Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Keputusan


__ADS_3

Pagi itu Hana melajukan motor maticnya bergegas menuju ke sekolah. Seperti biasa jalanan terlihat ramai lalu lalang berbagai macam kendaraan. Hana mengendarai motor dengan bersenandung lirih. Wajahnya tampak bersinar penuh dengan aura kebahagiaan. Hatinya tak henti berucap syukur atas membaiknya hubungan Dewa dan ibunya.


"Tin tinnn...!" Hana membunyikan klakson menyapa Yusuf yang tengah mengendarai motor mega pro dengan kecepatan rendah tampak tidak bersemangat.


" Suf, tumben naik motor pelan banget. Sudah kayak Laura saja seperti nenek nenek jalan." Hana mensejajarkan motornya di samping Yusuf mengikuti kecepatan Yusuf.


" Eh loe Han ngagetin saja." jawab Yusuf singkat.


" Loe kenapa? Lemas banget, sakit? Kok enggak semangat gitu."


" Enggak, cuma males saja."


"Beneran?" selidik Hana yang merasa heran dengan sahabatnya itu karena biasanya Yusuf selalu terlihat semangat.


" Tinnn...!!!" suara klakson motor di belakang mereka.


"Oi kalau mau ngobrol jangan di jalanan dong, memangnya ni jalan nenek loe." teriak seorang pengendara motor yang merasa terganggu dengan Hana dan Yusuf yang mengendarai motor beriringan.


Hana memutar bola matanya merasa jengah dan risih.


" Iya iya sabar, kalau enggak sabar terbang sonoh." ketus Hana.


" Suf gue duluan ya, sampai jumpa di sekolah." Hana menambah kecepatan motornya meninggalkan Yusuf di belakang.


Setelah beberapa menit, Hana sampai di gerbang sekokahnya. Ia bergegas menuju tempat parkir dan memarkirkan motornya. Ketika hendak beranjak pergi ada seseorang yang menahan tangannya dari belakang.


" Nanti siang pulang sekolah kita jalan bareng ya, ada yang ingin gue omongin." bisik orang itu di dekat telinga Hana. Setelah Hana menoleh ternyata ia adalah Dewa. Tampak raut cemas di wajah Dewa.


" Ada apa? Semua baik baik saja kan?" selidik Hana penuh dengan rasa penasaran.


" Gue baik baik saja kok, sudah sana masuk kelas. Entar saja ngomongnya." Dewa tersenyum dan bergegas pergi meninggalkan Hana sendiri.


Ada apa ya? Sikap Dewa enggak seperti biasanya. Senyumnya juga terlihat dipaksakan. Ah sudahlah, semoga ini hanya perasaan gue saja.


" Selamat pagi Laura." Hana menghampiri Laura yang tengah duduk manis di bangkunya.


" Pagi Hana sayang.... Kemarin kemana saja loe kok enggak berangkat. Enggak kasih kabar lagi."


" He he sorry, kemarin ada kerabat jauh gue yang meninggal. Gue sama orang tua gue melayat ke sana. Karena terburu buru gue sampai kelupaan bawa ponsel." jelas Hana sedikit berbohong tapi masalah ponsel memang benar adanya bahwa kemarin setelah mendapat kabar dari Dewa ia dan orang tuanya langsung bergegas ke tempat Dewa sampai lupa membawa barang berbentuk pipih itu.

__ADS_1


" Innalillahi wainna ilahi rojiun. Gue ikut berduka cita ya Han."


" Iya Ra. Oh ya Ra, si Yusuf kenapa? Tadi gue ketemu di jalan pas berangkat kayaknya lesu banget enggak seperti biasanya."


" Masak sih? Kemarin sih masih biasa saja di sekolah. Entar coba deh kita tanya."


" Ada apa Ra?" tanya Rizal dari bangku belakang.


" Enggak ada apa apa, cuma ini kata Hana Yusuf hari ini kelihatan lesu."


" Huum, pokoknya terlihat enggak bersemangat kayak biasanya gitu. Kemarin gue enggak berangkat enggak terjadi apa apa kan?" imbuh Hana.


" Kemarin sih di kelas biasa saja, cuma pas malam gue ajak main game bareng enggak mau. Gue telpon dan WA juga enggak dibalas. Padahal biasanya dia kan suka banget main game ya kan Gung?" jelas Rizal.


" Iya." jawab Agung singkat.


" Panjang umur, tuh yang diomongin datang." mata Rizal melihat ke arah Yusuf yang berjalan memasuki pintu kelas. Sontak ketiga orang itu mengikuti arah tatapan Agung. Dan benar saja terlihat Yusuf berjalan dengan malas tanpa semangat.


" Pagi Guys." Yusuf menyapa keempat temannya yang duduk bergerombol.


" Pagi." jawab keempatnya kompak tanpa melepaskan tatapan mata mereka.


" Kalian kenapa?" tanya Yusuf heran.


" Enggak, gue baik baik saja."


" Terus kenapa loe kelihatan lemas enggak bersemangat gitu?" Hana berdiri membiarkan Yusuf duduk di bangkunya.


" Iya, kemarin gue ajak loe main game juga enggak mau." Rizal dan Agung mendekati Yusuf. Kini Yusuf duduk dikelilingi oleh 4 temannya serasa diinterogasi rame mare.


Yusuf menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia menatap wajah sahabatnya satu per satu dengan sendu.


" Gue mau pindah sekolah." suara Yusuf agak bergetar. Ia berusaha keras untuk tetap tegar kala mengucapkannya.


" What?!" pekik mereka berempat ramai ramai.


" Loe serius?" tanya Agung ragu.


" Loe bercanda kan?" Hana menatap lekat manik Yusuf, berharap bahwa apa yang diucapkan barusan hanyalah gurauan semata. Namun yang ia dapati adalah tatapan sendu yang di dalamnya berisi keseriusan.

__ADS_1


" Kenapa?"


" Gue harus pindah ke luar kota, tinggal bareng sama Bokap gue di Jakarta. Kemarin Bokap gue datang dan meminta gue untuk pulang." jelas Yusuf sedatar mungkin agar tidak terlalu emosional.


" Kenapa harus pindah? Bukannya selama ini loe tinggal bersama om dan tante loe di sini. Dan di sini semua baik baik saja kan?" tanya Laura yang masih terlihat syok dengan perkataan Yusuf.


Selama ini Yusuf memang tinggal bersama Om dan Tantenya. Semenjak kematian ibunya 10 tahun silam, ia terpaksa harus menetap di kota kecil ini karena ayahnya yang terlalu sibuk dengan bisnisnya dan tidak ada yang mengurus dirinya. Setiap bulan ayahnya rutin mengirim uang untuk biaya hidup dan pendidikan Yusuf. Ayahnya fokus pada pekerjaan, bahkan tidak jarang harus bolak balik ke luar negeri. Dan akhir akhir ini bisnis ayahnya berkembang dengan sangat pesat, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu konglomerat di negeri ini. Meskipun tidak masuk 10 besar orang terkaya atau pun orang yang paling berpengaruh namun kekayaan dan bisnisnya tidak dapat diremehkan.


Dan hampir setahun ini ayahnya telah menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik rupawan. Meskipun belum pernah bertemu langsung, namun ibu sambungnya itu sering menghubunginya sekadar untuk menanyakan kabar. Dan dari percakapan selama ini, Yusuf bisa menyimpulkan bahwa wanita pilihan ayahnya itu adalah wanita yang berhati baik.


" Mau bagaimana lagi Ra, gue memang harus pindah ikut Bokap gue. Mungkin ini adalah jalan terbaik agar hubungan gue dan Bokap gue kembali baik. Gue sudah terlalu lama hidup jauh dari Bokap gue. Ini sudah waktunya gue pulang. Gue juga pengin bisa menikmati hidup bersama orang tua, sama seperti kalian." Yusuf menundukkan kepalanya. Mencoba menyembunyikan ekspresi sedihnya.


Entah siapa yang memulai, kini Yusuf telah berada di pelukan keempat sahabatnya. Suasana menjadi haru, mereka menitikkan air mata bersama. Tanpa mereka sadari mereka telah menjadi pusat perhatian teman sekelasnya. Bagaimana tidak, pagi pagi sudah berpelukkan ramai ramai ditambah acara nangis berjamaah.


" Sudah sudah, enggak usah melow kayak gini dong. Aneh dilihatin teman teman." Agung mengurai pelukannya.


" Enggak usah melow enggak usah melow. Lihat siapa yang air matanya paling banyak? LOE...!!" Hana mencoba menghapus air mata yang tadi sempat mengalir di pipinya. Entah kenapa dia tiba tiba teringat dengan Dewa dan ibunya. Mungkin perasaan Dewa tidak beda jauh dengan Yusuf.


Mereka bersama sama menghapus sisa sisa air mata dan berusaha untuk saling menguatkan. Meskipun terasa sedih namun mereka tetap berusaha tersenyum. Bagaimanapun juga perpisahan pasti terasa sangat menyedihkan, apalagi persahabatan mereka sudah terjalin begitu dekat. Mereka sudah melewati suka duka bersama. Hubungan di antara mereka berlima sudah seperti saudara.


" Di sana loe jaga diri baik baik ya, jangan sampai telat makan." ucap Hana masih dengan tatapan sendu.


" Iya, jangan kawatir. Loe semua di sini juga jaga diri ya. Tetap kompak jangan sampai ada pertengkaran yang bisa ngancurin persahabatan ini." ucap Yusuf dengan senyum mengembang.


Mereka berpelukan sekali lagi namun sudah tidak ada lagi air mata.


" Seandainya saja loe enggak harus pergi Suf. Gue sudah terlanjur nyaman sama loe. Loe selalu ada saat gue butuhkan. Loe paling memahami gue sama Hana." Laura masih menatap Yusuf lekat.


" Pembalut kali Ra, selalu ada saat dibutuhkan." celetuk Rizal.


" Loe itu ya. Ngerusak moment aja." Hana menonyor jidad Rizal sehingga kepalanya terpental ke belakang.


" Aouw, jangan kenceng kenceng entar otak gue geser." ketus Rizal.


" Memang loe masih punya otak?" imbuh Laura.


" Punya enggak ya kok selama ini gue enggak bisa mikir."


" Ha ha ha ha." mereka tertawa bersama sama.

__ADS_1


Moment seperti inilah yang bakalan gue kangenin. Tertawa dan bercanda bersama. Kalian adalah teman terbaik gue.


Yusuf menatap wajah sahabatnya yang tengah tertawa satu per satu, seakan merekamnya agar tetap terpatri dalam hatinya. Tatapannya berhenti pada wajah Hana cukup lama, dan sebuah seyum terkembang di bibirnya.


__ADS_2