Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Bahagia


__ADS_3

" Mau jalan kemana?"


" Rumah Loe." jawab Hana cepat.


Dan sinilah Hana, duduk di sebuah sofa berwarna merah maron berdua bersama seorang nenek sembari disuguhi cokelat panas lengkap dengan cemilan.


Sedangkan Dewa tengah sibuk membersihkan diri di kamar mandi.


Jadi inilah nenek yang selama ini merawat Dewa.


" Namanya siapa Neng?" tanya nenek Ira.


" Hana Nek."


" Nama yang cantik seperti wajahnya. Sudah lama kenal dengan Dewa?"


" Lumayan Nek sudah enam bulanan. Tapi baru sekarang diajak main ke sini."


Nenek Ira tersenyum bahagia, menatap lekat wajah cantik yang duduk di depannya itu.


Inikah sosok yang telah berhasil mengembalikan senyum Dewa? Gadis ini terlihat sangat baik, membawa aura yang positif.


" Kamu adalah orang pertama yang diajak Dewa ke sini. Selama ini Dewa belum pernah mengajak temannya main ke sini. Kamu pasti sangat spesial."


Hana tersenyum tersipu malu.


" Pakai telur Nek?" candanya.


" Ha? Pakai telur?" nenek Ira bingung.


" Iya, tadi kan Nenek bilang saya spesial berarti pakai telur dong. Martabak spesial kan pakai telur." celetuk Hana.


" Ha ha ha kamu ini ada ada saja." nenek Ira tertawa terbahak bahak. Sudah lama sekali ia tidak tertawa lepas seperti ini.


Dia memang gadis yang luar biasa. Belum lama bersama aku sudah bisa dibuat tertawa lepas. Benar saja jika ia bisa mengembalikan keceriaan Dewa. Dewa beruntung bisa bertemu dengan gadis seperti Hana.


" Oh sampai lupa, silakan diminum cokelatnya mumpung masih anget. Nanti kalau sudah dingin enggak enak loh. Sekalian dimakan cemilannya."


" Iya Nek, terima kasih." Hana menyeruput cangkir yang ada di dekatnya.


" Mmmm cokelat ini enak banget Nek. Harum dan pas rasanya." puji Hana.


" Benarkah? Syukurlah kalau kamu suka. Ini cokelat kiriman ibunya De.. em maksud nenek.." Nenek tidak melanjutkan ucapannya. Ia merasa canggung dan salah tingkah.


" Oh maaf Nek, tapi saya sudah tahu kisah hidup Dewa. Jadi Nenek tidak usah merasa canggung sama saya."


" Dewa sudah menceritakan semua sama kamu?" tanya nenek Ira merasa heran. Setahunya selama ini Dewa tidak pernah mengungkap masa lalunya kepada siapa pun. Tapi kini Dewa telah menceritakan semua kepada gadis yang tengah duduk di depannya sembari menikmati cokelat panas buatannya.


Hana menganggukkan kepalanya, " Ada yang salah Nek?"


" E enggak, nenek cuma heran karena selama ini Dewa anak yang tertutup ia tidak pernah terbuka dengan orang, apalagi sampai menceritakan kisah hidupnya. Kamu memang sangat spesial Nak. Nenek sangat bahagia karena akhirnya Dewa mau membagi beban hidupnya. Terima kasih ya Nak. Terima kasih. Nenek yakin pasti juga karena kamu Dewa berubah menjadi anak yang lebih baik. Nenek sangat bahagia." bulir air mata membasahi pipi keriputnya.


"Ada apa?" tanya Dewa tiba tiba yang ternyata sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.


Hana menatap ke arah Dewa dan tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang manis.


Dewa ganteng banget... Rasanya seperti mimpi bisa bersama cowok seganteng dia.


Eh apaan sih ni otak?

__ADS_1


Hana terkekeh dalam hati, merasa geli dengan pikirannya sendiri.


" Sudah puas? Kenapa, baru sadar kalau gue ganteng?" celotehan Dewa menyadarkan Hana dari lamunannya.


" Ihh narsis...Siapa yang bilang loe ganteng?"


" Banyak, bahkan hampir semua cewek bilang gue ganteng."


" Ya sudah kalau begitu jalan saja sama cewek cewek itu." Hana memonyongkan bibirnya merasa kesal dengan ucapan Dewa.


" Ha ha ha, gue cuma bercanda. Tapi gue seneng lihat muka loe kalau marah begitu, tambah imut." goda Dewa sembari mencubit kecil ujung hidung Hana.


Nenek Ira sedari tadi tersenyum bahagia melihat kedekatan Hana dan Dewa.


Nenek senang akhirnya kamu bisa tertawa bahagia seperti ini Dewa.


"Nenek ke dapur dulu ya, mau nyiapain makan malam. Kalian makan di sini kan?"


" Enggak Nek, kami mau makan di luar." jawab Dewa dengan cepat.


" Ya, kami makan di sini." Hana menatap Dewa dengan tatapan memohon.


" Ya sudah kita makan di rumah." Dewa mengalah.


Nenek Ira terlihat sangat senang, " Nenek masak dulu ya."


" Hana bantuin Nek." Hana mengikuti langkah nenek Ira ke dapur. Disusul dengan Dewa yang ikut mengekor di belakangnya.


Di dapur, mereka sibuk menyiapkan masakan bersama. Hana dengan cekatan membantu nenek Ira memasak. Mereka mengolah bahan makanan diselingi dengan obrolan dan candaan. Bahkan tak jarang suara tawa menggema di dapur itu. Terpancar aura kebahagiaan di sana. Nenek Ira tak henti menyunggingkan senyum di wajah keriputnya.


Hana menghirup nafas dalam merasa puas dengan hasil masakan mereka.


Dewa, Hana dan nenek Ira tengah duduk bersama bersiap untuk menikmati hasil masakan mereka. Di atas meja sudah tersaji makanan yang terlihat menggiurkan. Ada ikan gurame pedas manis, ayam goreng kremes, cah kangkung, dan sambal tomat lengkap dengan lalapan.


" Hemmmm, aromanya lezat. Pasti rasanya juga akan sangat nikmat. Ayo makan. Tapi sebelumnya yang berulang tahun harus memimpin doa dulu." Hana tersenyum ke arah Dewa.


" Gustiiiii, nenek sampai lupa kalau hari ini Dewa ulang tahun. Maafin nenek ya Dewa." Nenek menghampiri Dewa dan memeluknya.


" Selamat ulang tahun ya, semoga bahagia selalu dan tercapai semua harapan dan impian kamu."


" Amiinn." Hana mengaminkan doa nenek Ira.


" Ayo cepat pimpin doanya, keburu dingin masakannya."


" Halah bilang saja kalau loe sudah lapar." celetuk Dewa.


" Itu loe tahu, he he." Hana meringis tanpa malu.


Nenek tersenyum melihat tingkah Hana dan Dewa.


" Ayo makan, Dewa cepat pimpin doa."


" Bismillah........." Dewa memulai membaca doa, Hana dan nenek mengaminkan dengan khusuk.


" Selamat makan." Hana terlihat semangat mulai memasukkan makanan ke piringnya.


Dewa dan nenek Ira juga melakukan hal yang sama.


" Ini enak banget." puji Dewa. Entah kenapa makanan yang masuk ke mulutnya terasa sangat nikmat, padahal nenek Ira juga sudah sering memasak makanan itu dengan bumbu dan bahan yang sama, namun kali ini rasanya sungguh berlipat lipat kelezatannya.

__ADS_1


" Tentu saja siapa dulu yang masak?" celoteh Hana dengan bangga.


" Nenek." ketus Dewa.


" Tapi tadi kan gue yang potong potong bahannya."


" Gue juga ikut andil, siapa tadi yang bersihin ikannya?" Dewa enggak mau kalah.


" Sudah sudah, makanan ini terasa enak karena kita yang memasak bersama pakai cinta." nenek Ira berusaha melerai.


" Nenek salah kalau cuma pakai cinta tanpa ada kompor enggak bakal mateng, iya kan Han?"


" Yuup itu betul." jawab Hana dengan mantab.


" Loh kok malah Nenek yang disalahin?" nenek Ira bengong.


Hana dan Dewa saling menatap.


" Ha ha ha..." mereka bertiga tertawa bersama.


Mereka menikmati makanan yang tersaji di meja dengan lahap. Tampak sekali suasana bahagia. Gelak canda dan tawa menghiasi makan malam itu.


Nenek Ira menatap Hana dan Dewa sedari tadi.


Semoga kalian selalu bahagia. Terima kasih Ya Allah Engkau telah menghadirkan Hana untuk Dewa. Ini adalah makan malam terindah yang pernah ada di rumah ini. Rumah yang biasa sepi dan suram kini dalam sekejap telah bersinar dihiaskan gelak tawa.


Acara makan malam yang bahagia itu pun selesai, ketiganya tampak kenyang dan puas.


" Biar Hana yang beresin Nek. " Hana mengambil alih piring yang tadi sempat ingin dibersihkan nenek Ira.


" Nenek istirahat saja, tinggal nonton televisi." imbuh Dewa.


Dewa membantu Hana membersihkan meja makan, sedangkan Hana tengah membersihkan dapur mencuci piring dan peralatan makan yang tadi dipakai.


Tiba tiba Dewa menghampiri Hana dan memeluknya dari belakang.


" Deg....." Hana tampak tersentak. Tubuhnya mematung tanpa ia sadari aktifitas mencuci piringnya terhenti. Jantungnya berdetak kencang, darahnya mengalir dengan cepat.


" A minute. Biarin gue meluk loe seperti ini." bisik Dewa pelan di dekat telinga Hana. Dewa menyandarkan kepalanya di bahu Hana.


Hana bisa merasakan nafas Dewa yang berhembus di lehernya. Tubuh Hana menegang merasa gelenyar aneh di tubuhnya. Wajahnya memerah.


Perasaan apa ini?


" Terima kasih telah memberi gue ulang tahun terindah. Gue benar benar bahagia malam ini." suara Dewa terdengar parau.


" Ayo cepat selesaikan cuci piringnya, terus gue antar pulang. Gue takut enggak bisa nahan diri gue di dekat loe. Gue kan sudah janji sama orang tua loe untuk tidak ngapa ngapain loe sebelum waktunya." Dewa melepas pelukannya dan beralih ke samping Hana ikut mencuci piring yang masih tertinggal.


" Maksud loe?" Hana terlihat bingung, ditatapnya wajah Dewa lekat.


" Loe mikir mesum ya...?" mata Hana melotot.


" Ck, sudah sana loe temenin nenek saja, biar gue selesaikan ini terus antar loe pulang. Atau loe mau gue...." Dewa tidak menyelesaikan ucapannya.


" Gue temenin nenek, dasar mesum." ucap Hana cepat sembari berlalu meninggalkan Dewa.


Dewa tersenyum melihat tingkah Hana yang lugu.


Its perfect birthday. Terima kasih Hana, gue benar benar bahagia.

__ADS_1


__ADS_2