
" PENCURI..!" teriak Laura histeris.
Dewa menerobos melompat ke arah jendela.
Sial gue benar benar kayak pencuri sungguhan. Kalau tetangga dengar bisa gawat nih, bisa bisa gue dimassa. Hana bersama loe memang benar benar sesuatu...
Mau di dunia nyata atau mimpi selalu penuh dengan aksi yang nenegangkan.
Sebuah senyum terukir di bibir Dewa. Dengan tergesa ia mulai mengendarai motornya dan menjauh dari rumah Hana.
"Kenapa enggak dikejar pencurinya, lolos kan dia." geram Laura sembari merapikan rambutnya yang berantakan karena tadi sempat ditutup kaos oleh sang pencuri.
Hana hanya nyengir sembari merapikan lemarinya.
"Sudah lah Ra, lagian pencurinya sudah kabur. Kayaknya enggak ada yang hilang kok, mungkin orang iseng saja."
" Orang iseng mana yang ngobrak ngabrik kamar sampai kayak kapal pecah terus mumpet di lemari. Eh tunggu dulu...... Bukannya tadi loe sudah buka lemari waktu ambil baju ganti, masak loe enggak lihat Han?" cecar Laura.
"Eh...e... itu gue enggak lihat, tadi gue kan ambil baju asal keburu kebelet jadi enggak perhatiin dalam lemari." Hana mencoba memberi alasan yang masuk akal.
" Ohhh, lain kali loe harus hati hati. Bahaya tahu, untung kali ini enggak terjadi apa apa. Besok besok jangan lupa buat tutup jendela."
"Iya mak Laura yang bawel. Udah ah bahas pencurinya ayo kita jalan aja yukk."
" Jalan? Bukannya loe disuruh jaga rumah. Tadi gue ke toko roti buat cari loe, tapi ibu loe biang loe di rumah buat jaga rumah."
"He he he." Hana hanya bisa nyengir.
Hana dan Laura kembali merebahkan tubuh mereka di kasur.
" Eh Ra, kalau boleh tahu kenapa loe kawatir banget kalau gue dekat dekat Dewa, memang dia kenapa? Kayaknya dia lumayan baik kok." tanya Hana penasaran.
"Baik apanya? Dia itu brengsek banget lho Han. Dia palyboy sejati tau enggak. Berapa banyak cewek yang hancur di tangan dia. Dia gonta ganti cewek semudah dia ganti baju aja. Dan yang lebih parah dia kalau jalan enggak sekedar jalan, tapi sering berakhir di ranjang." jelas Laura dengan menggebu.
Hana terlihat agak syok, dia memang sudah tahu kalau Dewa seorang playboy karena dia juga sudah pernah melihat dengan mata kepala sendiri saat Dewa dan Vina berciuman di toilet sekolah tempo dulu, tapi berakhir di ranjang? Hana tidak pernah menyangka Dewa akan sejauh itu.
" Kenapa? Loe kaget Dewa sebejat itu? Makanya loe enggak boleh dekat dekat ma dia."
" He he, iya iya."
Batin Hana masih berkecamuk sulit untuk menerima kenyataan. Mungkinkah dia telah salah menjatuhkan hati? Tapi bukankah kita memang tidak bisa memilih kepada siapa hati kita akan terpaut.
Apa gue terlalu terburu buru menerima cinta Dewa ya? Tapi gue merasa Dewa orang yang baik dan tulus. Padahal gue sudah pernah melihat dia ciuman ma Vina, tapi mengapa hati gue tetap tidak menyalahkan dia. Hufff cinta dan hati memang sulit untuk dimengerti.
__ADS_1
Hana membuang nafas kasar mencoba menghilangkan kegundahan hatinya. Saat ini pikiran dan hatinya tak sejalan. Otaknya berkata untuk menjauh dari Dewa sebelum terlambat, karena dia bukanlah orang yang baik yang bisa merusak anak gadis siapa saja. Sedang hatinya terus berseru untuk mempertahankan dan meyakini bahwa cintanya akan mampu membawa Dewa ke sisi yang lebih baik.
Tiba tiba ponsel Laura berdering membuyarkan lamunan Hana.
" Ya, hallo. Gimana Suf ada apa?" sapa Laura dan meloudspeaker ponselnya.
" Loe di rumah enggak? Agung dan Rizal ngajakin ke tempat loe. Ntar gue ajak Hana sekalian biar tambah rame." cerocos Yusuf.
" Mau ngapain? Main game?" tanya Hana .
" Eh kok ada Hana, kalian lagi dimana?"
" Di kasur gue, kenapa mau sekalian ikut gabung?"
"Boleh, mau banget... Ha ha ha."
" Ih ngarep..." celetuk Laura.
" Lagian kalian itu ya, anak gadis jam segini masih di kasur." protes Yusuf.
" Biarin, lagian gue ma Laura juga sudah wangi."
" Tapi kayaknya hari ini enggak bisa main ke tempat gue dech Suf, rumah gue lagi rame. Orang tua gue di rumah, terus ada sepupu ma om gue juga." jelas Laura.
" Kayaknya gue enggak bisa ikut dech Suf, gue harus jaga rumah soalnya rumah gue lagi sepi."
" Halah ngomong aja kalau loe mau tiduran di rumah." ketus Yusuf.
" Itu loe tahu, he he he."
" Loe juga mau rebahan di situ Ra?"
" Enggak gue cuma bentar doang kok. Gue harus nemenin sepupu gue. Tapi kalau enggak ketiduran di sini, he he he."
" Kalian itu ya, masak hari libur cuma mau buat rebahan doang?"
" Biarin, loe juga cuma main game. Udah ah gue ma Laura mau lanjut bobocan lagi." Hana memutus panggilan di ponsel Laura.
Laura beranjak dari kasur Hana, merapikan rambutnya.
" Mau kemana Ra?" tanya Hana.
" Gue cabut dulu ya Han, mau nemenin sepupu gue. "
__ADS_1
" Eh, loe beneran mau nemenin sepupu loe. Dia nginep di rumah loe?"
"Huum, dia sudah gue anggap kayak adik gue sendiri. Loe kan tahu kalau gue pengin banget punya adik. Dia seumuran dengan Evi, 2 tahun lalu ibunya baru meninggal."
" Innalillahi wainnailahi rojiun, gue ikut berbela sungkawa Ra."
" Ya sudah gue cabut dulu ya, jangan lupa jendelanya ditutup. Hati hati jaga rumahnya, jangan sampai ada pencuri masuk."
" Iya Laura sayang, hati hati di jalan ya. Salam buat sepupu loe."
Hana mengantar kepergian Laura sampai di pintu depan.
Laura sudah pulang, sepi dech. Masak iya seharian mau tiduran terus di kamar? Apa gue nyusul ke toko roti saja ya?
Baru saja Hana sampai di pintu kamarnya ponselnya berdering ada sebuah panggilan masuk.
Dewa? Cepat banget, memang dia sudah sampai di rumahnya?
"Hallo, Assalamualaikum." ucap Hana yang sudah terbiasa mengucap salam saat menerima panggilan.
"Waalaikumsalam, gimana kabar loe Han?" tanya Dewa dari seberang sana.
"Kabar apaan? Lebay amat, loe kan baru saja dari tempat gue. Ngapain tanya kabar?"
" He he he, siapa tahu sudah rindu sama gue."
" Loe lama lama ngeselin ya, gue kira loe orangnya pendiam ternyata......"
" Ternyata apaan? Ngangenin ya?" goda Dewa lagi. Entah mengapa sikap Dewa ke Hana benar benar 180° dari sikapnya selama ini. Bersama Hana Dewa lebih ceria dan banyak bicara tidak seperti sikapnya yang tertutup dan pendiam, selalu cool di hadapan cewek. Ia seakan terbebas dari kungkungan kekecewaan yang selama ini menjerat hatinya, kecewa dengan orang tua, hidup, bahkan dengan Tuhan yang telah menghancurkan harapan dalam hidupnya.
" Ih ngarep." ketus Hana.
" Nanti malam ada acara enggak? Jalan yuk, ada yang ingin gue bicarakan sama loe"
" Kemana?"
" Star Cafe? Entar jam 7an gue jemput loe."
" Jam 7 ya? Ok." jawab Hana tanpa perlu berpikir lama.
Sambungan itu pun terputus.
Eh tunggu, Dewa ngajakin gue jalan. Apa ini berarti dia ngajakin gue kencan?
__ADS_1
Hati Hana berbunga bunga karena ini akan menjadi kencan pertamanya.