Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Janji


__ADS_3

Hari ini sebuah hati telah gue terima, bersama dengan itu gue juga telah memantabkan hati gue untuk loe. Semoga kita bisa saling menjaga hati untuk tak menyakiti satu sama lain.


Hana tengah duduk di atas motor sport berwarna hitam sembari tangannya memegang pinggiran kaos pemuda yang duduk di depannya yang tak lain adalah Dewa. Keduanya sama sama menanggalkan jaketnya karena merasa gerah akibat perjuangan mendapatkan sebuah boneka yang teramat menguras tenaga. Tak seperti motor sport yang biasanya melaju dengan kencang, kendaraan beroda dua itu kali ini melaju dengan kecepatan rendah. Dengan tenang dan pelan meniti jalanan malam yang masih terlihat rame. Bermacam kendaraan tengah berlalu lalang, suara knalpot maupun klakson melengkapi hiruk pikuk jalanan itu. Sorot lampu kendaraan dan lampu penerang memberi keindahan tersendiri.


" Pegangan yang benar." ujar Dewa masih dengan tatapan mata lurus ke depan.


"Ini udah pegangan." Hana mengeratkan cengkeraman tangannya di ujung kaos Dewa.


"Ccckkk.." Dewa meraih tangan Hana dan melingkarkan tangan Hana di pinggangnya. Namun si pemilik tangan dengan segera menarik tangannya kembali.


" Apaan sih...? Kotor, tadi kan bekas ingus." keluh Hana.


" Itu kan ingus loe. Cepat pegangan yang benar."


" Ogah..! Lagian kaos loe basah banget."


Dewa menyeringai, tangannya menarik rem secara tiba tiba.


" Brugh...!" tubuh Hana terkantuk ke depan. Secara reflek tangannya memeluk pinggang Dewa.


" Tadi disuruh pegangan enggak mau katanya kotor dan basah, sekarang kok malah meluk. Rapet banget lagi." goda dewa sembari tersenyum penuh kemenangan.


Hana segera mengurai pelukannya. Wajahnya terlihat kesal.


"Loe sengaja kan?" dengusnya.


Dewa menghentikan motornya sejenak untuk mengenakan jaket.


" Sekarang sudah tidak ada alasan untuk tidak pegangan kan? Jangan kuatir jaket gue masih bersih dan wangi kok." tanpa menunggu persetujuan pemiliknya tangan Dewa sudah melingkarkan tangan Hana di pinggangnya.


Motor pun kembali melaju, kali ini dengan kecepatan sedang. Sebenarnya enggan bagi Dewa untuk segera mengantar pulang Hana, tapi ia tidak ingin mengecewakan Ayah Hana yang telah memberinya kepercayaan untuk membawa pulang Hana sebelum jam 9. Dan ini adalah janji pertamanya kepada seorang ayah.


Jam 9 kurang 3 menit, Dewa dan Hana sampai di rumah. Kedua orang tua Hana tengah duduk di teras rumah menunggu kepulangan mereka sembari menikmati teh hangat dan cemilan.


Setelah memarkirkan motornya, Dewa segera menghampiri orang tua Hana.


" Assalamualaikum." Dewa mencium punggung tangan ayah dan ibu Hana secara bergantian. Disusul Hana melakukan hal yang serupa.


" Waalaikumsalam." jawab mereka bersamaan.


" Ya Allah Gusti, kalian kok kucel dan berantakan. Habis ngapain? Berantem lagi?" tanya ibu Hana melihat penampilan anak gadisnya.


" Apaan sih Bu, main tuduh sembarangan saja."


"Maaf Om Tante tadi saya sama Hana habis main di pasar malam, lempar bola sampai keringetan kayak gini. He he." jelas Dewa.


" Ohhh kirain habis berantem lagi." Ibu Hana bernafas lega.


Setelah sedikit berbasa basi Dewa pun berpamitan dan segera pulang ke rumahnya.


Hana bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menyempatkan diri untuk mandi membersihkan kotoran dan keringat di tubuhnya.

__ADS_1


"Tok tok tok. Han boleh Ibu masuk?" Ibu Hana mengetuk pintu kamar anak pertamanya.


" Masuk saja Bu, pintunya enggak Hana kunci."


"Ceklek.." Ibu melangkah masuk mendekati Hana yang tengah rebahan di kasur sembari memeluk boneka baru pemberian Dewa.


" Ada apa Bu?" Hana mendudukkan tubuhnya.


Ibu Hana tersenyum sembari membelai rambut anak gadisnya, duduk di dekatnya.


" Enggak ada apa apa, cuma mau ngobrol."


" M mm , aku mencium aroma aroma kekepoan." Hana mengendus endus tubuh ibunya.


" Ish, kamu itu ya benar benar mau jadi panci?" ibu Hana memukul bahu Hana.


" Aow, sakit Bu. Maaf ampun , Hana jangan dikutuk jadi panci. Hana takut dipanggang Hana enggak mau gosong...."


" Ha ha ha. Kamu ini ada ada saja." Ibu Hana menatap lekat wajah Hana.


" Kamu mencintai Dewa?"


Mata Hana terperanjat, tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba tiba. Pipinya memerah seketika.


Hana menganggukkan kepalanya sembari tersipu malu.


" Dewa sudah mengungkapkan cintanya?" selidik ibu Hana.


" Jadi kalian sudah pacaran? Dan kamu enggak cerita sama Ibu?"


" Hana dan Dewa baru mengungkapkan cinta Bu, Hana belum berani untuk pacaran. Hana mau hubungan ini biar mengalir tanpa harus ada embel embel pacaran. Sekadar tahu sama tahu sudah cukup bagi Hana. Enggak apa apa kan Bu? Ibu enggak marah kan kalau aku dekat dengan Dewa?" manik mata Hana menatap ibunya dengan sendu.


" Enggak apa apa, Ibu senang kamu bisa menemukan cinta pertama kamu. Ibu tahu bagaimana rasanya, kan Ibu juga pernah muda dan pernah melewati masa seperti kamu saat ini. Yang penting kamu bisa jaga diri. Jangan sampai melanggar norma norma yang ada. Dan ingat satu hal lagi, Ibu enggak mau ini semua membawa pengaruh buruk untuk pendidikan kamu. Ibu membebaskan kamu untuk menikmati indahnya cinta dan cerita di masa remaja, tapi kamu harus tetap fokus belajar untuk meraih semua cita cita kamu. Kalau ada apa apa kamu harus cerita sama Ibu. Bisa?" Ibu meminta sebuah kepastian.


Dengan senyum mengembang Hana kembali menganggukkan kepalanya.


"Janji ya, harus ditepati." Ibu mengacungkan jari kelingking di depan Hana.


Hana segera mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik ibunya.


" Hana janji enggak akan mengecewakan Ibu dan Ayah. Terimakasih atas kepercayaan Ibu. Hana akan menjaganya baik baik." Hana memeluk ibunya.


Mereka berdua larut dalam sebuah pelukan yang penuh kasih sayang.


" Ibu keluar dulu, kamu langsung tidur jangan main ponsel terus."


" Siap Ibu komandan." Hana memberi hormat pada ibunya sembari tersenyum lebar.


Terimakasih Bu, Engkau paling memahami aku. Engkau memang Ibu terbaik. Aku berjanji enggak akan pernah mengecewakan Ibu.


Sepeninggal ibunya, Hana mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur. Tiba tiba ponselnya berbunyi.

__ADS_1


" Hallo Assalamualaikum." Hana menjawab panggilan di ponselnya.


" Waalaikumsalam, belum tidur?" terdengar suara Dewa dari benda berbentuk pipih itu.


" Kalau sudah tidur enggak bakal bisa jawab panggilan loe kan?" ketus Hana.


" Bisa, kemarin loe juga jawab panggilan gue sambil tidur."


" Loe.... " Hana kehabisan kata untuk menjawab Dewa.


" Ada apa malam malam telpon?"


" Kangen."


" Lebay." tanpa Dewa ketahui sebenarnya pipi Hana memerah.


Gue juga kangen, padahal baru saja ketemu. Inikah rasanya jatuh cinta? Selalu ingin bersama?


" Serius, gue juga enggak tahu mengapa gue jadi lebay kayak gini. Oh ngomong ngomong tadi Ibu dan Ayah loe marah enggak gue ajak jalan loe malam malam."


" Kenapa, takut ya?" goda Hana.


" Asalkan bersama loe apapun enggak ada yang gue takuti."


"Apaan sih, gombal banget. Orang tua gue bukan orang tua kolot, tadi gue sudah cerita hubungan kita ma ibu gue."


" Hubungan kita? Berarti loe sudah mau mengakui hubungan kita." tanya Dewa kegirangan.


" Maksud gue.... ah sudah lah terserah loe mau mikir apa." Hana bingung harus menjawab apa.


" Terus tanggapan Ibu loe gimana?"


" Ibu gue enggak keberatan dengan hubungan kita asal enggak melanggar norma dan membawa pengaruh buruk untuk pelajaran kita."


"Loe enggak cerita kalau gue berengsek? Gimana kalau nanti orang tua loe tahu."


" Kalau loe merasa berengsek, berarti loe harus mulai berubah dong, biar jadi calon menantu idaman. Ha ha ha."


" Calon menantu? Jadi loe sudah anggap gue sebagai calon suami loe?"


" Bukan begitu juga, ah pusing lama lama ngomong sama loe. Intinya loe harus bisa buktiin kalau gue enggak salah memilih loe. Dan satu hal lagi, di mata gue loe bukan laki laki berengsek. Jadi tolong jaga kepercayaan gue." ucap Hana penuh harap.


" Jangan terlalu berharap sama gue Han, gimana kalau gue enggak bisa menjadi sebaik yang loe minta. Berharap kepada manusia adalah sumber dari rasa kecewa." Dewa menjeda ucapannya.


"Tapi baiklah demi loe gue akan coba untuk berubah menjadi lebih baik. Gue akan berusaha agar gue pantas buat loe. Gue harus mulai dari mana?"


" Berhenti mainin cewek, dan gue harap gue bukan termasuk salah satu mainan loe." Hana berucap seperti sebuah permohonan.


" Gue janji, enggak akan ada cewek selain loe. You are the one."


" Janji?"

__ADS_1


"Sure." jawab Dewa dengan mantab.


__ADS_2