
Wajah Hana masih terlihat kesal dan marah setelah bertemu dengan Rizal. Jauh di dalam hatinya ia bahagia karena bisa bertemu dengan sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Tapi mendengar kenyataan bahwa dia telah beristri tiga membuat hatinya menjadi gerah. Bagaimana bisa Rizal semudah itu melakukan poligami di usianya yang masih tergolong muda. Dia melakukan itu dengan bertamengkan ajaran agama. Hana tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rizal.
Sedangkan Yusuf justru merasa tertarik dengan kehidupan Rizal. Dia menerima tawaran sahabatnya untuk ikut pulang bersama ke rumah orang tuanya sekadar untuk melepas kangen karena masih ada banyak cerita yang ingin mereka sampaikan setelah sekian lama tak bersua. Dan tujuan utama Yusuf adalah untuk mengenal istri istri sahabatnya itu. Ia penasaran bagaimana kehidupan Rizal bersama para istrinya.
Yusuf mengantar Hana ke mobil Dewa sekalian berpamitan bahwa dia ingin pergi ke rumah Rizal untuk melepas kangen. Sebenarnya Yusuf masih ragu membiarkan Hana berduaan dengan Dewa. Dia takut jika Dewa berbuat tidak senonoh ke Hana, karena jika ada dua orang berduaan maka akan ada setan sebagai pihak ketiga yang mengajak mereka untuk berbuat maksiat. Sehingga dia lebih rela menjadi pihak ketiga untuk mencegah kemaksiatan, terlebih Yusuf pernah memergoki Hana dan Dewa tengah bercumbu mesra di kolam renang. Tapi jika terus mengekor Hana dan Dewa, yang ada perasaannya semakin terluka harus melihat wanita yang masih sangat ia cintai bersama dengan lelaki lain yang notabenya adalah saudaranya sendiri.
" Kalian hati hati di jalan ya, ingat jangan berbuat macam macam. Ada malaikat yang selalu mengawasi kalian." Yusuf menekankan ucapannya seakan memberi peringatan ke Dewa.
" Kamu enggak usah khawatir. Kami pergi dulu." Dewa melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan raut muka Hana terlihat masam.
" Kamu kenapa sih Yank? Habis ziarah ke makam sahabatmu kok mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Dewa yang heran dengan sikap Hana.
" Aku enggak apa apa." ketus Hana.
" Dasar lelaki, memangnya dia anggap wanita itu apa? Seenaknya menduakan hati. Apa dia kira wanita tidak memiliki perasaan?" gerutu Hana sembari bersungut sungut.
Dewa yang tidak mengetahui sebab musababnya terheran heran mendengar omelan calon istrinya itu.
Ini kenapa sih? Kesambet kali ya?
" Eh salah, bukannya menduakan tapi mentigakan. Bawa bawa ajaran agama lagi." Dewa semakin heran dengan sikap Hana. Dia menepikan mobilnya dan berhenti di pinggiran jalan.
" What is wrong? Tell me baby." Dewa menatap lekat wajah Hana.
" Apa menurut lelaki, wanita hanya makhluk yang harus tunduk dan patuh kepadanya sehingga ia bebas memperlakukan seenak hatinya tanpa mempedulikan perasaan wanita?" nada Hana meninggi.
" Tentu saja tidak, siapa yang bilang seperti itu?"
" Sebenarnya kamu kenapa habis dari makam sahabatmu kok malah jadi sewot kayak gini?" telisik Dewa.
" Huffff...." Hana menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan mencoba meredakan amarahnya.
__ADS_1
Tunggu dulu, sebagai lelaki apa mungkin Dewa juga mau istri lebih dari satu?
" Apa kamu punya niatan untuk berpoligami?" Hana menatap tajam wajah Dewa.
" Apa? " Dewa mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali.
Apa Hana beneran kesambet ya?
" Kamu baik baik saja kan Yank?" Dewa menyentuh dahi dan pipi Hana.
Enggak panas kok...
Hana menampik tangan Dewa.
" Apaan sich? Aku baik baik saja. Buruan jawab pertanyaanku tadi. Kamu punya niatan untuk berpoligami? Ingin punya istri lebih dari satu, dua, tiga, atau bahkan mungkin empat istri?" desak Hana.
" Kamu apaan sih Yank? Ya enggak mungkin lah. Hati aku cuma satu, dan kamu adalah satu satunya wanita yang bertahta di sana. Buat apa berpoligami? Kamu adalah segalanya, aku harap kita bisa selalu bersama selamanya sampai nanti akhir hayat. Dan kelak kita bisa bersama kembali di surga. Tapi kamu harus setia menunggu aku soalnya kayaknya aku bakalan lama mampir di neraka dulu deh buat penebusan dosa, he he."
" Sudah dong manyunnya, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tiba tiba bertanya seperti itu?" tutur Dewa lembut. Tangannya membelai rambut Hana dengan penuh kasih sayang. Tatapan Dewa mampu meluruhkan amarah Hana.
" I am promise. You will be the only one. You must believe that, ok?" Dewa menyatukan jari kelingkingnya dengan Hana.
" Kamu enggak akan pernah menghianati aku kan?"
" Ya Allah sayang, harus bagaimana aku meyakinkan kamu. Ok,, aku memang pernah menjadi lelaki brengsek. Tapi aku bisa pastikan bahwa aku akan menjadi suami yang baik buat kamu. Sampai kapan pun aku enggak akan pernah menghianati kamu. Can you believe me?" Dewa menggenggam erat tangan Hana.
" Sekarang kamu cerita, sebenarnya ada apa? Mengapa kamu tiba tiba membahas masalah poligami dan kesetiaan? Apa mungkin sebenarnya kamu masih meragukan cintaku?"
" Bukan seperti itu. Aku enggak pernah meragukan cintamu." jawab Hana cepat. Ia takut jika Dewa marah karena pikiran konyolnya.
" Lalu kenapa tiba tiba kamu marah dan membahas masalah poligami?"
Iya juga ya, mengapa aku harus marah ke Dewa. Dia kan enggak tahu apa apa. Yang beristri tiga kan Rizal bukan dia. Aku apa apan sih? Apa karena aku takut kehilangan Dewa. Apa karena Dewa terlalu sempurna di mataku sehingga aku merasa insecure. Huh, bodohnya aku? Kenapa aku bisa meragukan cinta Dewa.
__ADS_1
" Maaf. Tadi aku kebawa emosi. Aku percaya dengan cinta kamu kok..." ucap Hana dengan lembut.
Akhirnya Hana menceritakan tentang pertemuannya dengan Rizal di makam. Dia menuturkan tentang kisah Rizal yang telah beristri tiga di usianya yang ke 24 tahun.
" Nyebelin banget kan Yank? Aku sebel banget, dia anggap wanita itu apa?" Hana menutup ceritanya.
" Ha ha ha , jadi karena itu kamu marah? Ha ha ha..." Hana menjadi bingung karena Dewa justru menanggapi ceritanya dengan tertawa.
" Kok malah tertawa? Ich nyebelin banget." Hana memukul lengan Dewa.
" Aouw sakit Yank, kamu enggak berubah suka banget mukul orang." keluh Dewa.
" Abis kamu nyebelin, kenapa kamu malah tertawa?"
" Habis kamu itu lucu. Itu kan hidup Rizal, jadi terserah dia mau punya istri berapa. Kok malah kamu yang sebel? Kan aneh, hidup hidup dia, istri istri dia. Enggak ada kaitannya dengan hubungan kita kan? Kenapa kamu harus marah. Atau jangan jangan karena kamu terlalu mencintai aku ya, sehingga takut kehilangan? He he." goda Dewa.
" Kalau iya kenapa? Enggak boleh kalau aku takut kehilangan kamu?" suara Hana terdengar pelan. Entah kenapa tiba tiba pelupuk matanya terasa panas karena genangan air yang mendesak ingin keluar.
" Memang salah ya kalau aku khawatir dengan hubungan kita?" mata Hana mulai terlihat berkaca kaca.
" Hai, kenapa jadi baper kayak gini? Kamu boleh kok khawatir tentang kita, itu hak kamu. Aku malah senang banget karena ternyata calon istriku ini sangat mencintaiku. Jangan nangis dan sedih lagi ya." Dewa mengecup lembut kening Hana.
" Sekarang lebih baik?"
Hana menganggukkan kepalanya. Hatinya menghangat karena perlakuan manis Dewa.
" Kamu harus percaya bahwa hatiku hanya untuk kamu. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak akan pernah menghianati hubungan kita, apalagi sampai berpoligami. Kamu adalah segalanya bagiku, enggak ada yang lain. Jika sampai aku melanggar janjiku, biarlah Tuhan mengambil nyawaku." ucap Dewa dengan penuh kesungguhan.
" Ssstttt,, jangan berkata seperti itu. Aku enggak mau sesuatu yang buruk menimpamu." Hana terlihat sendu.
" Baiklah. Sudah enggak usah sedih lagi. Kita lanjut jalan? Bukankah ini kencan pertama kita setelah lama tidak berjumpa?"
" Memangnya ini kencan?" tanya Hana polos.
__ADS_1
" Kalau bukan lalu apa? Bagaimana kalau kita nonton bioskop, atau mau jalan jalan ke pasar malam? Anggap saja kita mengulang masa remaja kita dulu."
" Baiklah, ayo kita lanjut kencan kita." jawab Hana dengan semangat.