
Syukurlah semua berjalan dengan baik. Aku tidak pernah mengira bahwa akan menjadi semudah ini. Huh..... rasanya begitu lega. Semua beban di hati seakan sirna begitu saja. Ini adalah moment yang paling aku nantikan selama. Ayah, ya lelaki ini adalah ayah kandungku. Ingin rasanya aku terus mengulang memanggil ayah untuk menggantikan panggilan yang tak pernah terucap ke orang tua kandungku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memudahkan semuanya.
" Ayo kita lanjutkan memancing. Kita masih punya perlombaan yang harus kita selesaikan. Atau kamu sudah mengakui kekalahanmu?" cibir Russell sembari menghapus sisa air mata di wajahnya.
" Ayo siapa takut? Mana mungkin aku mengakui kekalahan semudah itu? Aku tidak pernah mundur dari tantangan." tegas Dewa.
" Baguslah kalau begitu. Kamu memang pantas menjadi anakku." Russell menepuk bahu anak kandungnya dengan penuh rasa bangga.
" Terima kasih, karena kamu sudah datang ke tempat ini. Terima kasih karena kamu mau mengakui aku sebagai ayah kandungmu. Terima kasih karena kamu tidak membenciku, lelaki terbodoh yang pernah ada karena tidak pernah tahu tentang keberadaan anak kandungnya sendiri. Terima kasih, terima kasih, hiks hiks." Russell kembali terisak.
" Apakah kata maaf masih pantas untuk aku ucapkan? Maaf, maaf, maafkan aku. Hiks hiks."
" No, no, tidak perlu ada kata maaf antara ayah dan anak. Ayah tidak perlu meminta maaf seperti ini. Tidak ada yang perlu dimaafkan." Dewa kembali memeluk tubuh ayahnya.
" Hei ayolah bukankah ini hal yang membahagiakan. Kenapa harus penuh dengan air mata. Ayo kita hentikan semua ini. Air mata akan membuat ketampanan kita tertutupi. Aku tidak mau terlihat jelek." dengus Dewa sembari terkekeh di sela isakkannya.
" Huuuff kamu benar. Tidak seharusnya kita terus tenggelam dalam air mata." Russell mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
" Ayo kita duduk bersama ada banyak hal yang ingin kudengar darimu."
" Baiklah." Dewa dan Russell duduk bersama di sebuah bangku kayu kecil yang berada tidak jauh dari mereka.
" Bagaimana kabar ibumu? Dia hidup dengan baik?" tanya Russell lembut.
" Ibu baik, bahkan sangat baik. Dia mempunyai suami yang sangat mencintainya. Bahkan ayah mau menerima dan menganggapku seperti anak kandungnya sendiri."
" Oh, syukurlah..."
" Wait...... Ayah? Kamu memanggil suami ibumu dengan sebutan ayah?" tanya Russell penuh penekanan.
__ADS_1
" Memangnya apa salahnya aku memanggilnya ayah? Apa aku harus memanggilnya om, paman atau tuan? Dia menerima dan memperlakukanku sama seperti anak kandungnya. Bahkan dia menyekolahkan dan memberi kami fasilitas yang sama tanpa membeda bedakan status kami. Jadi sudah selayaknya aku memanggilnya ayah bukan?" tutur Dewa bersungut sungut.
" Ya,,, Aku tidak menyalahkanmu memanggil dia ayah. Dia memang sangat layak untuk menerima panggilan itu. Hanya saja aku tidak mau mempunyai panggilan yang sama dengannya. Bagaimana jika kelak kami berdiri bersama, terus kamu akan memanggil kami dengan panggilan yang sama?"
" Jangan panggil aku ayah, panggil aku papa. Ya, panggil aku papa. Itu lebih keren dan cocok untukku. Bagaimana?" ucap Russell tampak bangga dengan hasil pemikirannya.
Seriously? Dia saat seperti ini ayah justru memikirkan panggilan yang lebih tepat untuk dirinya? Ternyata dia adalah biang kerok dibalik sifat kenarsisanku. Oh sungguh tidak pernah terpikirkan olehku. Tapi ini lebih baik, dari pada kami terus larut dalam isak tangis seperti tadi. Dulu aku sering memikirkan apa yang akan aku lakukan dan ucapkan saat menemukan dirinya. Aku takut jika justru akan ada kecanggungan di antara kami. Tapi kini saat hari yang kunanti itu telah tiba, semua berjalan dengan sendirinya. Benar kata Hana selama ini, bahwa Tuhan telah mempunyai rencana terbaik untuk tiap makhluk Nya. Kita sebagai manusia hanya perlu menjalaninya dengan penuh keikhlasan.
" Heh kenapa malah bengong?! Apa yang kamu pikirkan? Kamu setuju kan untuk memanggilku dengam sebutan papa?" suara Russell membuyarkan lamunan Dewa.
" Iya baiklah aku akan memanggilmu papa." jawab Dewa dengan malas.
" Ngomong ngomong sejak kapan Ayah, eh Papa mengetahui bahwa aku adalah anakmu?"
" Kamu terlalu menganggap remeh seorang Russell Van Nero my son. Beberapa tahun yang lalu aku mendapat kabar bahwa ada seorang anak muda yang tengah mencariku, itu benar kamu kan? Tapi pencarianmu buntu karena aku sudah beberapa tahun meninggalkan dunia bisnis dan menetap di tempat ini. Lalu belakangan ada info lagi yang mengatakan bahwa ada seorang pengusaha kaya yang melanjutkan pencarian tentang diriku. Tentu saja aku mencari informasi tentang orang itu. Dan dari sana aku mulai tahu bahwa dia adalah Anton Dermawan, suami dari Sabila Zahrani. Aku sengaja membiarkan keberadaanku diekspose oleh mereka, tapi sayang mereka tidak mempunyai keberanian untuk bertemi langsung denganku. Padahal aku sangat penasaran dengan maksud mereka. Lalu tidak lama setelah itu kemarin kamu datang bersama istrimu. Tentu saja aku sangat terkejut melihat kedatangan kalian. Kamu kira aku dan Aleena akan membiarkan sembarang orang masuk di rumah kami?" Russell menatap ekspresi anaknya sejenak.
" Jadi dari awal Papa sudah mengenaliku?" tanya Dewa lembut.
" Secepat itu?" tanya Dewa penuh dengan kekaguman.
" Apa maksudmu secepat itu?" Russell tidak tahu arah pertanyaan anak kandungnya.
" Secepat itu orang orang Papa mencari informasi tentang diriku? Hanya dalam beberapa jam saja langsung bisa mendapat semua info yang Papa inginkan?"
" Wow....! Itu sungguh luar biasa." Dewa terlihat sangat mengagumi cara kerja orang orang suruhan papanya.
" Tentu saja. Itulah kehebatanku, Russell Van Nero. Meskipun aku telah menetap di desa kecil ini, tapi aku tidak kehilangan kekuasaan dan kemampuanku." ucap Russell dengan sombong.
" Oh ya tadi dari cerita Papa, Nyonya Aleena sudah mencurigai identitasku sebagai anak kandung papa dengan wanita lain, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dewa merasa tidak enak hati.
__ADS_1
" Apanya yang bagaimana? Dia sangat gembira saat orang orangku telah mengkonfirmasi kebenaran tentang dirimu."
" Nyonya Aleena tidak sedih atau pun marah?" Dewa meyakinkan sekali lagi.
" Tentu saja tidak. Kenapa harus marah? Dia wanita yang sangat baik. Bahkan dia merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya kami ternyata mempunyai anak. Meskipun bukan dari rahimnya sendiri tapi dia sangat bahagia. Tidakkah kamu lihat bagaimana perlakuannya ke dirimu dan Hana?"
" Papa benar dia wanita yang sangat baik. Apa Papa tahu bagaimana aku mencoba meredam gejolak dalam hatiku saat pertama kali melihat Papa? Ingin rasanya aku berteriak dan memeluk tubuh Papa, tapi semua itu aku urungkan karena takut melukai perasaan Nyonya Aleena. Aku takut dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Papa memiliki anak dengan wanita lain dan akhirnya hanya akan memperburuk kesehatannya. Tapi ternyata aku dan Hana salah. Dia sungguh wanita luar biasa."
" Heh, jangan samakan Aleena dengan wanita lainnya. Kamu terlalu berpikir jauh. Kita hidup dengan latar belakang budaya yang berbeda." Russell seakan mengerti dengan pemikiran anaknya.
" Kalau begitu cepat ceritakan tentang kisah Papa dan Nyonya Aleena. Aku sangat penasaran dengan kisah cinta kalian. Cinta kalian pasti sangat kuat." desak Dewa sangat antusias.
" Baiklah aku akan bercerita tentang kisah kami dan juga juga ibumu, Rani. Tapi mengapa kamu terus memanggil istriku dengan sebutan nyonya. Panggil dia mama mulai saat ini." ketus Russell.
" He he, baiklah. Maaf aku belum terbiasa."
Russell mulai bercerita tentang kisah cintanya bersama dengan Aleena, pasang surut kehidupan mereka. Dan yang sangat Dewa nantikan, kisah Russell dan Rani, orang tua kandungnya. Bagaimana mereka menjalani kawin kontrak. Perjalanan kehidupan Russell sampai bisa memutuskan menetap di desa kecil seperti Giethoorn saat ini.
" Huuuffff....." Russell menghela napas panjang di akhir ceritanya.
" Bagaimana menurutmu? Setelah kamu mengetahui kisah lengkapnya apakah kamu membenci dan menyalahkanku?" Russell menatap sendu ke arah manik hijau yang terlihat berkaca di depannya.
" Tidak Papa. Aku tidak menyalahkan Papa atau siapa pun juga. Dulu saat aku masih sangat muda aku memang pernah menyalahkan semuanya. Aku membenci Ibu, Papa, kehidupan dan bahkan Tuhan. Aku merasa seperti dihianati oleh harapan terbesarku. Aku terperosok ke jurang kesedihan dan kekecewaan yang teramat dalam. Aku kehilangan arah dan warna hidup. Sampai pada akhirnya Hana datang dalam kehidupanku. Dia mampu menarikku keluar dari jurang itu. Hana dan keluarganya mengajariku banyak hal tentang arti keluarga dan kasih sayang. Dia adalah wanita yang sangat luar biasa Papa. Ah, mengapa tiba tiba aku malah membicarakan Hana? Aku jadi rindu dengan dirinya." dengus Dewa.
" Jangan gila. Kamu hanya meninggalkan Hana untuk beberapa menit saja. Kenapa bisa berlebihan dengan mengatakan rindu padanya...!"
" Ha ha ha, Papa benar aku memang baru beberapa menit saja tidak bertemu tapi entah mengapa rasanya sudah rindu seperti ini. Aku sangat mencintainya Papa, sangat. Dia adalah segalanya dalam hidupku."
" Ya , aku bisa melihat itu semua. Hana memang wanita yang luar biasa. Dalam sekejap ia bisa menghadirkan senyum di wajah cantik Aleena. Kamu sangat beruntung bisa mendapatkan dia. Sekarang giliranmu untuk bercerita tentang kisah hidupmu. Ceritakan semua padaku." pinta Russell.
__ADS_1
Lelaki yang sudah tidak muda itu lagi mendengar penuturan kisah hidup Dewa tanpa ada sosok ayah di sisinya dengan seksama. Perasaannya bercampur aduk tidak menentu. Diam diam ia merutuki kebodohannya karena selama ini tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya ia mempunyai seorang anak lelaki yang teramat tampan. Ia tak mampu menghapus perasaan bersalahnya.
Anakku bagaimana aku harus menebus semua ini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu dulu tanpa ada sosok ayah di sisimu.