Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Kehangatan Susu Jahe


__ADS_3

Alih alih membantu suaminya membersihkan ikan di dapur, Hana justru duduk santai bersama papa dan mama mertua barunya. Ketiganya tampak larut dalam obrolan ditemani dengan bolu cheese almond dan susu jahe resep andalan keluarga Hana yang menghangatkan tubuh.



" Bolu ini memang sangat lezat Honey, kamu memang pandai membuat kue. Apalagi dinikmati bersama susu hangat ini. Mmmm, perfecto. Ini disebut susu apa tadi Honey aku lupa." Aleena tampak begitu menikmati makanan di mulutnya.


" Susu jahe Ma. Mirip dengan susu adas yang entah apa namanya tadi yang Mama suguhkan untuk kami. Hanya saja susu jahe ini ditambah dengan banyak rempah lain selain adas, ada kayu manis, cengkeh dan tentu saja jahe. Rempah rempah itu yang menambah aroma dan rasa susu ini sekaligus berkhasiat menghangatkan tubuh." tutur Hana.


"Susu jahe ya? Baiklah lain kali aku akan membuatnya. Nanti tolong buatkan resepnya ya Honey."


" Ok Mama mertuaku yang cantik." Hana tersenyum lembut.


" Honey ceritakan tentang dirimu dan Dewa agar aku lebih mengenal kalian." pinta Aleena.


" Aku dan Dewa? Aku harus memulai dari mana?"


" Mulai dari kehidupanmu. Aku penasaran dengan dirimu. Waktu kecil kamu pasti sangat menggemaskan. Orang tuamu pasti sangat bahagia bisa mempunyai anak semanis dirimu." tutur Aleena terlihat sangat antusias ingin mendengar kisah menantu perempuannya.


" Benar ceritakan tentang dirimu sayang aku juga ingin mengenal sosok perempuan yang berhasil menjadi tambatan hidup anak lelakiku. Dan dari penuturan Dewa, kamu adalah perempuan luar biasa yang bisa mengeluarkan dirinya dari jurang kekecewaan dan kesedihan. Kamu sangat berjasa dalam kehidupannya. Aku sangat penasaran dengan kehidupanmu sayang." imbuh Russell.


" Itu terlalu berlebihan Papa mertua. Aku tidak pernah merasa berjasa dalam hidup Dewa. Justru akulah yang sangat beruntung karena bisa bersanding dengan lelaki setampan dirinya." Hana tersipu malu.


" Baiklah aku akan bercerita tentang kehidupanku. Tapi semoga saja kalian tidak akan bosan karena memang tidak ada yang spesial dari diriku."


" Aku anak pertama dari dua bersaudara. Ayah seorang PNS dan Ibu mempunyai toko kue kecil untuk membantu perekonomian keluarga kami. Hidup kami sederhana tapi orang tuaku tidak pernah membiarkan aku kekurangan satu hal apapun. Aku tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah. Mereka mengajarkanku banyak hal dan tidak segan segan memarahiku jika aku berbuat salah. Terutama ibuku, meskipun dia sering mengomeli dan memanggilku panci gosong tapi aku sangat yakin bahwa dia sangat menyayangiku." tiba tiba saja Hana mulai menitikkan air mata.


" Ah maaf, aku tidak sengaja. Mengapa ada air mata di pipiku? He he." Hana mencoba untuk tersenyum menutupi perasaan rindunya yang tiba tiba saja membuncah saat bercerita tentang kedua orang tuanya. Ini adalah kali pertama Hana pergi jauh meninggalkan rumahnya.


" Are you oke Honey?" Aleena mengelus punggung Hana dengan lembut.


" I am oke. Tapi entah mengapa tiba tiba saja aku sangat merindukan ayah dan ibuku Mama. Aku merindukan omelan ibuku yang sering mengataiku panci gosong. Hiks hiks. Meskipun dia sering marah marah tapi aku selalu merasa aman dan nyaman di dekatnya. Hiks hiks. Ibu....... Aku rindu Ibu, Mama.... Aku merindukannya."


" Hei, tenanglah Honey. Ibumu juga pasti sangat merindukanmu. Kenapa tidak video call saja? Sekalian aku juga ingin mengenal wanita yang telah membesarkan dirimu." usul Aleena.


" Ah, Mama benar. Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku ya?" raut wajah Hana berubah riang seketika.


" Aku akan menghubungi Ibu." Hana mulai mengotak atik ponselnya. Dan dalam sekejap panggilan video callnya telah tersambung. Wajah wanita yang telah melahirkan dirinya 24 tahun silam muncul di benda pipih yang berada di genggaman tangannya.


" Assalamualaikum Ibu...." seru Hana.


" Waalaikumsalam....Hoamm...." jawab Ibu Hana.


" Ibu, bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" suara Hana terdengar riang.


" Heh panci gosong, kamu masih ingat juga dengan kami. Sudah berapa hari kamu di sana, dan baru sekarang kamu menghubungi ibu?" tanya ibu Hana geram.


" He he, maaf Bu. Hana lupa. Tapi aku sangat merindukan Ayah dan Ibu. Kalian baik baik saja kan?"


" Kami baik baik saja Nak, bagaimana keadaanmu dan Dewa. Baik baik saja kan?" wajah ayah Hana kini sudah berada di sisi istrinya.


" Ayah?! Aku dan Dewa baik baik saja Ayah. Tunggu dulu, wajah Ayah dan Ibu terlihat seperti mengantuk. Apakah aku mengganggu kalian?"


" Tentu saja tidak Nak, ayah sangat senang bisa melihat dirimu seperti ini." ucap ayah Hana.


" Ayahmu tadi sudah tidur, tapi begitu mendengar suaramu langsung terbangun." sahut ibu Hana.


" Ah benarkah? Tapi mengapa jam segini Ayah sudah tidur? Apa Ayah baik baik saja?"


" Apa maksudmu jam segini? Di sini hampir jam dua belas malam. Sudah wajar jika Tuanku Hasanudin tidur." ketus ibu Hana.

__ADS_1


" Ah maaf aku lupa kalau ada perbedaan waktu enam jam. He he." Hana meringis memperlihatkan deret putih giginya.


" Tuanku Hasanudin? Siapa itu Honey?" tanya Aleena yang sedari tadi mendengar perbincangan Hana dan orang tuanya.


" Dia ayahku Ma. Ibuku sering memanggil ayah dengan panggilan seperti itu." jelas Hana.


" Hana, itu suara siapa?" tanya ibu Hana.


" Mama mertuaku Bu. Aku sedang bersama dengan Mama dan Papa mertuaku. Lihatlah, mereka ingin mengenal Ayah dan Ibu." Hana mengarahkan ponselnya ke arah Aleena dan Russell.


" GUSTIIIIII.... Mengapa kamu tidak bilang jika ada besan di dekatmu." ibu Hana cepat cepat merapikan rambutnya yang berantakan.


" Hai....." sapa Aleena melambaikan tangannya saat ponsel Hana menyorot ke dirinya.


" Hai..." ibu Hana membalas melambaikan tangan dengan tersenyum kaku.


" Perkenalkan saya Aleena, mama mertua dari putri Anda." Aleena tersenyum ke arah Ibu Hana.


" Eh, bule bisa ngomong bahasa Indonesia?" tanpa sadar sebuah pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulut ibu Hana.


" Ah maksud saya hai Nyonya Aleena saya Dina ibu mertua Dewa dan dia adalah suami saya, Hasanudin." jawab ibu Hana dengan sedikit kikuk.


" Maaf jika tadi Anda harus mendengar saya berkata yang tidak tidak."


" Tidak apa apa. Saya senang melihat keakraban Anda dan Honey, sangat manis." puji Aleena.


" Begitukah?"


" Ya, saya merasa Anda pasti seorang wanita yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan anak semanis Honey. Saya tidak sabar ingin berjumpa dengan Anda secara langsung, pasti akan sangat mengasyikan."


" Oh? Iya. Saya akan menanti hari itu." ucap ibu Hana.


" Hai Tuan. Kami orang tua Hana. Salam kenal." ucap ibu Hana tampak berhati hati dalam berucap. Entah mengapa dia merasa sungkan dengan mama dan papa mertua anaknya.


" Hai, saya Russell. Salam kenal." jawab Russell dengan singkat.


" Oh ya Bu, bagaimana kabar evi? Dia juga baik baik saja kan?" tanya Hana yang teringat dengan adik semata wayangnya.


" Dia baik baik saja. Setiba di Jakarta dia sudah menghubungi kami. Oh ya Sayang dimana suamimu? Kalian tidak sedang bersama?" tanya ibu Hana dengan nada yang lebih halus.


" Oh, dia sedang membersihkan ikan di dapur." jawab Hana dengan datar.


" Apa kamu bilang?! Dewa sedang membersihkan ikan di dapur, dan kamu malah enak enakan duduk santai? Istri macam apa kamu? Bagiamana pendapat kedua mertuamu dengan sikapmu yang seperti itu?" ibu Hana mulai bersungut sungut.


" Tidak apa apa Nyonya, Hana menantu yang baik. Dan mengenai Dewa yang sedang membersihkan ikan di dapur itu bukan kesalahan Hana, tapi merupakan hukuman dariku karena Dewa kalah dalam pertandingan." tutur Russell membela menantu perempuannya.


" Ah maaf Tuan Russell. Bukan maksud saya. Hanya saja terkadang Hana memang agak keterlaluan."


"Tidak apa apa. Saya malah senang melihat sikap Hana yang tidak membiarkan orang lain menindasnya." imbuh Russell.


" Terima kasih Tuan Russell , Anda dan Nyonya Aleena telah memperlakukan Hana dengan baik. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf bila ada sikap anak saya yang kurang berkenan di hati Anda."


" Tidak perlu sungkan seperti ini Nyonya. Hana dan Dewa adalah anak anak kami juga. Jadi Anda jangan terlalu sungkan." ucap Aleena.


" Baiklah kalau begitu kami permisi dulu. Selamat menikmati kebersamaan kalian. Semoga kalian selalu diberi kesehatan. Dan aku titip salam untuk menantu gantengku yang sayang."


" Wassalamualaikum." ucap ayah dan ibu Hana bersamaan sambil melambaikan tangan. Keduanya tampak tersenyum lega melihat keadaan anaknya baik baik saja bersama orang orang yang menyayanginya.


" Waalaikumsalam." jawab Hana mengakhiri panggilan video callnya.

__ADS_1


" Bagaimana Honey, sudah lebih baik sekarang?" tanya Aleena dengan senyum yang mengembang.


" Iya. Sekarang sudah jauh lebih tenang setelah melihat wajah kedua orang tuaku baik baik saja." Hana bernafas lega.


" Kalau begitu ayo sekarang lanjutkan ceritamu tentang dirimu dan Dewa. Ceritalah aku penasaran dengan kisah cinta kalian. Dan kali ini jangan ada kebohongan lagi. Jangan bilang kalau kalian telah melakukan kawin lari karena tidak mendapat restu dari orang tua." sindir Aleena mengingat kebohongan Fewa dan Hana.


" Baiklah. Namun aku yakin kisah cinta kami tidak sebanding dengan kisah cinta Papa dan Mama mertua." Hana pun mulai bercerita tentang kisah dirinya dan Dewa mulai dari awal pertemuan sampai mereka menikah.


" Sayang kamu tidak bercerita tentang perkelahian kita dengan team RAME ataupun para penjahat itu?" sambung Dewa yang tiba tiba saja sudah duduk di dekat ayahnya.


" Berkelahi? Oh kamu pasti sangat ketakutan saat berada di situasi itu Honey." Aleena menatap nanar ke arah Hana.


" Ketakutan? Jangan salah Mama. Istriku ini adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. Dia sangat jago berkelahi. Bahkan dia bisa menumbangkan empat lelaki dengan tangan kosong." ucap Dewa cuek sambil mengambil cangkir berisi susu jahe yang memang disiapkan untuk dirinya.


" Apa yang kamu bicarakan? Mengapa kamu membahas ini di depan Mama dan Papa?" bisik Hana sambil melotot ke arah suaminya.


Dewa hanya menggerdikan bahu, tidak merasa terintimidasi dengan tatapan istrinya.


" Benarkah Honey? Kamu jago berkelahi? Wow, aku sama sekali tidak menduga bahwa perempuan semanis dirimu ternyata punya sisi liar juga." mata Aleena tampak berbinar.


" Tidak hanya itu Ma, istriku juga sangat lihai mengendarai mobil dan bahkan motor. Keahliannya hampir setara dengan pembalap sungguhan." Dewa tampak bersemangat menceritakan sisi lain istrinya yang membuat wajah Hana memerah menahan malu.


" Wah benarkah? Ayo ceritakan cerita lengkapnya sayang. Aku sama sekali tidak menyangka Hana bisa melalukan itu semua." pinta Aleean yang sepertinya sudah tisak sabar mendengar sisi menarik dari seorang Hana.


"Dengan senang hati Mama Aleena yang cantik."


Dewa mulai bercerita tentang istrinya yang suka berkelahi dan kebut kebutan. Bahkan Dewa juga menceritakan tentang Hana yang mendapat hukuman lari mengitari lapangan saat MOS dan membersihkan toilet karena tidak memakai topi saat upacara.


Sialan Dewa, kenapa dia menceritakan ini semua kepada Mama dan Papa mertua. Ini sangat memalukan. Tapi bagaimana Dewa bisa tahu tentang hukuman yang aku terima saat MOS dan upacara? Apakah diam diam dia sudah memperhatikan aku sejak saat itu?


" Ha ha ha......" Aleena dan Russell tertawa lepas mendengar penuturan Dewa tentang sisi lain menantunya yang ternyata juga sedikit bandel dan tomboy.


" Bagaimana Sayang? Bukankah itu semua benar? Kenapa wajahmu terlihat merah seperti itu? Kamu malu ya?" ejek Dewa mendapati wajah istrinya yang merona.


Awas saja kamu Dewa. Akan aku balas ini semua. Kita lihat apakah kamu masih bisa tertawa setelah melihat ini.


" Ah baiklah. Apa yang dibilang suamiku itu memang benar. Aku memang suka berantem dan balapan." Hana menghela napas dalam.


" Aku juga akan menunjukkan sisi lain suamiku."


" Aku tidak punya sisi lain sayang. Semua kebejatanku sudah aku tinggalkan. Papa juga sudah mendengar langsung dari mulutku." Dewa tersenyum merasa tidak ada hal yang ditutupi dari dirinya.


" Benarkah?" Hana menyeringai.


" Lihatlah ini Mama." Hana menunjukkan sebuah gambar di ponselnya yang membuat Aleena membelalakkan mata dan sesaat sesudahnya tertawa terpingkal pingkal sampai menangis.


" Ha ha ha. Ini sangat lucu dan menggemaskan Honey. Ha ha ha." Aleena masih saja tertawa terpingkal pingkal.


" Cepat perlihatkan padaku sayang." pinta Russell.


Hana mengarahkan ponselnya ke arah suami dan papa mertuanya. Sontak membuat Russell melakukan hal yang sama dengan Aleena, bahkan ia sampai memegangi perut dan tangan satunya memukul mukul pahanya sendiri.


" Heh apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menunjukkan ini semua kepada Mama dan Papa? Ini sungguh memalukan. Cepat hapus gambar itu!" Dewa berusaha merebut ponsel Hana yang mana memperlihatkan gambar dirinya sedang berpose ala ala cosplayer kucing centil dengan kostum dan make up yang mendukung serta aksesories telinga kucing di kepalanya. Penampilannya kian total dengan sepatu high heels dan rambut palsu berwarna pink menyala.


" Cepat hapus gambar itu!" Dewa mengejar Hana untuk merebut ponselnya. Tapi seperti biasa Hana terus berlari dan berkelit dari kejaran suaminya. Hal itu membuat Russell dan Aleena kian tertawa lepas.


Sungguh pemandangan yang belum pernah terjadi di rumah indah itu. Rumah yang biasa terlihat sepi kini terdengar riuh tawa dari pemiliknya. Di dalamnya ada kehebohan aksi kejar kejaran sepasang suami istri yang melupakan dinginnya cuaca di Giethoorn saat bulan November.


Entah karena susu jahe atau cinta kalian yang telah mampu menghangatkan dinginnya udara musim ini.

__ADS_1


__ADS_2