Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Olah Raga Pagi


__ADS_3

Seperti sebuah mimpi, Dewa yang selalu gue anggap menjadi bintang Antares gue kini berada di dalam kamar gue dan menyatakan cinta pada gue. Semoga keputusan gue buat menerima cintanya udah tepat. Dewa akan menjadi cinta pertama dan terakhir gue.


" Jalan yuk." Ajakan Dewa memecah keheningan di antara mereka.


" Ogah, gue mau tidur aja. Capek, semalam udah begadang sekarang saatnya bobocan." tolak Hana yang sebenarnya hatinya bersorak untuk mengiyakan ajakan Dewa.


" Ya udah kalau gitu gue temenin." goda Dewa sambil menyeringai.


" Apaan sih, udah sana pulang. Ntar kalau ada orang lihat dikirain kita ngapa ngapain lagi. Lagian loe ngapain main nyelonong ke kamar gue?"


" Buat temenin loe lah, semalam juga kita udah bersama kan." Dewa merebahkan diri di tempat tidur Hana.


Hana melongo melihat tingkah Dewa.


" Bangun, pulang sana." usir Hana.


" Ogah, baru aja sampai masak langsung main usir, tanggungjawab semalem gue enggak bisa tidur nyenyak gara gara loe." Dewa memeluk guling Hana.


" Tanggung jawab apaan emang gue ngapain loe?" Dewa tidak menggubris ucapan Hana seakan dia sudah nyaman dengan posisinya.


Ini orang kenapa sih, kalau ada orang lihat gimana?


Hana meraih tangan Dewa berniat untuk menarik Dewa agar beranjak dari tempat tidurnya. Namun naas malah kakinya tersandung sehingga tubuhnya terjerembab ke atas tubuh Dewa.


" Brughh."


Mata Dewa terbelalak karena tubuh Hana kini menempel di atas tubuhnya. Wajah mereka saling berhadapan hanya menyisakan sedikit jarak. Mata Dewa menatap ke dalam netra Hana penuh cinta dan damba.


Mata Hana membulat, wajahnya memerah menahan malu. Tangan Hana mendorong dada Dewa bermaksud untuk segera bangkit, namun tangan Dewa malah melingkar di pinggangnya dan menarik tubuhnya hingga semakin menempel.


" Lepasin..!" Hana memberontak. Dadanya bergemuruh hebat. Bukannya melepaskan Dewa malah semakin erat memeluk Hana.


" Lepasin..!" suara Hana terdengar parau. Matanya memerah mencoba menahan genangan air mata yang sudah terasa penuh di pelupuknya.


Dewa melemah merasa bersalah karena telah membuat Hana menangis.


" Hai, are you ok...? Han gue cuma bercanda, jangan nangis dong." Dewa melepas pelukannya. Hana bangkit dengan segera dan duduk di pinggir tempat tidur.


Dewa mendudukan tubuhnya di dekat Hana.


" Han gue minta maaf, gue hanya bercanda..." suara Dewa lirih matanya tetap tak beranjak dari wajah Hana, namun Hana menghindari tatapan matanya.


" Han.. loe enggak apa apakan? Hana please maafin gue, gue harus apa agar loe mau maafin gue. Apapun mau loe gue lakuin deh." pinta Dewa penuh dengan penyesalan.


" Benar loe mau ngelakuin apa aja biar gue maafin loe?"


Dewa mengangguk mengiyakan.


"Ok,,,, sekarang loe sit up 100 kali dan push up 100 kali." ucap Hana dengan penuh kemenangan. Hana menghapus air matanya yang tadi sempat lolos dari pelupuknya.


" What?" Dewa terperangah dengan ucapan Hana. Ia tidak menyangka bahwa ekspresi Hana akan berubah secepat itu.

__ADS_1


"Loe ngerjain gue, tadi cuma pura pura?" Dewa terlihat kesal karena berhasil dikelabuhi oleh Hana.


" Ha ha ha ha, emang enak ? Udah buruan, cepat sit up ma push up, loe mau jilat ludah loe sendiri. Tadi udah ngomong mau ngelakuin apa mau gue kan?"


" Iya, iya gue lakuin." ketus Dewa.


Sial ternyata ini arti mimpi gue semalam. Apes banget gue semalam udah diberondong sama peluru, sekarang malah dikerjain. Hufff sabar sabar, untung gue cinta ma loe Han. Seumur hidup baru kali ini gue bertekuk lutut sama seorang cewek. Loe memang spesial.


" Ayo cepetan....!"


" Iya, ini juga lagi ancang ancang. Itung yang benar, jangan sampai kurang maupun lebih loh."


Dewa beranjak ke posisi push up dan mulai mendorong tubuhnya.


" Satu... dua.... tiga.... empat..." Hana menghitung setiap gerakan Dewa.


" Seratus..!"


Nafas Dewa menderu. Tubuhnya terkapar di lantai dipenuhi dengan peluh yang membasahi. Dewa berganti posisi dan mulai melakukan gerakan sit up sampai hitungan ke 100.


" Huh huh huh..!" Dewa mengatur nafasnya. Dadanya kembang kempis memompa udara di paru parunya.


Muncul seringai di bibirnya karena merasa menang. Namun diam diam Hana kagum dengan Dewa yang berhasil melakukan sit up dan push up dalam waktu yang singkat.


Lumayan kuat juga loe.


" Puas?" tanya Dewa di sela sela deru nafasnya.


Dewa menganggukkan kepala," Air putih saja."


Hana berlalu mengambil air minum untuk Dewa.


Selang beberapa menit Hana kembali ke kamarnya dengan membawa segelas air putih.


"Aaaaa...! " Hana berteriak histeris melihat Dewa yang bertelanjang dada , secara refleks ia menyiram air yang dibawanya ke muka Dewa.


" Shittt..! Maksud loe apaan sih teriak teriak terus nyiram air ke muka gue?" Dewa terkejut kena siraman air.


" Oopps sorry sorry, lagian ngapain loe telanjang kayak gitu?" Hana memejamkan matanya karena risih. Namun tadi ia sudah terlanjur melihat jelas bidang dada Dewa yang lapang dan atletis.


" Enggak usah lebay, gue cuma kegerahan saja. Loe enggak lihat kaos gue basah karena keringat?"


Hana ber oh ria.


" Cepat pakai baju loe lagi, gue enggak mau ya mata gue ternoda gara gara loe."


" Ogah, gue mau mandi saja kaos sama muka gue sudah terlanjur basah semua. Pinjemi gue baju." Dewa nyelonong membuka lemari Hana untuk mengambil baju, tanpa permisi menelisik isi di dalamnya.


" Han punya loe kecil banget size 32, pantesan tadi enggak terasa." goda Dewa sambil tersenyum penuh arti.


" Hah 32?" Hana masih mematung belum menangkap arti ucapan Dewa.

__ADS_1


" Ini." Dewa mengambil sebuah bra berwarna navy dan mengangkatnya di depan tubuhnya.


Hana terperanjat tak percaya. Mukanya merah padam menahan malu dan amarah.


" Dewaaaaaaa...!" buru buru merebut barang privasinya dan segera menutup lemari.


" Ha ha ha ha ." tawa Dewa meledak melihat reaksi Hana yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Gue cekik loe...! Nyesel gue sudah nerima cinta loe." Hana mengejar Dewa untuk memukulnya.


Alhasil mereka kejar kejaran di dalam kamar Hana. Tak jarang Dewa terkena lemparan bantal dan guling. Keduanya tengah larut dalam aksinya hingga tak sadar dengan kondisi kamar yang begitu berantakan. Bantal dan guling berserakan di lantai. Sprei dan selimut pun telah terhambur dari tempatnya.


" Gue nyerah." Dewa berhenti tiba tiba yang membuat Hana menabraknya. Dan sekali lagi tubuh Hana menimpa tubuh Dewa, bahkan kini tubuh Hana menyatu dengan dada Dewa yang telanjang. Kedua pasang mata bertemu kembali. Mereka sempat terpaku larut dengan keadaan itu. Tubuh Hana memanas merasakan getaran aneh. Detak jantungnya tak karuan, memompa darah dengan sangat cepat.


" Buruan bangun atau mau begini terus?" ucap Dewa dengan suara serak. Dewa mencoba meredam gejolak dalam hatinya.


Hana buru buru bangun dan mecoba menormalkan nafas dan detak jantungnya.


" Sorry...." Mereka berdua sama sama canggung.


Hana bergegas menjauh dari tubuh Dewa, membuka lemari dan mengambil sebuah kaos dan celana yang muat di tubuh Dewa.


_______


" Ha ha ha ha." tawa Hana meledak saat melihat Dewa keluar kamar mandi dengan memakai kaos berwarna pink dipadukan dengan celana boxer di atas lutut milik Hana. Terlihat jauh dari kata maskulin. Meskipun tidak mengurangi kadar ketampanan Dewa namun tetap saja pakaian itu terlihat sangat lucu di tubuh Dewa.


" Memang enggak ada baju lain lagi yang muat buat gue, loe sengaja ya pilih warna pink?" gerutu Dewa.


" Enggak ada, dari pada loe telanjang? Lagian Mbak Dewi terlihat cantik owk, mau ngedate ya mbak?" goda Hana.


Dewa tak menjawab hanya memutar bola matanya merasa jengah. Ia merasa benar benar dikerjai oleh Hana.


" Udah sana pulang, ni gue pinjemin hodie." Hana menyodorkan hodie berwarna hitam.


" Kruyuuuuukkk." perut Dewa meronta.


" Loe lapar?"


" Sudah tau masih nanya. Gimana enggak lapar, pagi pagi belum sarapan sudah disuruh push up dan sit up 100 kali terus lari lari muterin kamar. Sungguh olah raga pagi yang menguras tenaga." ketus Dewa.


" He he he , sorry gue kan enggak tau kalau loe belum sarapan. Mau sarapan? Kebetulan tadi Ibu masak lumayan banyak. Sekarang masih ada sisa lauk."


Dewa pun mengikuti Hana ke meja makan.


Terlihat Dewa makan dengan lahap. Dewa tampak sangat menikmati sarapannya. Meskipun hanya menu sederhana tapi terasa sangat spesial.


Masakan seorang Ibu memang paling nikmat. Loe beruntung banget Han bisa menikmati sarapan seperti ini tiap hari. Dan gue lebih beruntung lagi hari ini karena bisa menikmatinya ditemanin sama loe.


Namun masih ada separo makanan di piring Dewa tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


" Tok tok tok... Asaalamualaikum.... Hana!" Dewa menghentikan sendokan makanan di piringnya.

__ADS_1


" Lauraaaa....!" pekik Hana terkejut.


__ADS_2