Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Merajut Mimpi


__ADS_3

Seiring dengan berputarnya waktu Hana sudah bisa berdamai dengan keadaan dan hatinya. Ia sudah terbiasa tanpa ada sosok Dewa di sampingnya. Ia juga bisa menerima bahwa Dewa maupun Yusuf tidak bisa menghubunginya sesering dahulu, maklumlah jadwal mereka sangat padat. Bahkan tanpa Hana sadari sudah hampir sebulan Dewa tidak menghubunginya.


Hari harinya ia jalani dengan penuh kebahagiaan dan semangat. Bersama dengan Laura dan sahabatnya yang lain ia merangkai hari hari yang menyenangkan di sekolahnya.


Semenjak kepergian Yusuf kini Rayhan semakin dekat dengan Laura dan Hana. Bahkan ketiganya sering menghabiskan waktu bersama, entah jalan keluar, di group melukis atau saat istirahat makan di kantin.


" Enggak terasa sebentar lagi sudah kenaikan kelas ya, padahal kayak baru kemarin kita jadi murid baru." tutur Hana di sela makannya bersama Laura dan Rayhan.


" Huum waktu memang berjalan sangat cepat. Oh ya gimana kabar Yusuf ya? Akhir akhir ini dia sudah enggak pernah kasih kabar. Terakhir telpon saat dia baru masuk sekolah baru di Singapura." imbuh Laura.


" Mungkin sibuk banget kali Ra, selain sekolah di sana dia kan juga mulai belajar di perusahaan ayahnya." jelas Hana.


" Wah hebat ya, enggak nyangka si Yusuf sudah mulai merintis masa depannya." Rayhan merasa kagum dengan pencapaian Yusuf.


" Iya enggak nyangka banget, padahal selama ini dia paling nyantai kalau disuruh belajar. Sekarang dia sudah melangkah mendahului kita semua. Ngomong ngomong Kak Rayhan selesai belajar di sini mau lanjut kemana?" tanya Laura.


" Kayaknya sih ke Australia ngikutin jejak kakak gue buat kuliah di sana. Semoga saja nanti bisa masuk jurusan kedokteran, soalnya ayah dan kakak gue semua masuk jurusan kedokteran. Doain ya. Kalau loe sendiri mau kemana?"


" Gue belum tahu Kak, nanti paling ambil jurusan bisnis." jawab Laura tak yakin dengan jawabannya.


" Kalau loe Han?" tanya Rayhan ke Hana yang masih menyeruput es teh manis di depannya.


" Eh, gue pengin ambil jurusan pendidikan saja deh Kak. Kuliah di sini saja yang dekat, selain hemat biaya juga sekalian bantu ibu ngembangin toko roti." jawab Hana mantab. Akhir akhir ini dia memang mulai tertarik dengan usaha toko roti milik ibunya. Hana mulai mempelajari tata cara mengelola dan mengembangkan bisnis kecil ibunya itu.


" Loe mau jadi guru?" tanya Laura agak heran.


" Iya."


" Yakin? Loe yang petakilan kayak gini pengin jadi guru? Enggak nyangka gue kalau loe pengin jadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa." cerocos Laura.


" Maksud loe? Gini gini gue juga bisa jadi kalem kok. Tapi pas lagi ingat saja, ha ha ha. Ngomong ngomong Rizal dan Agung kemana sih? Perasaan sekarang mereka jarang ngumpul deh pas jam istirahat." mata Hana celingukan mencoba mencari sosok kedua sahabatnya.


" Agung lagi giat ke perpustakaan soalnya dia lagi berusaha dekat dengan Arini, si cewek kutu buku, kalau Rizal biasa lah ngekor si Selvi. Semenjak di campakkan Dewa, Selvi mau tuh sama Rizal. Rizal saja yang bodoh mau nerima bekas Dewa. Padahal dia tahu kalau cewek sudah dipegang Dewa pasti akan rusak."


" Hush kalau ngomong jangan ngasal dong, masak disamain sama barang bekas. Enggak segitunya juga kali. Lagian kita kan juga enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Hana mencoba menutupi perasaanya dengan sebuah senyum yang ia paksakan. Entah mengapa mendengar sahabatnya berkata buruk tentang pujaan hatinya timbul perasaan tidak rela padahal apa yang diucapkan Laura juga tidak sepenuhnya salah.


" Oh gue belum cerita ke loe ya, kalau Dewa sekarang menjadi kakak tiri Yusuf." ucap Hana untuk mengalihkan Laura agar tidak terus menerus menjelekkan Dewa.


" Whattt..!" pekik Laura terkejut.


" Really..? Loe tahu dari mana?"


" Kemarin pas Yusuf telpon dia cerita sama gue. Kirain loe sudah tahu Ra."


" Sumpah gue baru tahu sekarang. Yusuf kok enggak cerita sama gue ya? Wah keterlaluan banget." dengus Laura.


" Mungkin dia lupa." jawab Rayhan dengan datar yang sedari tadi diam menyimak.


" By the way kalian akrab banget sama Yusuf. Apa mungkin lebih dari sekedar sahabat?" Rayhan menatap tajam ke arah Hana.


" Enggaklah." jawab Laura cepat.


" Iya." singkat Hana.


Laura dan Rayhan menatap Hana lekat meminta penjelasan.


" Maksud gue Yusuf memang lebih dari sekedar sahabat, dia sudah kayak saudara gue sendiri." Hana menyeringai.


Yusuf memang bakal jadi saudara gue. Dia kan sekarang sudah menjadi saudara Dewa.


" Oh." Laura dan Rayhan ber oh ria bersama.


" Cie, cie, kompakan nih ya.... Jangan jangan ada sesuatu yang gue enggak tahu nih. Saya mencium aroma aroma cinta. Ha ha ha." goda Hana.


" Deg..!" perkataan Hana seakan telah menembus ke jantung Laura. Wajahnya memerah. Mau sekeras apa pun usaha Laura untuk mematikan benih cinta di hatinya tetap saja gagal. Nyatanya benih cintanya kepada Rayhan semakin hari malah semakin membesar.


" Apaan sih Han? Enggak lucu tahu." dengus Laura.

__ADS_1


" Ye..... enggak apa apa kali. Kalian berdua cantik dan ganteng sama sama baik dan jomblo lagi. Pasangan yang tepat kan?"


" Loe juga jomblo dan cantik. Berarti kita juga ada harapan dong?" tanya Rayhan sembari tersenyum ke arah Hana.


" Eitttt gue enggak masuk nominasi soalnya gue mau fokus belajar dulu. Lagian kata siapa gue jomblo?"


"Hah? Maksudnya loe sudah punya pacar Han? Kapan, siapa? Kok gue enggak tahu?" selidik Laura.


" Ada deh, yang jelas saat ini gue lagi mau fokus ke cita cita gue dulu. Urusan cinta nanti gampang." kilah Hana.


Ya iya lah gue harus fokus ke cita cita dulu. Orang yang gue cinta juga enggak ada di sisi gue, lagi fokus belajar dan berusaha meraih impian.


"Sudah yuk Ra kita cabut ke kelas. Sebentar lagi jam istirahat habis." Hana beranjak dari duduknya.


" Cabut dulu ya Kak."


" Ya, gue juga mau cabut owk."


Mereka pun kembali ke kelas masing masing.


" Cie yang lagi sibuk ngejar ngejar gebetan, sampai lupa sama sahabat." cibir Hana saat mendapati Rizal dan Agung yang sudah duduk sebelahan di bangku kelasnya. Semenjak kepergian Yusuf, Laura sebangku dengan Hana, dan Agung sebangku dengan Rizal.


" Iya benar loe Han, kita sudah tersisihkan. Cantik memang aku akui. Usia muda pun ia miliki." Laura malah bersenandung dengan suara cemprengnya.


" Namanya juga lagi usaha guys, kalau sahabat kan enggak bakalan lari kemana. Tapi gebetan kan perlu dikejar dulu. Ya enggak Zal?"


" Ya, itu benar banget. Gue setuju sama loe Gung."


" Lagian kalian juga lagi dekat sama Kak Rayhan kan? Kemana mana juga bertiga. Jangan bilang kalian saling berbagi." Rizal menatap Laura dan Hana secara bergantian seakan meminta penjelasan kepada tersangka.


" Nih terlalu banyak dibagi, jadi kurang isi." Hana menyentil jidad Rizal.


" Sakit Nyet! Sudah tahu kurang isi masih saja disentil kan makin tidak berisi." Rizal mengelus jidadnya.


" Ha ha ha. Lagian loe juga ada ada saja si Zal. Mana mungkin cinta dibagi?" imbuh Laura.


" Ra jujur sama gue, hubungan loe dan Kak Rayhan sudah sejauh mana?" tanya Hana setengah berbisik.


" Hubungan apaan? Enggak ada apa apa kok." Laura mencoba menjawab tanpa ekspresi yang berlebihan. Padahal sebenarnya hatinya bergemuruh.


"Yakin? Gue bisa lihat cinta loe ke Kak Rayhan lho. Sudah deh enggak usah bohong sama gue. Kalau cinta loe tulus, loe harus perjuangkan."


" Kalau Kak Rayhan enggak cinta sama gue, apa yang harus gue perjuangkan? Lagian Kak Rayhan cocoknya sama loe." dengus Laura.


" Kok gue? Enggak usah aneh aneh deh loe. Gue sudah anggap kak Rayhan kayak kakak gue sendiri. Buang jauh jauh deh pemikiran loe tentang gue dan kak Rayhan. Kenapa? Kaget gue tahu pikiran loe? Loe kira gue bodoh enggak bisa nebak jalan pikiran loe? Loe ngeremehin otak gue ya?"


" Hana...." Laura memeluk tubuh Hana. Hatinya merasa begitu lega setelah mendengar penuturan Hana. Ada setetes air di ujung matanya.


" Loe memang sahabat gue yang paliiiiiiiing baik. Loe paling memahami gue. Tapi loe yakin enggak ada perasaan apa apa ke kak Rayhan?" tanya Laura memastikan lagi.


"Huff." Hana menghembuskan nafasnya kasar.


"Gue harus ngomong berapa kali? Lagian gue sudah menemukan pujaan hati gue." Hana menutup mulutnya karena keceplosan bicara.


" Hah? Siapa?" Laura mendelik meminta penjelasan.


"Emm, itu... e.... Eh bu guru sudah datang." Hana mengarahkan matanya ke depan kelas. Dia menghirup nafas dan mengeluarkannya perlahan.


Untung gue terselamatkan oleh kedatangan bu guru. Sial kenapa gue bisa keceplosan sih, pakai ngomong sudah ketemu pujaan hati lagi. Kan ribet jadinya.


Hana mencuri curi pandang ke arah Laura, ternyata Laura masih belum melepaskan tatapan menyelidik ke arahnya.


" He he , fokus belajar dulu." bisik Hana sambil tersenyum tipis.


Seusai bel pulang sekolah berbunyi, Hana secepat kilat beranjak dari tempat duduknya.


" Ra gue pulang dulu ya. Gue buru buru. Bye....." ucap Hana tanpa melihat ke arah Laura.

__ADS_1


Gue harus cepetan pulang sebelum diinterogasi sama Laura.


"Tung....." Laura belum menyelesaikan ucapannya Hana sudah lari ngacir keluar kelas.


" Whattt..?! Hana sialan, dia pasti sengaja ngindarin gue biar gue enggak nanya nanya tentang masalah tadi. Beneran nih anak, sudah ketebak pikirannya. " gerutu Laura merasa kesal.


Tapi siapa ya? Selama ini di sekolahan Hana enggak pernah dekat dengan cowok deh. Paling dekat cuma Yusuf dan kak Rayhan. Tapi tadi kata Hana mereka sudah dianggap saudara. Terus siapa? Gue harus cari tahu siapa cowok ini.


" Huff segarnya...." Hana meneguk sebotol air dingin dari kulkas.


" Gila.......seperti menghindari paparazi saja gue. Gue harus membuat jawaban yang tepat. Laura pasti masih akan menginterogasi gue." Hana merebahkan tubuhnya di kasur sembari memejamkan mata mencoba untuk berpikir. Namun tak lama kemudian ia kembali membuka mata karena ponselnya berdering.


Sebuah video call menanti untuk dijawab. Masih dengan posisi rebahan dia memasang headset dan menerima video call itu.


" Dewa...!" pekik Hana saat melihat wajah Dewa tersenyum manis muncul di layar ponselnya.


" Enggak usah teriak dong Yang, kuping gue kan masih normal. Rindu banget ya sampai segitu senangnya lihat gue. He he." Dewa malah tersenyum mengejek.


Tiba tiba air mata Hana meluncur begitu saja di pipinya. Tangan Hana sibuk mengusap kedua matanya untuk menghentikan aliran air yang tak kunjung reda.


" Han kok malah nangis? Jangan nangis dong. Gue kan jadi bingung. Han....Hana...."


" Br*ngsek loe...! Puas loe sekarang?!" maki Hana. Perasaan Hana bercampuraduk antara rindu dan kesal karena sudah sebulan ini Dewa tidak menghubunginya. Selama ini Hana memendam kerinduan di hatinya dengan mengalihkan ke banyak akifitas agar ia tidak terlalu larut ke dalamnya. Dan memang benar kata Dilan bahwa rindu itu berat, makanya jangan rindu. Tapi siapa yang mampu mengendalikan hati untuk tidak rindu?


" Hana, maafin gue. Gue tahu gue salah karena sudah sebulan ini gue enggak menghubungi loe. Jangan nangis lagi dong. Sumpah gue enggak tahan kalau harus lihat loe nangis kayak gini. Atau gue pulang saja sekarang? " bujuk Dewa.


" Ja-ngan." cegah Hana cepat.


" Gua juga enggak- mau na-ngis tapi air matanya ke-luar sendiri. Hiks hiks hiks." Hana terbata bata karena ia masih belum bisa menghentikan tangisnya.


" Rindu banget ya? Asal loe tahu rindu gue jauh lebih besar dari pada rindu loe. Tapi gue harus tetap bertahan demi loe, demi kita. Gue harus bisa buktikan kalau gue adalah orang terbaik buat loe. Kelak gue harus bisa ngasih masa depan yang layak buat loe." Mata Dewa terlihat mulai berkaca kaca.


" Maafin gue ya, karena sudah lama enggak menghubungi loe soalnya jadwal gue sibuk banget. Gue harus menyesuaikan dengan sekolah di sini, bentar lagi kelulusan gue juga harus mulai mencari kampus yang tepat. Ditambah gue sudah mulai terjun di perusahaan ayah sambung gue untuk mulai belajar mengelola bisnis dan perusahaan. Nanti kelak gue pengin bisa mendirikan sebuah perusahaan sendiri untuk kita. Doain supaya semua impian gue segera terwujud ya, biar bisa cepat mengesahkan hubungan kita."


" Iya gue selalu berdoa buat loe. Maafin gue ya yang sudah egois, tadi sudah maki maki loe. Padahal gue sudah tahu kalau semenjak di Singapura jadwal loe sibuk banget." Hana mulai bisa mengontrol emosinya.


" Iya, enggak perlu minta maaf. Gue malah senang soalnya berarti gue sangat penting di hati loe. Oh ya kok loe tahu kalau gue di Singapura?"


" Dari adik loe."


"Adik? Oh si Yusuf ya? Gue hampir lupa kalau dia sahabat loe."


" Kok loe tahu?"


" Gue dulu kan sering memperhatikan loe pas bareng dengan sahabat sahabat loe. Ada Yusuf salah satunya."


" Cie cie... gue jadi terhura ternyata seorang Dewa sering memperhatikan gue di sekolah."


" Gue memang sering memperhatikan loe, bahkan sejak pertama kali bertemu. Loe saja yang enggak sadar." Dewa berpura pura cemberut.


" Ha ha ha sudah enggak usah sok sok an manyun, enggak cocok. Bagaimana kabar loe dan keluarga? Baik baik saja kan?" tanya Hana yang sedari tadi belum bertanya kabar.


" Gue baik, keluarga gue juga baik. Meskipun ayah sambung gue terlihat keras, tapi di balik itu dia orang yang baik dan bertanggungjawab. Hubungan gue dengan ibu juga semakin membaik. Kabar loe dan keluarga di sana juga baik baik saja kan?"


" Ya, kami semua juga baik. Loe jangan lupa buat selalu jaga diri ya. I miss you. Tetap semangat ya, semoga semua impian dan harapan loe bisa segera terwujud."


" I miss you too. Salam buat Om dan Tante ya. Loe juga jaga diri baik baik. I love you."


"Mmmmmmuach." Dewa mengecup layar ponselnya.


" Kok enggak dibales? Katanya rindu?" Dewa menggoda Hana. Sontak wajah Hana memerah. Pikirannya malah teringat kembali dengan ciuman pertamanya di saat perpisahan.


" Apaan sih." Hana merasa malu dan salah tingkah. Dengan ragu ia mengakhiri video call itu.


" I love you too.... mmmmmuacccchhhh mmmmuachh..." Hana berulang kali menciumi ponselnya.


" Gustiiii.... Kamu kesambet apa ponsel kok diciumi?" suara ibu Hana yang membuat Hana tersentak kaget. Hana hanya bisa tersenyum geli menyadari kekonyolannya.

__ADS_1


__ADS_2