
" Deg..!" jantung Evi seakan berhenti saat matanya menangkap sosok lelaki di depannya.
Lelaki itu...? Mungkinkah dia salah satu teman kak Hana atau Dewa? Ah,, dunia ini terlalu sempit, mengapa di antara 7,85 milyar penduduk dunia aku harus bertemu dia di sini? Suatu kebetulan yang tidak disangka. Bagaimana kalau dia mengenaliku dan berbicara tentang pertemuan kami di Jakarta? Ah.... tidak mungkin. Bukankah aku dan dia sudah sepakat untuk berpura pura tidak saling kenal jika bertemu. Aku harap dia bisa menepati kesepakatan kami.
Evi berusaha keras untuk tidak terlihat tegang dan salah tingkah. Diam diam dia mencuri pandang ke arah Yusuf dan " Tap.!" pandangan mereka saling bertemu.
Mamp*us, dia pasti mengenaliku. Evi mengalihkan pandangannya dengan segera.
Jadi dia adiknya Hana? Pantas saja wajahnya agak sedikit mirip. Tapi mengapa sifatnya sangat berbeda dengan Hana. Dan yang kemarin kami lakukan...? Shitttt, Hana bisa membunuhku jika tahu itu semua. Apa memang aku harus pura pura tidak mengenalinya. Ya, mungkin lebih baik seperti itu saja.
" Dewa sekarang giliran kamu untuk melamar Hana ke orang tuanya." bisik ayah Yusuf yang membuyarkan lamunan anaknya.
Dewa maju ke depan, mendekati sang calon mertua. Dengan mengumpulkan sisa keberanian yang ada, ia mencoba meminta restu agar ayah Hana menerima lamarannya. Meskipun ini semua hanya formalitas dan jawabannya sudah pasti diterima namun tetap saja ini bagaikan medan perang yang menegangkan.
" Ayah, saya tahu bahwa Anda telah menjaga dan merawat Hana selama 24 tahun ini. Sekarang dengan penuh kerendahan, ijinkanlah saya untuk menggantikan posisi Ayah sebagai penjaga utama putri Ayah. Ijinkanlah saya untuk menjaga dan membahagiakannya layaknya perhiasan dunia yang paling berharga sampai akhir hayatnya. Sudikah Ayah menerima lamaran saya untuk Hana?" pinta Dewa dengan penuh ketulusan.
" Ayah serahkan semua keputusan kepada Hana. Jika dia menerima maka Ayah hanya bisa mendoakan agar kalian menjadi pasangan yang selalu berbahagia." jawab ayah Hana ramah.
Kini Dewa beralih menatap gadis di depannya. Senyuman Hana seolah memberi kekuatan dan menghapus semua keraguannya.
Dengan penuh keyakinan ia mulai bertutur ke gadis cantik itu.
" Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu telah membuktikannya padaku. Hadir dan cintamu telah mampu menyempurnakan hidupku yang penuh dengan kekurangan. Engkau telah mengajariku sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku miliki. Malam ini, aku Dewa Arya Rahadian di depan orang tua dan semua yang hadir di sini memintamu agar kau bersedia menjadi bidadari yang selalu menemani hingga akhir hidupku. Mikayla Hanania bersediakah engkau menjadi istriku? Melengkapi hidupku yang tidak sempurna ini dengan segala cinta yang ada?" suara Dewa terdengar bergetar penuh dengan perasaan.
__ADS_1
"Ya, aku bersedia. Aku bersedia menjadi istrimu yang akan menemani di suka maupun duka." jawab Hana dengan bibir tersenyum dan air mata yang bercucuran. Tangisan ini sungguh di luar skenario yang Hana siapkan. Rasa bahagia dan haru bercampur aduk menjadi satu. Semua moment mengharukan itu tidak lepas dari bidikan lensa yang sedari tadi merekam jalanya acara.
Ibu Dewa dan ibu Hana maju ke depan untuk memasang cincin di jari calon menantu mereka. Dilanjutkan dengan penyerahan seserahan secara simbolis, dan tentu saja diikuti dengan sesi foto bersama maupun berselfi ria.
Meskipun acara digelar dengan sederhana dan dalam tempo yang singkat namun barang seserahan dari keluarga Dewa tidak bisa dibilang sederhana. Mereka membawa banyak barang yang harganya tidaklah murah. Bahkan Dewa telah memesan satu set perhiasan keluaran Van Cleef and Arpels dari Perancis yang taksiran harganya melebihi lima milyar rupiah.
Acara lamaran yang hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak itu berlangsung dengan lancar. Meninggalkan kesan mendalam dan bahagia di hati semua orang, namun tidak dengan Evi dan Yusuf yang justru dilanda kecemasan.
" Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Semoga besok acara pernikahannya juga diberi kemudahan dan kelancaran." ucap ibu Hana penuh dengan rasa syukur.
" Sayang kamu baik baik saja kan? Ibu perhatikan dari tadi kamu tampak gelisah." ibu Hana membelai rambut anak bungsunya yang masih bergeming di salah satu kursi di ruang tamu tempat berlangsungnya prosesi lamaran.
Sepertinya ada yang disembunyikan Evi. Sejak kepulangannya dia terlihat aneh. Seperti tertekan akan sesuatu, tapi apa? Dari dulu dia memang sedikit pendiam dan tidak bisa terbuka, sangat berbeda dengan Hana yang humble dan selalu ceria. Ah entahlah.... Semoga dia benar benar baik baik saja.
" Ciee..ciee.... yang baru lamaran..... Senyum senyum terus dari tadi, enggak capek Bu Guru? Nanti kalau giginya kering gimana tuh?" goda Laura yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang tidak berhenti tersenyum bahagia di depan meja rias.
" He he he, enggak usah ngiri dong boskuuuuh. Makanya buruan nikah, jangan cuma kawin aja." balas Hana.
"Wah mulai berani kamu ya. Kemarin saja kayak ikan yang menggelepar, sekarang giliran sudah ketemu dan lamaran senyum senyum terus enggak mau berhenti. Enggak takut tuh kalau cerminnya nanti tiba tiba retak karena kelamaan disenyumin kamu."
" Bagus enggak Ra?" Hana memperlihatkan cincin putih berhiaskan berlian di tengahnya yang melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
" Bagus, selera Dewa memang patut diacungi jempol." puji Laura setelah mengamati cincin sahabatnya itu.
" Owh ya, besok Kak Rayhan datang kan?"
" Iya, jangan kuatir. Dia pasti datang. Tadi sore dia telpon kalau sudah sampai Indonesia." jawab Laura.
" Benarkah? Lalu kenapa tadi kamu enggak nyamperin dia?" tanya Hana heran.
" Aku kan harus nemenin kamu. Lagian dia juga butuh istirahat kan?"
" Enggak terasa sekarang kita sudah dewasa ya Ra, besok aku nikah. Sebentar lagi kamu nyusul, jangan lama lama ya..... Nanti kelamaan diambil orang." celoteh Hana.
" Jangan kuatir, sepertinya tanggal pernikahanku akan aku percepat dari rencana semula."
" Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku ikut bahagia. Semoga nanti persahabatan kita bisa langgeng menurun ke anak cucu kita. " ucap Hana serius.
" Aamiin." jawab Laura cepat.
" Owh ya Han, tadi kamu perhatiin Yusuf enggak? Sepertinya ada yang aneh, sikapnya tidak seperti biasa. Wajahnya terlihat tegang gitu, pokoknya aneh deh kayak nyembunyiin sesuatu."
" Masak sih? Tadi aku enggak terlalu merhatiin dia. Maklum lah Ra tadi perhatianku hanya fokus ke Dewa saja." Hana tersenyum, tiba tiba terlintas wajah Dewa saat dengan tulus melamarnya di depan orang tuanya.
" Yach mulai lagi deh, kumat.... kumat.... Baru saja berhenti senyum sekarang sudah mulai lagi." Laura ikut tersenyum melihat sahabatnya yang ternyata bisa jadi bucin....
__ADS_1