin waktu yang saya berikan lebih dari cukup."


" Ahhhh Bu Hana raja tega." celetuk seorang murid.


"Jangan khawatir saya punya hadiah untuk tiga murid yang selesai paling awal dan benar semua."


Murid murid tampak antusias, " Apa Bu hadiahnya?"


" Uang jajan 50 ribu. Bagaimana ada yang mau? Lumayan bisa buat makan soto di kantin."


" Ayo cepat kerjakan, waktu dimulai dari sekarang." seru Hana dengan semangat.


" Halah cuma 50 ribu doang, uang jajanku saja lebih banyak Bu." celetuk Dimas.


" Oh benarkah Dimas? Kalau begitu kamu beruntung karena enggak semua murid punya uang jajan sebanyak kamu. Tapi kamu akan lebih beruntung dan bangga jika kamu bisa menghasilkan uang sendiri. Salah satunya dengan menyelesaikan ulangan ini dengan cepat dan benar. Setuju?" ucap Hana dengan sorot mata tajam penuh maksud ke arah Dimas.


Dimas diam tidak menjawab karena dia yakin pasti akan kalah jika harus berdebat dengan guru matematika yang menjadi idola banyak murid itu.


Murid murid mengerjakan ulangan dengan penuh semangat, kata kata Hana mampu membangkitkan jiwa kompetisi di hati mereka. Meskipun 50 ribu bukan nominal yang besar tapi akan menjadi kebanggaan sendiri bila berhasil mendapatkannya.


Dalam waktu kurang 30 menit, Bagas telah menyelesaikan soal ulangan. Dengan penuh percaya diri ia menyerahkan kertas jawaban ke depan kelas.


" Bagaimana Bu, apa jawaban saya benar? Boleh kah saya menukar hadiahnya dengan nonton bioskop bareng Bu Hana saja?" tanyanya dengan wajah penuh harap.


" Huuuuuuuu..!" teman sekelas kompak menyorakinya.


" Sebenarnya sih boleh boleh saja nonton bareng, tapi sayang kamu enggak dapat hadiahnya. Jawaban kamu hanya benar 5 saja." jawab Hana dengan wajah datar setelah matanya menelisik kertas ulangan milik Bagas.


" Ha...? Masak cuma benar 5? Perasaan tadi sudah benar semua." jawab Bagas dengan kecewa.


" Berarti perasaan kamu salah. Matematika tidak mengandalkan perasaan tapi perhitungan. Lain kali kalau menjawab ulangan yang teliti jangan asal jadi. Selamat kamu dapat nilai 5, siap siap untuk ikut ulangan perbaikan. Silahkan kembali duduk ke tempatmu."

__ADS_1


Bagas kembali ke tempat duduknya dengan raut muka kecewa. Kecewa karena kehilangan kesempatan untuk nonton bareng Hana dan mendapat nilai yang jelek.


Sebelum menit ke 40 ada 3 murid yang telah berhasil menyelesaikan ulangannya dengan hasil benar semua sehingga mendapat hadiah yang telah dijanjikan Hana. Ketiganya nampak puas dan bangga. Mereka memang anak yang berprestasi di kelas itu, jadi sudah sangat wajar kalau mereka bisa menyelesaikan ulangan dengan cepat dan benar.


Setelah waktu yang diberikan Hana habis, murid murid mengumpulkan kertas ulangannya di depan kelas. Wajah mereka tampak lega karena telah berhasil melewati ulangan.


" Sekarang masih ada 2 jam pelajaran kita akan lanjut ke materi selanjutnya. Silahkan kalian keluarkan buku paket dan catatan kalian. Masih semangat kan?" ucap Hana kemudian mulai menjelaskan materi yang ada di dalam buku.


Murid murid tampak antusias mengikuti pelajaran.


" Sudah paham semua? Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Hana di akhir penjelasannya.


" Saya Bu." seorang murid laki laki mengangkat tangannya, yang tak lain adalah Dimas.


" Ya silahkan Dimas."


" Nanti pulangnya mau saya antar enggak Bu?"


" Huuuuuuuu.....!" Dimas mendapat sorakan dari teman sekelasnya.


" Terima kasih Dimas, tapi enggak usah repot repot ngantar saya pulang. Nanti saya pulang dijemput calon suami. Kebetulan tadi pagi kamu sudah lihat calon suami saya kan?" jawaban Hana penuh dengan penekanan.


" Hah Bu Hana sudah punya calon suami? " tanya beberapa murid yang tampak kecewa dengan penuturan Hana.


" Iya, saya sudah punya calon suami. Insyaallah saya akan menikah dalam waktu dekat. Doakan ya semoga semuanya lancar." ucap Hana dengan mimik datar.


" Saya juga patah hati." ujar murid lelaki yang lain.


" Saya juga Bu."


" Sudah sudah, hati itu mahal jangan sembarang dipatahkan. Kalian masih sangat muda, belajar dulu yang benar raih cita cita baru kejar cinta."


" Tuh dengar kata Bu Hana, belajar dulu yang benar." celetuk salah satu murid perempuan.


" Tapi Bu Hana selama ini kok enggak pernah kenalin calon suami Ibu sih? Malu ya? Karena calon suami Ibu enggak layak buat Ibu?" tanya Dimas meremehkan.


" Maaf Dimas, saya rasa kamu sudah kelewatan. Mengenai calon suami saya itu adalah privasi saya yang tidak perlu saya umbar ke kamu. Dan tidak ada alasan bagi saya untuk malu dengan calon suami saya karena dia sangat sempurna." sorot mata Hana penuh dengan kemarahan. Tapi dia berusaha keras untuk meredam amarahnya agar tidak meledak.


Sialan ni si Dimas, kalau aku sedang tidak di kelas sudah ku kepret mulutnya. Dasar bocil enggak ada akhlak. Ngata ngatain Dewa enggak layak buat aku, memangnya kamu siapa? Muka juga gantengan Dewa jauh. Baru punya motor sport saja sudah belagu banget. Uang masih nodong orang tua saja lagaknya sudah seperti itu.


Huuuufffff.... Sabar, sabar.


" Maaf jadi ngelantur kemana mana. Saya harap kalian tidak mencampuradukan masalah pribadi dengan pelajaran. Di kelas ini saya adalah guru dan kalian adalah murid jadi tolong tetap jaga batasan kita. Oke...? Saya senang jika kalian menganggap saya kakak atau teman tapi tolong tetap jaga rasa hormat kalian."

__ADS_1


" Masih ada pertanyaan tentang materi yang saya sampaikan tadi?" raut muka Hana tampak tidak bersemangat.


" Teeettt... tett...tettt." bel istirahat berbunyi.


" Oke, sudah saatnya istirahat. Ibu mohon maaf jika agak baper hari ini. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi. Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya." Hana bergegas meninggalkan kelas.


" Loe sih Dim, kenapa ngomong kayak gitu? Bu Hana marah kan jadinya." ketus Arin teman sebangku Dimas.


" Memang calon suami Bu Hana enggak layak buat dia. Masak tadi pagi gue lihat dia ngantar Bu Hana naik motor bututnya Bu Hana. Enggak modal banget kan? Sudah gitu dia pakai sarung lagi." Dimas mengutarakan pemikirannya.


" Masak sih calon suami Bu Hana seperti itu? Bu Hana kan cantik banyak yang naksir lagi. Gue saja mau jadi pendampingnya kalau Bu Hana mau menunggu gue. Hehe." Bagas ikut menimpali dari bangku belakang mereka.


" Ih, mimpi saja loe. Sudah ah gue cabut dulu mau beli jajan." Arin melenggang ke luar kelas disusul dengan Bagas, Dimas dan teman temannya yang lain.


Bagas dan Arin berjalan sembari bercanda hingga mereka tidak memperhatikan jalan di depannya.


" Brughhh...!" tubuh Bagas jatuh terpental karena menabrak seorang lelaki di dekat ruang guru.


Tubuh lelaki itu tinggi tegap. Badannya terlihat atletis dibalut dengan kaos berwarna putih dipadukan dengan celana jeans bermerk Gucci. Penampilannya bertambah macho dengan sepatu Air Jordan 10 OVO yang harganya hampir mencapai 300 juta. Jam tangan Hublot Pre Owned Big Bang King Chronograph yang melingkar di pergelangan tangan menyempurnakan penampilan lelaki itu.


Parasnya mendekati kata sempurna, sorot matanya tajam maniknya berwarna hijau. Aroma tubuhnya membuat kaum hawa melayang.


Tanpa sadar mulut Arin menganga karena melihat makhluk Tuhan yang nyaris sempurna itu.


" Ganteng banget......wangi lagi..." dengus Arin.


" Maaf, kamu baik baik saja kan? Lain kali kalau jalan hati hati ya." lelaki itu membantu Bagas berdiri.


" Terima kasih, maaf saya tidak sengaja." ujar Bagas merasa agak minder berada di dekat lelaki sesempurna itu.


Sepertinya gue pernah lihat cowok ini deh. Tapi dimana ya?


Dimas tampak berpikir mencoba mengingat ingat.


" Sayang kamu sudah sampai? Maaf aku baru selesai ngajar dan sekalian minta ijin pulang." Hana keluar dari ruang guru.


" Bu Hana? Sayang?" kompak ketiganya tampak bingung dan kaget.


" Perkenalkan ini calon suami saya, Dewa." ucap Hana penuh dengan penekanan dan senyum yang yang lebar.


" Hahhhh?" ketiga murid Hana melongo bersamaan.


" Kami permisi dulu." Dewa dan Hana melenggang pergi menuju ke sebuah mobil Lamborghini berwarna merah menyala.

__ADS_1



" Calon suami Bu Hana sempurna tanpa cela, ganteng banget." puji Arin yang masih belum bisa mengalihkan matanya dari sosok Dewa.


__ADS_2